.

VIRAL    MUSIK    TEATER    AGENDA    SENI RUPA    SASTRA    FILM    VIDEO    WORKSHOP    FORUM    ANTOLOGI    ESAI    PUISI    CERPEN    INSPIRASI   
Home » » GONVERST (DUNIA DUA DIMENSI) | DRAFT

GONVERST (DUNIA DUA DIMENSI) | DRAFT

Posted by NegeriKertasCom on 5 Mar 2018


Dongeng Sebelum Tidur


Didalam kegelapan mimpiku yang paling dalam aku seperti mendengar suara seseorang  yang terus memanggil namaku.
                            Ki... yuki
                            Siapa... siapa di sana, apakah ada orang disana
                            Aku menginjakan kaki bingung dimana aku. Aku menatap ke sekeliling, tidak ada apapun disini selain rerumputan setinggi mata kaki, yang bergoyang tertiup angin sejauh mata memandang. Di langit bulan purnama nampak  sempurna, Mendominasi langit malam tanpa bintang
                            Yuki
                            Terdengar suara seorang laki-laki memanggil namaku, ada nada kesedihan yang tidak ku sukai. Membua ku ingin segera menemuinya.
                            Yuki
                            Aku disini. menunggumu
                            Aku berjalan melangkahkan kaki sambil menatap ke sekelilingku untuk mencari sosok lelaki yang terus memanggil namaku. Entah kenapa, aku merasa sangat merindukan suara itu. Angin berhembus sangat kencang menerpa, membuatku menggigil, bau lembab yang terbawa begitu terasa dihidung, sementara suara itu terus memanggilku, suara yang serat akan kesedihan.
                            Harusnya aku takut, bagaimaana bisa ada suara tanpa ada sosok yang nyata, yang ada disekitarku hanyalah rumput ilalang yang terus bergoyang diterpa hembusan angin, aku tidak menemukan apapun  atau siapapun. Sejauh aku berjalan, pemandangan ditempatku tetap  saja sama.
                            Aku memang hanya berputar-putar disatu tempat. Namun seperti yang terlintas, aku tidak merasa takut sama sekali yang aku fokuskan hanyalah suara yang terus memanggilku.
                            Tiba-tiba terasa getaran dibawah kakiku. Mulanya pelan, namun semakin lama semakin kencang. Aku menunduk untuk memperhatikan apa yang telah terjadi. Entah dari mana muncul simbol aneh yang bersinar, berputar ringan berwarna biru es. Simbol itu berbentuk lingkaran, memutariku sedemikian rupa, menjadikanku pusat dari lingkaran tersebu.
                            Apa ini.
                                Getaran dibawahku semakin hebat, aku terjatuh tersungkur.
“Aduh”
           Aku meringis saat merasa siku tanganku tergores, sementara itu, aku mulai menyadari bahwa suara yang memanggil-manggi namaku itu menghilang entah kemana. Aku mulai panik, ku tatap kesekeliling berharap ada seseorang yang menolongku. Kemudian dari atas langit aku kembali mendapati  suara yang menggelegar, tapi kali ini yang ku dengar suara laki-laki lain berbeda dari yang tadi. Lebih mengintimidasi dan tidak terbantahkan.
                            “Kau yang terpilih”
                            Simbol dibawah kakiku mulai naik keatas, melesat cepat ke atas langit, berputar ringan dan berkumpul disatu titik. Lalu dengan kecepatan super kilat kembali turun tepat diatas kepalaku, aku memejamkan mata ketakutan.
                            TtttiiiidaaaakkkKKK
                            SraaaakkkkKKK
                            Aku mengerjap, memincingkan mata saat cahaya matahari langsung menerpa mataku dari cendela yang dibuka. Bibi Shera berdiri dibalik bayangan cahaya matahari yang masuk, menatapku sambil berkacak pinggang.
                             “sudah jam segini, kau mau tidur sampai kapan, dasar pemalas, ayo bangun”
                            Aku bangun. Suara jam beker yang memekakan telinga terdengar diatas kepalaku. Dengan malas aku mengambilnya.
                            “Astaga, jam ini sudah bunyi dari sepuluh menit yang lalu”
                            Padahal biasanya aku langsung bagun begitu mendengar suara beker berdering.
                            “Semalam kau tidur jam berapa, apa kau lupa besok pagi kau harus sekolah”  hardik bibi sera padaku.
                            “Pagi bibi shera” kataku sambil nyengir manja
                            “cepat bangun, kau bisa terlambat”
                            “aku tahu”
                             Aku bangun dari tempat tidur. Badanku terasa sakit semua. Seperti jika kita baru melakukan perjalanan jauh. Aku menatap ke cermin besar dilemari pakaian, aku terlihat jelas dicermin, wajahku nampak kacau sekali.
                            “apa kau sakit yuki”
                             Tanya bibi shera sambil merapikan tempat tidurku. Aku menggeleng kepala mengisyaratkan aku baik-baik saja.
                            “aku  mimpi aneh bibi”
                            “Siapa suruh kau membaca buku-buku horor seperti ini”
                            Bibi shera menunjuk tumpukan buku disamping tempat tidurku.
                            “Aku tidak bermimpi hantu kok, bi”
                            Aku menyambar handuk yang tergantung rapi disamping lemari pakaianku dan mengambil perlengkapan mandi, berjalan keluar kamar, menuju kamar mandi. Aku membasuh badanku dengan air dingin untuk memulihkan kembali pikiranku yang kacau.
                            Aku bergegas berpakaian saat melihat jarum jam sudah menunjukan pukul enam pagi. Jika tidak secepat kilat aku bisa terlambat sekolah. Dengan terburu-buru aku memakai baju seragamku. Tempat tidurku sudah rapi oleh bibi shera. Bibi juga mempersiapkan perlengkapan sekolahku, setelah siap aku turun, langsung menuju meja makan. Phil-suami bibi shera sudah duduk disana sementara bibi shera sedang menuangkan kopi untuknya.
                            “ pagi phil” sapaku ceria. Aku mencium pipi phil lalu duduk di kursi
                            “ pagi my sweethaert”
                            Aku nyengir. Ku ambil Roti dalam piring dan langsung aku makan dalam sekali suap
                            “kau bisa tersedak jika kau seperti itu yuki”
                            Ujar phil saat melihat caraku makan.
                             Aku mengambil segelas susu dan langsung meminumnya, membantu melegakan tenggorokanku yang tersumbat oleh tumpukan roti yang barusan aku paksa masuk  ke dalamnya.
                            “maaf  phil” Ujarku menyesal
                            “Aku akan terlambat sekolah jika lebih lama berada disini”
                             Aku bangun dari tempat dudukku sembari menyambar kotak bekal, yang sudah  bibi shera siapkan untuku. Kembali aku mencium pipi phil dan bibi shera manja.
                            Aku berangkat..
                            Aku berlari menuju pintu keluar, namun langkahku seketika tersentak terhenti saat melewati pintu yang menghubungkan dengan sebuah ruangan yang baik mama maupun bibi shera melarangku untuk memasukinya tanpa Izin. Aku merasa ada sesuatu yang menarikku untuk masuk, tapi aku berusaha menepis perasaan itu. Aku langsung berlari keluar rumah mengejar bus yang akan membawaku ke sekolah.
                            Namaku adalah Yuki Hayrandrami Olwherendho Umur 15 tahun, baru masuk kelas satu SMA. Aku mempunyai banyak teman, senang jalan-jalan dan sekarang aktif di club dance modern. Aku ingin menjadi Aktris seperti mamaku yang merupakan bintang film terkenal sampai ke Eropa. Kata orang, aku sangat mirip dengan mamaku. Namun aku tidak merasa begitu. Mamaku memiliki warna kulit putih cerah, kontras dengan rambut hitamnya yang jatuh lurus panjang sampai kepinggang, sangat cantik dan fasionable. Sementara aku, kulitku berwarna kuning lansat dengan rambut bergelombang yang baru aku potong pendek sebahu berwarna coklat tanah. Menurutku satu-satunya yang kuwarisi dari mama adalah mataku yang besar seperti mata bambi dibingkai bulu mata yang lentik. Aku paling menyukai mataku, dia adalah bagian tubuh yang menjadi kebangganku, tubuhku pendek dan mungil, aku  lebih terlihat seperti gadis berusia 12 tahun ketimbang 15 tahun.
                            Mamaku meninggal saat usiaku 14 tahun karena kecelakaan lalu lintas, dan ayahku, kata mama dan bibi shera, ayah sudah meninggal sejak aku masih kecil. Karena itu aku tidak pernah melihat atau bahkan mengenal sosok ayah. Aku juga tidak berani menanyakan perihal ayah pada mama, karena mama selalu terlihat sedih jika aku menyinggung tentang ayah.
                             Aku sudah tidak punya keluarga lagi didunia ini, hanya bibi shera yang merupakan teman baik mama dan suaminya yang menjagaku dan memberiku cinta, membuatku nyaman dan terasa terlindungi.
                            “yuki, kau mau ikut acara karaoke bareng sepulang sekolah nanti” Tanya Reya teman sekelasku antusias.
                             Aku menutup buku yang ku baca, saat ini jam pelajaran kosong, kelas sangat rame. Aku memilih duduk dibangku sambil membaca buku yang baruku beli  kemarin.
                            Siapa aja yang ikutan..?
                            “anak club basket, kau mau ikut kan”
                            Reya setengah berharap, aku menghela nafas panjang, jika anak club basket ikut kemungkinan besar Nando terlibat didalamnya.
                            Vernando Meyzicco Earnandes. Dia adalah temanku dari SMP, yang begitu aku kenalkan ke mama langsung ditolak mentah-mentah oleh mama. Tampaknya mama tidak menginginkan aku berhubungan lebih dari seorang teman pada lawan jenis saat itu. Arti sempurna dimata mama berbeda denganku, aku pernah cekcok dengan mama tentang hal ini. aku tidak mengerti apa alasan mama menolak  Nando, cowok pintar, anak pengusaha sukses, segudang prestasi akademik, jago main musik, jago main basket, murid kesayangan guru-guru, soal tampang tentu saja tidak diragukan, banyak cewek-cewek merebutkan Nando.
                            Sepertinya Nando bukan tipekal cowok yang mudah menyerah untuk meyakinkan mama, dia masih saja mencari celah untuk meluluhkan hati mama agar kedekatannya denganku di restui.
                            “maaf aku tidak bisa ikut karaoke Reya”
                             Aku menghela nafas menyesal. Kutunjukan pesan dari bibi shera yang baru saya tiba di handphone ku, menyuruhku segera pulang
                            “aku disuruh pulang cepat reya”.
                            “Ooohhh, oke lain waktu saja ya”
                            “iya, maaf ya”
                            Bibi shera sekali lagi mengirimi aku pesan, menyuruhku untuk izin pulang lebih awal. Aku bangun dari tempat duduk merapikan buku-buku ku, memasukannya kedalam tas, dan keluar kelas menuju ke ruang guru piket utuk memint izin pulang.
                            Bibi shera menanggis saat aku datang, phil sedang memeluknya berusaha menenangkan. Aku melirik jam dinding di ruang tamu. Tidak biasanya phil berada di rumah jam segini. Perasaanku jadi tidak enak.
                             “Ada apa,  Kenapa kalian menangis, apa sesuatu telah terjadi”
                            “Bibi ada apa”
                            Bibi shera bangun, menatapku dengan pandangan berlinang air mata, kemudian dia menghampiriku, memelukku erat sampai aku merasa sesak untuk bernafas.    
                             “Yuki” phil menyusul, menatap bibi shera berusaha menenangkan.
                            “apa yang terjadi bibi, kenapa menangis”
                             Kataku bingung. Phil menatapku dengan pandangan sedih. Phil ikut memelukku
                             “phil”
                            Aku prustasi melihat mereka bersikap aneh seperti ini, bibi shera mengusap air matanya.
                            Sudah saatnya kau harus tau kenyataan yang sebenarnya. Aku ditarik bibi shera menuju ke salah satu tempat yang tidak boleh aku masuki sebelumnya. Dengan masih dilanda sikap kebingungan  aku berjalan mengikuti bibi shera. Bibi shera membawaku ke ruangan terlarang. Aku semakin tidak mengerti, di depan pintu terdapat simbol aneh yang aku rasa begitu famyliar oleh penglihatanku, terpancar sinar berwarna biru es. Baru aku sadari bahwa simbol itu sama persis, seperti yang ada di dalam mimpiku semalam.
                            Udara dingin berhembus dari dalam ruangan ketika pintu dibuka. Aku bergidik. Dari mana angin itu berasal, padahal diruangan ini tidak ada celah atau pendingin ruangan sama sekali.
                            Apa ini..
                            Kataku terkejut. Disepanjang dinding dan lantai ruangan dikelilingi cermin, atapnya terdapat symbol yang bergerak-gerak, kemudian ditengah ruangan terdapat patung seorang lelaki, dengan rambut dan jenggot yang panjang menjuntai dibiarkan tergerai, tangannya mengadah seolah memberi restu. Didalam cermin tidak ada bayangan kami. Hanya ada bayangan patung lelaki itu.
                            “Ini adalah ruangan penghubung yang menghubungkan dunia ini dengan dunia kita”
                            Ujar bibi shera lirih. Aku menatap bibi shera bingung. Apa maksudnya.
                            “yuki, apa kau masih ingat cerita yang sering ibumu ceritakan saat kau masih kecil”   
                            Aku mengangguk. Masih dilanda sikap kebingungan.
                            “Tentu saja aku ingat”
                             Itu cerita kisah seorang putri yang diceritakan mama sebagai dongeng pengantar tidurku. Begitu seringnya mama cerita sampai aku hafal.
                            Cerita seorang putri dari kerajaan yang jauh. Putri itu hidup sebatang kara kedua orang tuanya sudah lama meninggal dunia. Putri itu hanya mempunyai sahabat seorang pangeran keduanya bersahabat dari kecil sampai mereka dewasa, persahabatan mereka terus terjalin. Sampai suatu ketika keduanya saling jatuh hati. Putri dan pangeran berjanji akan terus bersama sampai maut yang memisahkan mereka. Namun, pangeran harus pergi karena suatu tugas yang tidak bisa dilanggar. Pangeran itu meninggalkan putri dan menikah dengan gadis lain. Sang putri yang patah hati. Pergi, Lalu seiring berjalannya waktu putri itu menemukan pangeran lain, yang mencintai putri dan berhasil menyembuhkan luka hati sang putri. Lama kelamaan putri jatuh cinta pada pangeran itu. Dan keduanya memutuskan menikah. Namun, kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama, sang pangeran yang dulu meninggalkan putri tidak ingin melihat putri dimiliki orang lain. Pangeran itu memaksa sang putri untuk kembali padanya. Tapi sang putri menolak. Dan kemudian, pangeran yang ditolak itu merencanakan niatan jahat untuk memisahkan putri dan suaminya. Pangeran itu membuat fitnah yang membuat putri itu dibuang ke dunia lain. Suami putri berjanji akan selalu menunggu kembali dan berusaha untuk membuktikan bahwa putri itu tidak bersalah.
                            Cerita yang mengharukan. Cara mama menceritakannya padaku. Seolah mama sendiri yang mengalaminya. Aku selalu terhanyut jika mama mendongi aku tentang kisah itu.
                           “Itu adalah cerita tentang ibumu yuki”
                            Aku langsung mendongak Kaget.
                             “kita bukan manusia yang berasal dari dunia ini yuki, Kita berasal dari dunia yang berbeda Dimensi dengan dunia ini”
                             Dulu saat ibumu mengandungmu, ibumu diasingkan kedunia ini karena tuduhan fitnah yang sebenarnya sama sekali tidak pernah dilakukannya. Dan ayahmu masih hidup. Ayahmu belum mati. Dia sudah berhasil membuktikan jika ibumu tidak bersalah. Tapi sekarang ibumu sudah tidak ada. Maka kerajaan memutuskan kau boleh kembali kedunia itu.
                            “bibi sedang bercanda kan”
                            Ujarku mempertanyakan kewarasan bibi shera. Bibi shera mencengkram bahuku kuat. Menatapku dengan pandangan mendesak agar aku mempercayai cerita konyolnya.
                            “apa yang aku ceritakan benar adanya”
                            “Aku adalah pelayan putri Raynszah”
                            Kau bisa kembali kedunia itu lagi yuki. Kau bisa tinggal bersama ayahmu. Tapi maaf, bibi tidak bisa ikut bersamamu, bibi sudah menemukan seseorang yang berarti disini. Ujar bibi shera sambil melirik kearah phil.
                            “Aku tidak mau mempercayai cerita bibi, dan aku tidak mau kembali kedunia yang sudah membuang mamaku, memisahkan mamaku dengan keluarganya”
                            Tidakkkk
                            Aku menatap bibi shera dengan pandangan tegas.
                            “Andai apa yang  bibi ceritakan  benar, aku juga tidak mau kembali kedunia itu“ isakku pada bibi shera.
                            Bibi shera menatap ku dengan ekpresi menyerah. Dia menunduk pasrah, berlutut didepanku dengan sikap hormat. Bahunya terlihat gemetar. Phil berusaha menegarkannya.
                            “saya Shera Madza, pelayan pribadi putri Raynsyah Hayrandrami Rizuka Olheri”  Bibi shera memberi Hormat pada seorang pemuda.
                            Aku berbalik memutar badan, tersentak mendapati ada seorang lelaki jangkung, berusia sekitar awal 20an, bertubuh kekar, entah dari mana datangnya, tiba-tiba dia sudah berdiri di sampingku. Penampilannya tampak mewah dan elegan, dengan baju ala kerajaan jaman dulu, rambutnya berwarna hitam kebiruan, dengan mata biru es yang dingin, seolah menggambarkan dia bisa membunuh orang dengan hanya memandanginya saja, pemuda itu seketika mencekal tanganku kuat. Aku berusaha memberontak untuk membebaskan diri. Tapi tenaganya terlalu kuat mencengkramku.
                            “ Lepaskan aku..”
                            “aku datang untuk membawamu pulang”
                            “tidak mau. Lepaskan aku, bibi tolong aku”
\                           Sebuah pusaran oval berwarna putih, setinggi 2 meter seketika muncul dari belakang pemuda itu. Aku terus memberontak saat tubuhku ditarik memasuki pusaran itu. Rasanya seperti menerobos masuk kedalam timbunan jelly yang besar. Aku merasakan mual kepalaku terasa pusing. Kesadaranku mulai melemah. Hal yang terakhir aku lihat sebelum aku akhirnya pinsan hanya bibi shera yang terlihat menangis.


