ESAI SASTRA: Berjalan Dalam Ingatan: MENGUAK IMAJI DHARMADI Oleh: Eddy Pranata PNP - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis cerpen atau puisi untuk memperebutkan Anugerah Kesaktian Pancasila. Deadline 1 Oktober 2022 | Kirim ke email nkertas@gmail.com

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

24 Jun 2022

ESAI SASTRA: Berjalan Dalam Ingatan: MENGUAK IMAJI DHARMADI Oleh: Eddy Pranata PNP

 ESAI SASTRA:

Berjalan Dalam Ingatan:

MENGUAK IMAJI DHARMADI

Oleh: Eddy Pranata PNP


SEBAGAI sesama penulis kreatif dan sesama orang yang bergelut di kawah candradimuka kepenyairan, intreprestasi dan analisa ketika membaca kumpulan puisi Berjalan Dalam Ingatan karya Dharmadi, adalah suara hati yang berbisik: “Ini puisi-puisi dengan bahasa sederhana yang sangat pantas diapresiasi.”  

Lalu bergumul dengan setiap diksi pada tiga puluh dua judul puisi yang bertitimangsa tahun 2021. Ada daya sentuh dan daya kejut yang menarik-menghela dengan berbagai intuisi. Pendekatan “rasa” dan dengan “pisau analisis sederhana” perlahan menguak imaji Dharmadi yang terkadang terang dan terkadang samar. Puisi-puisi yang mampu menawarkan pemikiran dan pencerahan, tentunya, pada setiap denyar ruang dan waktu. 

Antologi Berjalan Dalam Ingatan menghimpun— nyaris semua berbentuk puisi pendek, hanya tiga puisi panjang berjudul; riwayat, bolak-balik zaman, dan—berjalan dalam ingatan. Tema yang diangkat beragam: kesunyian, maut, kritik sosial, dan tentu ada pula yang bertema cinta. 

Dharmadi mencatat dan memotret segala kelebat, segala peristiwa, segala kenangan, dan apa saja yang membuatnya takjub dan terpana (semacam keindahan atau kengiluan yang menelikung kehidupannya). Tak terhindarkan. Tak terbendung. Semuanya menjelma menjadi sejarah kecil dan sejarah besar dalam perjalanan hidup dan gelora kepenyairan.

Tujuh bagian pada puisi berjudul Berjalan Dalam Ingatan—  yang menjadi judul antologi ini—menandakan bagaimana Dharmadi mengulik “sejarah kecil” dan “sejarah besar” lewat kata-katanya, kalimat-kalimatnya, ungkapan-ungkapannya yang begitu runut dan panjang. Menyeret kita akan sebuah masa lalu yang tragis, menyedihkan sekaligus mendebarkan. Petistiwa “berdarah” masa pergolakan G30S/PKI. Pergeseran dari masa Orde Lama ke Orde Baru. Persoalan kemanusiaan. 

Hal-hal yang sesungguhnya ingin dicapai: kejujuran dan keselasaran dalam kehidupan. Humanisme universal. Dan semua itu secara jelas tergambarkan dalam ungkapan: //../ ... sebentar lagi buruan tertangkap/ aparat menyuruh membuka pintu/ begitu sudah terbuka terdengar suara perempuan/ dari dalam: sampun dipendet wau siyang/ ada tangisan bayi sebentar kemudian diam/..// Lalu di baris-baris akhir terbaca begini: //../ sejarah tak lekang oleh zaman/ tetap berjalan dalam ingatan//

Lalu dua puisi panjang lainnya, riwayat; lebih mengabarkan tentang “sejarah kecil” pribadi dan keluarganya. Sedangkan puisi; bolak-balik zaman, merupakan kritik sosial— bagaimana hal-hal yang berbau tradisional ringsek diremuk tangan kemodernan. 

Memasygulkan memang. Serupa petikan puisi berikut ini: //../ dulu leluhur menjaga merawat alam/ dengan melalukan ritual/ pohon batu gunung laut dberi sesaji/...// Tidak terelakkan. Realitas yang dihadapi menyesakkan dada. Tidak terhadang. // pohon ditebangi bebatuan di kaki/ gunung dibongkar dibangun villa/ tempat peristirahatan/ sawah ladang menjadi tempat tinggal/ jalan perkantoran/ gedung-gedung dibangun bertingkat-/ tingkat seakan berlomba tinggi-tinggian/ menjangkau langit paling cepat//.. Sebuah ironi yang getir memang.

