CERPEN: Tentang Hati Wanita

Share:


“Aku wanita El... Jujur hatiku ikut sakit......,” Suaranya terdengar parau, napasnya terengal, dan tatapannya tak lepas dari sosok gadis yang tengah berdiri memunggunginya.

“Itulah aku! Jahat kan aku?!” Pandangan matanya terlihat acuh dan sinis, namun ia tak sedikitpun membalas tatapan mata sahabatnya. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini, dan mungkin saja ia berpikir bahwa sahabat yang ia sudah anggap seperti saudaranya itu kini menjadi penghalang dan penentang hubungan spesialnya dengan seorang pengusaha, Pak Pras namanya.

“Kamu tau kan Nes, kalau Pak Pras itu sendirian. Dia butuh dukungan. Istrinya egois hanya mementingkan kemauan dan egonya saja. Sementara Pak Pras butuh seseorang untuk mendengarkan segala keluh-kesahnya, butuh seseorang untuk bisa support, dan minimal juga butuh seseorang yang selalu bisa senyum untuk dia. Setidaknya itu yang bikin segala bebannya berkurang menghadapi banyak masalah seperti ini.” Seloroh Elyana dengan nada tinggi namun tanpa membalas tatapan sahabatnya itu.

“Apa aku salah menjadi wanita yang bisa melengkapi kekurangannya itu? Dan kenyataannya beliau memang membutuhkan. Inget Nes, beliau itu aset umat. Siapakah selama ini yang mau berjuang dengan loyal untuk kebesaran organisasi kita ini jika bukan beliau, hah...?” Tanyanya, sembari memalingkan wajah manisnya lengkap dengan sorot mata tajam kepada Ines, sementara sahabatnya itu hanya memandanginya dengan tatapan nanar tanpa sepatah katapun.

“Sekarang, kenyataannya beliau selama kenal denganku empat tahun ini bisa sukses, Nes. Sampai beliau bisa passive income dan rela ninggalin anak-anak dan istrinya tanpa kekurangan untuk full ngabdi ke perjuangan dakwah ini. Dan gak bisa dipungkiri itu semua karena aku! Aku yang support dia, aku yang diajaknya berdiskusi masalah perusahaannya, dan aku juga yang bisa hibur dia disaat-saat dia down! Sementara istrinya??” Ia diam sejenak mengambil nafas panjang seraya menaruh sebelah tangannya di pinggang, “Wanita itu hanya bisa menuntut saja agar suaminya berhenti berjuang dan mengabdi untuk umat, cuma bisa menghambat dakwah suaminya. Dan memanfaatkan anak-anaknya agar suaminya cepat pulang dan berhenti berjuang. Istri macam apa itu? Selalu menekan suaminya! Dan aku kalau jadi dia, akan aku support dia habis-habisan untuk terus berjuang dan berdakwah. Aku akan bilang sama dia, ‘Pa.. tidak usah mikirin kami. Urusan anak-anak dan perusahaan biar urusan mama. Papa fokus aja berjuang!’ dan saat suamiku pulang ke rumah, akan aku dengerin semua keluh kesahnya, dan benar-benar aku tinggalin semua pekerjaan untuk servis dia semaksimal mungkin. Sehingga ketika dia balik ke medan pertempuraan, dia makin semangat dengan energy baru. Itu Nes yang bener!” Selorohnya panjang lebar seraya mengacungkan telunjuk jarinya ke wajah Ines.

Ines terpaku tanpa suara. Ia tak habis pikir dengan pola pikir sahabatnya itu. Kali ini dari sekian kalinya ia menasehati Elyana untuk berhenti memiliki hubungan terlarang dengan lelaki beristri, akhirnya ia memilih diam dan tidak melanjutkan perdebatannya seperti yang sudah-sudah dengan sahabatnya itu. Bagaimana tidak? Elyana tetap keukeuh dengan pendiriannya untuk terus menjalin hubungan terlarang itu dengan berbagai alasan yang selalu saja ia paksakan kepada siapapun yang tahu tentang hubungan gelap mereka. Termasuk pada ibunya sendiri.

Sementara Elyana terus saja bicara tanpa henti mengenai hubungannya dengan pria berumur 15 tahun lebih tua darinya dan Ines itu. Berbagai alasan, prasangka buruk yang dilayangkan kepada istri kekasih gelapnya itu, hingga bagaimana caranya agar memisahkan pernikahan yang telah terbina selama hampir 17 tahun tersebut terlontar begitu saja dari mulutnya.

Hati Ines ngilu mendengarnya. Bahkan air matanya pun menetes begitu saja dari balik kaca helm saat ia mengendarai motor menembus penatnya jalan raya dengan membonceng sahabatnya itu.

