Cerpen Vaksin - negerikertas.com

INFO ATAS

Lomba Cipta Puisi | DEADLINE 20 Februari 2023 | Apabila dalam 30 Hari, karya yang anda kirimkan di Negeri Kertas tidak dimuat, secara otomatis karya tersebut statusnya dikembalikan.

Jaringan Penulis dan Pembaca

Website Sastra dan Seni Budaya yang Terpercaya sejak 2015

16 Des 2022

Cerpen Vaksin



Pada suatu pagi tepatnya di hari Minggu. Ayam-ayam berkokok dengan merdu,disambut dengan munculnya sang surya dari timur.

Tiba – tiba terdengar suara ketukan pintu kamarku dari luar.

’Tokk..tokk..tokk..”

‘’Mba, ayamnya sudah lapar’’ ucap ibuku.

‘’Iya bu, sebentar lagi’’jawabku sambil menutup mushaf.

Segeralah aku bergegas ke kebun, untuk memberi makan ayam-ayam yang sudah lapar tadi.

Kemudian, sejumput demi sejumput beras kutaburkan ke tanah.

‘’Lele jangan lupa’’ lanjut ibuku.

‘’Oke bu!”, lanjut aku taburkan pelet ikan ke kolam lele.

Kemudian tak lamapun aku masuk ke dalam rumah, karena sekirannya sudah aku kasih makan semua.

“Bu, lauknya apa?” tanyaku.

“Telur sama sayur, makan yang banyak ya.. nanti kamu vaksin”jawabnya.

Spontan aku langsung terkejut, panas dingin mendengarnya.

“ Loh? Aku ngga mau, takut!” jawabku sambil sedikit perasaan kesal.

“Kenapa ga bilang dari kemarin sih, bu? Aku tuh gamau. ”

“Udah, tenang saja” jawabnya.


    Meskipun perasaanku masih sedikit kesal,aku tetap melanjutkan makan di meja makanku karena keadaan perutku yang sudah lapar.

“Alhamdulillah, kenyang” ucapku.

“Sudah selesai makannya? Jangan lupa minum yang banyak”ucap ibuku. “Iya bu.”

Tak lama kemudian, ada suara dering telfon di hp ibu.

“Assalamualaikum tante, ini nomor vaksinnya ayah Rara sama Rara sudah saya ambil, nanti kesini ya? nomornya awalan”

 “Waalaikumussalam, oke bude bentar lagi langsung kesitu”

Benar-benar panas dingin rasannya. Aku yang sudah lama tidak disuntik, membayangkan kembali rasa sakitnya.

“Ayo yah, sudah siap belum? Nanti ibu menyusul sama Rara ya?”, ucap ibuku. “Oke sip”, jawab ayahku.

Tak lama,ibukupun bersiap-siap menyusul ayahku.

“ Ayok!”, ajak ibuku.

“Oke bu!”


    Kami berdua menyusul dengan menggunakan motor. Karena, jarak dari rumah ke tempat vaksin sedikit jauh.

     Ketika sudah sampai di tempat vaksinnya, ternyata banyak sekali orang yang mengantri di tempat itu. Mulai dari bapak-bapak, ibu-ibu, serta orang-orang seumuranku.

“Yuk mba, langsung masuk saja ke dalam”ucap ibuku.

Kemudian kita pun langsung masuk ke dalam ruangan vaksin tersebut.

“Oh, ini mba Rara ya? Ayok sini duduk!”ucap salah satu petugas vaksin tersebut.

“Iya bu”, jawabku.

Aku pun langsung ditensi menggunakan alatnya, dan bersyukur karena tensiku normal.

Kemudian langsung dilanjut beberapa pertanyaan terkait penyakit yang diderita.

“Adakah penyakit bawaan dari lahir, mba? Asma atau apapun itu?”tanyanya.

“Alhamdulillah tidak, bu.”

“Baik, sekarang langsung duduk disitu ya.. nanti langsung disuntik.”

Deg-degan rasanya, apalagi banyak sekali orang yang disekitarku.

“Mba, buka dulu ya?”ucapnya.

“I-iya Bu”ucapku sedikit terbata-bata sambil sedikit demi sedikit membuka kaus lenganku.

“Maaf ya, saya mulai suntik.”

Kemudian cussss suntikan pun masuk ke dalam lengan kiriku. Sebenarnya rasanya tidak sakit, tapi aku sedikit terkejut ketika jarumnya masuk ke dalam.

“Alhamdulillah, sudah ya?” ucap ibuku sambil mengelus punggungku.

“Gimana rasanya? Nggak sakit kan?” lanjut ibuku.

“Iya, ngga sakit tapi kaget”jawabku.

Kemudian, kita menunggu surat laporannya dengan duduk disekitar ruang vaksin tersebut.


 Ketika sudah lumayan lama, namakupun disebut untuk penyerahan surat laporan vaksin tersebut. Tak lama kemudian, kita pun langsung pulang dengan membawa surat laporan tersebut.

“Siapa yang mau jalanin motornya nih?”, ucap ibuku sambil sedikit tertawa. “Ya ibu, lah” jawabku kesal.

Setelah sampai dirumah, aku pun langsung rebahan di dalam kamar. Sedikit demi sedikit melihat bekas suntikannya.

Kemudian, setelah beberapa hari setelah aku divaksin, tubuhku pegal rasanya. Sekitar 2-3 hari aku merasakan pegal akibat vaksin tersebut. Setelah itu, akupun senantiasa makan buah-buahan, sayur- sayuran dan sebagainya untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

“Mba, ini ibu belikan susu sapi steril ya.. biar cepet hilang pegelnya” , ucap ibuku. “Iya bu, terima kasih.”

Aku pun meminum susu steril tersebut, karena dapat membuat imun tubuh menjadi lebih kuat. Jadi, tidak perlu khawatir divaksin, demi kenyamanan bersama dan kesehatan kita masing-masing.



Nama : Meilisa Fauzia Nastiti

TTL: Pemalang, 15 Mei 2004

Mahasiswa UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

(NIM : 224110403026)


























INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa PUISI/CERPEN/ARTIKEL + BIODATA narasi + FOTO penulis atau GAMBAR ilustrasi, semuanya dalam SATU LAMPIRAN email file Ms Word. Bagian paling atas bertuliskan JUDUL KARYA + NAMA PENULIS. Kirim ke email nkertas@gmail.com