005

header ads

19 PUISI PILIHAN KARYA PENYAIR PULO LASMAN SIMANJUNTAK


 

BERSETUBUH DENGAN TIKUS

 

kami harus bersetubuh dengan tikus ini

di atas ranjang terowongan dapur rapuh

berselimutkan tanah merah

 

birahiku langsunh melepuh

sungguh sudah berminggu-minggu

kukunyah habis spermamu jadi berita utama

di layar televisi, surat kabar, dan media digital

 

sehingga puisi yang malam ini kutulis

terbuang (percuma)

ditelan dengkur tidurmu

 

Pamulang, Senin, 18 April 2016

 

TANAH LOT 

 

telah kutempuh namamu

lewat cuaca dan mata

hingga suara laut pun

turut mengisi dongeng swastika

alangkah lembut

dunia yang lega

 

katakanlah

seperti indera kita

menyingkap sejarah iba

kutukan macam apa lagi

membuat bintang-bintang berguguran

di serambi pura

 

sedang keheningan anak-anak pantai

telah menyatu dengan mesra

menyebar jejakmu kecil

di masa lampau

 

kini tinggal kita yang bertekad

waktu kau hapal keterasinganku

cemas berlumur darah

 

sebagai layaknya matahari siang

surut di dada

kita pagutkan rindu ini

sebelumnya akhirnya

ia akan membatu

 

Denpasar, 1980

 

DI KOTA BANGLI SUATU SORE

 

-sajak duka bagi made anom-

 

jangan kau paksa aku

untuk bertanya

mengapa terjadi cuaca !

 

dalam suasana pasrah seperti ini

terminal yang esa

biarkan mengetuk-ngetuk pintu

bagi setiap penjelajah

menanti tergelincuhnya senja

memohon seribu dugaanmu

 

Denpasar, 1980

 

SUNGAI MUSI SUATU MALAM BERKABUT

 

sungai musi suatu malam

tanpa mata

berkabut putih- seperti lelehan lepra

 

sungai musi kubawa tidur lelap dalam sajakku

yang selalu berucap ;

selamat datang penderitaan

selamat datang kesengsaraan

 

Palembang, 2016

 

TUBUHKU BERSATU DENGAN SUARA OMBAK LAUT SUNDA 

 

kami datang

membawa sebungkus dendam

menyusuri pasir dan injakan karang tegar

 

sunyiku tak mendaki matahari pagi 

 

sejak dalam perjalanan tadi

sahabatku bercerita rakyatku menyedot minyak bumi

dua puluh tahun kemudian kita akan krisis pangan

di negeri khatulistiwa (dua sahabat karib tetap menyodorkan wajahnya untuk dilukis di muka wajah laut)

 

di atas meja bundar

gelas demi gelas dihidangkan hiruk pikuk suara ombak laut selat sunda

dingin

mengerikan

 

kami harus hidup dengan roh rendah hati

 

Pamulang, 2016

 

RUMAH DOA (bag.pertama)

 

di atas bantalan batu-batu dan pasir biru

jadilah sebuah rumah rapuh

ke sana kubangun mimpi-mimpi luruh

alangkah keruh nyanyian penyair pilu

keluh kesah masa laluku

 

RUMAH DOA (bagian kedua)

 

di atas batu dan pasir biru

kubangun mimpi-mimpi kudus

 

enam abad butuh waktu

untuk menjenguk Tuhan

di muka pintu

 

kemana gerangan doa-doa itu

melayang siang dan malam

 

DOA PAGI

 

seribu hantu menyerbu diriku

saat bertelut

menghadap mezbah Tuhan

 

dengan kata-kata menghujat berlumur dosa memerah

yang makin melumpuhkan tubuhku

untuk berucap doa-doa sambut matahari pagi

 

UPAH DOSA

 

airmata mengalir ke sebuah situ

berlabuh dalam rahang otak

musim kemarau

 

sudah dua abad maut mau meledak

lewat sekilas berita

 

o, aku jadi teringat

uang tiga puluh keping perak

untuk si pengkhianat yang menjual kepalsuan

bagi Tuhan

 

SAJAK JUMAT SORE

 

saat sembahyang menutup matahari terbenam

kubayangkan tubuhku tergantung di tiang bukit tengkorak

 

sementara di luar jendela hujan deras

makin membuat hatiku gelisah

untuk pulang menuju ke pembaringan malam

 

Bekasi, 2015

 

BANDARA INTERNASIONAL CHANGI

1

lihatlah toko-toko siang ini sudah berdandan

mau tunggu apa lagi mahluk dungu

 

jasad makin usang sepanjang landasan

permadani batu

tak beri salam tuli

kumpulan kaki yang payah

 