Matahari kian menyengat seusainya mereka berolahraga bersama di suatu taman di Surabaya pagi tadi. Namun tidak lebih menyengat dari hati Ines akibat terus-menerus mendengar cerita perselingkuhan itu. Yang ada di dalam pikiran Ines saat ini hanyalah mengenai fakta perselingkuhan di depan matanya ini. Tinggal menghitung hari saja ia akan menjadi seorang istri, namun ia tak bisa membayangkan bagaimana jika suatu hari nanti ada seorang wanita yang tiba-tiba saja hadir dan berusaha merebut suaminya...

***

 Tek..tok..tek..tok..tek..tok.... Bunyi jarum jam di kamar Ines terdengar begitu jelas. Ia melirik jam dinding yang berada tepat di dinding atas meja belajarnya. Sudah pukul 1 dini hari, namun matanya masih belum mau diajak untuk beristirahat. Pikirannya melayang begitu saja menembus suatu moment beberapa bulan lalu di tahun baru.......

 “Cantik dan elegant banget yaa...?” Ujar Elyana pada Ines dengan mata berbinar-binar. Lalu melihat harga dari sebuah tas yang terpajang di salah satu etalase department store terkenal. Tertera dengan jelas seharga Rp. 2.799.999,- . “Mahal bangettt....!” Serunya pada sahabatnya yang juga ikut mengamati detail tas indah itu.

“Ini diskon berapa mbak?” Tanya Elyana pada seorang karyawati yang menjaga etalase tersebut.

“Diskonnya 50% kakak, dan ada tambahan diskon lagi promo akhir tahun 15%.” Jawab karyawati itu dengan ramah.

“Jadinya kena berapa harganya setelah dipotong diskon?” Tanya Elyana lagi.

“Harganya menjadi........” Karyawati itu diam sejenak, sembari sibuk memencet tombol-tombol kalkulator yang ada di genggamannya, “1.189.999 rupiah, kakak...,” Jawab karyawati itu seraya menyunggingkan senyum ramah.

“Waaah masih mahaaaallll....,” Guman Ines.

“Tapi aku pengen tas itu!” Ujar Elyana dengan wajah manja.

“Katanya kamu sedang berhemat? Ingat loh, pengeluaran kamu lagi banyak kan bulan-bulan ini?” Sahut Ines.

Keduanya pun diam, kemudian Elyana mengambil ponselnya dari dalam tasnya dan memainkan jari lentiknya di layar sentuh ponsel tersebut, “Aku tau caranya biar bisa beli....,” Gumamnya, dengan sumringah.

“Hallo Mas..... Ada tas bagus nih, aku pengen beli tapi nggak punya uang. Katanya Mas mau belikan aku tas sama ngajak aku jalan-jalan? Jalan-jalannya nanti aja ya... Sekarang belikan aku tas..,” Kata Elyana pada seseorang dari ponselnya.

“Iya mas... Ini sekarang aku lagi di Matahari Mall sama Ines, transfer yaaa please....,” Katanya lagi sembari berjalan menjauh dari Ines dan karyawati itu hingga di jarak yang kira-kira kedua wanita tersebut sulit mendengar percakapan keduanya.

Dan tak lama kemudian, gadis manis berusia 28 tahun itu menghampiri kedua wanita yang sedari tadi menunggunya dengan wajah sumringah.

“Iya mbak, saya ambil ini. Tolong diproses ya!” Kata Elyana dengan nada bahagia, “Yuk kita ke kasir...!” Ajak Elyana seraya menggandeng Ines menuju kasir.

“Serius kamu minta belikan Pak Pras?” Tanya Ines tak percaya. Dan Elyana hanya mengangguk riang tanpa menoleh ke arah sahabatnya.

***

“Mau sampai kapan begini terus El? Beliau punya istri dan anak. Please lah hentikan hubungan kalian...! Kalau dia bener-bener sayang dan cinta sama kamu, dia gak akan biarkan kamu dalam posisi begini...,” Celoteh Ines sesampainya mereka di kamar kost Elyana.

“El... Please dengerin aku.. Percaya deh! Apa yang kamu lakuin itu salah! Aku sayang sama kamu El, aku gak cuma anggep kamu sahabat, tapi juga sodara! Dan hatiku gak bisa menerima melihat seseorang yang aku sayangi berjalan ke pintu neraka sementara aku diam saja? Aku nggak mau kamu menyesal El...! Harus pake cara apa lagi aku buat ingetin kamu untuk berhenti berhubungan dengan bapak itu?” Omel Ines dengan nada gemas penuh emosi, sementara Elyana tak banyak menghiraukan omelan Ines dan sibuk mencoba gaun-gaun yang ia beli tadi beserta tas yang dibelikan oleh kekasihnya dengan berlenggak-lenggok di depan kaca besar yang menempel di dinding. Dan Ines hanya memandang tajam ke arah pantulan kaca itu. Tak habis pikir dengan apa yang sahabatnya lakukan hari ini.

