[CERPEN] Amalia Karya Musyafa Asyari - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis cerpen atau puisi untuk memperebutkan Anugerah Kesaktian Pancasila. Deadline 1 Oktober 2022 | Kirim ke email nkertas@gmail.com

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

10 Apr 2022

[CERPEN] Amalia Karya Musyafa Asyari

 Amalia

Karya Musyafa Asyari

Temaram senja mulai menyelubung. Matahari senjakala sebentar lagi tenggelam sempurna. Redup cahayanya seperti nyala sepenggal tali lilin yang tersisa dalam leleh. Mestinya sore itu, sebelum langit merah menjelangga, aku keluar dari rumah, meski hanya untuk membaca cakrawala dan berjalan mengikuti arah kaki. Rencananya begitu, tetapi aku mengurungkan niatku. Walaupun biasanya aku hanya keluar di saat bekerja. 

Aku memilih untuk tidur di atas kursi goyang tua yang terbuat dari kayu jati dan berukir bunga mawar yang sering ibu duduki. Aku melihat api tamak di pekarangan belakang rumah membakar langit sore yang kemerahan. Dari asap yang membumbung ke angkasa. Tiba-tiba, “Wuss...!!!” Mendadak angin bertiup sangat kencang, menghantam pagar dan memorak-porandakan seisi rumahku.

“Ambruk!!!” Rumah yang masih berbahan kayu-kayu tua itu, roboh dari penyangganya. Kayu itu tak mampu menahan terpaan angin yang sangat kencang sehingga serpihan kayu tersebut jatuh tepat mengenai kedua kakiku. Refleks, aku pun teriak, hingga membangunkan seisi rumah. Aku tak mampu lagi untuk menggerakkan kedua kakiku apalagi untuk berdiri. Ia sudah terkulai lemas dengan sedikit darah yang keluar tepat di mana kayu tersebut menindih kakiku.

Tak hanya aku yang menjerit, kakak yang melihat kondisiku mengenaskan, ia tak mampu menahan tetesan air matanya yang tumpah ruah. Ia langsung menolongku. Ayah yang tengah berbaring lemah di kamar akibat lumpuh yang di deritanya ikut meratapi kesedihanku. Ayahku lumpuh akibat kecelakaan setahun lalu sepulang dari bekerja, kecelakaan tersebut mengakibatkan seluruh saraf kaki dan tangannya itu putus mengakibatkan keduanya lumpuh hingga sekarang.

Sama halnya dengan kakak dan ayahku, ibuku juga sangat panik ketika melihatku sudah terbujur lemas di lantai. Dengan sekuat tenaga ibu dan kakakku mengangkat beban kayu itu. Berat, bahkan sangat berat. Itu kayu satu-satunya penyangga di rumahku.

“Maafkan ibu. Nak, ibu tak bisa menyelamatkanmu dari amukan angin yang dahsyat tadi.” Ujar ibuku seraya mengusap-usap matanya yang penuh dengan air mata.

“Iya ibu. Amalia juga yang kurang waspada.”

“Sabar ya. Nak, ibu akan melepaskan kayu ini dari atas kakimu.”

Suara ibu begitu lirih, tertatih dan nadanya sangat pelan karena usianya yang tak lagi muda. Ibu kini berumur lima puluh tahun, walaupun sudah semakin menua, ibu selalu giat dalam bekerja dan membiayai adik-adikku. Perempuan berambut putih dengan sarung hijau itu menyalurkan tangannya kepadaku. Aku hanya bisa mengangguk dan menggapai tangannya, dengan air mata yang terus berderai. Aku pikir ibu dan kakakku tak mungkin sanggup untuk mengangkat kayu itu. Aku paham betul betapa beratnya kayu itu. 

Sejenak aku terdiam. Seperti ada yang berhenti mengalir. Panas, dingin, kesal bercampur menguasai tubuhku yang sedikit melemah. Harapku kandas di tengah perjuangan ibu yang terus menolongku di tengah tubuhku yang lemah tak berdaya. Meski ulu hatiku terasa gelisah, badanku yang terasa melemah, dan kakiku yang terus mengeluarkan darah. Tak ada yang bisa kulakukan kecuali pasrah.

Ibuku berlari ke luar rumah. Memanggil-manggil tetangga. Tak heran suara ibu sangat lantang, karena suara gemuruh petir telah mengalahkan suara ibu yang lirih. 

Lima belas menit berlalu akhirnya para tetangga datang. Mereka berbondong-bondong menolongku. Dan kayu itu pun sudah tersingkir dari kakiku. Tiba-tiba, mobil sedan berwarna hitam pun parkir di depan rumahku. Mobil itu milik Pak Candra juragan sapi peras. Ia merelakan mobilnya untuk membawaku ke rumah sakit. Kemudian, para tetangga membawaku ke dalam mobil. Di samping itu, ada raut wajah yang semakin teriris, ayah dengan segala penyesalannya tak mampu menolongku waktu itu.

Sampai di rumah sakit. Dokter memfonis kakiku lumpuh seumur hidup. Dan bisa jadi harus di amputasi karena tulang kakiku hampir remuk. Dengan lapang dada, mau tidak mau aku harus menerimanya selagi itu baik untukku, walaupun aku harus menerima kenyataan pahit ini. Aku tidak memiliki kaki yang utuh seperti teman-teman sebayaku.