Ayah



                           
                            Aku merasakan ada sesuatu yang dingin diusapkan diwajahku. Rasanya dingin dan nyaman. Perlahan kesadaranku mulai timbul. Terdengar suara  citcuit kicauan burung bersautan sangat merdu, tak jauh dari tempatku di baringkan. Udara berhembus, dingin tapi menyejukan. Seseorang membakar aroma teraphy dengan wangi apel. Membuat perasaanku nyaman. Saat aku membuka mata, hal yang pertama kali aku lihat adalah tiang yang menjulang tinggi mengelilingi tempat tidurku dipadukan dengan kain sutera halus berwarna ungu pastel yang lembut. Aku mencoba bangun, tapi kepalaku terasa pusing.
                            “sudah bangun”
                            Aku berpaling. Seorang lelaki berbadan tegap walau usianya sudah tidak muda lagi, mungkin sekitar 50 tahun. Rambutnya mulai ditumbuhi uban. Tapi aku masih bisa melihat dengan jelas aura ketampanan di wajahnya saat masih muda dulu. Lelaki itu berdiri disamping tempat tidurku dengan sikap penuh kehati-hatian, sepertinya dia tidak ingin membuatku merasa takut.
                            “bagaimana keadaanmu” tanyanya lagi.
                             Aku memegang kepalaku. Pusingnya semakin menjadi. Rasanya kepalaku berdenyut. Lelaki itu menyodorkan air dalam gelas yang terbuat dari besi tang mewah.
                             “minumlah”
                            Aku menatap orang itu ragu.
                            “jangan takut aku tidak akan menyakitimu”
                            Dengan ragu aku mengambil gelas itu dan melongokan wajahku didalam gelas untuk melihat isinya. tidak berbau dan juga tidak berwarna, hanya air putih biasa. Aku langsung meminumnya. Kemudian hal aneh terjadi. Rasa pusing yang melanda kepalaku hilang dalam sekejap.



                            “bagaimana”
                            Tanyanya cemas melihatku terdiam. Aku mengerjap, menatapnya dengan sikap tak percaya. Suara lelaki didepanku ini terasa famyliar. Suara yang muncul di dalam mimpiku. Suara yang memnaggil namaku dengan nada kesedihan itu.
                            “aku baik-baik saja”
                            Aku menyerahkan gelas yang sudah kosong ditanganku padanya.
                            “terimakasih kepalaku terasa lebih baik”
                            “syukurlah, sepertinya ramuan yang dibrikan pendeta Serfa berhasil”
                            “dimana aku..”
                            Aku menatap kesekeliling. Aku berada disebuah kamar yang sangat luas dan mewah. Tempat tidurnya besar dan empuk, interiornya berwarna emas mengkilap, seprainya berwarna merah dipadu dengan sulaman benang berwarna emas. Disebelah timur dari tempat tidur ada pintu yang menuju kebalkon, cendela besar terbuat dari kaca memper jelas pemandangan taman yang indah diluar, lalu disisi kiri ada meja rias lengkap dengan lemari kecil didekatnya. Aku melihat dua pintu di sisi lain ruangan ini yang menghubungkan dengan apapun didalamnya. Lampu kristal yang tersusun sampai menyentuh lantai bersinar, seolah merupakan air terjun yang berasal dari atap.
                            “ini adalah kamarmu, bagaimana apa kau suka”
                            Aku terkejut, mendengarkan perkataan orang itu. Apa aku tidak salah dengar kamar mewah seluas ini adalah kamarku. Aku cubit kulitku, terasa sakit, memastikan jika aku tidak sedang bermimpi.
                            “bagaimana bisa, ini menjadi kamarku”
                            “aku mendisainya dengan warna ungu pastel dan emas, lalu di dua pintu itu...?“
                            Lelaki itu menunjuk ke arah pintu yang berada diruangan ini dengan sikap tenang, yang kanan adalah kamar mandi dan yang kiri adalah ruang berpakaian kau bisa memilih baju yang ingin kau kenakan sesuka hati diruangan itu. Aku juga sudah membelikan semua kebutuhanmu, tapi kalau masih kurang atau tidak sesuai dengan seleramu katakan saja.
                            Aku menatap lelaki it, Ada aku didalam dirinya, warna rambut dan kekikukannya saat menghadapi seseorang yang baru dikenal
                            “Apa kau ayahku”
                            Orang itu diam. Hening beberapa saat. Lalu dia memelukku, Erat.
                             “Iya putriku sayang”
                             Aku merasakan bahunya bergetar.
                             “Maafkan ayah baru bisa membawamu pulang sekarang. Ayah sangat menyanyangimu. Maafkan ayah sudah membiarkan kamu dan ibumu menderita. Tapi ayah janji mulai sekarang ayah akan menjagamu. Ayah akan melindungi kamu. Kita akan hidup bersama”
                            Begitu mendengar penjelasannya, air mataku menetes. Aku kira seumur hidupku benar-benar tidak akan pernah memiliki seorang ayah lagi didunia ini. Aku tidak akan pernah merasakan kasih sayang dari seorang ayah. Aku selalu merindukan kehadiran sosok seorang ayah, aku selalu bertanya pada diriku sendiri, bercengkrama membayangan seprti apa sosok ayahku yang sebenarmya. Namun kini berasa mimpi, seolah anganku selama ini dikabulkan. Orang yang bersamaku saat ini memanggil ku dengan sebutan putrinya. Aku tidak bisa meluapkan kebahagianku, akhirnya aku bisa bertemu dengan seseorang yang selalu aku nantikan kehadirannya dalam doaku. Aku bahagia bertemu dengannya.
                            “Ayah aku bahagia bertemu denganmu saat ini”
                            “ayah juga bahagia bertemu dngan kamu sayang”
                            “Yuki putriku” 
                            Bisik ayah dengan suaranya gemetar. Lama kami berpelukan melepas rasa rindu setelah bertahun-tahun terpisah. Ayah melepaskan pelukannya. Beralih menatapku masih penuh rasa kerinduan.
                             “kau sangat mirip dengan ibumu, Cantik sekali.
                            “ayah” aku menunduk malu
                            “Apa kamu mau tinggal bersama ayah”
                            “Iya, tentu saja aku mau tinggal bersama ayah”
                             Tapi,  ayah tidak bisakah kita tinggal di duniaku sana bersama bibi shera  dan phil.
 Ayah diam sesaat. kemudian mengatakan sesuatu setelah terdiam cukup lama
                            "Kau tidak mau tinggal bersamaku disini yuki”
                            Aku merasa bersalah saat ayah mengucapkan kalimat itu dengan nada sedih, ingin rasanya aku menarik ulur kata-kataku tadi. Bodoh sekali diriku ini.
“bukan begitu ayah, aku hanya tidak ingin kembali kedunia yang telah  membuang mama” bisik ku keluh.
                                     
