005

header ads

Lebaran: Momen Apa Bagi Kita? oleh: Taufik Hidayat


Suasana lebaran salah satunya terwarnai oleh pelbagai makanan khas tiap daerah di Indonesia. Di Jakarta, ada makanan olahan daging sapi dibumbui dengan tumis dan pelumur yang dinamai Semur Betawi. Di Banjar, ada makanan olahan ikan gabus asap dimasak dengan santan dan dihidangkan bareng lontong atau ketupat yang dinamai Panggang Haruan. Di Madura, ada makanan olahan ikan tenggiri dimasak dengan santan, belimbing wuluh, dan cabai yang dinamai Kellapate. Di Medan, ada makanan olahan nangka muda dipadukan dengan daging iga dan rempah-rempah yang dinamai Gulai Nangka. Di Aceh, ada makanan olahan iga sapi dimasak dengan bumbu-bumbu, kelapa parut sangrai, dan salam koja yang dinamai Kuah Labi. Di Palembang, ada makanan olahan beras digulung dengan daun pisang, dicampur dengan santan, dan dimasak dalam bambu lalu dibakar yang dinamai Lemang. Di Makassar, ada makanan olahan ayam dimasak dengan serai, lengkuas, daun salam, kunyit, dan bumbu tumis serta ditambahkan kelapa parut sangrai yang dinamai Ayam Gagape. Di Pekalongan, ada makanan olahan terong hijau dimasak dengan santan, daun melinjo, dan bunga kecombrang serta dihidangkan bareng ketupat atau nasi putih yang dinamai Lodeh Terong. Di Padang, ada makanan olahan daging, telur, atau lokan dan dihidangkan bareng lontong yang dinamai Rendang. Di Banjarmasin, ada makanan olahan ayam dimasak dengan kayu manis, biji pala, dan cengkeh serta dihidangkan bareng perkedel, telur, dan ketupat yang dinamai Soto Banjar.[1] Tampak mayoritas tidak lupa menggunakan santan sebagai salah satu bahannya. Tetapi, tulisan ini tidak akan membahas soal itu.

Selain makanan khas, ada lagi yang mewarnai suasana lebaran, yakni ucapan Selamat Idul Fitri. Prolog-prolognya seperti ini:

Bila kata merangkai dusta
Bila langkah membekas laran
Bila hati penuh prasangka
Dan bila ada langkah yang menoreh luka
….
Sepuluh jari tersusun rapi
Bunga melati pengharum hati
Pesan dikirim pengganti diri
….
Andai jemari tak sempat berjabat
Andai raga tak dapat bertatap
Seiring beduk yang menggema
Seruan takbir yang berkumandang
….
Kata telah terucap
Tangan telah bergerak
Prasangka telah terungkap
….
Mawar berseri di pagi hari
Pancaran putihnya menyapa nurani
Pesan dikirim pengganti diri
….
Sebelum ramadhan pergi
Sebelum idul fitri datang
Sebelum operator sibuk
Sebelum pesan pending mulu
Sebelum pulsa habis
….
Senandung asma Allah menghiasi malam
Menghampiri fajar menyambut hari kemenangan
Jabat tangan penuh kasih, eratkan tali silaturrahmi
Jiwa yang suci dari Sang Maha Suci, tapi sering kali
Ternoda oleh dosa pada insani
….
Waktu mengalir bagaikan air
Ramadhan suci akan berakhir
Tuk salah yang pernah ada
Tuk khilaf yang pernah terucap
….
Beningkan hati dengan dzikir
Cerahkan jiwa dengan cinta
Lalui hari dengan senyum
Tetapkan langkah dengan syukur
….[2]

Kemudian diakhiri ucapan permohonan maaf lahir dan batin serta selamat idul fitri. Dari paragraph-paragraf ucapan diatas, adakah yang sering kamu dapati? Bagaimana kesan mu saat mendapat ucapan selamat Idul Fitri dari keluarga, kerabat, kawan, tetangga, atau lainnya? Lalu, apa ya makna dalam ucapan selamat idul fitri itu?

Pateda (2001: 78) membedakan kedudukan informasi, maksud, dan makna. Menurutnya, makna adalah gejala dalam ujaran. Sedangkan, maksud adalah gejala luar ujaran yang dilihat dari segi pengujar atau orang yang berbicara atau pihak subjeknya. Dan informasi adalah gejala luar ujaran yang dilihat dari segi objeknya. Makna diklasifikasiksn menjadi tiga, yakni denotatif, konotatif, dan afektif. Afektif berhubungan dengan perasaan yang timbul pada mitra tutur atau penerima, contohnya senang, terharu, dan lainnya. Beranjak ke permukaan, bentuk ucapan selamat ini terbagi menjadi dua tipe, yakni formal dan non-formal. Non formal contohnya pantun sederhana, kisah pendek humor, dan seterusnya. Dalam analisis kebahasaan, ragam ucapan selamat ini terbentuk oleh faktor sosial, ras, tingkat pendidikan, usia, atau lainnya. Selain itu, faktor kepraktisan yang jadi penentu penutur memilih ucapan selamat tersebut,[3] misal karena tinggal copy paste atau lainnya. Tetapi, sekali lagi, bukan hal ini yang jadi focus utama tulisan ini.

