Puisi LARA SANTRI JUNIARTI - negerikertas.com

INFO ATAS

Teruslah berkarya, karena kita tak pernah tahu kapan dan dimana ia diterima. Seperti sebaran biji yang menemukan lahan subur, ia akan berbunga semerbak di hati mereka, dan menunggumu datang untuk memetiknya [ Fileski ]

Negeri Kertas

Sejak 2015 membangun sastra serumpun bahasa.

13 Feb 2022

Puisi LARA SANTRI JUNIARTI

PEREMPUAN PEMELUK HUJAN

LARA SANTRI JUNIARTI, 

Angkasa berjubah abu-abu, pekat memayungi semesta

Mega menghamburkan muatannya menjamah lorong yang tiada daya ditangkap netra.

 

Perempuan itu terpaku pada jendela kayu rumah bambu,

mengatur haluan matanya pada laksa yojana yang terjelma dalam ruang imaji. Menembus lapisan dimensi, "Nak, baca ini biar pintar. Biar jadi sukses di masa depan".

 

Pipinya menghangat, air hujan dari genteng yang bocor melahirkan sungai mungil melintasi wajah lalu mati pada sapuan tangan gelembur miliknya. Ia tak kuasa (lagi).

Genap ribuan purnama dibilangnya biji kurma pada sebekas kaleng Khong Guan di atas nakas tua saban adzan memanggilnya melepas dahaga.

 

"Lebaran aku pulang, Bu." janji itu menggema, mengusik koklea.

Hujan kian tumpah, belum ada tandanya akan mereda. Langit masih gelita. Tangan keriputnya tak sudi lagi membendung ego yang berontak ingin segera bebas.

Sungai-sungai marak tercipta. Perempuan itu (lagi-lagi) pasrah. 

Imani ikrar ke sekian putranya sama dengan menggarami luka yang masih basah. Apa lagi yang bisa dibuatnya: pura-pura percaya.

 

 

"Ajarkan juga dia mengaji, Bu. Jangan hanya buana yang kau jejali di kepalanya", pujaan hati yang Ia kasihi berujar sebelum nisan merampas namanya dari kefanaan dunia.

 

Wanita itu menunduk.

Tak lagi sanggup menjejak jalan yang dituju oleh dua bola mungilnya yang sayu.

Lekas merapikan surai putih yang tertancap di kepalanya,

menggelar segi empat panjang mendekap buyungnya lewat kanal bernama doa-doa, supaya terketuk atmanya menenteng sebotol sirup berwarna merah untuk menjamu tetamu pada idul fitri Jumat mula bulan depan di gubuk mereka.

 

Hujan telah sirna, perempuan renta itu masih menggigil di atas sajadahnya memeluk hujannya yang tak jua binasa.

 

Lara Santri Juniarti lahir di sebuah desa kecil di ujung timur Kabupaten Sumbawa, NTB. Ia menyukai sastra tapi belum memiliki keberanian mengirim karyanya. Puisi ini adalah puisi perdananya setelah vacum beberapa tahun dari puisi. Sajak ini adalah puisi pertama yang 'nekat' Ia kirim untuk dilombakan.

 


INFO BAWAH

Nb: Konten dalam Website ini dibuat secara kolektif oleh para penulis NK. Laporkan jika ada tulisan yang mengarah pada pornografi dan ujaran kebencian ke WA 628888710313.