                             “Tidak yuki”
                             Kesalahan terbesarku membiarkan ibumu pergi, tinggal di dunia asing itu. Aku menyesalinya. Dan sekarang aku tidak ingin  mengulangi kesalahan yang sama dengan membiarkan mu pergi dari sini.
                            “tapi aku punya kehidupan disana ayah”
                            Aku berusaha menyakinkan ayah. Ayah berdiri menatapku dengan pandangan terluka bercampur marah yang tidak bisa diungkapkan atas perkataanku.
                            “kau akan tinggal disini, bersama ayah”
                            Setelah berkata seperti itu ayah keluar meninggalkan aku sendiri dikamar ini. Pintu ditutupnya dengan kencang. Aku menyusupkan wajahku ke lutut, merasa bersalah. Tidak seharusnya aku berkata seperti itu pada ayah, terlebih kami baru bertemu setelah sekian lama berpisah. Tapi aku juga tidak mau memaksakan diri untuk tinggal didunia Asing ini.
                            Entah berapa lama aku melamun, ketika terdengar suara ketukan pintu aku mulai tersadar dari lamunanku. Seorang gadis berkulit sawo matang dengan rambut dikepang kebelakang. Memasuki kamar
                            ”Permisi putri yuki”
                             Perkenalkan nama saya Rena Zurent, mulai sekarang saya akan menjadi pelayan dan pengawal pribadi putri yuki. Saya akan menjaga dan merawat putri dengan baik. Ujar gadis itu sembari berlutut memberi hormat. Aku langsung bangun dengan panik.
                            “tidak usah seperti itu, apa-apaan kamu”
                             Gerutuku menghampirinya Aku ini bukan putri seperti yang kamu maksud.
                            “anda adalah putri dari Perdana Mentri Olwhrendho”
                            Jika saya berlaku tidak sopan pada putri. Saya bisa dihukum.
                            “aku hanya gadis biasa,  jangan seperti itu” aku mulai gusar. Bangunlah.
                            “saya sudah mempersipkan pakaian dan perlengkapan mandi untuk putri. Mari saya bantu” ujar rena saat  dia bangun, masih dengan sikap sopan.
                            Aku mendesah. Mungkin memang aku harus menyegarkan pikiranku dengan guyuran air
                            . “baiklah kau bisa membantuku kali ini, aku memang sudah tidak tahan dengan semua ini, aku butuh sesuatu yang membuatku merasa lebih baik”
                             Rena tersenyum padaku, membantuku menitah sampai dikamar mandi.
                            Sambil membantuku mandi, rena banyak menceritakan soal dunia ini. Dunia Gonverst, dunia yang berbeda dimensi dengan dunia yang aku tinggali, secara keseluruhan dunia ini sama dengan duniaku sana, hanya saja didunia ini sihir dan suasana kerajaan masih begitu erat. Di dunia ini juga memiliki Negara besar  maupun Negara kecil. Negara yang paling besar adalah Negara Argueda, ada juga negara lain Garduete, Romawa dan Raysamsyah. Dari keempat Negara itu yang paling kuat dan maju adalah Negara Argueda dan Garduete. Namun hubungan keduanya sering kali tidak baik, dan bahkan banyak Negara lain yang berusha memenfaatkan situasi untuk membuat kedua Negara adijaya itu hancur.
                            Negara Argueda sendiri adalah Negara dimana aku berada saat ini. Memiliki empat musim, panas gugur semi dan dingin. Penghasil perak dan berlian terbesar didunia. Dan menyembah Dewa Helmerts, sekarang Negara ini dipimpin oleh Raja Juzes Randha. Aku sangat terkejut saat mengetahui cerita rena ternyata Raja yang memimin Negara ini memiliki 4 orang istri, 6 kekasih, 2 simpanan, dan 13 dayang-dayang. Menurut rena didunia ini sikap seorang raja seperti itu hal yang wajar. Namun, aku bersyukur karena ayah sama sekali tidak memiliki wanita lain selain mama. Ayah selalu menolak wanita yang dihadiahkan untuknya, bagi ayah mama adalah segalanya dan tidak akan pernah tergantikan oleh perempuan lain.
                            Namun walaupun kuat, sebenarnya Negara ini dilanda kecemasan, karena calon penerus Tahta yang sah adalah anak dari Ratu yang dipilih Dewa. Dlam hal ini, Ratu meninggal dunia sesaat setelah melahirkan seorang pangeran. Yang berarti Negara ini hanya memiliki seorang  pangeran tunggal pewaris tahta kerajaan. Selain itu, ada peraturan aneh lagi yang membuatku tak habis fikir, calon ratu dari sang pangeran pewaris tahta itu adalah perempuan yang ditentukan oleh Dewa. Jadi pangeran tidak bisa memilih perempuan sesuka hati untuk menjdi calon ratunya. Pangeran itu harus bisa membuat calon ratu mencintainya denga setulus hati. Jika melanggar maka kerajaan akan dilanda kehancuran, namun banyak juga pangeran di Negara lain yang tidak berhasil menemukan ratunya sehingga pangeran itu harus di hukum mati. Kejam sekali...!
                            Kamar mandi diruangan ini, cukup untuk merendam sepuluh orang sekaligus sangat luas, tapi itu tidak seberapa ketika aku melihat ruang ganti berpakaian, aku tercengang mendapati seluruh isi diruangan ini, penuh dengan gaun-gaun cantik yang tergantung rapi. Ada juga tas, sepatu, topi, dan perhiasan mahal. Ruangan ini bagaikan mall sangat komplit, semuanya tidak mungkin bisa aku kenakan dalam waktu satu sampai dua tahun mendatang saking banyaknya.
                            Aku sempat berdebat dengan rena saat dia memaksaku untuk mengenakan banyak perhiasan dan berdandan ala putri dunia ini. Dan akhirnya setelah perdebatan yang panjang, kami memperoleh keputusan. Aku mau didandani dengan banyak perhiasan ala putri dunia ini, jika sedang menghadiri acara resmi saja. Untuk saat ini, Akhirnya aku memilih gaun tersusun yang akan aku kenakan. berwarna hijau daun dihiasi renda lengkap dengan pita  kecil yang mempercantik penampilan, lalu aku juga mengenakan sepatu yang senada. Rena membantu menata rambutku, aku mengoleskan makeup tipis. Aku tampak berbeda hari ini. Rasanya baju dan sepatu yang kukenakan, membuatku menjadi sosok yang lain. Atau hanya perasaanku saja.
                            “sebentar lagi jam makan malam putri. Tadi perdana mentri sudah meminta juru masak untuk membuatkan masakan istimewa sebagai tanda penyambutan putri yuki datang di negara ini”
                            “oh yaa” kataku masih tak percaya
                            Suasana hatiku sedang sangat buruk. Memikirkan nasipku tidak bisa kembali dalam kehidupanku, memikirkannya membuatku merana.
                            “tapi perdana menteri terlihat aneh saat saya berpas-pasan dengannya tadi, beliau tampak sedih. Padahal kemarin-kemarin saat kerajaan memutuskan bahwa putri Raynszah tidak bersalah dan beliau dapat membawa putri yuki kesini. Beliau sangat senang”
                            Aku terdiam. Ayah pasti sedih karena aku. Aku sudah mengatakan hal yang jahat padanya. Padahal ayah sudah berusaha keras untuk membawaku kembali.
                             “Rena bisakah aku menemui ayah“  Tanyaku berhati-hati
                             Apapun penyebab kesedihan ayah itu karena aku. Rena tersenyum, ada lesung pipi dikedua simpul pipinya saat dia tertawa
                            ”tentu saja putri” mari saya antarkan
                            Aku dibawa menuju ruang kerja ayah. Istana ayah ini luas. Ayah bekerja sebagai perdana menteri di kerajaan ini. Aku jadi ingat bagiamana ayah bisa membelikanku banyak barang mewah, tapi bukan berarti aku menyukainya. Ayah tidak perlu memboroskan uangnya untuk membelikanku barang sebanyak itu.
                            Aku berdiri didepan pintu, ragu sejenak, rena sudah beranjak pergi meningglkanku, rena memberikanku kesempatan untuk menemui ayah sendiri, semantara itu rena lebih memilih membantu koki mempersiapkan makan malam.
                                    Tok tok tokkkk...tokk
               Aku mengetuk pintu. Terdengar suara ayah dari dalam ruangan kerja.
                             “siapa”
                            “ini aku ayah, Yuki. Boleh aku masuk”
                            Terdengar langkah kaki mendekat, ayah membuka pintu. Wajahnya masih terlihat sedih
                            ”kau cantik sekali” pujinya membuatku tersipu
                            ”mirip sekali dengan ibumu”
                            “aku tidak secantik mama ayah”
                            “ahh siapa bilang, kau sangat mirip dengannya”
                            Aku masuk, mengikuti langkah ayah. Ruangan kerja ayah penuh berisi buku.
                            “ayah, panggilku pelan”
                            “ya”
                            “maafkan aku ya”
                             Aku tidak bermaksud membuat ayah beredih. Aku tau ayah sudah berusaha keras untuk membuktikan pada kerajaan kalau mama tidak bersalah atas fitnah itu, ayah juga sudah berusaha sedemikian rupa agar kerajaan mengizinkan aku kesini.
                            “yuki...”
                            “Mulai sekarang aku akan menemani ayah.Aku tidak akan membiarkan ayah bekerja terlalu keras lagi terutama” Ayah tertawa mendengarkan selorohku.
                             Malam ini kami makan malam bersama sambil mengobrol. Aku merasa seolah kehadiran mama bersama kami disini, seakan kami berkumpul lagi dalam satu keluarga yang bahagia.
                            Sudah satu minggu aku tinggal diduia ini. Ayah mencukupi semua kebutuhanku dengan baik, banyak hal baru yang kutemui disini yang tidak ada diduniaku sana. Kata ayah aku sudah didaftarkan masuk sekolah yang ada di ibu kota. Aku sangat senang. Beruntung Dewa membuatku mengerti bahasa di Negeri ini, jika tidak akan sangat menyeramkan, aku tidak bisa berkomunikasi dengan siapapun termasuk pada ayahku sendiri.
                            Sekolah yang akan aku masuki nantinya adalah sekolahan Elit yang sebagian besar muridnya adalah anak bangsawan. bahkan banyak pula pangeran dan putri dari Negara lain sekolah disana.
                            Di Negeri ini dibagi menjadi empat tingkatan sekolah, yang pertama tingkat Gavala setara dengan Sekolah Dasar, lalu tingkat Salfor setara dengan SMP, kemudian Barmasih setara dengan SMA, dan yang terakhir Origa setara dengan Perguruan Tinggi. Namun bedanya disini, jika seorang murid tidak lulus dari tingkat Gavala, maka walaupun usianya sudah cukup untuk masuk ke tingkat Salfor, maka dia akan tetap tinggal di tingkat Gavala, sampai dia bisa menyesuaikan pelajaran di tingkat Salfor.
                            Aku begitu antusias menantikan akan sekolah lagi, semalaman aku sampai tidak bisa tidur membayangkan bagaimana rasanya bersekolah di sekolah elit ala dunia ini. Dengan populasi jumlah murid 9753 siswa .
                            Ayah mengantarkan aku sampai ke gerbang Istana
                            ”kau yakin tidak ingin ayah temani”
                            Tanya ayah padaku dengan raut wajah bimbang. Aku menatap ayah dengan sikap yakin.
                            “aku tau ayah sudah banyak pekerjaan, jadi aku tidak ingin mengganggu kerjaan ayah“ ujarku kalem, lagipula jika aku kebingungan aku bisa bertanya pada orang yang ada disana ayah.
                            “kau membawa Gulfmu kan”
                            Aku tersenyum pada ayah sembari menunjukan kotak bulat seperti bedak yang berarti Gulf. Alat komunikasi  seperti handphone ala dunia ini. Namun gulf ini bisa menghubungkun langsung dengan orang yang kita hubungi, menampilkan jelas sosok orang yang sedang berbicara dengan kita. Gulf juga bisa menyimpan kode rahasia Gulf kepunyaan orang lain. Seperti nomer telepon diduniaku sana.
                             “Segera hubungi ayah jika kau butuh sesuatu”
                            Timpal ayah dengan nada meyakinkanku. Aku tersenyum dan menganggukan kepala menandakan sikap siap komandan.
                            “jangan cemas ayah”
                             Aku mengecup pipi ayah. Lalu masuk kedalam kereta kuda yang sudah siap, akan  mengantarkan ku menuju ke sekolah.
                            Sei, seorang lelaki berusia 35 tahun yang ditugaskan ayah untuk mengantarkanku. Badannya kekar, bertubuh besar, kulitnya kecoklatan terbakar matahari. Sei sangat suka bercanda. Aku sering dibuatnya tertawa sampai aku sakit perut oleh ulah kekocakannya.
                            “kita sudah siap putri” teriak Sei antusias.
                            Aku menatap kearah bangunan sekolah terpukau. Benarkah aku akan sekolah disini. Besar sekali. Rasanya seperti memasuki kota didalam kota. Untuk menuju pintu sekolah saja, dari gerbang menuju depan ruang sekolah menempuh waktu 10 menit dengan mengendarai kereta kuda. Di sepanjang jalan, aku melihat hutan pinus dan danau  yang amat cantik, juga bangunan-bangunan besar yang terpisah. Kata Sei itu adalah asrama para putri dan bangsawan yang tinggal disini.
                            “putri yakin tidak mau diantar”
                            “aku tidak apa-apa Sei, jangan cemas”
                            “putri kan imut, aku khawatir saking imutnya bisa-bisa nanti ada yang memungut putri karena tergoda ingin memiliki putri”
                            Aku memutar bola mata mendengar seloroh Sei. Aku merapikan penampilanku dan membuka pintu kereta. Satu hal yang aku senangi dari Sei adalah dia masih membiarkan ku bertindak seperti gadis biasa. Misalnya dengan membiarkanku membuka pintu kereta sendiri.
                            “Jika ada sesuatu” langsung hubungi saya putri
                            “oke, sampai nanti Sei” Aku melambaikan tangan pada Sei.
                             Sekolah sudah mulai rame. Ada gedung utama yang besar dan luas, memanjang seperti benteng. Beberapa murid tampak melirikku saat aku berjalan memasuki gedung sekolah. Aku agak kebingungan dengan peta yang diberikan ayah. Memasuki ruangan ini, lalu aku menemukan taman didepan gedung. Ada air mancur ditengah ruangan besar, atapnya tinggi sekali membuat hawa dingin, terbuat dari kaca sehingga cahaya matahari menerobos masuk kedalamnya. Lalu disepanjang dinding, ditata sedemikian rupa, tanaman mawar yang merambat sampai keatas, rasanya bagaikan didalam keajaiban  yang nyata. Ada tiga lorong di masing-masing sisi taman itu, aku membelok kekiri. Mengikuti arah peta. Lorong ini lebih sepi dari yang aku kira. Terdengar dentang lonceng dibunyikan  menandakan bahwa jam pelajaran sudah tiba.
                             “Maaf“
                             Aku berlari menghampiri seorang pemuda yang berjalan kearahku. Pemuda itu menatapku, dengan sikap waspada.
                            “Perkenalkan manaku Yuki Heyrandrami Olwhrendho, aku murid baru disini” kataku mencoba memperkenalkan diri.
                            Aku memperhatikan pemuda itu usianya munggin sebaya denganku, kulitnya putih bersih, matanya berwarna hijau lembut, rambutnya ikal, berwarna kecoklatan, tubuhnya tinggi dan kurus.
                            “Aku tidak tau jika perdana mentri Olwhrendho memiliki seorang putri“ ujar pemuda itu masih menunjukan sikap waspada.
                            “aku baru kembali dari tempat yang sangat jauh”
                            Ujarku sambil menggaruk-garukan kepalaku bingung. Terdengar suara gulf. Aku buru-buru mengambilnya dari dalam tas. Wajah ayah muncul
                            “bagaimana yuki apa kau sudah menemukan ruangan kepala sekolah” tanya ayah begitu aku membuka gulf dengan ekpresi cemas.
                            “ayah tenanglah”
                            Aku mencoba membuat wajahku rileks, aku baru saja akan kesana ayah, jangan terlalu mencemaskan ku.
                            “apa salahnya mencemaskan putri ayah sendiri” gerutu ayah. Aku tertawa.
                            “Aku baik-baik saja ayah”
                             Ayah juga jangan terlalu bekerja keras sampai melupakan waktu meminum vitamin untuk kesehatan ayah. Kataku mengingatkan.
                            “baiklah”
                            Segera hubungi ayah begitu kau bertemu dengan Nyonya Moreysa
                            “baik ayah”  aku menutup gulf. Pemuda itu menatapku takjub.
                            “Wow kau benar-benar putri perdana mentri Olwhrendho” Aku pikir dia hanya memiliki seorang istri saja.
                            “apa maksudmu Putri Raynszah
                           “Iya, dia. Aku minta maaf aku tidak bermaksud...” kata pemuda itu menyesal.
                            “tidak apa-apa“ kataku santai.
                            Tapi kalau kau berfikir aku anak dari wanita lain kau salah. Aku adalah putri ayah dan ibuku, putri Raynszah.
                            Pemuda itu terbelak bengong. Menatapku dari ujung ramput sampai ujung kaki, dengan sikap menilai.
                            “tidak mungkin” Katanya akhirnya. Bukankan putri Raynszah dibuang kedunia lain. Bagaimana bisa
                            “kalu begitu berarti putri Raynszah pulang. Aku menggeleng sedih. Tidak hanya aku. Ibuku...” Dia sudah damai bersama Tuhan, sejak dua tahun yang lalu.
                            Hening pemuda itu menggarukan kepalanya salah tingkah.
                            ”Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu sedih putri“ dia akhirnya berkata dengan nada menyesal.
                            “ tidak apa-apa ko” kataku lagi
                            “Ohh ya”  aku dengar kau mau keruang kepala sekolah kan
                            “ya, dimana” aku kembali teringat tujuanku menyapanya.
                            “mari aku antar”
                            Aku diantar pemuda itu menuju ruang kepala sekolah. Di depan pintunya jelas terpasang nama Nyonya Moreysa. Kepala sekolah disekolahan ini
                            ”aku antar kau sampai disini saja ya”
                             Katanya pemuda itu sambil menunjukan tangannya ke arah pintu. Ini ruangannya. Kau bisa bertanya langsung dengan Nyonya Moreysa tentang sekolah in.i
                            “iya, Terimakasih banyak”
                            “Sama-sama” Pemuda itu berjalan menjauh
                             “tunggu, siapa namamu”
                            Tanyaku penasaran. Pemuda itu berbalik memutar badan. Menatapku sedih. Aku bingung dengan ekpresi wajahnya itu.
                            “kau tidak perlu tau siapa namaku”
                             “tapi mengapa begitu”
                            “karena aku tidak yakin, jika nantinya kau sudah tau siapa aku, kau masih mau mengenalku, atau bahkan mungkin kau akan menyesal sudah pernah bertemu denganku disini”
                            Aku mengerjap, tidak mengerti maksud pemuda itu Aku hampir saja mengejarnya. Tapi di belakangku teredengar suara pintu dibuka. Seorang wanita berusia 50 tahunan muncul. Tubuhnya kurus dan terlihat rapuh dengan hidung yang membengkok seperti habis dipatahkan. Menatapku dengan tatapan menyelidik. Aku menahan nafas, membeku oleh tatapannya.
                            “jadi siapa kau ini, tanya nyonya Moreysa padaku”
                            “maaf nama saya Yuki Heyrandrami Olwhredho”
                            Aku menarik nafas, mencoba mengatasi kegugupanku. Walaupun terlihat rapuh, tapi Nyonya Moreysa mampu mengintimidasiku dengan tetapannya.
                            “ooh kau rupanya, masuklah aku sudah menunggumu”
                            Nyonya Moreysa memberi petunjuk singgkat mengenai sekolah ini, dia memberiku tumpukan buku yang harus ku pelajari hari ini dan juga daftar buku yang harus aku miliki selanjutnya. Aku bisa langsung masuk ke tingkat Barmasih, karena bantuan ayah, aku curiga berapa uang yang ayah keluarkan agar aku bisa langsung masuk sekolah ini tanpa melalui tes masuk. Sepertinya aku harus membuat kompromi dengan ayah agar tidak terlalu menghamburkan uangnya untukku.
                             Aku tidak biasa dimanja seperti ini dengan uang atau kemewahan, dan memang aku juga tidak ingin membiasakan diri akan kemewahan. Setelah dirasa cukup, Nyonya Moreysa lalu menyuruh seseorang petugas untuk mengantarkanku masuk kelas.
                 


Pemuda yang Terkutuk




                                    Aku membaca daftar pelajaran yang harus ku ambil. Sebagian besar ada kelas keterampilan dan kesopanan. Hanya sedikit pelajaran mengenai ilmu pengetahuan yang dapat aku ikuti. Didunia ini perbedaan antara laki-laki dan perempuan masih sangat kental . Contohnya dalam pelajaran yang diambil, perempuan lebih banyak diajari mengenai kesopanan, tingkah laku, tata cara pergaulan, menjahit, memasak, menari, bernyanyi, dan bermain musik. Hanya pelajaran sejarah, bahasa, ilmu pengetahuan alam, dan perhitungan setandart yang diperoleh untuk diajarkan. Sedangkan untuk laki-laki selain keterampilan bermusik mereka lebih banyak diajari keterampilan perang, strategi, atau ilmu ketata Negaraan dan ilmu pengetahuan umum lainnya.
                            Aku duduk disebelah putri berkulit sawo matang di kelas musik, tubuhnya terlihat sempurna dengan gaya dandanan yang terlihat eksotis. Dia berasal dari Negara Halmahera.
                            “setelah ini kau akan kemana” Tanya putri itu padaku.
                             Dia memperkenalkan diri dengan nama Elber. Terdengar suara murid lain berlarian diluar sana. Nyonya Ohwelly tidak suka jika ada keterlambatan di kelasnya, jika ingin lulus dengan selamat, harus bersikap baik didepannya.
                            Gubrakakkk
                            Aku menoleh. Pemuda yang tadi pagi menolongku terjatuh. Aku berani bersumpah kalau lelaki gendut disampingnya itulah penyebabnya. Dia menjegal kaki pemuda itu dengan sengaja. Semua orang yang melihat malah menertawai pemuda itu. Aku sebenarnya ingin menghampirinya. Namun Elber lebih dulu menarik tanganku, menghentikan niatanku untuk menghampirinya.