2

percakapan riuh kulipat rapi dalam kopor

menyedot sepi kian berlemak

sampai dari jarak begitu dekat

supir airbus menggosok-gosok jantung

 

pesawat belum menembus lapisan kaca

oi, ada bau lonte

kuku-kuku birahi

 

di sini tanpa beban

sebuah benua dirobek-robek

 

Singapura, Desember 1996

 

DARI SINI

 

ketika tiba kudaku dicambuk bulu-bulu

beranda stasiun yang lugu

makin mengeras bumimu berlapis-lapis

 

pacu! ayo! pacukan kudaku sarat racun tumbuhan

menuju gurun perang

sampai terkencing mata uang logam

 

logikaku terus berlari

berlari

mendaki matahari di kaki mall yang terbakar

faktur-faktur gemerlap

 

perjalanan kilas balik sudah basi

giliran lewat siapa harus berkemas

dari atas tenda pencuri kembang-kembang gula

ataukah menggilas rakus

roda-roda aspal

 

tercatat biodata dengan air tinta merah

aku melirik

tangannya adalah ratusan mercon

siap meledak

dalam saku celana

 

Johor Baharu, Malaysia, Desember 1996

 

KHOTBAH

 

di sebuah kaabah Tuhan

yang dibangun zaman batu

firman kebenaran dihembuskan

pada musim kering

akupun jadi terinspirasi.

 

Bekasi, 1997

 

SAJAK PERJALANAN EPISODE PERTAMA

 

badai mengamuk

dari mulut sungai tak tercatat dalam kitab

 

wajahmu membatu batasi bibir laut

aku sendiri bahasa bisu,suara protes

seperti angin berlalu

 

membujuk ke kancah perang

tak bermimpi permukiman-permukiman kumuh

serangga liar yang lapar

dan orang-orang sudah ditidurkan

di sebuah negeri gaib

 

pada zaman abad terbalik

masihkah penyair berpolitik,tanya Mr.Asart

 

sesal dibanting di trotoar jalan

perkawinan retak

terbentur dinding kapal

 

Singapura, Desember 1996

 

SUNGAI BATANGHARI DALAM PUISI

 

mendayuh sampan ke muara

matahari tercemar

sepanjang sejarah pantai timur sumatera

nelayan telah kehilangan pelabuhan

 

dalam kenangan digelar jembatan terpanjang

tempat menjerat mimpi-mimpi teduh

di dasar sungai dari hulu hingga ke laut

ikan-ikan tak pandai berenang

 

situs-situs

tercecer

menunggu janji sakti

 

Jambi, 1980

 

TRAUMATIK

 

stasiun radio kuusung dari belakang punggung

unjuk gigi hewan-hewan melata

matahari mengepulkan asap hitam

bencana berantai

tidurku meninju bulan yang berdarah

 

membuntingi pohon tunggal

perawan bertekuk lutut

perut ditikam belati

kehilangan air mani

 

kabar celaka

membuatku makin menarik minat

membenturkan geger otak ke dalam kulkas

 

kebaktian sudah genap

bapak menggali kuburan riuh

saudaraku menjala pertempuran

badai gurun

jasad beradat penuh

terbaring angkuh

di atas papan catur

 

berkembangbiaklah bumi yang labil

turut berenang di dalam lautan tak bertepi

ataukah menelan bunga-bunga karang

 

tanyaku waktu itu

mengapa dewa-dewa rajin mabuk

menjaga pintu kematian

sekian waktu dikhianati

jadi suatu dongeng

huruf-huruf lumpuh di lembaran koran

 

aku kecurian tanah-tanah pijak

sepuluh tahun kubangun jadi tugu hijau dihatimu

mencair

untuk penyair atau penginjil

 

Bekasi, Juli 1997

 

PERTEMUAN II

 

siapa mau bersajak

tiang-tiang beton salah dihapalkan

penyanyi beriman, itu pikiran pertama

menyergap percakapan di pintu rumah

 

satu abad kemudian

sepotong ginjal tak bernilai jual

potret semua perkawinan retak

setia bersetubuh dengan birahi angin

 

Bekasi, 1997

.