 “Sudahlah Nes... Aku tau perasaanmu. Kamu sudah berusaha untuk menasehatiku kan? Tapi aku masih saja tidak berubah kan? Yasudah.... Gugur sudah tugasmu untuk mengingatkanku. Biarkan saja aku. Toh aku yang menanggung semua ini......,” Elyana menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan cepat, lalu, “Aku nggak mau bertengkar dengan kamu gara-gara masalah ini lagi. Inget Nes, kamu mau menikah, mending kamu fokus sama rencana indah kamu beberapa bulan lagi. Dan mending kita banyak-banyak menciptakan kenangan indah sebelum kamu pindah ke Jogja kan?” Lanjutnya dengan nada bijak, membuat Ines Terdiam bercampur sedih.

***

Ines menghela napas panjang mengingat kejadian itu, kemudian ia mengingat lagi kejadian lain yang membuatnya tak dapat memejamkan mata hingga pagi beberapa hari yang lalu.....

Saat itu Ines dan Elyana sedang berada di salah satu stasiun besar di Surabaya. Ines menjemput Elyana yang baru saja pulang dari kota asalnya menjenguk kedua orang tuanya. Terlihat wajah sumringah Elyana sejak keluar dari pintu kedatangan hingga mendekati sahabatnya itu, dan kontan saja membuat Ines bertanya-tanya, apa gerangan yang membuat sahabatnya terlihat begitu bahagia siang itu?

“Aku punya cerita lucu.....!” Bisik Elyana pada Ines, tanpa sempat ditanya.

“Apa?” Tanya Ines penasaran.

“Kayaknya aku udah dapet jawaban, kalo aku nggak bisa terima lamaran Mas Arief.” Jawabnya sambil masih menyunggingkan senyum manisnya.

“Loh kenapa El? Bukannya Mas Arief baik, agamanya bagus? Dan walaupun dia belum punya apa-apa, setidaknya dengan menikah pasti akan menjadi motivasi, dan kalian akan punya apa-apa ke depannya. Apa yang salah dengan Mas Arief?” Cecar Ines penuh penasaran, dan langsung dijawab oleh Elyana tanpa jeda, “Itulah masalahnya..!!” Jawab Elyana mantab dan penuh keyakinan.

“Aku coba bertanya ke ibuku pakai ilustrasi Nes. Jadi gini, aku tanyakan pada ibuku: ‘Bu, pilih mana ya bu, laki-laki yang masih muda tapi dia belum punya apa-apa atau udah tua tapi sudah punya apa-apa?’ dan nggak nyangka Nes, jawaban Ibuku. Beliau malah senyum tau nggak? Penasaran kan aku jadinya?” Cerita Elyana, matanya menerawang jauh dengan penuh binar.

“Trus Ibumu ngomong apa?” Kejar Ines, makin tak sabar ia.

“Yaa dia awalnya Tanya balik... ‘Siapa sih emangnya?’ ‘Si Bapak itu kah?’ ‘Kalau yang tua itu si bapak itu, ya pilih bapak itu aja.’ ‘Lah iya, kapan ya Nduk, mereka cerai?’ Haa..haaa..haaa..haa.... Nggak nyangka aku Nes sama jawaban ibuku.” Papar Elyana dengan tawa renyah, “Akhirnyaaa Ibuku restui kami....!!” Seru Elyana dengan nada gembira.

Yaah.... Saat itu Elyana tengah bahagia atas jawaban yang diberikan oleh ibunya, namun hal itu tidak berlaku bagi Ines. Bak disambar petir di tengah terik matahari, ia bahkan tak dapat mengekspresikan apapun yang ada di dalam hatinya. Bahkan ia juga tak tahu apakah saat itu ia harus ikut tersenyum dan bahagia atas kebahagiaan yang dirasakan sahabatnya itu ataukah harus menangis karena hatinya seperti tertusuk oleh benda tajam dan terluka parah?

Bahkan saat mengingat kembali kejadian itu, malam ini ia benar-benar tak dapat memejamkan matanya lagi, hingga tanpa terasa guling yang sejak tadi dipeluknya pun harus basah akibat air matanya.

“Aku wanita El, dan sebentar lagi aku akan menjadi seorang istri... Aku benar-benar nggak bisa bayangin kalau seandainya suatu hari nanti saat kami telah memiliki anak-anak, kemudian datang seorang wanita yang ingin memisahkan kami, dan bahkan ibunya pun mendoakan perceraian kami... aku nggak bisa bayangin itu El... Hatiku sakit....,” Gumam Ines dalam hati.