                            “siapa pemuda tadi”
                             Tanyaku pada Elber ketika kami berjalan menuju ruang makan. Beberapa orang tampak memandangiku. Aku mencoba untuk tidak mempedulikannya
                            “yang mana”
                            “pamuda yang jatuh tadi”
                            “Apa maksudmu Dalto” Ujarnya menatapku tak yakin. Elber tampak berfikir sebentar.
                            “Mungkin” aku menganggukan kepala
                            “kalau yang kau maksud adalah pemuda yang tadi itu berarti memang benar dia”
                            “memang dia kenapa” Tanya elber penasaran.
                            Aku menangkupkan buku didada mencoba terlihat biasa saja.
                            “tidak apa-apa, hanya penasaran” Ceritakan mengenai dia.
                            “ohh, begitu banyak laki-laki disekolah ini, kau malah memintaku untuk menceritakan mengenai si terkutuk itu“ guman elber tak percaya
                            Bangsawan Dalto atau Dalto Radhit Garadis. Umur 17 tahun. Dia adalah pemuda yang saat ini menjadi target pengecaman beberapa murid sekolah ini. Dulu kedua orang tuanya Pernah membakar kuil, hingga semua orang yang ada didalamnya tewas. Walaupun orang tuanya sudah dihukum mati, tapi tetap saja beberapa murid disini yang merasa sanak keluarganya ikut menjadi korban peristiwa itu, mereka tidak terima dan mencoba balas dendam dengan cara menyiksa bangsawan dalto di sekolah.
                             Tidak ada yang mau berteman dengannya. Bahkan ada anggapan jika berteman dengannya akan menurunkan harkat dan derajatnya sebagai orang berpendidikan. Dia disekolah ini dijuluki dengan sebutan sang terkutuk.
                            Pantas saja tadi dia bersikap aneh ketika aku menanyakan namanya, Inikah maksudnya. Aku duduk disamping elber didepan meja makan bulat bersama teman-teman elber yang aku lupa siapa saja namanya. Aku baru saja akan menikmati makanan yang dihidankan para pramu saji. Seketika aku tersentak saat terdengar suara dentingan benda jatuh yang memekakan telinga. Bangsawan dalto terjatuh tersungkur dengan badan penuh makanan yang mengotori bajunya. Beberapa bangsawan dan putri yang ada disampingnya tertawa dengan sikap jijik pada bangsawan dalto.
                            “jalan yang benar, sembarangan“ celetuk seorang putri sinis.
                            “lagi-lagi mereka“ Keluh elber tak suka.
                            Aku menatap ke sekeliling. Ada yang ikut-ikutan mengejek, ada yang tertawa puas, ada yang kasihan tapi tak mau menolong dan ada juga yang tidak peduli. Bangsawan dalto akan berdiri tapi purti yang tadi menyeletuk dengan sengaja menumpahkan supnya ke kepala bangsawan dalto.
                            “ohh, maaf aku tidak sengaja” seloroh putri itu dengan nada mengejek
                            “Menjijikan sekali, awas kena bajuku” Ujar putri lain dengan sikap angkuh.
                            Aku sudah tidak tahan lagi. Tanpa berfikir panjang aku berdiri dan langsung menghampirinya.
                            “kau tidak apa-apa, apanya yang terasa sakit”
                            Tanyaku sambil berjongkok disamping bangsawan dalto. Membantunya berdiri. Bangsawan dalto menatapku terkejut. Aku berusaha menyingkirkan makanan yang masih melekat di bajunya.
                            “apa-apaan ini” Putri yang menumpahkan sub. Menggebrak meja marah.
                            “Siapa kau..? berani sekali kau membantunya, memang kau tidak tau siapa dia”
                            Aku menatap putri itu dengan pandangan menilai. Dia cukup cantik aku rasa, jika tidak melotot kan matanya marah seperti itu. Tapi apa artiya memiliki paras cantik kalau kelakuannya minus.
                            “Aku tau, sang terkutuk kan” Ujarku tak peduli.
                             Aku berdiri menghalangi bangsawan dalto dengan tubuhku agar mereka tidak lagi membuat hal konyol padanya.
                            “kalau kau tau kenapa kau membantunya” celoteh putri itu dengan sikap menantang.
                            “dia temanku, wajar aku membantunya”
                             “teman apa kau sudah gila” sindir putri itu dengan nada sinis
                             “tidak aku tidak gila” Lagipula tidak ada yang melarangku berteman dengan siapa pun.
                                       Seorang putri membisikan sesuatu pada putri itu, putri itu tersenyum sinis dengan pandangan mencemoh padaku.
      “ooh jadi kau adalah putri buangan itu”
Sudah kembali rupanya, lalu disini kau berlagak jadi pahlawan kesiangan untuk sang terkutuk ini.
Aku tersenyum tenang
                        “terimakasih, karena kau sudah bersusah payah mencari tau mengenai diriku. Aku merasa tersanjung”
Putri yang berbisik tadi langsung memalingkan wajah, menahan marah.
                            “kau tidak tau siapa dia, iblis hina seperti ini tidak pantas dikasihani” purti yang menantangku itu, menunjuk tajam ke arah wajah bangsawan dalto. Aku semakin menghalanginya dengan badanku.         
                            “Iblis, aku rasa iblis yang sebenarnya bukan dia. Tapi lebih akan pantas jika sebutan iblis itu merajuk pada orang sepertimu Putri”
                            PlakkkKK
                            Aku merasaka panas dipipiku.
                            “Berani sekali kau bicara seperti itu padaku“ Ujar putri marah.
                            Bangsawan dalto menarikku mundur. Putri itu dan teman-temannya menghampiriku, bersiap menyerangku.
                             “ada apa ini“
                            Terdengar suara galak, membuyarkan ketegangan yang terjadi. Aku terkejut saat melihat siapa yang masuk. Rambutnya berwarna hitam kebiruan, dengan mata biru sedingin es yang menusuk. Tubuhnya jangkung dan kekar. Berjalan menuju arah kami. Di belakang dia berjalan lima pemuda seusianya. Salah satunya berpakaian jubah panjang, ala kerajaan jaman dulu. Aku ingat benar, pemuda berambut biru itulah yang membawaku masuk ke dunia ini dengan sikap penuh paksaan.
                            Semua orang yang ada diruangan langsung berlutut memberi hormat. Aku terbengong menatap ke sekeliling. Pemuda itu lalu berhenti beberapa meter dari arah kami. Menatapku dengan ekpresi dingin tak bersahabat.
                            “kau, tidak sopan sekali. Begitukah caramu menyambutku” Ujar pemuda itu dengan sikap angkuh.
                            Aku baru saja akan memakinya ketika bangsawan dalto sudah menarik tanganku menyuruhku  menunduk memberi hormat.
                            “maafkan putri yuki pangeran, putri baru saja tiba di dunia ini, jadi belum terbiasa dengan keadaan dunia ini” Ujar bangsawan dalto di sampingku.
                            Putri Yuki beri hormat pada pangeran Riana. Aku melihat ekpresi diwajah pemuda itu dingin, bagaikan es yang membeku seolah dia bisa membunuhku dengan tatapannya yang tajam. Aku tau kondisinya tidak sedang bersahabat, akan menjadi kesalahan yang fatal jika aku tidak mengikuti saran bangsawan dalto.
                              “hormat saya pada pangeran Negeri ini” Ujarku mengikuti bisikan bangsawan dalto.
                               “jadi ini anak dari putri Rayszah itu. Wow...cantik sekali”
                             Seorang pemuda tampan bergaya karismatik maju. Tubuhnya langsing kulitnya putih bersih. Menatapku dengan ekpresi senang.
                            “hay..” riana kenapa kau tidak mengatakan bahwa gadis yang kau bawa itu secantik ini. protes pemuda itu pada pangeran riana dengan nada menyesal.
                            “kenapa aku harus mengatakan padamu, apa untungnya untukku”
                            “tapi kau juga sependapat denganku kan jika gadis ini cantik” ujar pemuda itu tak mau kalah.
                            Pangeran riana menatapku sejenak, lalu memalingkan wajah acuh
                            ”dia masih anak kecil Vord”
                            Aku merasakan bisikan beberapa orang disini, tertawa secara sembunyi-sembunyi.
                            Jika pemuda berambut kebiruan itu adalah pangeran Riana, seperti yang diceritakan rena maka aku tidak akan menyangkal semua cerita rena. Pangeran Riana Badraszyah umur 21 tahun. Pewaris sah tahta kerajaan Argueda. Anak tunggal yang dilahirkan Ratu Elina. Ratu yang meninggal sesaat setelah melahirkan pangeran riana. Karena itulah kerajaan hanya memiliki satu calon pewaris tahta yang sah. Sebab yang berhak meneruskan tahta hanyalah anak yang langsung dilahirkan dari ratu yang di pilih Dewa. Pangeran riana terkenal sebagai pangeran yang jarang mau dekat dengan orang lain. Dia hanya memperbolehkan orang-orang yang dipercayainya untuk tinggal di istananya yang luas. Dia juga terkenal kurang baik bersikap pada dayang-dayang maupun pada perempauan lain.
                            Aku pikir cerita rena terlalu berlebihan, tapi saat aku melihatnya sendiri seperti apa sosok pangeran riana, aku mulai mempercayai cerita rena.
                            “dia cukup cantik kok”
                            Tapi apa yang terjadi padamu riana, kenapa kau mengatakan dia biasa saja. Apa yang membuat penglihatanmu sulit menilai wanita cantik. Pujinya salah satu bangsawan itu padaku,
                             Bangsawan yang akhirnya aku ketahui namanya Voldermon ini menatapku heran. Bangsawan voldermon adalah sepupu pangeran riana. Anak dari adik raja yang menikah dengan seorang pangeran dari kerajaan lain. Dia tampan. Namun, sayang dia terkenal playboy.
                            “kami” Akan...?
                            Belum selesai aku meneruskan perkataanku, bangsawan dalto melingkarkan lengannya di bahuku dan menutup mulutku dengan salah satu jari telunjuknya. Dia memaksaku untuk kembali bersikap memberi hormat pada pangeran riana dan rombongannya. 
                             “kami terjatuh”
                            Aku menatap bangsawan dalto tak percaya, kenapa dia harus bersikap seprti itu.
                             “Kami permisi pangeran, pendeta Serfa dan semuanya” Ujar bangsawan dalto berjalan pergi setelah memberi hormat. Setengah berlari aku mengikutinya, mencengkram bajunya agar tidak lepas.
                            “putri yuki”
                             Aku berbalik saat bangsawan Voldermod memanggilku.
                             “Kapan-kapan kita bisa berjalan berdua”
                             Aku memutar bola mata, tidak merespon perkataanya. Dan kembali mengejar bangsawan dalto yang lebih dulu berlalu pergi.
                            Aku dan bangsawan dalto berada di taman, duduk dipinggir kolam. Aku membasahi sapu tangan ku dengan air lalu memerasnya
                            ”ini pakailah”
                            Kataku sambil menyerahkan sapu tangan yang sudah aku basahi, jika tidak begitu nodanya tidak akan hilang.
                            “kenapa kau menolongku, apa kau tidak takut, kau akan di rendahkan oleh mereka”  tanya bangsawan dalto tanpa mau menerima sapu tangan pemberian ku.
                            “aku tidak merasa berbuat salah”
                            Lagi pula bukan kah, harkat dan derajat seseorang akan diukur dari sikap orang itu sendiri. Aku memegang pipiku, yang memerah bekas tamparan putri tadi.
                            “kurang ajar, berani sekali putri Norah menamparmu, apa dia tidak tau siapa kau ini. Kau adalah putri perdana menteri Negara ini“
                            Ujar bangsawan dalto dengan nada kesal. Norah, itu anak yang dilahirkan dari kekasih ketiga raja, derajatnya jauh lebih rendah darimu.
                            “maksudmu putri yang tadi menamparku”
                            “ya”
                            Bangsawan dalto, menyentuh wajahku memeriksa memar di pipiku, kau jadi terluka karena aku Putri yuki, lain kali kau tidak perlu melakukan itu, aku sudah terbiasa di perlakukan mereka dengan kejam.
                            “kau juga sama saja” Kataku menggerutu
                             Lain kali dia harus membayar semua ini. Kau harus membalas perbuatan mereka, kau jangan diam saja kalau mereka menyakitimu. Kau harus melawannya.
                            “terimakasih nasehatannya putri”
                            Bangsawan dalto tertawa. Dia akhirnya mengambil sapu tangan dari pangkuanku dan memakainya untuk membersihkan pakaianya yang bernoda kecoklatan.
                            “ Jadi kita bisa berteman” tanyaku penuh kehatin-hatian
                            Bangsawan dalto, berfikir sejenak. Kalau kau waras kau tidak akan mau berteman denganku, tapi ini bukan berarti aku tidak mau berteman dengan mu.
                            “kenapa kau menganggap dirimu tidak pantas berteman denganku ” ujarku sakartis.
                            “aku sang terkutuk”  katanya menunjuk dirinya sendiri.
                            “Dan aku putri buangan“  Candaku padanya
                            Bangsawan dalto kembali tertawa. Dia kemudian mengulurkan tangan, mengisyaratkan mau berteman denganku.
                            “salam kenal teman baru”
                             Aku ikut senang mendengar selorohnya, ku jabat tangannya dengan penuh sukacita.
                            “mulai hari ini kita berteman”
                            “semoga kau tidak meyesali keputusanmu”
                            “aku harap tidak” ujarku nyengir
                            Ayah tidak begitu berlebihan saat menanggapi insiden dihari pertamaku masuk sekolah, berbeda dengan rena yang geregetan saat mendengar penjelasanku tentang bangsawan dalto.
                            Ayah malah mendukungku berteman dengan bangsawan dalto. sejak saat itu aku dan bangsawan dalto sering bersama. Bangsawan dalto banyak membantuku belajar mengerti pelajaran sekolah didunia ini. Selain itu aku paling suka saat dia mengajakku jalan-jalan di karemaian kota, menikmati Menu-menu makanan yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Aku merasakan banyak kesamaan dengannya tentang selera. Dan dengan senang hati aku membiarkan orang yang tidak menyukai hubungan kami berkata sesuka hati mereka. Aku tidak mempedulikan kata orang, asal aku tidak merugikan mereka itu bukan masalah besar.
                              “yuki” Ayah memanggilku saat aku akan berangkat ke sekolah.
                            “Hari ini sepulang sekolah kau langsung pulang ya”
                            Raja mengadakan jamuan makan malam di istana untuk menyambut kedatangan mu kembali kedunia ini.
                            “ehh. Jamuan, raja“ kataku tergagap
                            “kenapa..kau yuki, apa kau tidak suka”
                            “tidak. Maksudku aku, suka ayah. Aku hanya kaget saja kenapa harus ada perayaan diistana raja”
                            Raja sangat ingin bertemu denganmu. Beliau adalah sahabat baik ibumu sejak masih kecil, beliau juga lah yang membantu ayah untuk membawamu kembali.
                            “baiklah” kataku akhirnya.
                            Bangsawan dalto sudah datang. Dia membantuku membawakan buku-bukuku
                             “aku berangkat ayah”
                            “kalian berdua hati-hati”
                            Aku naik kereta kuda berdua dengan bangsawan dalto. hubunganku dengan bangsawan dalto sempat ditentang oleh beberapa bangawan dan putri yang memang tidak menyukainya. Tapi dengn keras kepala. Tetap saja aku menjalani hubungan pertemanan dengan bangsawan dalto.
                            Sei memakir kereta kuda dihalaman sekolah yang memang disediakan untuk memakir kendaraan para putri dan bangsawan menuju ke sekolah. Sekolah sudah mulai rame. Aku turun bersama bangsawan dalto disampingku.
                            “Hari ini kita akan kemana ”tanyaku antusias
                            Setiap jam istirahat biasanya bangsawan dalto selalu mengajakku ke pondok kecil didalam hutan yang dibuatnya. Disana dia menanam banyak jenis tanaman mawar yang sedang bermekaran. Ada sungai kecil airnya jernih mengalir disamping pondok itu. Aku sangat menyukai suasana disana. Nyaman dan damai, seoalah dunia kami berhenti ditempat itu. Kami sering lupa waktu jika sudah berada disana.
                            “bukankah hari ini kau harus pulang cepat yuki“
                            Ujar bangsawan dalto mengingatkkan. Aku memberengut. Mungkin sebelum kau pulang kita bisa makan siang bersama ditaman. Ujar bangsawan dalto lagi membuatku merasa terhibur
                            ”ngomong-ngomong apa kau juga akan datang ke acara jamuan nanti malam”
                            Aku menatapnya setengah berharap
                            “sudahlah jangan dipikirkan hal itu yuki, sekarang kita secepatnya kembali ke kelas”
                            Kau dengarkan itu bunyi lonceng menandakan jam pelajaran kembali dimulai. Aku menatap bangsawan dalto dengan ekpresi kesal.
                            Aku dan bangsawan dalto sudah berada didepan kelas menjahit. Beberapa putri yang lewat melirik ke arah kami dengan pandangan penuh ketidak sukaan.
                            “Aku akan datang nanti malam yuki, asal kau berdandan cantik“
                            Ujar bangsawan dalto nyengir. Aku memutar bola mataku. Bangsawan dalto tertawa. Dia mengacak-acak poni rambutku. Lonceng kembali berbunyi satu kali lagi.
                            “Aku akan pergi dulu” Ujarnya
                             Aku melambaikan tangan mengantar kepergiannya.
                            Elber sudah duduk ditempatnya saat aku sudah datang. Dilambaikan tangannya mengisyaratkan agar aku duduk disamping bangkunya.
                            Tak terasa waktu berlalu sangat cepat. Senjapun menghampiri, matahari mulai tenggelam, langit berwarna orange di padukan dengan pemandangan burung walet yang hilir mudik menghiasi langit senja. Sangat bagus, aku terkagum. Aku merapikan rambutku, memastikan penampilanku sudah sempurna. Malam ini aku akan bertemu dengan raja Negeri ini. Aku membiarkan rena mendadaniku dengan banyak perhiasaan, sesuai dengan kesepakatan.
                            Walaupun harus aku akui, aku sangat tersiksa dengan dandanan seperti ini, perhiasaan ini membuatku jadi susah bergerak.
                            “Lain kali aku tidak mau memakainya lagi “ gerutuku kesal
                            Istana kerajaan sudah rame saat aku datang. Lampu-lampu bergemerlap disekeliling bangunan. Aku dibantu ayah menaiki anak tangga yang terhambar karpet warna merah. Istana ini jauh lebih luas 7 kali lipat dari istana ayah. Padahal, istana ayah saja sudah sering membuatku kesasar. Kami memasuki aula yang sudah ramai oleh para tamu undangan. Aku duduk sambil memegang lengan ayah erat saat merasakan tatapan seluruh ruangan terpusat padaku. Perasaanku gugup dan tegang. Aku mencoba memfokuskan konsentrasiku agar tidak terjatuh. Kakiku sangat sakit memakai sepatu bertumit tinggi. Rasanya tidak nyaman.
                            “Baginda, saya dan putri saya datang menghadap”
                             Aku dibawa kedepan mimbar. Diatas sana, duduk raja Negeri ini. Raja Jusez didampingi oleh Pangeran Riana dan Pendeta Serfa. Raja jusez bertubuh gemuk, dengan rambut yang dipangkas pendek, rambutnya sudah mulai memutih oleh uban. Namun masih terlihat jika warna rambutnya dulu adalah cokelat kemerahan. Raja jusez sama sekali tidak mirip dengan pangeran riana, tapi aku masih bisa melihat wibawanya yang cukup besar sebagai pemimpin negeri ini.
                            “Raynszah...?”
                             Raja jusez memandangku dengan ekpresi yang aneh. Dia berdiri. Aku terdiam saat dia memanggil nama mama.
                            “kau raynszah kan?..”
                            “Ini adalah yuki, putri kami baginda“  Ujar ayah disampingku, sambil menyentuh bahuku.
                            Raja jusez seperti kembali tersadar dengan ketidak percayaannya, dengan gugup dia kembali duduk di singgasana. Tapi, pandangan matanya masih tertuju padaku dengan sorot ketidak percayaan.
                            “Putrimu sangat mirip dengan raynszah” Ujar raja jusez kemudian
                            Aku kira yang berdiri didepanku ini adalah benar-benar raynszah.
                            “benar baginda yuki sangat mirip sekali dengan ibunya”
                             Bahkan sifatnya juga menurun persis, seakan apa yang ada didalam diri raynszah diwariskan semua pada yuki.
                             “Benarkah“
                            Raja melihat kearah ku tampak puas
                            ”kalau begitu kau pasti sangat repot olwhrendho, mengingat raynszah bukanlah putri yang mudah diatur”
                             Seketika wajahku langsung memerah mendengarkan seloroh raja. Kenapa tebakan raja sangat tepat sekali. Seolah raja sangat mengenal mamaku.
                            Tapi, bukankah raja memang sahabat mama sejak kecil, jadi wajar saja raja begitu sangat mengenal mama.
                            “Apa kabar putri yuki senang melihatmu disini”
                            Sapa raja kemudian padaku. Aku saking gugupnya bahkan tidak mampu mengucapkan kalimat apapun, dan hanya bisa menunduk penuh hormat untuk membalas sapaan raja. Raja menggeleng tidak percaya, masih menatapku.
                            “cantik sekali putrimu olwhrendho”
                            Cantik aku dipuji cantik oleh raja negeri ini, Mimpi apa aku semalam”
                            “Aku sudah mempersiapkan tempat duduk untuk kita, semua hadirin silakan menikmati hidangan menyambut kedatangan purti yuki. Anak dari teman baikku ” seloroh raja pada semua orang
                            Perjamuan digelar, beberapa putri dan pangeran asyik berdansa ditengah aula dengan alunan musik yang mengalun lembut.
                            Aku duduk didepan meja bersama raja, pangeran riana, pendeta serfa dan ayah. Raja banyak sekali mengajukan pertanyaan padaku, sedangkan pangeran riana hanya duduk diam sambil mengotak-atik makanan dipiringnya. Sepertinya pangeran riana sedang memikirkan sesuatu yang aku tidak tau pasti apa yang sedang dia pikirkan, tapi dari caranya dia bergidik aku cukup memahami apa yang sekarang dia rasakan bukanlah masalah yang ringan.
                             Pangeran riana baru beranjak pergi ketika raja juga berpamitan pada ayah untuk menyambut para tamu yang lain. Aku diajak ayah untuk menemui teman-temannya, di perkenalkannya aku pada setiap teman ayah yang datang, aku harus mengikuti serangkean aturan ala Negeri ini untuk menyamput teman-teman ayah, dan itu membuat ku sangat tidak nyaman. Kalau bukan karna ayah aku pasti sudah kabur meninggalkan acara ini. Baru ketika aku sudah merasa terbebas dari keharusan mengikuti ayah, aku memisahkan diri dari ayah dan memilih duduk dibalkon istana. Menikmati semilir angin malam yang berhembus.
                            Seseorang menyodorkan seikat bunga mawar yang masih segar padaku, berwarna merah merona, tetesan embun dari kelopaknya menempel dikulitku. Bangsawan dalto tersenyum. Aku menerima bunga darinya senang.
                            “kau datang, tanyaku padanya penuh kebahagiaan”
                            “Tentu saja”
                            Pesta penyambutan sahabatku, mana mungkin aku tidak datang ikut menyambut kehadirannya di Negeri ini.
                            Aku tertawa, ku hirup aroma mawar yang dia berikan. Padahal dulu aku kurang menyukai bunga mawar, tapi berkat bangsawan dalto aku mulai menyukai mawar. Ternyata, mawar itu indah.
                             “Kenapa tokoh utama dalam pesta tidak berada didalam dan malah asyik disini”
                            Tanya bangsawan dalto kemudian. Aku menunjukan kakiku yang lecet,
                            “sepatu ini memang mahal, tapi tidak nyaman dikenakan, malah membuatku tersiksa“ keluhku pada bangsawan dalo
                            “Wanita memang suka menyiksa diri”
                            Bangsawan dalto berguman, sambil menatap kakiku yang lecet, karena tergesek tali sepatu.
                            “Paling tidak berkat lecet ini, bisa menjadikan alasan untukku menolak ajakan berdansa para Pangeran di dalam sana“ aku mengedip kan mata penuh arti, bangsawan dalto tertawa puas.
                            “Kau cantik sekali”
                            Makanya jangan heran jika banyak yang mengajakmu berdansa yuki, dari tadi aku perhatikan bagaimana reaksi para pangeran itu ketika kau lewat, jika tidak menghormati ayahmu, pasti mereka sudah menempelimu kemana saja.
                            Aku mengernyitkan dahi, menatap bangsawan dalto
                            “ kau kenapa” tanya bangsawan dalto menyadari tatapanku.
                            “Sejak kapan kau datang..?”
                            “satu jam yang lalu aku rasa”         
                             “Dan kau baru menemuiku sekarang” kataku kesal.
                              Bangsawan dalto mengusap wajahku sejenak, menyelipkan helaian rambut ke telingaku.
                            “aku tidak ingin mengganggu kesenangan ayahmu yuki, apa kau tidak melihat betapa bahagianya dia malam ini. Memperkenalkanmu pada teman-temannya, seolah ayahmu memperlihatkan hadiah utama dalam suatu lomba”
                            “Ohh... “ Jadi kau menyamakanku dengan perlombaan, kataku kesal.
                            “Tidak begitu yuki”
                            Aku tidak pernah menyamakanmu dengan apapun, tapi bisakah kau lihat betapa bahagianya ayahmu malam ini. Aku diam, menyetujui pendapatnya. Ayah sangat bahagia malam ini. Ada kebanggaan tersendiri yang kurasakan, saat ayah mengatakan bahwa aku adalah putrinya pada teman-temannya. Aku tidak bisa menyangkal hal itu. Apa yang barusan bangsawan dalto katakan memang benar apa adanya. Hari sudah larut malam.
                            “aku sangat mengantuk”
                            Bangsawan dalto menyentuh pipiku
                            “Sudah waktunya pulang tuan putri” 
                            Aku tertawa. Aku berdiri. Ayah pasti sudah mencariku sekarang, lagi pula aku juga sudah menginginkan segera kembali ke istana ayah.
                            “aku pulang dulu” Pamitku.
                             Bangsawan dalto tersenyum manis padaku. Melambaikan tangan.
                            Aku berjalan masuk ke dalam aula. Tanpa sengaja bertabrakan dengan pendeta serfa dari arah berlawanan.
                            “ma...maaf “ kataku gugup.
                            “Tidak apa-apa putri yuki” putri baik-baik saja kan
                            “ya” aku baik-baik saja
                            “Kalau begitu saya permisi dulu tuan putri” Pendeta serfa pergi.
                             Aku baru saja akan melangkah, saat menyadari ada bungkusan kain kecil terjatuh dikakiku. Reflex aku langsung mengambilnya. Pasti ini milik pendeta serfa yang terjatuh saat kita bertabrakan. Aku mencari sosok pendeta serfa dalam kerumunan, namun dia sudah tidak ada.
                            “yuki”
                            “ayah”
                            “Kemana saja, kau membuat ayah cemas”
                            “maaf aku tadi duduk di balkon itu”
                             Ujarku sambil menunjuk ke arah balkon yang tadi aku duduki bersama bangsawan dalto.
                            “Sudah malam, kau mau pulang”
                            “iya”
                            Kami berpamitan pada raja dan pangeran riana. Raja jusez mengantarkan aku dan ayah sampai kedalam kereta.
                            “kau harus sering mengajak putri yuki ke istana olwhrendho“ ujar raja
                            Ayah menganggukan kepala memberi hormat. Kereta kuda melaju kencang meninggalkan istana kerajaan.   
                           