Salah satu hal yang juga nampak dalam suasana lebaran adalah kebiasaan mengenakan baju baru. Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam karyanya “Sejarah Nasional Indonesia” menjelaskan, bahwa dulu mayoritas penduduk dibawah Kerajaan Banten juga sibuk menyiapkan baju baru saat menyambut lebaran. Bagi para penjual, hal ini menjadi wujud keberkahan pada masa menjelang dan saat lebaran. Stefanus Ridwan dari Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) mencatat rata-rata tiap tahunnya, omzet produsen pakaian meningkat dua sampai lima kali lipat saat ramadhan hingga Idul Fitri. Biasanya, faktor psikologis konsumen yang memengaruhi kuantitas produk terjual, sebagaimana hasil analisis Kotler dan Amstrong (2009) dan Armawati et al. (2014). Faktor psikologis itu dicerminkan lewat persepsi kualitas merek, menurut Durianto (2004) dan Widjaja (2003).[4] Tetapi, kita tidak bermaksud untuk berhenti di bahasan ini. Mari beranjak ke persoalan agak dalam. Mudah-mudahan masih bisa dinikmati walaupun mungkin disertai kernyitan dahi.

Makanan khas, ucapan selamat secara langsung atau virtual, dan baju baru tentu tidak semuanya bisa memperoleh itu, misal karena faktor ekonomi, kesehatan, dan lainnya. Kita ingat, bahwa Idul fitri harus berdampak terhadap menangnya aspek lahir dan batin muslim. Dalam Maqashid al-Syari’ah, hakikat kemenangan kaum muslim itu ditandai dengan hifzh ad-din, hifzh an-nafs, hifzh an-nasl, hifzh al-Mal, dan hifzh al-‘Aql. Bila menimbang situasi pandemi Covid-19 seperti saat ini, lantas hal apa yang tidak boleh lagi dipinggirkan dalam kehidupan kaum muslim? Menilik aspek hifzh al-Mal, Wahbah Zuhayli dalam tafsirnya “al-Munir” menyampaikan, bahwa aspek ini berkaitan dengan keharusan untuk tidak menghambur-hamburkan harta atau berlebihan dalam mengelola harta kekayaan, melainkan menjalankan laku hidup sederhana. Dalam segala aspek, Wahbah Zuhayli juga mengingatkan lewat risalahnya yang lain terhadap pentingnya solidaritas kaum muslim yang dicirikan dengan keadaan ta’awun dalam al-birr.[5] Sehingga saat kaum muslim berada dalam masa krisis, maka paham terhadap hal apa yang harus difikirkan, dieksekusi, dan diharapkan bersama.

Memperhatikan nasib sesama kaum muslim justru jalan kebahagiaan. Energi yang kita curahkan dalam bahu-membahu meningkatkan kualitas hidup kaum muslim itu bukti cinta terhadap saudara seiman. L. Hendranata dalam “Kebahagiaan itu Dibuat, Bukan Dicari” menyatakan, bahwa kebahagiaan identik dengan keberadaan cinta. Erbe Sentanu dalam “Kwantum Ichlas”, menyampaikan bahwa cinta yang berasal dari sanubari akan menangkap kebahagiaan-kebahagiaan.[6] Coba kita ingat kembali, hal apa yang membahagiakan Rasulullah Saw.? Apakah saat kaumnya sedang mengalami kesusahan? Atau apakah dengan memperjuangkan nasib kaumnya, Rasulullah Saw. justru tidak merasa bahagia? Pesan Syeikh Ali bin Hasan dalam “Ahkamul ‘Iedain”, bahwa kebahagiaan, kegembiraan, dan semangat baru terdapat dalam kontinuitas pelbagai kebaikan.[7]

Terakhir, patut kita renungi kembali, bahwa al-‘id sebagaimana penjelasan Dr. Ibrahim Anis dalam “al-Mu’jam al-Wasieth”, artinya apa yang kembali dari kesusahan atau penyakit atau kerinduan dan sebagainya. Al-‘id, setiap hari berkumpul dengan mengadakan peringatan terhadap sesuatu yang dianggap mulia atau sesuatu yang disayangi.[8] Dan Islam, bagi Mohammad Abu Nimer, memiliki tiga makna, yakni kepatuhan diri, mendamaikan serta perdamaian dan kasih sayang, sebagaimana dalam karyanya “Conflict Resolution Approaches: Western and Middle Lessons and Possibilities”.[9]

Referensi:
[1] Kunjungi http://indonesiabaik.id/infografis/makanan-khas-idul-fitri
[2] Purwaningsih. 2012. “Jenis Kalimat dan Diksi dalam Ucapan Selamat Idul Fitri 1432 H Melalui Short Message Service (SMS)”. Universitas Muhammadiyah Surakarta: Skripsi.
[3] Jayanti, Memmy Dwi. 2016. “Analisis Makna Kata pada Ucapan Selamat Idul Fitri (Tinjauan Pendekatan Semiotika)”. Jurnal Wacana Vol. 1 No. 1.
[4] Kunjungi http://eprints.umm.ac.id/39680/2/BAB%20I.pdf
[5] Kunjungi https://indoprogress.com/2017/06/kemenangan-idul-fitri-antara-yang-hakiki-dan-yang-ilusi/
[6] Kunjungi http://www.rsqim.com/artikel/16-idul-fitri-dan-kebahagiaan-ala-rasulullah-saw
[7] Kunjungi https://muslim.or.id/370-bimbingan-idul-fitri.html
[8] Kunjungi http://repository.uin-suska.ac.id/7413/4/BAB%20III.pdf
[9] Muzammil, Shofiyullah. 2016. “Idul Fitri: Kemajemukan Sebagai Modal Utama Cinta Kasih dan Peradaban”. Masjid Raya al-Fatah Ambon: Naskah Idul Fitri.


Taufik Hidayat
Akun Sosial Media : FB (Taufik Hidayat), IG (@fik.dayat.72), 
  LinkedIn (Taufik Hidayat), Medium (fik.dayat.72)
No. HP. : +62 82115289672 (WA)