Tips Membuat Cerita yang Menarik Penerbit dan Pembaca - negerikertas.com

.

(Mulai 1 Agustus 2021 setiap Cerpen yang dimuat di negerikertas.com mendapat honor Rp 100.000)

Tips Membuat Cerita yang Menarik Penerbit dan Pembaca


Tips Membuat Cerita yang Menarik Penerbit dan Pembaca
Pertama, untuk menggaet pembaca:
πŸ“Œ Branding nama kita sendiri.
Sebenarnya, nyaris semua aplikasi menulis udah ada fitur tagar, genre, dll. Fungsi tagar itu berguna banget buat penulis, lho!
Misalnya, ada pembaca yang pengin nyari genre Horor-Komedi. Mereka bisa tinggal tulis itu di tagar dan semua cerita yang punya unsur demikian bakal muncul. Nah, kemungkinan besar cerita kita punya kriteria sesuai juga terpampang di sana, sehingga pembaca bisa mengenali tulisan kita.
Tapi, alangkah baik jika kita juga ikut bergerak mempromosikan diri kita sendiri. Promosi di sosmed, misalnya. Atau nggak, komunitas-komunitas buat promosi. Banyak, sesuka kalian mau kayak gimana.
πŸ“Œ Cerita harus dramatis dan emosional.
Jangan dari prolog sampai epilog bahagia terus tokohnya. Nggak ada konflik, jatuhnya ngebosenin. Kita boleh bikin happy ending, tapi setidaknya tokoh harus melewati serangkaian konflik dulu biar pembaca yang awalnya geregetan langsung lega luar biasa.
Tapi, bukan berarti boleh nggak logis, ya. Walaupun fantasi pun, kasih alasan yang memakai logika dunia fantasi itu kenapa bisa sampai terjadi anu.
Contoh lainnya, cerita TeenFic. Jangan bikin tokoh utamanya yang awalnya nggak ada kekuatan apa-apa, tiba-tiba bisa ngeluarin kekuatan es buat nusuk musuh bebuyutannya dengan kerennya.
πŸ“Œ Perbarui cerita secara rutin
Ini, nih, yang paling memikat pembaca biar nempel terus sama kita. Cerita kita update rutin! Makanya sebelum mulai nulis dan publikasi, mending kita bikin premis, sinopsis, sampai ke outline atau kerangka dulu biar nggak macet di tengah jalan. Ketiga hal itu nggak bakal kubahas lebih dalam di sini, yaw. Soalnya melenceng dari tema, bisa-bisa sampai tengah malam selesainya.
Btw, ada yang bilang, dia tanpa kerangka juga bisa namatin cerita. Bahkan jebol sampai terbit jadi buku. Kalau pakai kerangka malah pusing tujuh keliling. Yaaa, boleh-boleh aja, sih. Senyaman kita aja.

Nah, sekarang kita masuk ke cara memikat penerbit. 
πŸ“Œ Buat tampilan luar yang menakjubkan.
Tampilan luar itu mencakup seluruh bagian yang terpampang duluan dari buku kita. Entah itu judul, sampul buku, blurb, sinopsis, dll. Kalau bagian luar saja kurang menarik, biasanya penerbit jarang mau melirik isi dalamnya.
πŸ“Œ Bikin pembukaan cerita yang keren.
Pembukaan yang keren itu, yang tidak terikat dengan inti: telat ke sekolah karena, penjelasan pemandangan, dan masih banyak lagi.
πŸ“Œ Penulisan rapi.
Penulis nggak bakal bisa lari dari yang namanya kerapian. Entah itu kata baku atau nggak baku, kalimat efektif atau nggak, perhatian penulis pada PUEBI, KBBI, dan lain-lain.
πŸ“Œ Sesuai kriteria.
Tentu saja masing-masing penerbit memiliki kriterianya sendiri untuk mencetak sebuah novel. Jadi, kalau bisa, temen-temen perhatiin dulu target penerbit itu genre yang mana? Temanya apa? Atau … konsep yang kayak gimana?
Nah, kalau penerbit penginnya novel Horor, tapi kalian ngirimnya novel Komedi, udah salah besar itu. Ibarat kamu minta ayam goreng, tapi dikasih terong rebus. Ya mana mau.
πŸ“Œ Riset
Terakhir, bumbui riset. Jangan karena novel adalah fiksi, kita seenaknya ngasih teori. Jangan dokter bedah kita bikin motong perut pakai gunting Prakarya. Apalagi pas jahit luka. Karena kita nggak tahu cara jelasinnya gimana, tinggal tulis dokternya nyatuin daging pake lem tembak. Salah besar.
(Sumber: Andrew Hu. Punya prinsip: “Segala sesuatu akan menjadi emas di tangan yang tepat” yang bikin aku pengin terus menggali seluk-beluk kepenulisan sampai menemukan kenyamanan di hati.
 Sekarang ini, aku lagi ngerjain ODOC sebagai seleksi terakhir dari TheWWG dengan genre Komedi-Horor. Tinggal beberapa hari tersisa, Gais. Doain, ya!
 Temen-temen juga bisa nemuin aku di beberapa sosial media dengan username @Quintis8 atau @Quintis8_.)

.