Setelah lima hari di rumah sakit, aku lalu pulang ke rumah. Tatkala  melihat rumahku yang kini kembali utuh seperti semula. Bayangan memilukan kembali melintasi pikiranku saat melihat kayu penyangga rumah kembali berdiri kokoh. Kenangan pilu kembali mengingatkanku pada sore yang mengerikan itu. Namun, aku berusaha selalu membantahnya dan memilih menatap ibu yang mulai saat ini harus bekerja keras sendirian, aku tak mau larut dalam kesedihan dan bangkit untuk keluargaku. 

Aku tak lagi bekerja sebagai penjaga toko. Pemiliknya yakni bu Ani memberhentikanku tanpa alasan yang dimengerti. 

“Amalia, kamu tidak usah bekerja, istirahat saja di rumah. Biar ibu saja yang bekerja, mencari uang untuk kebutuhan sehari-hari.” Ucap ibu sambil mengelus rambut ikalku.

“Tidak bu, Amalia sudah sembuh seperti sedia kala. Biar Amalia yang bekerja, bu.”

“Tapi, Nak.”

“Lihat wajah Amalia, bu. Sudah kembali ceria.” Ujarku sambil tersenyum.

“Iya, Nak. Tapi kakimu lumpuh.”

“Kaki Amalia memang lumpuh, tapi tidak dengan tangan, tubuh, dan semangat Amalia.”

Wajah ibu kembali bersinar dan matanya kembali berbinar. Namun, kali ini air matanya tak lagi berderai. Mungkin ibu ingin menunjukkan kepadaku agar aku tetap sabar dan tabah dalam menerima cobaan dan menghadapi ujian yang terus menerpa. Ibuku memang sangat sabar. Ia bekerja memasak sayur kemudian menjualnya di depan rumah dan selalu ia tekuni. Pekerjaannya itu membuatnya menjadi seorang wanita dengan segudang ketabahan. 

Tapi, di luar semua itu, ibu juga pernah dengan perkasa bekerja di sawah, saat aku masih kuliah. Setiap hari ibuku selalu makan nasi dengan garam dicampur kelapa parut gongseng demi memberikan sebuah buku pelajaran adikku atau bersabar untuk tidak mengganti kain sarung selama tiga kali lebaran agar anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan.

Rasanya sekuat apa pun aku berusaha tentu tak mampu membalas segala yang telah dilakukan ibu. Dan betapa naifnya aku jika mengeluh saat ibu membutuhkan sedikit perhatian dari putrinya. Memang benar kata orang, kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah.

Aku selalu berlatih kepada ibu tapi bukan untuk memasak, karena aku tidak tertarik untuk memasak. Karena terus berdiam diri di rumah dan tak ada yang bisa aku kerjakan. Aku pun sangat senang di kala para tetangga membelikanku kursi roda agar memudahkanku beraktivitas dan berkeliling ke sekitar rumah. Aku yakin mereka rela mengumpulkan uang mereka demi membeli kursi roda untukku.

Akhirnya, ibu melatihku untuk memasak. Aku harus merelakan egoku tidak memasak. Aku sangat menikmati itu. Ibu begitu sabar melatihku. Ayah yang terbaring di ranjang pun ikut senang dan memperlihatkan seraut wajah yang berbinar. Ia ikut merasakan kebahagiaanku dengan ibu. Begitu juga kakak dan adik-adikku mereka semua ikut bahagia yang digambarkan dengan senyum manis mereka.

Belajar memasak memang tak semudah membolak-balikkan tangan. Menjadi seorang yang pintar memasak harus membutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Itu yang aku dapat ketika belajar dengan ibu. Ibuku seperti seorang koki profesional. Aku membayangkan, kalau saja ada modal pasti ibu sudah membuat restoran ternama. Masakan ibu sangat enak dan gurih. Pantas saja, pada pelanggan ibu enggan untuk berpaling. Sekalipun banyak pelanggan, mereka rela mengantri demi mencicipi masakan ibu.

Kini, aku semakin merasa kalau aku tidak sendiri di sini. Ayah, ibu, kakak, adik-adikku, dan para tetangga yang peduli, mereka adalah orang-orang yang luar biasa. Kita memang tak perlu menyesali hari kemarin tetaplah melakukan yang terbaik untuk hari esok. Aku pun kembali menitikan air mata. Tapi, sekarang bukanlah air mata kesedihan melainkan kebahagiaan.[] 

 

Musyafa Asyari

Mahasiswa Prodi Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Islam Negeri KH Syaifuddin Zuhri Purwokerto.Lahir di Benda, Sirampog, Brebes, 1 Juni 2003. Agama Islam. Bergiat menjadi anggota SKSP ( Sekolah kepenulisan sastra peradaban). Karyanya pernah dimuat di beberapa media online seperti cerano id, go kenje, dan Borobudur Writers. Sekarang sedang berdomisili di Ponpes Al-Hidayah Karang Suci Purwokerto, dan Ponpes Darul Ghuroba Al-Hikmah 1. Ig/musyafa Asyarie, no hp: 085727228346. Email yang dapat dihubungi di musyafaasyari03@gmail.com .No rekening: BRI an/: M. Musyafa Asyari: 587301038384531







INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa puisi/cerpen/artikel + biodata narasi + foto penulis atau gambar ilustrasi, semuanya dalam satu lampiran MS Word. Kirim ke email nkertas@gmail.com