Batu Bersinar




                            Aku langsung merebahkan diriku ketempat tidur, setelah sebelumnya melepaskan semua perhiasan yang aku kenakan di pesta dan mengganti pakaian yang lebih nyaman aku kenakan. Rasanya beben berat yang mengikat tubuhku beberapa jam terakhir terlepas semua.
                            “ Putri apa ini”
                            Tanya rena sambil menunjuk kantong kain merah dengan sulaman benang emas milik pendeta serfa ditangannya.
                            “Ah... itu kepunyaan temanku yang tadi terjatuh saat diistana”
                             Aku belum sempat mengembalikannya. Rena memberikan kantong itu padaku, lalu dia keluar ruangan setelah memastikan semua keperluanku telah tercukupi.
                            Bukannya malah tidur, aku malah menimbang kantong merah itu dalam tanganku. Penasaran apa isinya. Mungkin melihat sedikit tidak apa-apa, hanya sekedar untuk memastikan apa benar kantong ini milik pendeta serfa atau tidak. Ujarku dalam hati, aku mencoba membenarkan tindakanku yang jelas salah.
                            Aku membuka ikatan kantong itu dengan berhati-hati. Lalu mengeluarkan isinya. Ternyata isinya adalah pecahan batu sebesar kelereng yang bersinar begitu menyentuh kulitku. Sinarnya berwarna biru es. Sangat indah dan menakjubkan.
                            “waaoouuuhhhhhh...”
                            Aku menatap batu itu senang, namun kemudian, aku teringat. Warna sinar itu sangat mirip dengan warna mata pangeran riana. Mengintimidasi dan tidak bersahabat. Aku buru-buru memasukan kembali batu itu kedalam kantong dan melemparkannya begitu saja ke laci meja, disamping tempat tidurku.

                            “Apa pendeta serfa ada”
                            Tanyaku pada salah seorang bangsawan bertubuh kekar, kulitnya berwarna kecoklatan terbakar sinar matahari dangan rambut hitam legam. Tatapannya ramah dan terlihat kalau dia adalah orang yang berpendirian. Aku mengenali bangsawan itu karena sering bersama dengan pangeran riana dan bangsawan voldermon.
                            “bukankah kau anak perdana mentri olwhrendho” Celetuk bangsawan itu.
                             Saat ini kami sedang berada digedung Origa. Gedung ini lebih sepi. Mungkin karena sebagian besar muridnya sudah menginjak dewasa, sehingga jarang melakukan kebisingan seperti digedung Barmasyih tempatku berada.
                            “Pendeta serfa sedang ada rapat dengan guru besar, tapi aku rasa sebentar lagi selesai. Apa, kau mau menunggunya putri”
                            “Iya, aku rasa aku akan menunggunya”
                            “Kalau begitu, mari kita menunggu pendeta serfa diruangan biasa kami berkumpul sambil meminum teh putri yuki”
                            Aku mengiyakan ajakan bangsawan itu, dia membawaku ke sebuah ruangan yang sepertinya memang sering digunakan pangeran riana dan teman-temannya berkumpul. Ruangan ini tertata rapi dan sangat mewah. Saat aku masuk, seorang bangsawan berwajah Imut sedang menyeduh teh dalam teko. Wanginya menyeruak memenuhi ruangan.
                            “Buatka untuk kami berdua“
                            Pinta bangsawan bertubuh kekar itu, sambil menghembaskan badannya disofa”
                            Aku menunduk, untuk memberi hormat pada bangsawan yang sedang menyeduh teh itu.
                            “Duduklah dimanapun kau suka putri”
                            ”terimakasih tawarannya”
                            Aku duduk disofa panjang dengan sikap canggung.
                           “perkenalkan namaku xasfir Quraishi, dan dia adalah Asry Serhab” Ujar bangsawan bertubuh kekar yang memperkenalkan dirinya sebagai bangsawan Xasfir.
                            Bangsawan asry meletakkan secangkir teh ke depanku. Sebenarnya aku tidak enak dengan mereka. Aku sangat canggung disini. Tapi aku harus bertemu pendeta serfa untuk memastikan apakah ini benar-benar kantong miliknya.
                              “Terimakasih tehnya” kataku masih salah tingkah.
                              “apa riana masih lama”
                              Tanya bangsawan xasfir pada bangsawan asry yang  ikut duduk bergabung kami di sofa.
                             “sebentar lagi aku rasa, mereka sudah hampir tiga jam didalam sana”
                             “Menurutmu negara mana yang selanjutnya akan ditelusuri”
                            “entahlah..”
                            Aku sudah mendengar soal ini dari rena dan elber. Selain kegelisahan mengenai kenyataan bahwa satu-satunya pewaris tahta kerajaan yang sah hanyalah pangeran riana, tapi juga mengenai calon ratu pangeran riana. Seluruh pelosok wilayah Negeri ini sudah disisir, tetapi sampai sekarang calon ratu itu belum diketemukan. Padahal tanda-tanda bahwa pangeran riana mempunyai seorang ratu itu sudah jelas terlihat. Hal inilah yang menibulkan kegelisahan. Jika hal ini terus berlanjut bisa terjadi pemberontakan kerajaan.
                             “Mungkin Georvania atau Alanskah“ Ujar bangsawan xasfir setelah terdiam cukup lama
                            “Sebenarnya dimana dewa menyembunyikan calon ratu kita”
                            Aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri, saat tiba-tiba terdengar suara yang begitu kubenci. Bangsawan voldermon. Aku sampai lupa kalau ini adalah tempat pangeran riana dan teman-temannya berkumpul. Jadi sudah pasti bangsawan voldermon juga akan kesini.
                            “Wowww wowww...siapa ini? “ujar bangsawan voldermon senang.
                            Dia langsung menghampiriku dan duduk disampingku. Aku menggeser tempat dudukku agak menjauhinya dengan terang-terangan.
                            “Kau kesini untuk mencariku ya?...”
                            aku menatap bangsawan voldermon tidak percaya, sebenarnya kepalanya sedang terbentur apa sampai dia Amesia dan berani mengatakan  yang tidak-tidak seperti itu.
                            “Aku ada urusan dengan pendeta serfa” kataku gusar.
                            Aku kembali menggeser dudukku semakin menjauh. Aku sama sekali tidak berminat dengan bangsawan pesolek yang senang mempermainkan wanita seperti dia.
                            “Vold, mana riana” tanya bangsawan xasfir tidak sabar.
                            “Sebentar lagi kesini kok“ jawab bangsawan voldermon tenang
                             Aku menghembuskan nafas lega, karena sebantar lagi aku bisa pergi dari sini. Tiba-tiba, aku kaget saat bangsawan voldermon mengecup pipiku. Reflex aku langsung menamparnya marah.
                             “apa-apaan kau”  kataku kasar. Aku langsung berdiri
                             “putri yuki tenang” ujar bangsawan xasfir menenangkan
                             “brengsek” Makiku.
                            Aku berjalan keluar ruangan. Tepat saat pangeran riana sudah berada di depan pintu. Sepontan aku langsung mundur. Memberi hormat. Pangeran riana masuk dengan mengacuhkan keberadaanku. Dibelakangnya pendeta serfa mengikuti.
                            “ahh, pendeta serfa maaf “
                            Pendeta serfa berbalik. Menatapku dengan senyuman ramah.
                            “ ya, ada apa putri yuki”
                            “aku menemukan ini kemarin, apa ini punya pendeta serfa”
                             Aku mengeluarkan kantong kecil yang kumasukan ke dalam saku baju. Pendeta serfa tersenyum ramah padaku.
                            “benar, aku kira jatuh dimana” Terimakasih sudah mengembalikan
                            “Maaf aku baru  sempat mengembalikan sekarang“
                            kataku gugup, kalau begitu saya permisi pendeta serfa.
                            “tidak mau minum teh dulu bersama kami putri yuki” Tawar pendeta serfa berbasa basi.
                            Aku tau aku bukan orang yang diharapkan ada disini. Dan lagi pula aku tidak mau berada disini dengan bangsawan gila itu lagi  “gumanku dalam hati”
                            “Tidak terimakasih”
                            Setelah memberi hormat pada pendeta serfa dan pangeran riana aku langsung pergi. Masih terdengar suara bangsawan xasfir yang menyeletuk pada bangsawan voldermon.
                            “Rasakannnn”
                             Bangsawan dalto berlari menghampiriku ketika aku baru saja keluar gedung. Wajahnya tampak cemas.
                             “sudah kubilang tunggu aku” ujarnya gusar.
                              Aku tertawa, mencoba bersikap ceria seakan tidak terjadi sesuatu.
                              “habis kau terlihat lelah tadi, makanya aku tidak tega membangunkanmu saat kau tertidur dipondok”
                            Aku menggandeng tangan bangsawan dalto. kami berjalan menuju kelas. Disepanjang jalan, terdengar bisik-bisik para putri mencemohka kami. Tapi aku tidak mau pedulikan itu. Toh aku dan bangsawan dalto tidak melakukan hal yang salah.
                              “yuki aku antar kau sampai sini saja ya, aku ada urusan lain
                              “baiklah”

