Cerpen Pengakuan Zamrud Oleh: Fahrul Rozi* - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis cerpen atau untuk memperebutkan Anugerah Sumpah Pemuda. Deadline 28 Oktober 2022 | Kirim ke email nkertas@gmail.com

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

1 Jun 2022

Cerpen Pengakuan Zamrud Oleh: Fahrul Rozi*

 Pengakuan Zamrud

Oleh: Fahrul Rozi*


Lelaki itu bernama Zamrud, begitu yang lain menyebutnya tetapi itu bukan nama sebenarnya. Ini sudah malam kesembilan dia datang ke tempatku dan membeberkan rahasia. Aku ingin kalian mendengar ceritaku tentang Zamrud. Namun tidak sekarang. Zamrud masih berada di tempatku. Dia duduk dengan kepala tertunduk. Aku bisa melihatnya dengan jelas karena di tempatku terpasang lampu neon baru. 

Memang. Tidak sering Zamrud ke sini. Tapi aku sangat kenal dengannya, setidaknya aku hafal betul apa yang dia lakukan di sini. Dia pernah datang bersama anak laki-lakinya. Dia jelaskan bahwa di tempatku seseorang tidak boleh berisik. Anaknya mengangguk paham lalu mereka salat. Tidak lama setelahnya ketika hari jumat aku melihat anak Zamrud duduk paling depan. Ia begitu polos dan tampak lugu. Tapi tidak dengan Zamrud. Dia tidak pernah duduk paling depan. Malah jarang sekali kulihat dia saat salat jumat.

            Pukul 03.00 Zamrud menghela napas dan menghembusnya pelan. Kemudian dia termenung sesaat sebelum akhirnya bangkit dan pulang. Sebentar lagi Subuh dan aku hanya punya waktu dua jam untuk menceritakan rahasia Zamrud pada kalian.

            Dalam pengakuannya di depanku, orang-orang di sekelilingnya telah mengatainya gila tapi dia sendiri tidak tahu apa arti kata itu. Dia malah bahagia dan memuji orang yang mengatainya. Dalam percakapan dengan anaknya tempo lalu, dia mengaku tidak bisa baca. 

            “Lalu buku-buku di rumah milik siapa kalau bukan milik Bapak?” tanya Harun, anak Zamrud.

            “Itu bukan buku tapi kitab gundul, Run,”

            “Apa bedanya kitab gundul dengan buku?”

            “Bedanya dari aksara. Apa kamu sudah bisa baca buku?” Harun mengangguk.

            Zamrud yang bodoh. Bisa-bisanya dia dikatain gila malah memuji orang yang mengatainya. Dasar tolol! 

Rahasia Zamrud belum selesai. Karena rahasia sebenarnya belum kuceritakan. Aku tidak ingin cerita ini lurus-lurus saja seperti penulis pemula yang sok-sok-an memakai alur maju mundur atau mundur maju. Tapi setidaknya aku berusaha bercerita yang sebenarnya tanpa meleset dari tokoh utama kita. 

Zamrud terlihat kurus dan matanya gelap. Dia seperti memiliki beban di pundak kirinya dan setiap kali berjalan kepalanya miring ke kanan. Orang-orang mengiranya sinting. Tapi Zamrud tidak peduli. Dia bersimpuh di tempatku dengan berlumuran keringat. Dia mengutarakan niatnya untuk membunuh A setelah subuh. 

Janganlah kalian terkejut, karena hal ini sudah biasa terjadi. Zamrud, tokoh kita ini memang tolol. Tiba-tiba dia ingin membunuh seseorang. Dan sebelumnya dia memuji orang yang mengatainya gila. Kalian bisa tebak sendiri apa sebab dia ingin membunuh.

Pada malam kedua dia datang dengan lelehan air mata. Dia berkata sesenggukan bahwa dia tidak berani membunuh. Dia dihantui akan dosa dan neraka dan untuk menenangkannya dia menyayat pergelangan tangan hingga berdarah.

Tidak lama setelah menangis, Zamrud berdiri lalu pergi tanpa berkata-kata.

Ingin sekali mengatainya bodoh tapi tidak mungkin. Harun pun tidak lagi ke masjid. Kurasa perilaku Zamrud bukan karena orang yang mengatainya akan tetapi pada keluarga kecilnya. 