Tema kesunyian, ada pada dua puisi: sepi, ingin cantik seperti manequin. Dan puisi yang mengungkap tentang “bau kematian” antara lain: tujuh puluh tiga, tiba-tiba, jeritan demi jeritan, begitulah. Sementara puisi yang melukiskan tentang “suasana batin”, “waktu” dan “kenangan” antara lain: menyiasati waktu, persenggamaan, kembali siuman, seribu bulan, mimpi, zaman, asal kata-kata, mulut, matahari sepenggalah, aroma kemenyan, di beranda, menikmati malam, tengah hari

Tetapi tidak kalah menariknya adalah sebuah puisi pendek bertema asmara berjudul ; wangi cinta: // sekuntum kembang sedap malam di tangan/ diciumi sembari berbisik, cinta itu wangi// Ciah! (Ciah! ungkapan keterkejutan sekaligus kebahagiaan dari saya/penulis).

Kecemasan dan kesungguhan Dharmadi yang sangat kental akan proses atau pergulatan kepenyairannya tersirat pada puisi yang berjudul; desis, di sini simbolisme jernih tertuang: // ada desis dalam sajakku/ mungkinkah desis ular yang/ terpenggal kepalanya ketika/ kubersihkan semak belukar kata/..// Imaji tentang sajak, tentang kata-kata, tentang pergulatan bagaimana ia tidaklah mudah, sangat serius dan penuh misteri dalam menulis. Sementara itu pada sajak-sajak lainnya kecemasan itu tidaklah terlalu serius, lihatlah: sajak tak ada, dan ingin berwicara.

Menikmati puisi-puisi Dharmadi, menguak imaji-imaji Dharmadi, seolah tamasya yang indah dan mendebarkan. Kadang suasananya sedih, mengharukan, kadang penuh pukau dan beberapa puisi memunculkan ambiguitas yang menghanyutkan. Dengan cerdas, Dharmadi menyiasati larik-larik dan rima-rima dengan pilihan diksi yang bernas. Bahkan, pada sejumlah puisinya memancarkan kilatan imaji penuh cahaya. 

Sudah 52 tahun (Mas) Dharmadi bersentuhan, bertarung dan bermesraan dengan kata-kata, dengan kisah-kasih puisi. Jarak kreativitas yang membentang sangat panjang. Ada banyak hal layak kita ketahui dan teladani bagaimana perjalanan dan kesetiaannya. Bagaimana sedihnya, kecewanya, bahagianya, “kesurupannya” pada puisi. Apresiasi yang setinggi-tingginya buat Dharmadi. Telah ia jaga dan rawat marwah puisi. Daging puisi. Tulang-belulang kepenyairan. Jiwa-sukma sastra!

Dharmadi lahir di Semarang 30 September 1948. Memulai memublikasikan puisinya di media massa tahun 1970. Berjalan Dalam Ingatan adalah buku puisinya yang kesembilan. Berisi 32 judul puisi, tebal 42 halaman diterbitkan oleh Satria Publisher Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah.  Buku puisi sebelumnya adalah Kemarau, Aku Mengunyah Cahaya Bulan, Jejak Sajak, Aura, Kalau Kau Rindu Aku, Larik-larik Kata, Pejalan, Kata Suara Gema.

Buku antologi puisi Berjalan Dalam Ingatan ini  dilanching dan didiskusikan Sabtu, 25 Juni 2022 di Satria Publisher Tinggarjaya, Jatilawang, Jawa Tengah. 

Salam sepenuh hati: Puisi!  *** (Eddy Pranata PNP, penyair).

      Cirebah/Jaspinka, 15 Juni 2022














C:\Users\edy pranata\Downloads\287855367_3245980865635989_4791596875918337742_n.jpgC:\Users\edy pranata\Downloads\286010892_171499755336249_1227101642406457450_n.jpg












                    Dharmadi


BIODATA PENULIS:


C:\Users\edy pranata\Downloads\174148050_2928462864054459_3409901292767833716_n.jpg








Eddy Pranata PNP, penyair. Founder of Jaspinka (Jaringan Sastra Pinggir Kali, Cirebah, Banyumas Barat, Indonesia. HP/WA: 081215983303


INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa puisi/cerpen/artikel + biodata narasi + foto penulis atau gambar ilustrasi, semuanya dalam satu lampiran MS Word. Kirim ke email nkertas@gmail.com