                            Aku dan elber berjalan sehabis dari kelas menjahit. Para putri semakin rajin berdandan ketika mendengar desah desuh keberadaan pangeran sera. Pangeran yang digandrungi para putri. Pangeran sera dikabarkan sudah berada di ibu kota beberapa hari yang lalu.
                              “Yuki boleh aku bertanya” tanya elber ketika kami tiba dikelas memasak
                            “tentu saja boleh”
                            Aku meletakkan panci besar keatas meja dan mempersiapkan keperluanku.
                            “kau ingin tanya apa”
                            “kau berpacaran dengan bangsawan dalto?..”     
                            Aku menatap elber bingung. Tidak  pernah menduga dia akan menanyakan hal seperti itu padaku.
                            “Tidak” kami hanya berteman biasa
                            “ apa kau yakin yaki”
                            “memang benar seperti itu. Kenapa kau bertanya seperti itu?”
                             “kau tau” akhir-akhir ini para bangsawan semakin keras menyiksa bangsawan dalto.
                              Aku mengenyit. Benar juga, akhir-akhir ini luka diwajah bangsawan dalto semakin sering terlihat.
                            “Lalu apa kaitannya dengan pertanyaanmu elber”  kataku masih tidak mengerti maksud petanyaannya.
                            “mereka mengira bangsawan dalto menjelek-jelekkan nama baik mereka dihadapanmu”
                            Sehingga kau tidak mau berteman dengan mereka dan malah memilih bertemana dengan bangsawan dalto.
                            “aku bersumpah, dia tidak pernah menjelak-jelekan siapa pun dihadapanku”
                            “aku tau, tapi yuki. Ini semua salahmu”
                            Kalau saja kau membiarkan para bangsawan itu mendekatimu. Pasti mereka tidak akan pernah berfikiran seperti itu.
                             Aku mengenyitkan dahiku mendengarkan kenyataan ini. Kutatap elber dengan pandangan bersepekulasi.
                            “Well, apa maksudmu”
                            Aku harus menerima ajakan para bangsawan itu hanya sekedar menjadi teman kencannya, agar mereka tidak lagi menyiksa bangsawan dalto.
                            “itu jauh lebih baik yuki”
                            Aku tau, akan maksud elber yang sebenarnya dengan membahas hal ini padaku. Walau tidak kupungkiri perkataannya memang benar adanya.
                            “ Lalu apa yang harus aku lakukan elber”
                            “mudah, berikan kesempatan pada para bangsawan itu untuk berkenalan denganmu”
                            Aku menghela nafas panjang mendengar seloroh elber barusan.
                            “Pikirkan perasaanku juga yuki, yang setiap hari di rongrong mereka untuk mendekatkannya padamu” Desak elber sekali lagi.
                            “aku tau, jadi apa yang harus kulakukan putri elber”
                             Elber menyengir. Lalu dia menunjukan padaku sebuah amplop keemasan. Undangan pesta disalah satu kediaman bangsawan.
                            “Kapan..? Kataku tidak tertarik”
                            Aku mulai mengaduk-aduk bahan masakan yang tertulis dibuku, sementara elber terus bercerita. Aku benci pesta dansa ala dunia ini sangat membosankan dan menyiksa. Tapi, anehnya elber sangat menyukai pesta dansa itu. Baginya pesta adalah hidupnya.     
                            “malam ini”
                            “Jangan malam ini. Raja memintaku datang untuk menghadiri acara makan malam bersama “jelasku menyesal”
                            “oohhhh, baiklah kalau besok bagiamana”
                            “Aku mendesah” Sebenarnya ada berapa banyak undangan yang kau punya. Apa setiap hari selalu diadakan pesta ” sindirku tidak suka.
                            “ayolah yuki, ku mohon ini demi kebaikan bersama”
                            “oke besok, aku mengalah”
                            Aku mulai memotong sayar sesuai petunjuk Nyonya Ferani.
                            Elber berbisik padaku, kali ini suaranya lebih lirih dari pada yang tadi
                             “ngomong-ngomong yuki”
                            Berhati-berhatilah kalau raja baik padamu, bisa jadi ini hanya siasat saja untuk menjadikanmu wanitanya atau kau akan dinikahkan dengan pangeran riana.
                            Aku langsung mencubit elber. Elber meringis kesakitan.
                            “apa-apaan kau ini, baginda adalah teman baik mamaku”
                            Lagi pula aku dan baginda sudah seperti ayah dan anak. Mana mungkin dia memiliki pemikiran seperti itu.
                            “siapa tau”
                            Andaikan pun dia tidak berminat menjadikanmu wanitanya, bisa jadi pangeran riana yang berminat padamu. Kau tau, sampai sekarang belum ada wanita yang pernah dekat dangan pangeran riana untuk dijadikan kekasih.
                            “kau bicara asal”
                             Kataku mulai gusar. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya.
                            “aku tau, tapi kan yuki”
                             Di dunia ini jika ada anggota kerajaan menginginkan seseorang untuk dijadikan wanitanya, biarpun gadis itu menolaknya, mereka akan tetap memilikinya. Karena jika tidak maka dia akan dianggap membangkan pada kerajaan.
                             “hentikan elber, omang kosong apa itu”
                            Aku menatap elber dengan pandangan marah. Rasanya dia berusaha menakut-nakutiku dan kali ini dia berhasil.
                            Tapi mana mungkin hal itu terjadi. Aku sama sekali tidak pernah berhubungan dengan raja maupun pangeran riana kecuali raja yang memanggilku untuk sekedar makan malam  bersama atau minum teh. Namun biasanya, aku hanya diminta menceritakan kehidupanku dan mama sewaktu didunia sana. Sepertinya raja sangat tertarik mendengar ceritaku mengenai dunia disana. Tapi tidak lebih dari itu. Dan aku sangat yakin raja tidak pernah memiliki niatan buruk padaku.
                            Aku duduk bersama raja, pangeran riana dan pendeta serfa. Disebuah meja bulat yang terletak di taman istana. Kami menikmati makan malam bersama ditemani cahaya rembulan yang nampak bulat sempurna. Didekat tempat kami ada kolam buatan yang airnya bergemericik. Membuat perasaan nyaman. Seolah aku berada dialam pedesaan. Ayah tidak bisa ikut karena beliau harus pergi ke Negara lain untuk urusan kenegaraan selama satu bulan.
                            Jadi hanya aku sendiri yang pergi menemui raja. Aku tidak enak jika tidak datang karena raja sendiri yang mengundangku, beliau menghubungi gulfku dan memintaku datang.
                            Pangeran riana biasanya nampak dingin dengan pandangan matanya seolah siap membunuh orang yang tak sengaja menyenggolnya, sangat menakutkan. Aku kira dia depresi memikirkan dimana lagi harus mencari calon ratunya yang masih disembunyikan Dewa. Sudah lima Negara dijelajahi tapi calon ratu sampai sekarang belum juga diketemukan. Pendeta serfa juga tidak banyak bicara. Dia lebih banyak diam, menikmati makan malamnya sambil memikirkan sesuatu. Sedangkan raja sendiri, aku tau dia juga memikirkan masalah calon ratu, tapi dia tetap bersikap ramah padaku. Seolah hal itu tidak begitu mengganggunya.
                            “Ini makanlah, aku sengaja menyuruh juru masak untuk membuatnya malam ini“ Ujar raja sambil menyodorkan lauk pada piringku.
                             Aku sangat canggung dengan kebaikan raja. Apa lagi jika mengingat perkataan elber tadi siang. Sekuat tenaga aku berusaha menepis pemikiran itu. Raja baik padaku karena aku ini anak dari teman baiknya, hanya itu saja tidak lebih. Tidak mungkin dia bermaksud jahat padaku dengan menginginkanku untuk menjadi wanitanya.
                            “Negara mana lagi yang akan kalian kunjungi“ ujar raja membuka pembicaraan
                            “Veradia, tapi mungkin juga Jagaros” ujar pangeran riana dengan suara beratnya yang khas.
                            Aku melirik kearah pendeta serfa yang menundukan kepala. Dia memperlihatkan batu yang dulu kutemukan dengan seksama.
                            “bagus kerahkan lebih banyak pasukan, untuk menemukan calon ratu“ ujar raja tampak puas.
                            “ putri yuki...” Aku terkejut saat raja memanggilku.
                            “ya“
                            “ada apa, kenapa tidak makan. Apa masakannya kurang enak“ raja menatapku dengan pandangan cemas. Aku langsung menggeleng.
                            “tidak yang mulia, maaf saya tadi sedang memikirkan sesuatu“ kataku jujur
                            “ada apa. Apa ada yang kurang berkenan”
                            “tidak, saya hanya memikirkan batu itu“ ujarku sambil melihat ke arah batu yang ada ditangan pendeta serfa.
                            “oohhh, itu adalah batu Amara”
                            Batu suci milik Dewa Hermest, Dewa yang melindungi Negeri ini. Ujar raja menjelaskan
                            “memang ada apa putri yuki”
                            “saya hanya bingung, kenapa batu itu tidak bersinar”
                            “batu itu hanya akan bersinar jika di pegang oleh penerus tahta kerajaan saja” giliran pendeta serfa yang menjelskan. Aku mengenyitkan wajahku bingung.
                            “tapi, saat aku memegangnya dulu batu itu bersinar ko“
                            Serentak raja, pangeran riana, maupun pendeta serfa langsung menatapku dengan ekspresi terkejut. Aku jadi panik sendiri.
                            “Maaf pendeta serfa”
                            Aku tidak bermaksud lancang. Waktu itu aku menemukan kantongmu, karena aku penasaran ingin memastikan apakah benar kantong itu milikmu, lantas aku membukanya. Maaf  kataku sekali lagi. Apa sekarang batu itu jadi rusak karana kemarin sempat aku pegang sehingga sekarang batu itu tidak bersinar lagi. Kataku polos penuh penyesalan.
                            “mana mungkin”
                            Banyak yang sudah mengatakan bisa membuat batu itu bersinar, tapi nyatanya tidak. Kau jangan mengada-ada. Ujar pangeran riana sinis
                            “aku tidak berbohong”
                             Sifat ngototku kembali muncul. Aku tidak suka cara pangeran riana menatapku. Seolah aku ini pembohong besar. Akan aku buktikan jika aku tidak berbohong. Aku berbalik, menatap ke arah pendeta serfa yang terbengong. Ku ulurkan tangan padanya.
                            ”bolehkah aku memegang batu itu sekali lagi pendeta serfa” ujarku menunggu.
                            “Pendeta Serfa tersadar dari sikap bengongnya”
                            Dengan gugup dia meletakkan batu itu ditanganku. Dan sesuai perkataanku. Batu itu langsung bersinar saat menyentuh kulitku. Berwarna kebiruan, biru es. Sama seperti mata pangeran riana. Dingin dan mengintimidasi.
                             “benarkan” ujarku puas. Aku tidak berbohong
                            Ketiga orang itu nampak shock. Mata mereka terpaku menatap ke arah batu ditanganku
                             “tentu saja begitu” bisik serfa pada dirinya.
                            Saat pengujian itu dia belum ada, karena itu kami tidak menemukannya, karena memang dia belum disini.
                            Aku bergegas meletakkan batu itu kembali ke tangan pendeta serfa. Batu itu kembali seperti batu biasa.
                            “putri yuki, siapa yang mengetahui hal ini” tanya raja serius.
                            “tidak ada” ujarku berhati-hati.
                            Aku menganggukan kepala. Entah kenapa. Rasanya ketegangan diantara mereka bertiga yang tadi kurasakan seolah menghilang. Pangeran riana tampak rileks. Raut wajahnya tidak sedingin tadi, ada suatu kepuasan yang terpancar diwajahnya. Pendeta serfa pun sama. Dia berkali-kali tersenyum padaku. Dan raja, aku berani bersumpah dia berbicara diam-diam dengan pangeran riana melalui isyarat mata ketika dia mengganggapku tidak melihatnya.
                            “putri yuki makanlah yang banyak. Ini bagus untuk putri”
                            Ujar pendeta serfa memberikan lauk lagi. Aku menatap pendeta serfa kebingungan. Tidak biasanya dia sebaik ini padaku.
                            “Eehh tidak usah, Terimakasih”
                            “tidak apa-apa tidak perlu sungkan”
                            Apa artinya ini aku tidak dimarahi karena lancang membuka kantong milik pendeta serfa. Pendeta serfa tersenyum. Aku semakin takut melihat senyumannya.
                             “Tidak, tentu saja tidak” Ujarnya kalem.
                             Ayo putri makan yang banyak. Putri terlihat kurus, dan itu tidak terlalu baik untuk masa pertumbuhan putri.
                           “terimakasih pendeta serfa atas pengertiaanya, aku merasa lega tidak ada yang memarahiku karena lancang berani membuka kantong kepunyaanmu”
                           “sudah tidak mengapa putri, tidak perlu dipermasalahkan lagi. Mari kita nikmati saja jamuan malam ini dengan penuh suka cita”
                           