Pada obrolan di beranda masjid seorang takmir bercerita bahwa Zamrud telah bercerai dengan istrinya. Takmir itu menambahkan Zamrud tidak menolak cerai dari istrinya. Dia malah tersenyum lalu memeluknya. Seorang yang mendengar cerita takmir menyahut, Zamrud yang gila itu? Takmir mengangguk. Di dalam, aku ingin sekali mengelak perkataan takmir, dan lagi-lagi aku tidak bisa.

Malam ketiga Zamrud datang ke tempatku. Dia tidak lagi berlelahan air mata atau membawa berita buruk. Aku pikir kabar tadi siang adalah bohong. Buktinya Zamrud tidak apa-apa. Dia terlihat bahagia. Kemudian dia salat malam. Setelah salat dia berkata telah membunuh Siti, istrinya dengan racun tikus sebelum Siti pergi dari rumahnya. Aku ingin sekali menonjok wajah Zamrud saat itu, dan lagi-lagi tidak mungkin. Dia sudah keburu pulang sebelum aku menghakiminya.

Kini aku mulai percaya apa yang dikatakan takmir bahwa tokoh kita ini benar-benar gila.

Setelah subuh takmir mengumumkan kematian Siti, mantan istri Zamrud. Masjid ramai oleh warga. Di depanku sudah ada jasad Siti dalam keranda. Zamrud dan Harun berada paling depan. Setelah salat selesai jasad Siti dibawa ke pemakaman umum.

             Oh Zamrud yang licik. Bagaimana mungkin dia membunuh istrinya sendiri, sedang membunuh orang yang mengatainya tidak bisa dia lakukan. 

            Malam keempat setelah hari duka dia datang ke tempatku. “Orang-orang banyak menganggapku gila, tapi bisa saja mereka yang gila. Aku bisa memaklumi mereka, tetapi Siti, istriku… dia kelewat gila. Tiba-tiba dia minta cerai. Karena malas berdebat aku turuti saja keinginannya. Tapi sebelum dia pergi ke rumah orang tuanya, aku berikan dia teh yang telah ditambah racun. Awalnya dia tidak mau tapi aku taruh saja di atas meja lalu aku tidur di luar. Dan besoknya dia mati.” Zamrud menunduk kemudian pergi.

            Masih ada banyak rahasia Zamrud, termasuk rahasia pada pertemuan kesembilan. Kau tahu waktuku tinggal sedikit lagi, dan aku tidak mungkin menceritakan semua rahasia Zamrud pada kalian. Kalian hanya perlu ingat bahwa ini adalah rahasia kita.

             Kalian lihat sendiri penampilan Zamrud pagi ini berbeda. Dia kini benar-benar seperti orang gila. Dia datang ke tempatku lalu duduk. Dia memandang ke depan dengan kekosongan luar biasa. Kupikir dia hendak merencanakan pembunuhan selanjutnya setelah Harun dan kedua kakek neneknya dibunuh. Tapi ternyata tidak. Zamrud menangis, benar-benar menangis. Dia mengaku telah berdosa. Tapi kali ini aku tidak mungkin tertipu olehnya. Aku menyumpahi Zamrud, mengatainya gila dan mengutuknya. Aku benar-benar tidak suka dengan dirinya yang cepat berubah. Dia lebih gila dari orang gila. Tapi buru-buru Zamrud mengusap air matanya. Dia mengatupkan kedua tangannya lalu berdoa.

            Ah, Zamrud, Zamrud. Tuhan tidak mungkin mengampunimu. Aku akan menjadi saksi di pengadilan nanti agar kau masuk neraka. Hahaha. Zamrud yang bodoh.  

Subuh kurang sepuluh menit lagi. Tapi takmir masjid belum kunjung datang. Dari kejauhan aku mendengar suara takmir yang panik. Aku mempertajam pendengaranku “Zamrud meninggal, Innalillahi,”


Kutub, 06-03-2020

*Fahrul Rozi, lahir di Bekasi. Saat ini belajar menulis di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY) 


CP: 082310398926

No. Rek. 0850042157

Moh Fahrul Rozi


INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa puisi/cerpen/artikel + biodata narasi + foto penulis atau gambar ilustrasi, semuanya dalam satu lampiran MS Word. Kirim ke email nkertas@gmail.com