TELUR SUTARDJI TAK MENETAS: ANALISIS SEMIOTIK - negerikertas.com

.

(Mulai 1 Agustus 2021 setiap Cerpen yang dimuat di negerikertas.com mendapat honor Rp 100.000)

TELUR SUTARDJI TAK MENETAS: ANALISIS SEMIOTIK


TELUR SUTARDJI TAK MENETAS:
ANALISIS SEMIOTIK 

Oleh Narudin 

/1/
 Kehadiran Sutardji Calzoum Bachri di atas panggung sastra Indonesia pada tahun 1970-an cukup heboh karena si penyair eksentrik ini ingin mengembalikan kata kepada mantra. 

Salah satu kredo andalannya ialah “kata-kata bukanlah alat untuk mengantar pengertian”. Apabila demikian halnya, hal itu secara tak langsung melanggar prinsip dikotomi struktural Ferdinand de Saussure (1988), yakni penanda (signifier, kata-kata) dan petanda (signified, pengertian). 

Maka, jika Sutardji berkata bahwa kata-kata (penanda)  bukan alat untuk mengantar pengertian (petanda), ucapan ini sudah tidak sahih sebagai kredo-nya karena bersifat bertentangan atau kontradiktif. Kredo atau konsep yang kontradiktif itu jelek. Misalnya, ambillah satu contoh puisi Sutardji berikut ini.

POT

pot apa pot itu pot kaukah pot aku
pot pot pot
yang jawab pot pot pot kaukah pot itu
yang jawab pot pot pot kaukah pot aku
potapa potitu potkaukah potaku
POT

Walaupun terjadi perpaduan suku kata, contohnya, “potapa”, “potitu”, “potkaukah”, dan “potaku”, pada dasarnya kata-kata semula yang belum digabungkan pada baris-baris sebelumnya masih tergambar di dalam perpaduan kata-kata baru yang tampak secara fungsional tak berarti itu—tidak terdapat dalam kamus. “Potapa” sama dengan “pot apa” atau “potitu” sama pula dengan “pot itu” baik secara tekstual maupun secara auditoris (bunyi). 

Dengan begitu, kredo Sutardji itu pada dasarnya tidak meyakinkan, sebab mantra itu sendiri sebenarnya “ingin bermakna” agar komunikasi dengan yang gaib secara magis terlaksana. Hal penting ini harus diperhatikan secara saksama agar tak sesat dan menyesatkan. 

/2/
Sebagai perbandingan, berikut dianalisis secara semiotik puisi Sutardji yang tergolong masa kini, yakni puisi berjudul “Wahai Pemuda Mana Telurmu?”. Puisi ini diambil dari internet dan ditemukan beberapa bentuk puisi. Dalam tradisi formalis maupun semiotik, pelbagai bentuk puisi yang ada itu sangat berbahaya karena beda bentuk puisi, beda makna puisi. 

Jadi, saya kutip satu puisi ini secara utuh dari satu sumber saja agar lebih efektif—yang diduga berasal dari akun Twitter Sutardji kala itu. 

WAHAI PEMUDA MANA TELURMU?

Apa gunanya merdeka
Kalau tak bertelur
Apa guna bebas
Kalau tak menetas?

Wahai bangsaku
Wahai pemuda
Mana telurmu?

Kepompong menetaskan kupukupu
Kuntum mengantar bunga
Putik memanggil buah
Buah menyimpan biji
Biji menyimpan mimpi
menyimpan pohon
dan bungabunga

Uap terbang menetas awan
mimpi jadi
sungai pun jadi
menetas jadi
hakekat lautan

Setelah kupikir pikir
manusia itu
ternyata burung berpikir

Setelah kurenung renung
manusia ternyata
burung merenung

Setelah bertafakur
Tahulah aku
Manusia harus bertelur

Burung membuahkan telur
Telur menjadikan burung
Ayah menciptakan anak
Anak melahirkan ayah

Wahai para pemuda
Menetaslah kalian 
Lahirkan lagi
Bapak bagi bangsa ini!

Ayo Garuda
Mana telurmu?
Menetaslah

Seperti dulu
Para pemuda
Bertelur emas
Menetaskan kau

Dalam sumpah mereka

(7 Agustus 2010)

Dilihat dari segi bentuk puisi atau dalam Semiotika dikenal dengan istilah ikonisitas topologis (baca buku Narudin berjudul Semiotika Dialektis, UPI Press, 2020), puisi Sutardji ini biasa saja bentuknya—tak seperti bentuk puisi konkret atau puisi mantranya pada tahun 1970-an. Puisi di atas mengandung humor, misalnya, pada dua bait ini:

Wahai bangsaku
Wahai pemuda
Mana telurmu?

Setelah bertafakur
Tahulah aku
Manusia harus bertelur

“Wahai pemuda mana telurumu?” Ini tentu saja bermakna bukan telur milik pemuda yang tersembunyi di balik celana dalamnya.  Dan “manusia harus bertelur”. Ini tentu saja tak bermakna manusia harus buang air besar. 

Perhatikan kini, ini bait sisa-sisa kemampuan mantra Sutardji bermain di sini. Meskipun demikian, pilihan kata dan maknanya pun biasa sajalah. 

Kepompong menetaskan kupukupu
Kuntum mengantar bunga
Putik memanggil buah
Buah menyimpan biji
Biji menyimpan mimpi
menyimpan pohon
dan bungabunga

Bait puisi ini seperti uraian seorang guru Biologi kepada para siswanya di sekolah, untung saja ada baris metaforis ini “Biji menyimpan mimpi”. Jika tidak ada baris itu, lemahlah bait itu. 

Yang paling aneh bait ini:

Burung membuahkan telur
Telur menjadikan burung
Ayah menciptakan anak
Anak melahirkan ayah

Bagaimana ayah menciptakan anak? Kita dapat memahaminya, tentu ayah bukan Tuhan Maha Pencipta. Tuhan pasti bukan manusia!

Dan satu, lagi bagaimana anak melahirkan ayah? Bukankah ibu yang melahirkan? Dalam KBBI V, “ayah” berarti “orang tua kandung laki-laki”. Tak ada arti “ayah” sebagai “pemimpin”, kecuali kata “bapak”, periksa saja KBBI V arti ke-5, yaitu “orang yang menjadi pelindung atau pemimpin, perintis jalan, dan sebagainya yang banyak penganutnya”. Jadi, baris puisi Sutardji “anak melahirkan ayah” secara lugas dan secara kias gagal semua. 

/3/
Kesimpulannya, puisi-puisi mantra dan puisi-puisi konkret Sutardji sekitar tahun 70-an masih memiliki kekuatannya jika itu pun ditarik secara transenden (ke wilayah Ilahiah). Namun, kini dengan salah satu bukti puisi di atas—padahal puisi di atas tergolong yang terkenal dan contoh yang bagus—ternyata kekuatan puisi mantra dan puisi konkret Sutardji menjadi lemah, tak berdaya, atau singkatnya “tak bertelur”. 

Terbukti sekarang, ternyata telur Sutardji tak menetas.

***

Dawpilar, 3 Juni 2021

___________
*) NARUDIN, sastrawan, penerjemah, dan kritikus sastra Indonesia.
Buku terbarunya, Epistemofilia: Dialektika Teori Sastra Kontemporer (2020) dan Semiotika Dialektis (UPI Press, 2020). 

 

.