                             Aku duduk ditaman yang sepi. Dibelakangku, tampak bangunan mewah yang didalamnya sedang diadakan pesta para bangsawan dan putri. Aku meluruskan kakiku yang pegal. Rasanya membosankan. Bangsawan dalto tidak mungkin ada disini, walau aku sangat mengharapkan kehadirannya, karena para bangsawan itu sangat anti padanya. Aku berhasil menghindari ajakan para bangsawan untuk berdansa. Setelah berbasa-basi sejenak aku berhasil kabur ke taman. Elber sepertinya sangat menikmati pesta ini, dia bersama dengan seorang murid dari tingkat atas. Duduk berdua dengan mesra. Aku tidak berani mengganggunya jadi aku putuskan menyelinap ketaman sendirian. Tiba-tiba pangeran riana dan teman-temannya datang membuat suasana tidak mengenakan.
                            “menyebalkan” keluhku pada diri sendiri
                            “mau bersenang-senang denganku putri”
                            aku berbalik terkejut. Bangsawan voldermon tiba-tiba sudah berdiri dibelakangku dengan senyuman yang menyebalkan. Aku langsung berdiri. Menatapnya kesal. Dengan langkah lebar aku berjalan menjauhinya. Tapi dia masih saja mengikutiku dari belakang.
                            “kenapa kau mengikutiku, ujarku gusar. Pergi”
                            “Aku datang kesini untuk meminta maaf ” Ujarnya tenang
                            Bagaimana sekarang kita bisa berteman kan?
                            “Aku tidak ada urusan denganmu”
                            Pergi dan ganggu saja gadis lain. Jangan ganggu aku, ayo sana pergi.
                            “hey, aku sudah meminta maaf” apa kau masih tidak mau memaafkan kelakuan ku.Tempo hari.
                            “Aku bilang aku tidak punya urusan denganmu”
                            Aku terus berjalan menjauhinya. Kakiku terasa sakit akibat sepatu bertumit tinggi. Aku benci pesta ini. Aku benci sepatu yang menyiksa ini.
                             Dan aku juga benci orang yang mengikutiku ini. Sampai kapan kau akan berhenti mengikutiku “kataku gusar”
                            “sampai kau mau memaafkan aku                                     
                            “baik, aku memaafkan mu. Kau puas” dan sekarang kau bisa pergi
                            “Terimakasih...”
                            “Aku berhenti”
                            Didepanku duduk pangeran riana beserta bangsawan xasfir dan bangsawan asry. Seolah mereka menungguku. Aku langsung berbalik, menatap bangsawan voldermon geram “kau menjebakku” tuduhku marah.
                            “Sudahlah putri yuki, aku kan sudah meminta maaf, lagi pula kita sudah repot-repot untuk menjemputmu kemari”
                             Ujar bangsawan voldermon santai. Dia berjalan menghampiriku, dengan senyum gombalannya seakan bisa memikat hati para wanita, tapi entah kenapa malah terasa sangat menyebalkan bagiku.
                            Aku tidak ada urusan dengan kalian. Aku berusaha bersikap sinis pada bangsawan voldermon. Tanganku mengepal. Menahan emosi.
                            “Kami mau mengajakmu pergi”
                             Bangsawan voldermon tersenyum. riana sudah menemukan calon ratunya, hari ini kami akan merayakannya. Tapi saat kami menjemputmu di istana perdana mentri olwhrendho, pelayanmu mengatakan saat ini kau sedang ada disini. Menyebalkan sekali harus menjemputmu kemari.
                            “Apa...”
                            Kenapa aku harus ikut dengan kalian. Ujarku masih bersikap sinis. Aku sedang banyak urusan. Permisi semua
                            Bangsawan voldermon menarik lenganku. Aku langsung menatapnya dengan ekpresi marah. Dia langsung melepaskan tanganya.
                          “Ayolah perayaan ini tidak akan lengkap tanpa kehadiranmu puti yuki”
                             “Putri yuki sudah, jangan dipedulikan omongannya“
                             Ujar bangsawan asry menengahi, dia bangkit dari duduknya, berjalan kearah kami.
                            “Kita berteman oke... “
                            aku tau sikapmu ini karane kau tertarik padaku, tapi kau tidak mau mengakuinya. Aku menatap bangsawan voldermon jengkel. Dia terlalu percaya diri sekali. Bangsawan voldermon mengeluarkan tangannya. Aku menghela nafas. Kemudian memasang senyuman termanis yang bisa aku berikan padanya. Aku menerima uluran tangannya. Lalu ...
                            AAAaaaaaaakkkk
                            Aku menggigit tangan bengsawan voldermon keras. “hahahhan hihi haha hohoho” (rasakan ini bangsawan bodoh) Bangsawan asry langsung menarikku dari belakang , memisahkanku dengan bangsawan voldermon. Wajah bangsawan voldermon memerah menahan rasa sakit. Dia menatapku marah.
                            “Jangan melucu didepanku, apa kau pikir semua perempuan akan tertarik padamu”
                            Biarpun kau cium aku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku tidak akan jatuh cinta padamu. Tidak akan pernah. Tegasku marah. Di belakangku bangsawan asry kuat menahanku supaya tidak berbuat nekat.
                            “Begitu banyak perempuan, tapi kenapa dewa memilihmu untuk menjadi...”
                            “Voldermon cukup”
                             Pangeran riana berdiri dengan menggebrak meja. Menghentikan pertikaianku dengan bangsawan voldermon. Bangsawan voldermon menggigit bibirnya. Aku menatapnya geram. Suasana menjadi hening sejenak.
                            “Apa sekarang kau sudah cukup tenang untuk aku lepaskan putri yukki” Bisik bangsawan asry ditelingaku.
                            “Ya, kau bisa melepaskanku sekarang”
                            Bangsawan asry melepaskanku. Tapi satu tangannya masih melingkari pundakku. Sepertinya untuk berjaga-jaga jika aku melakukan hal konyol lagi. Kemudian, bangsawan asry tertawa terbahak-bahak. Aku langsung berbalik menatapnya
                            “bangsawan asry protresku”
                            “maaf aku hanya merasa lucu”
                             Baru kali ini ada yang mengatakan hal itu padamu vold. Kau ditolak mentah-mentah dihadapa kami.
                            Wajahku langsung memerah. Aku selalu bertindak konyol jika sedang emosi. Bangsawan asry masih tertawa geli. Aku menjadi salah tingkah. Aduh. Aku konyol sekali. Kenapa aku bisa bertindak sebodoh ini.


                            “kau merasa lucu, karna bukan kau sendiri yang dicabik olehnya”
                             Ujar bangsawan voldermon. Sambil memeriksa tangannya yang memerah. Bekas gigitanku yang terlihat jelas di bawah jempolnya. Bangsawan asry kembali tertawa dengan volume lebih keras.
                            “yuki...”
                             Aku berbalik ketika mendengan suara yang terkesan begitu familiar. Bahkan dalam keramaian aku masih bisa mengenali suara itu dengan jelas. Mustahil, tapi memang benar. Bangsawan dalto berdiri didekat pohon menatapku bingung. Aku langsung melepaskan tangan bangsawan asry. Berlari kearah bangsawan dalto senang.
                            “kau datang”
                            Ujarku girang. Aku merasa lega saat melihat wajahnya. Bangsawan dalto tersenyum
                            “Aku tidak diundang ke pesta ini yuki”
                            Ujar bangsawan dalto mengingatkan. Dia kemudian memberi hormat pada pangeran riana yang kebetulan keberadaannya ada disini, tidak jauh dari tempatku dan bangsawan dalto berdiri. Aku datang mengantarkan ini, supaya kakimu tidak bengkak lagi seperti tempo hari yuki. Bangsawan dalto menyerahkan bungkusan sepatuku yang tertinggal dirumah. Aku tertawa senang
                            “Terimakasih”
                            Aku langsung membuka bungkusan itu, sembari melepas sepatu yang sekarang ini aku kenakan. Bangsawan dalto membantuku menjaga keseimbangan dengan memegangi bahuku. Sepatu bertumit rendah terasa lebih nyaman saat aku kenakan. Aku membungkus sepatu yang tadi aku kenakan, kemudian kembali menatap bangsawan dalto dengan senyuman lebar penuh arti.
                            “ jadi kita akan kemana”
                            “kau tidak ingin meneruskan pesta didalam”
                            Tanya bangsawan dalto menatap ke arah gedung tempat pesta diadakan. Aku menggeleng
                            “Aku bosan berada disini”
                             Kita pulang saja yuk. Tapi seketika pikiranku jadi teringat elber. Dia pasti marah jika aku tinggal pulang duluan. Tapi aku memang sudah sangat bosan berada disini. Keluhku pada bangsawan dalto
                            Bangsawan dalto mendesah. Aku menangkap raut kesedihan dalam matanya yang berusaha dia sembunyikan dariku. Kupalingkan wajahnya untuk menatapku lebih dekat. Wajah bangsawan dalto lebam, terkena pukulan. Elber benar, dia lebih sering dibully sekarang. Aku tidak senag mengetahui kenyataan ini. Siapa lagi yang memukulimu
                            “tidak bukan apa-apa yuki” Bangsawan dalto berpaling, aku menatapnya sedih.
                            “kau harus membalas jika ada orang yang menyakitimu, Kau tidak boleh diam dan menerima begitu saja”
                            Ujarku marah.  Bangsawan dalto tersenyum melihat ekpresiku. Dia lalu mengacak-acak poni rambutku “aku serius” ujarku lagi, kali ini dengan kekhawatiran yang tidak bisaku sembunyikan.
                            “baik-baik tuan purti”
                            Ujar bangsawan dalto lembut. Yuki, aku ada urusan sertelah ini, aku harus segera pergi.
                            “Apa aku boleh ikut denganmu. Bangsawan dalto menggeleng pelan”.
                            “Tidak untuk kali ini, kau berhati-hatilah disini dan jangan pulang terlalu malam”
                            Ujarnya lagi. Aku cemberut memasang raut wajah kecewa. Bangsawan dalto mencubit pipiku. Ku tatap dia,  aku bisa merasakan ada suatu keputusan yang baru saja diambilnya. Dia seperti menyimpan sesuatu rahasia besar dariku. Aku tidak tau pasti apa yang dia pkirkan sekarang, tapi aku bisa merasakan, bahwa dia akan memulai babak petualangan baru dalam hidupnya. Semoga apa yang dia lakukan bukan malah menyebabkan hidupnya lebih menderita dari sekarang. Aku berharap Dewa memberinya kesempatan untuk hidup damai seperti kebanyakan bangsawan.
                            “baiklah, ujarku akhirnya. Kau juga harus jaga diri baik-baik”
                            Bangsawan dalto memberi hormat kembali pada pangeran riana dan rombongannya, yang keberadaannya sempat aku lupakan. Lalu dia berbalik. Aku menarik baju bangsawan dalto tidak berminat melepas kepergiannya.
                            “Besok aku akan datang menjemputmu, kau jangan memasang ekspresi seperti ini yuk” Ujar bangsawan dalto menenangkanku.
                            Aku lalu melepaskan bajunya. Bangsawan dalto mendesah. sampai besok putri yuki. Aku kaget saat bangsawan dalto mengecup pipiku. Reflek aku langsung menatapnya, wajahku terlihat memerah dan jantungku berdebar sangat kencang. Bangsawan dalto berlari masuk kedalam taman yang gelap. Aku tanpa sadar menyentuh bekas ciuman bangsawan dalto. Senang, saking senangnya aku ingin meloncat setinggi mungkin yang aku  bisa.
                             Terdengar langkah kaki mendekatiku, tiba-tiba saja tubuhku tersentak. Aku ditarik paksa oleh pangeran riana, tangannya menggenggam tanganku sangat kuat.
                            “Apa-apaan ini”
                             kataku masih terkejut. Aku berusaha memberontak, lepaskan aku, apa yang ingin kau lakukan padaku. Cepat lepaskanku. Tangan pangeran riana semakin kuat membelenggu tanganku. Bungkusan sepatuku terjatuh, aku tidak bisa mengambilnya karna dia menarikku paksa dengan sikap kasar. Aku rasa meskipun aku terjatuh sekalipun dia akan tetap menyeretku.
                            “Masuk”
                             katanya dingin, aku dibawa kearah kereta kuda milik kerajaan yang sudah menunggu dihalaman. Aku didorong masuk ke dalam kereta dengan kasar. Aku merapat kedinding kereta yang mulai berjalan. Pangeran riana terlihat sangat menyeramkan.
                            Aku memalingkan wajahku saat pangeran riana mendekat. Kedua tanganya mengurunggu. Terdengar derak roda kereta yang melaju. Cahaya bulan memantul, menyinari wajahnya yang dingin, serat akan emosi.
                            “aku tanya apa kau menyukai bangsawan dalto“
                            Ujarnya dengan suara berat yang dingin. Aku menatapnya kaget. Wajahku langsung memerah, tidak pernah menduga akan ditanya seperti ini olehnya.
                             “kenapa saat vold menciummu kau langsung menamparnya,tapi kenapa saat dalto yang menciummu, kau hanya diam dengan muka memerah”
                            “itu bukan urusanmu” ujarku dengan memalingkan wajah.
                            “tentu saja itu urusanku, dengar mulai sekarang kau adalah kekasihku, milikku, kau paham” bentaknya dingin ditelingaku. Membuatku terkejut.
                            “tidak aku tidak mau menjadi kekasihmu”
                            Kau tidak bisa melakukannya, aku kembali menatapnya. Perkataannya seperti petir yang menyambar disiang bolong bagiku. Apa katanya barusan. Apa dia sedang bercanda. Aku berusaha mencari kebohongan dalam ucapannya, Namun aku sama sekali tidak mendapatkan jawaban dari apa yang kuinginkan.
                            “Aku tidak mau menjadi kekasihmu” Isakku penuh ketakutan
                            Pangeran riana tertawa sinis, menatapku mengejek
                             “kau pikir aku peduli denganmu”
                            Dengar. Pangeran riana mencengram wajahku, memaksaku untuk menatapnya. Hembusan napasnya terasa panas dipipiku. Aku serius dengan ucapanku,  jadi jangan coba-coba kau mengabaikannya.
                            “kau gila”
                            Aku menjerit histeris. Berusaha mendorongnya saat dia mendekatiku, ayah tidak akan pernah membiarkan kau bertindak seperti ini padaku.
                            PlakkkKK
                            Aku berhasil mendorongnya, mendaratkan tamparan kepipinya. Pangeran menatapku dingin. Tapi aku sudah tidak bisa melihatnya dengan  jelas karena terhalang oleh air mata. Aku menangis sejadi-jadinya, aku takut dengan peristiwa ini. Berusaha meminta pertolongan.
                            “Ini peringatan untukmu”
                            Jika kau masih melawan aku bisa melakukan lebih dari ini padamu. Ujarnya lagi dengan suara dingin. Seolah siap membunuhku jika aku melakukan kesalah yang dianggapnya melanggar peraturan yang dengan sepihak di buatnya untukku.