Ia benar-benar tidak tahu lagi harus melakukan apa. Berbagai usaha telah ia lakukan untuk menasehati sahabatnya itu, bahkan ia juga pernah suatu hari mendatangi Pak Pras langsung untuk menghentikan hubungannya dengan sahabatnya. Namun apa yang didapat dari kunjungannya pada Pak Pras? Alih-Alih Pak Pras mengakui, namun justru lelaki tiga anak itu mengingkari hubungannya dengan Elyana, dan mengatakan bahwa itu hanyalah khayalan Elyana, karena sikapnya selama ini memang hangat kepada siapapun.

Kontan saja jawaban Pak Pras membuat hati Ines berang. Ia langsung mendatangi Elyana, dan menceritakan semuanya sembari berharap Elyana sadar bahwa ia hanya dipermainkan oleh Bapak-Bapak berumur 43 tahun itu.

Namun sayangnya, nyatanya jawaban Elyana sungguh di luar dugaan! Ia justru menganggap jawaban itu wajar saja, karena sebagai orang yang beragama tidak sepatutnya aibnya sendiri diumbar kepada orang lain. Dan biar saja ia dianggap berkhayal, karena nyatanya tidak seperti itu. Elyana membuka semua riwayat chatnya dengan kekasih gelapnya itu pada sahabatnya. Semuanya! Bahkan riwayat telepon dengan durasi berjam-jam di tengah malam. Membuat Ines yakin bahwa memang keduanya memiliki hubungan, bukan sebuah khayalan sepihak.

“Apa yang harus aku lakukan, Ya Allah.......!!!!” Teriak Ines dalam hati, “Semua ini benar-benar terjadi di depan mataku!” Keluhnya. Bahkan setelah Elyana mengungkapkan kepada kekasihnya bahwa Ines mengetahui hubungan mereka. Makin terbukalah keduanya mempertontonkan kemesraan mereka pada Ines. Membuat hatinya makin ngilu. Maka dari itulah untuk terakhir kalinya, pagi tadi ia memberanikan diri menasehati dengan sedikit lebih keras, tapi nyatanya usahanya lagi-lagi nihil alias tidak membuahkan hasil.

***

Tiga minggu berlalu... Dan pernikahan Ines telah lewat hampir dua minggu. Kini ia telah meninggalkan kota kelahirannya Surabaya untuk mengikuti suaminya yang tinggal di Jogja. Kota yang tak hanya akan ia tinggali, namun juga kota yang sama dengan tempat tinggal Pak Pras beserta istri dan anak-anaknya.

Ines tak membiarkan kesempatan itu. Ia menyelidiki semuanya, kehidupan pribadi Pak Pras, istri dan anak-anaknya, sekaligus mencari kebenaran atas berbagai prasangka-prasangka Elyana selama ini.

Hingga suatu malam di malam takbiran, dering telepon Ines pun berbunyi.....

“Assalamu’alaikum, Iya Nes...?” Tanya suara di sebrang sana.

“Waalaikum salam..,” jawab Ines lirih, lalu kembali bersuara, “El....... Ingat dulu kamu pernah bilang kalau diantara aku dan Pak Pras, siapa yang lebih kamu percaya? Dan kamu jawab lebih percaya Pak Pras kan?”

“Iya..... kenapa?” Jawab suara itu yang ternyata adalah Elyana.

“Aku nggak tahu apakah kamu lebih percaya aku atau dia. Aku sudah melihat semuanya. Maaf.... tapi apa yang selama ini kamu nilai itu salah dan apa yang selama ini dia akui itu adalah bohong. Maafin aku, tapi sekali lagi aku sudah melihat semuanya. Dia tidak kaya seperti yang dia akui dan kita kira selama ini. Dia juga tidak memiliki passive income. Rumahnya kecil, tak ada garasi mobil ataupun mobil di dalamnya. Hanya ada toko sembako kecil di depannya. Dia pengangguran selama lima tahun terakhir ini dan tak memberi nafkah kepada istri dan anak-anaknya. Penghasilan hanya dari toko tersebut. Dan sekali lagi aku minta maaf. Tas mahal yang dia belikan untukmu dan biaya jalan-jalan kalian itu semua adalah hasil jerih payah istrinya. Maafin aku El.... tapi itulah kenyataannya....” Papar Ines kata per kata dengan nada lirih namun jelas, “Kalau kamu mau tahu kebenarannya, datanglah kemari.” Imbuhnya.

Entah apa yang dirasakan oleh hati keduanya kini. Kumandang takbir yang bersahut-sahutan itupun mengiringi perasaan keduanya yang kini terdiam satu sama lain........ (END)

#Cerpen

Penulis               : Hezty Azalea
Akun Sosmed :  Hezty Azalea (FB) - @hezty_azalea (IG)
Website           :  azaleahezty.wordpress.com

TELAH MENDAPATKAN HONOR VIRAL SEPEKAN

1 komentar: