005

header ads

Catatan tentang "Dunia: Suara Penyair Mencatat Ingatan" Oleh: Gilang Teguh Pambudi


DINDING PUISI 406

Catatan tentang "Dunia: Suara Penyair Mencatat Ingatan"

Oleh: Gilang Teguh Pambudi


Kadang kita sedikit nyengir depan judul antologi yang ditawarkan sebuah kepanitiaan, komunitas, atau penerbit. Sebab judul buku sekaligus tema yang ditawarkan itu suka tidak menimbulkan rangsangan kesadaran, kesaksian dan kepedulian yang tinggi. Kadang cuma ingin sekadar sensasi-sensasian yang menghibur. Dulu disebut selera picisan, selera receh, itupun kalau laku. Kalaupun sensasi kecil yang dimaksud itu kurang berhasil, setidaknya masih bisa menyenangkan. Minimal menyenangkan kontributor karena sudah bergerak positif di ranah sastra Indonesia. 


Tapi jangan salah. Sensasi-sensasian dan sekadar berhibur sastra itu boleh, halal dan tetep kreatif. Sebagian tentu akan berkomentar, siapa bilang itu kerja gampang? Bikin dan nerbitin buku itu gak gampang lho. Apalagi pake "dalam rangka", itu perjuangan. Begitu katanya. Ok ok. 


Alih-alih menawarkan kesadaran, kesaksian, pencerahan, dan kepedulian, bahkan sensasi kecil dan kemungkinan menghiburnya pun bisa saja sangat kecil pada buku yang dibuat asal terbit. Cuma bisa menambahi koleksi di rak buku. Minimal begitu.


Tapi jangan salah, adakalanya kita kurang melihat secara jeli, atau kita keliru pakai teropong. Ada juga suatu judul atau tema yang ditawarkan seperti terlalu sederhana atau sepele, padahal sesungguhnya ada sesuatu yang besar yang tak terlihat. Itu sebabnya di Dinding Puisi (sebuah group FB) cenderung seluruh postingan karya boleh naik. Layaknya di taman kota siapapun pengunjung boleh masuk dan sukacita. Tetapi awas-awas, sewaktu-waktu petugas trantib bisa datang jika ada sesuatu yang salah bertindak di taman kota itu. Gitu aja. Begitulah tugas penanggungjawab dan admin.


Baru-baru ini ketika di momen hari puisi dunia komunitas Sastra Krajan mau menerbitkan buku yang judul mukanya, "Dunia: Suara Penyair Mencatat Ingatan", saya terdiam sejenak. Apa benar cuma sekadar ingatan? Tapi teropong saya segera membalik keadaan, apa penyair tidak boleh hilang ingatan dan mesti punya ingatan sebagai persyaratan? Ingatan seperti apa? Oke, itu blum seberapa. Sebisa apa, atau sehebat apa, atau segila apa penyair menyematkan pesan ingatan itu? Mungkin tentang kaos kaki yang pernah dipakaikan oleh seorang ibu kepada seluruh kaki anak manusia di muka bumi sejak jaman dulu? Atau seberapa perih-ngilu gas air mata menyembur dirinya dan kawan-kawan tahun 1998 lalu? Atau setelah 2 tahun kumis dan jenggot ditutupi masker, ternyata semakin memutih, apa itu artinya sudah matang dan siap dipanen? 


Maka saya pastikan ikut pada buku antologi itu. 3 puisi saya kirim. Saya pun bangga pada teori, suatu ketika kita bisa terlibat suatu komunitas apapun, di manapun.


Kemayoran, 04 2022

Posting Komentar

0 Komentar