Puisi PANGGUNG GONG : Wan Orlet - negerikertas.com

INFO ATAS

Share link karya anda ke banyak orang agar mendapat peluang besar untuk meraih Anugerah Sastra dari Negeri Kertas, dengan kriteria karya kualitas terbaik dari 10 karya dengan pembaca terbanyak. Berhadiah uang tunai dan piagam penghargaan.

Media Sastra dan Seni Budaya

WA 628888710313 | Email nkertas@gmail.com

18 Jun 2022

Puisi PANGGUNG GONG : Wan Orlet

 PANGGUNG GONG

: Wan Orlet


Kau kian beralih panggung; kolosal

Tak terhitung penjuru dan cahayanya

Terang benderang menyorot punggungmu

Yang sedari tadi menggenggam naskah

Kau tukar dengan waktu dan air mata


Kini gedungmu sangat agung 

Tak lagi pengap dan gelap

Semua plot itu milikmu:

Kau adalah sutradara

Menjelma penata cahaya

Aktor sekalipun, tetap kau


Panggungmu kini punya segalanya

Taman bunga, gunung menjulang

Juga suara yang merdu di telinga

Simpan naskah itu lemari hatimu

Teguk sepuasnya air firdaus


2022

SEPERTI HARI YANG TELAH PERGI


Senja menyudahi tugasnya

Sementara kau mulai bergegas

Seperti pada hari yang telah pergi

Bajumu tetap Jawa religi 


Saban persimpangan adalah 

Pengabdianmu Pada Tuhan

Ditambah ibadah-ibadah lainnya

Kau lempar senyum pada pendeta


Pun pada saku yang kosong

Pada kemeja lusuh

Pada ban becak kempes

Keikhlasanmu dirasakan apa saja


2022 






BAIT-BAIT ARTI


Kita memburu arti

Kerutan wajah dan kurus tubuh

Senyumannya  membangunkan mentari

Dari pagi yang murung dan sepi


Kita menjadi seutuhnya manusia

Saat mendengar lontaran kata tingkat dewa

Dari mulut hitam dan kering

Mulut yang sekali dalam sehari memakan nasi


Kita lebur menjadi lelehan nafsu

Dingin sejenak dari panasnya jiwa

Melihat kekhusyuan sujudnya tubuh itu

Memanunggalkan diri dengan yang akbar


Kita memburu arti

Hari-harinya dianggap tak berarti

Oleh sesungguhnya orang tak punya arti


2022


BIODATA PENULIS


Cevi Whiesa Manunggaling Hurip lahir dan tinggal di Kota Tasikmalaya. Menulis puisi dan cerpen dalam bahasa Indonesia dan Sunda. Puisinya banyak dimuat di berbagai media online. Buku antologi puisinya berjudul ”Setia Ialah Farhatun” dan antologi bersamanya ”Dari Kisah Odysseus Tidak Ada Perahu Nuh”. Ia juga seorang dalang wayang golek dan aktif dalam bidang kebudayaan. Kesehariannya aktif mengajar kesenian di beberapa sekolah dan sanggar seni dan bekerja di radio LPPL, Dishubkominfo, Kabupaten Tasikmalaya.





INFO BAWAH

[ Dukung peningkatan honor penulis karya terbaik dengan cara klik iklan yang ada di website ini. Untuk berhenti mendapat info dari NK, caranya ketik UNREG kirim ke nkertas@gmail.com ]