Gadis Di Penghujung Hujan Karya: Umi_ask - negerikertas.com

INFO ATAS

Lomba Cipta Puisi | DEADLINE 20 Februari 2023 | Apabila dalam 30 Hari, karya yang anda kirimkan di Negeri Kertas tidak dimuat, secara otomatis karya tersebut statusnya dikembalikan.

Jaringan Penulis dan Pembaca

Website Sastra dan Seni Budaya yang Terpercaya sejak 2015

26 Des 2022

Gadis Di Penghujung Hujan Karya: Umi_ask

 Gadis Di Penghujung Hujan

Karya: Umi_ask

Mestinya dia keluar rumah sore tadi, meski hanya untuk membaca cakrawala dan berjalan mengikuti arah kaki. Rencananya begitu. Tapi dia mengurungkan niatnya. Katanya, hari terlalu cerah untuk dinikmati. Mungkin ini terasa konyol jika kita dengar sebagai alasan. Ya, Iya memang jarang keluar rumah kecuali berangkat kuliah dan latihan di sanggar tari.

Nadhia, dengarkan aku dahulu. Semenjak laki-laki bernama Raihan pergi, dia menggantungkan kerinduannya dengan memeluk hujan. Dia duduk berdiam diri di bawah turunnya hujan. Membiarkan kepalanya terhantam oleh derasnya hujan kala itu. Setahuku semenjak dua bulan yang lalu dia melakukan hal seperti itu setiap hujan turun.

Dua bulan yang lalu aku bersamanya duduk di gazebo kampus sebab hujan datang dengan begitu lebatnya. Kami merasa terjebak dan tidak bisa pergi ke mana-mana selain duduk manis di gazebo itu. Saat itu Raihan datang dan bergabung bersama kami. Namun aku segera pergi untuk mengambil barang yang tertinggal di kelas aku tak tahu apa yang mereka bicarakan. Mungkin sesuatu yang sangat penting dan itu bukan urusanku. Ketika aku kembali bersama mereka, dia segera pamit pulang. 

“Hujan masih deras tunggulah sampai ia reda, Lidya.” aku mendengar Raihan mencegahnya untuk segera pulang.

Tetapi dia hanya tersenyum kepadaku dan Raihan. Berdiri, dan pergi meninggalkan kami. Aku membaca langkahnya yang sangat berat dia berjalan pelan, kepalanya merunduk, dan nyampai pada pelukan hujan. Aku diam saja. Menikmati teh hangat yang kubawa dari tadi. Raihan beranjak pergi. Mungkin menghindari pertanyaan yang akan keluar dari kepalaku. 

Kumohon Nadhia. Jangan ajak dia pergi malam ini bersamamu. Aku takut kalau dia demam lagi. Pergilah besok sore selepas ia keluar dari latihan tari di sanggar. Jika perlu, kau bersamanya selama ia latihan. Pulanglah ke tempatmu, sebab ia sudah tertidur sejak tadi. Lupakan perbincangan ini, anggap saja kau tahu seperti mendapat intuisi.


***


 Ah iya. Kau benar Lidya. Siang tadi aku melihat saudaramu duduk di sebuah gazebo kampus. Aku segera menghampirinya. Tetapi dia bilang akan pergi latihan ke sanggar tari. Aku meminta izin untuk mengikutinya dan kami bercerita tentang banyak hal. Termasuk menceritakanmu. Di sanggar aku hanya menjadi penonton. Aku berusaha menikmati kelulusan perempuan yang katanya mereka sedang menari gambyong untuk sebuah pementasan.

Jam 04.00 sore tadi, setelah dia selesai latihan aku mengajaknya pergi ke sebuah toko buku. Kebetulan di luar sedang gerimis. Ia segera melipat selendangnya dan menuntunku keluar.

“Sebenarnya aku membawa payung lipat. Tapi, apa kau berkenan untuk menikmati hujan ini bersama-sama Nadhia?” ya mulai berbicara kepadaku pasal gerimis. Aku mengingat perbincangan kita semalam, Lidya 

Dia tidak peduli dengan pakaian dan tasnya yang basah. Kami berjalan perlahan, benar-benar menikmati rinai Hujan.

“Kau tak apa-apa Nadia, Jika aku mengajakmu berjalan menembus hujan?” ya bertanya sekali lagi. Aku menegaskan bahwa aku bersedia.

“Semenjak dua bulan yang lalu, aku begitu mencintai hujan.” Iya mulai bercengkerama. “biarlah seluruh musim mengetahui kerinduanku kepada Raihan. Di kotaku, aku menunggunya. Sudah empat puluh tujuh hujan yang aku temui. Ini yang ke empat puluh delapan. Aku selalu berdiskusi dengan gemercik airnya. Barangkali karena hatiku yang kemarau, hujanlah yang akan menggemburkan ladang batinku. Aku tidak peduli dengan omelan Lidya, sebab sudah tujuh  kali aku demam setelah menyetubuhi hujan. Aku tidak peduli, Nadhia. Jika dua bulan lagi kemarau datang aku akan tetap mencintai hujan.”

Kamu masih mendengar ceritaku, Lidya? Memangnya di manakah Raihan. 

“Oow, Raihan? Kudengar setelah ia sarjana langsung pulang ke kampungnya dan kemarin dia baru menikah dengan gadis di desanya.” Katanya dengan air muka yang Innocent.


***

Purwokerto, 2022






Umi Mahfudhotul Hasanah yang kerap dipanggil umay. Gadis kelahiran 2003 ini tinggal di Cilacap, Jawa Tengah. Suka berpuitis tapi sulit menulis puisi. Mottonya “cintai sesuatu yang kau benci, maka kau akan merasakan betapa manisnya ia” 

Kunjungi akun medianya

Instagram: @umi.ask,

Email:  umimahfudhotulhasanah017@gmail.com 

Umimahfudz95@gmail.com

WhatsApp: +6289501724208



INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa PUISI/CERPEN/ARTIKEL + BIODATA narasi + FOTO penulis atau GAMBAR ilustrasi, semuanya dalam SATU LAMPIRAN email file Ms Word. Bagian paling atas bertuliskan JUDUL KARYA + NAMA PENULIS. Kirim ke email nkertas@gmail.com