PERTEMUAN IV

 

mari kita membangun kapal besar di atas gunung batu

suatu pertemuan ribuan jam terbang

 

sibuk mencuri buah jarum

dari dalam perut laut

kemarin disodorkan

daging adat

 

sekarang kesetiaan darah anggur

harus dipikul rata

 

HUJAN HATIKU GELISAH INGIN TURUN KE SAWAH

 

sejak kemarin sudah kulakoni

rumah tangga yang hancur

menyebar firman-Mu melalui media digital

menjadi teladan bersolek di kaca di gereja

 

lalu berbicara dengan suara lantang;

anak-anak di damaskus suriah yang kelaparan

anggaran negara defisit Rp 290 triliun

hingga PHK massal bertabrakan dengan kendaraan di jalan

 

pagihari ini

semua jadi berubah total

kulihat air rawa

di tubuhnya ada sawah

 

perahu berlayar

dengan pose seperti seekor macan

menyesal dan harus berdiam

seperti keterasingan diri.

 

Pamulang, Februari 2016

-----------------------------------------------------------------------

Biodata  : 

Pulo Lasman Simanjuntak, dilahirkan di Surabaya, 20 Juni 1961.Menempuh pendidikan di

Sekolah Tinggi Publisistik (STP/IISIP-Jakarta).

Belajar sastra secara otodidak.Hasil karya sajaknya pertama kali dipublikasikan sewaktu masih duduk di bangku SMP, yakni dimuat di ruang sanjak anak-anak Harian Umum Kompas tahun 1977. 

 

Kemudian pada tahun 1980 sampai tahun 2022 sajak-sajaknya mulai disiarkan di Majalah Keluarga, Dewi, Nova, Monalisa, Majalah Mahkota, Harian Umum Merdeka, Suara Karya, Jayakarta, Berita Yudha, Media Indonesia, Harian Sore Terbit, Harian Umum Seputar Indonesia (Sindo), SKM.Simponi, SKM.Inti Jaya, SKM.Dialog, HU.Bhirawa (Surabaya), Koran Media Cakra Bangsa (Jakarta), Majalah Habatak Online,  negerikertas.com, Harian Umum Utusan Borneo, Sabah (Malaysia) , Portal Sastra Litera.co.id, ayosekolah.com, KABNews.id, bicaranetwork.com, brainly.co.id, wallpaperspeed.id, majalahsuluh.com, sudutkerlip.com, myberitaraya.blogspot.com, beritarayaonline.co.idkompasiana.com, antaranews.com, kliktimes.com, suarakrajan.com, widku.comliteranesia.comhariandialog.combisnistoday.co.id, sepenuhnya.comruangpekerjaseni.com,  majalah digital Apajake, matamata.co, borobudurwriters.id,  majalah digital Elipsis,  cakradunia.conarasipos.compotretonline.comindonesiana.id, spektrum-ntt.comspektrumnasional.com, majalah bulanan Jurnal Pemuisi (Malaysia),  haluankita.com,   agapetanpabatas.comlopocogito.blogspot.comkibrispdr.org, Jurdik.id,  yz.dhafi.link, s

pronusantara.compenakota.idharianhaluan.idid.beritayahoo.comkoranpelita.com, serta poskota.co

 

Buku kumpulan sajak tunggalnya yang sudah terbit “Traumatik”(1997), “Kalah atau Menang” (1997), “Taman Getsemani”(2016), "Bercumbu Dengan Hujan ” (2021), "Tidur Di Ranjang Petir" (2021),  " Mata Elang Menabrak Karang" (2021), "Rumah Terbelah Dua " (2021).

Sajaknya juga termuat dalam 15 Buku Antologi Puisi Bersama Penyair di seluruh Indonesia. Pada saat ini tengah persiapan untuk penerbitan Buku Antologi Puisi ke-8 berjudul "Bila Sunyiku Ikut Terluka" (2022). 

 

Namanya juga telah masuk dalam Buku Pintar Sastra Indonesia Halaman 185-186 diterbitkan oleh Kompas (PT.Kompas Media Nusantara) cetakan ketiga tahun 2001 dengan Editor Pamusuk Eneste, serta Buku Apa & Siapa Penyair Indonesia halaman 451 diterbitkan oleh Yayasan Puisi Indonesia dengan Editor Maman S Mahayana dan Kurator Sutardji Calzoum Bahchri, Abdul Hadi W.M, Rida K.Liamsi, Ahmadun Y Herfanda, dan Hasan Aspahani.

Saat ini sebagai anggota Dapur Sastra Jakarta (DSJ) , anggota Sastera Sahabat Kita (berpusat di Sabah Malaysia) Ketua Komunitas Sastra Pamulang (KSP), dan bekerja sebagai wartawan media online.

Email  : pulo_lasman@yahoo.com

HP       : 08561827332




Posting Komentar

0 Komentar