Aturan Kerajaan




                                    Aku menyisir rambutku. Wajahku sembab sehabis menangis semalam. Aku sudah memutuskan bahwa semalam itu adalah mimpi buruk. Pangeran riana sedang mabuk, dia tidak benar-benar akan menjadikan aku kekasihnya. Dia hanya mabuk. Aku terus menegaskan hal ini berkali-kali. Alamat buruk jika dia serius dengan ucapannya. Aku tidak bisa melawan hukum kerajaan, karena jika aku menolak maka keluargaku akan dianggap berkhianat pada kerajaan.
                             Namun jika aku menerima...? aku bergidik ngeri. Tidak bisa membayangkan menjadi kekasih pangeran riana, pangeran yang dingin dan kasar seperti dia. Selama ini aku sudah banyak mendengar cerita mengenainya. Namun aku tidak pernah membayangkan, jika aku sendiri harus merasakan perlakuaan kasar darinya. Apa yang menarik dariku sehingga dia berminat menjadikanku kekasihnya.
                            Yang benar saja. Ini tidak boleh terjadi. Dewa tolong aku jauhkan aku darinya, aku tidak mau menjadi kekasih pangeran seperti dia, yang tidak pernah memiliki sikap lembut terhadap wanita dan selalu berlaku kasar dan sepihak dalam memutuskan peraturan.
                            Setelah menyamarkan wajahku agar tidak terlihat menyedihkan. Aku bangkit dari tempat duduk didepan kaca rias. Perasaanku lebih baik saat mengingat bangsawan dalto sudah menungguku diruang makan.
                            “Apa bangsawan dalto belum datang”
                            Tanyaku pada kesalah seorang pelayan yang sedang menyiapkan sarapan. Aneh sekali, padahal jika dia terlambat datang atau tidak bisa datang dia akan memberiku kabar sebelumnya.
                            “pelayan itu nampak diam” Bingung
                            “ada apa, kataku mulai curiga”
                            “tadi dia datang”
                             Tapi aku sudah menyuruhnya pergi dan tidak perlu kembali lagi kemari, tanpa seizinku
                            Aku berbalik. Pangeran riana masuk. Dengan santainya dia duduk di Banggu  yang telah disediakan untuk bangsawan dalto
                            “kenapa bisa dia ada disini”
                             Ujarku galak pada pelayan. Pelayan itu nampak ketakutan, aku jadi merasa bersalah sudah membentaknya sampai dia ketakutan seperti itu padaku. Maafkan aku kau boleh pergi, kataku pada pelayan. Setelah memberi hormat dia kemudian pergi.
                            Aku menatap pangeran riana kesal. Jadi semalam itu bukan mimpi, kalau begitu pasti dia hanya bercanda dengan menjadikan aku kekasihnya.
                            “itu bukan untukmu”
                            Ujarku galak, saat melihatnya memakan makanan yang sebenarnya memang bukan untuknya, tapi untuk bangsawan dalto
                            “dia tidak akan datang kemari. Jangan terlalu berharap lagi”
                            “kau...”
                            Aku menatapnya geram. Aku kepalkan tanganku marah. Pangeran riana meletakkan sendoknya, mengambil minuman dan langsung meminumya.
                            “Mari kita jelaskan peraturannya putri yuki” katanya kemudian dengan nada sinis
                            “apa..”
                            “pertama, kau dilarang bergaul dengan laki-laki manapun tanpa seizin dariku. Kedua kemana dan apa yang kau lakukan, harus dengan sepengetahuanku. Ketiga apapun yang kau lakukan jika aku memintamu datang maka kau harus datang. Keempat .....” cukup! Aku langsung berdiri menggebrak meja marah. Berikan saja peraturan konyol itu untuk calon ratumu nanti. Aku langsung meraup buku didadaku berjalan keluar dengan kesal. Terdengar gulf berbunyi. Ternyata dari bangsawan dalto
                            “yuki”
                             Bangsawan dalto tampak lega. Apa yang terjadi, aku tadi kesana dan...?
                            “Aku tau”
                             Potongku cepat. Sangat gila, aku akan menjelaskan padamu nanti. Aku belum selesai bicara saat gulf ku dirampas dengan paksa. Terdengar pecahan dilantai, gulfku terbelah menjadi dua bagian. Aku menatap pangeran riana tak percaya.  Aku pasang ekpresi marah sekuat yang aku bisa.
                            “keempat”
                             kau dilarang berhubungan seperti ini dengan siapapun tanpa seizinku
                            “kau...”
                            Nafasku naik turun menahan amarah. Pangera memegang lenganku, namun aku langsung menepisnya. Tapi dia kembali mencengram lenganku, kali ini lebih kuat hingga terasa sakit. Aku di tarik paksa berjalan kearah kereta kuda kerajaan yang terparkir dihalaman istana ayah.
                            Aku dipaksa menaiki kereta kuda kerajaan. Dengan kesal aku duduk bersidekap. Sejauh mungkin dari tempat duduknya. Sepanjang perjalanan aku lebih memilih untuk melihat kearah luar melalui cendela disampingku daripada harus melihat kearah pangeran gila ini.
                            Seorang prajurit datang saat kereta kuda yang membawa kami tiba di gerbang sekolah. Halaman sekolah sudah ramai oleh para murid. Aku mengambil bukuku. Turun dari kereta kuda. Kusadari pandangan semua murid yang ada disini menatap kearahku. Aku berusaha tidak mempedulikan tatapan mereka, yang aku inginkan adalah aku harus segera pergi dari sini secepatnya. Aku tidak mau terlalu lama bersama pangeran riana.
                            “siang nanti aku akan menjemputmu untuk makan siang”
                            Ujar pangeran riana didekatku. Aku diam tidak menjawabnya. Dengan acuh aku berjalan memasuki gedung utama.
                             “Elber”
                             Aku langsung memeluk elber dari belakang saat melihatnya berjalan didekatku. Tapi sesuatu dijawab elber membuatku berhenti. Dia marah padaku. Sial. Aku lupa menghubunginya semalam karena meratapi diri atas perlakuan pangeran riana.
                            “aku mohon maafkan aku”
                            Ujarku akhirnya. Aku tidak bermaksud meninggalkanmu disana semalam. Keluhku dengan menyesal
                            “kau itu temanku bukan” ujar elber dengan wajah jutek.
                            “aku tau...”
                            Aku mendesah frustasi. Tapi kau harus dengarkan penjelasanku dulu. Semalam benar-benar kacau.
                            “aku marah bukan karena itu”
                            “Lalu kau marah karena apa?..”
                            “aku marah karena..?”
                            Kenapa aku harus mengetahui kau berpacaran dengan pangeran riana dari orang lain. Bukan dari dirimu sendiri.
                            “dari mana kau mendengar gosip itu”
                            “jadi itu benar”
                            “tidak, itu tidak benar” Dari mana kau mendengar berita seperti itu
                            “aku mendengar dari seorang putri yang semalam berkencan dengan bangsawan voldermon” Dia mendengar sendiri dari celoteh bangsawan voldermon. Dan jika aku melihatmu pagi ini, kau  datang bersama pangeran riana. Aku rasa gosip itu benar.
                            Bangsawan voldermon. Aku rasa aku harus memberi pelajaran pada bangsawan satu itu. Untuk menjaga mulutnya yang serupa dengan ember bocor.
                            “jadi kau lebih percaya gosip, ketimbang temanmu sendiri”
                            “aku rasa begitu”  Lagi pula aku tidak pernah mendengar cerita apapun darimu yuki
                            “kau tidak akan pernah mengerti”
                            Aku mendesah frustasi. Ceritanya panjang, sangat panjang
                            “aku siap mendengarkan”
                            “kau ini, memang biang gosip” keluhku
                            Sepanjang pelajaran menjahit, aku menceritakan semua apa yang terjadi semalam. Mengenai tingkah aneh pangeran riana yang tiba-tiba memaksaku untuk menjadi kekasihnya. Kemudian peraturan konyolnya dan ulah dia yang mengusir bangsawan dalto dari istana ayah.
                            Elber tampak terkejut saat mendengar ceritaku. Dia berguman tak percaya.



                            “aku pikir”
                             Pangeran itu menyukai gadis yang dewasa dan kalem, tapi kenapa pangeran riana malah memilih gadis sepertimu. Kau itu masih kekanakan dan ceroboh yuki. Apa yang menarik darimu dimata pangeran riana.
                            “terima kasih atas pujianmu”
                            Sindirku pura-pura kesal. Elber menyengir. Kami terpaksa berbicara dengan berbisik-bisik. Aku merasa beberapa orang berusaha mendengarkan pembicaraan kami.
                            “Elber bisa titip ini”
                            Aku mengulurkan kertas yang kulipat rapi pada elber saat pelajaran usai. Elber menaikan alis mata, menatapku dengan pandangan menuntut penjelasan
                            “untuk siapa”
                            ”ini untuk bangsawan dalto”
                             kau bisa berikan kertas ini padanya jika dia sudah datang. Pintaku dengan setengah memohon. Elber kembalikan menaikan salah satu alisnya, berfikir sejenak. kemudian memasukan kertas itu di dalam sakunya.
                             “Serahkan semua padaku yuki”
                             kau tinggal menunggu kabar keberhasilanku saja.
                            “terima kasih” kau memang temanku yang bisa diandalkan.
                            “aku rasa kau akan segera makan siang bersama pangeran riana. Selamat berkencan” Celoteh elber sembari mengejek.
                            “Elber, hardikku kesal”
                            “aku hanya bercanda yuki” Elber memasang senyuman simetris tapi penuh dengan nada ejekan.
                            Aku mendesah, merapikan buku dan tasku lalu keluar kelas. Diluar sana sudah ada dua orang prajurit siap menungguku.


                            “maaf putri”
                             pangeran riana mengutus kami untuk menjemput putri yuki dan membawa putri kehadapan  pangeran.
                            Aku berjalan bersama dua orang prajurit itu. Aku rasa saat ini diriku menjadi pusat perhatian satu sekolah. Kukantupkan tanganku di dada. Sepertinya ini serius. Kedua penjaga menunduk dengan sikap hormat. Membuatku canggung. Mereka tidak memandangku.
                             Negeri disini, ada peraturan khusus, para prajurit tidak diperkenakan melihat wanita pilihan raja ataupun pilihan pangeran jika keberadaannya didekat mereka, atau bahkan mengajaknya berbicara. Karena jika hal itu dilanggar maka sudah pasti para algojo siap menghardik mereka. Dan terus terang saja, hal ini membuatku sangat muak. Peraturan macam apa ini. Hardiku kesal pada diri sendiri
                            Aku dibawa keruang pangeran riana dan teman-temannya. Mereka sudah menungguku disana.
                            “duduklah putri yuki”
                             perintah pangeran riana sembari menepuk sofa yang didudukinya. Aku menatapnya dengan pandangan penuh kebencian. Bagaimana bisa dia melakukan hal ini padaku. Aku berjalan kearahnya, menginjak kaki bangsawan voldermon yang kulewati sekeras mungkin, aku menyesal hari ini tidak mengenakan sepatu bertumit tinggi. Bangsawan voldermon menatapku dengan pandangan memprotes. Aku memalingkan wajah acuh tidak mau melihatnya lagi.
                            “untuk apa kau memanggilku kemari, Pangeran”
                            Aku sengaja menekankan kata Pangeran sedalam-dalamnya sekuat yang aku bisa pada suaraku.
                            “duduk dan makan bersama”
                            “tidak, terimakasih”
                            Tolakku langsung. Bangsawan asry yang tadi sedang sibuk mengunyah makanan seketika berhenti, ketika mendengar selorohku menolak ajakan pangeran. Bangsawan asry menatapku dengan pandangan memprotes sekaligus menegur sikapku. Aku merasa tidak enak membuat bangsawan asry berhenti menyantap makanannya.
                            Pangeran riana menatapku tajam, ada pandangan yang tidak mengenakan yang dipancarkan olehnya.
                            “Duduk” perintahnya sekali lagi
                            Aku duduk, menatap kearahnya penuh kebencian. Seorang pelayan meletakkan piring dan perlengkapan makan untuk ku.
                            “silakan putri yuki” ujar pelayan itu  dengan sopan.
                            “Makan...”
                            “Apa setelah selesai makan aku boleh pergi” Tanyaku menatap kearah pangeran
                            “ya..”
                            “baiklah kalau begitu”
                             Aku langsung mengambil makanan. Menyuapkan besar-besar tanpa menggunakan sendok kedalam mulut. Sampai aku kesulitan bernafas. Aku memaksa menelan tanpa mengunyah. Bangsawan voldermon melongo saking kagetnya melihat tingkahku. Dalam 5 kali suapan aku berhasil menghabiskan semua makananku. Aku menyambar gelas didekatku dan langsung meminumnya tanpa memperlihatkan sikap anggun dan sopan santun ala seorang putri. Tapi sudah pasti, Jika nyonya Bardon melihat sikapku saat ini, aku pasti tidak akan diluluskan dalan kelas sopan santun keputrian olehnya. Aku menutup mulutku. Rasanya ingin muntah. Dengan sekuat tenaga aku menahan agar tidak memuntahkan makanan disini.
                            “aku sudah selesai”
                            kataku kesal. Sembari mengelap tangganku dengan kain, aku pergi terimakasih atas makanannya yang mulia Riana. Dengan tanpa permisi aku langsung berjalan pergi.

                            Hari ini aku menemani elber untuk mengganti potongan rambutnya dirumah kecantikan langganannya. Diluar ada dua orang prajurit yang ditugaskan untuk mengikuti kemanapun aku pergi. Aku berusa tidak mempedulikan keberadaan mereka. Namun, karena melihat mereka berada diluar dan terkena udara panas, aku akhirnya menyerah dan meminta mereka masuk kedalam rumah kecantikan.
                            “Sebenarnya ada apa sampai kau berusaha mengubah penampilanmu”
                            Tanyaku sambil meminum segelas sari buah, menatap elber yang sedang asyik mengukir kukunya yang sudah rapi. Beberapa hari ini para putri bersikap aneh, mereka menjadi sangat mempedulikan penampilannya. Termasuk elber.

                            “Apa ada sesuatu yang tidak kuketahui”
                            Protesku pada elber sembari setengah memaksa agar dia mau menjelaskan sesuatu yang telah terjadi.
                            “kau selalu melewati semuanya yuki”
                            Apa kau tau sebentar lagi Festival Empat Negara akan segera diadakan. Dan itu berarti sebentar lagi pangeran Sera yang tampan itu akan segera datang berkunjung kemari.
                            “siapa dia, tanyaku bingung”
                            Pangeran Sera dari Negara Garduete. Pangeran Penerus tahta kerajaan Garduete. Sama seperti pangeran riana. Banyak putri yang tergila-gila padanya. Namun konon tak satupun para putri yang mampu menaklukkan  hatinya. Sampai saat ini dia masih belum memiliki seorang kekasih dan menolak semua dayang-dayang yang dihadiahkan untuknya. Aku pernah melihat fotonya sekali, dari seorang putri dikelas memasak. Tampan, tentu saja sangat tampan yuki, rambutnya berwarna pirang keemasan, bergelombang dengan kulit putih terawat, tubuhnya tinggi semampai dan langsing. Terlihat kalem dan baik hati. Sangat pantas jika para putri tergila-gila padanya.
                            Konon sebentar lagi akan diadakan Festival Empat Negara yang diadakan empat tahun sekali. Dan kali ini festival tersebut diadakan di Negeri Argueda. Seluruh penghuni Negeri bersemangat menyambutnya. Terutama para putri , karena pangeran Sera pujaan hatinya akan segera datang dan tinggal selama lebih dari satu bulan di Negeri ini.
                            Aku memperhatikan para putri yang sedang sibuk mendandani tubuh mereka, wangi farfum bercampur didalam kelas membuat kepalaku pusing karena aromanya. Aku memutuskan keluar untuk menghirup udara segar.
                             Beberapa hari ini pihak sekolah memang sibuk mempersiapkan acara festival empat negara. Sebenarnya festival ini adalah pertandingan empat sekolah kebangsaan yang terletak diempat Negara  berbeda. Disini mereka akan memperlihatkan kualitas dan kuantitas dari masing-masing sekolah untuk mewakili Negaranya. Pada festival ini para peserta tidak boleh mendapatkan bantuan dari Negara atau dari siapa pun. Para peserta diharuskan mempersiakan semuanya sendiri dengan cara bekerja sama antar tim untuk menunjukan kebolehan mereka. Aku bersyukur tidak ikut terpilih pada bagian manapun. Terlepas karena aku sudah begitu sering membolos dari sekolah.
                             Aku hanya mendapat tugas untuk memberi makanan para bangsawan yang sedang bekerja untuk membangun gerbang yang akan dipertunjukkan diacara festival nantiya
                            Hari ini aku didandani oleh para pelayan khusus kerajaan yang datang ke istana atas perintah pangeran riana. Aku dipaksa mengenakan pakaian resmi ala putri kerajaan, yang hanya boleh dikenakan oleh keluarga raja. Seperti ratu, putri raja atau istri dari pangeran yang langsung dilahirkan oleh Ratu. Setelah selesai berdandan aku dibawa kehalaman istana. Kereta kuda kerajaan sudah siap menunggu. Pangeran riana bersama dengan bangsawan voldermon bersiul. Menatapku dengan tatapan puas.
                            “Cantik sekali”
                             Kau memang cocok mengenakan pakaian seperti itu yuki. Puji bangsawan voldermon, yang kedengaran seperti ejekan bagiku. Bangsawan voldermon berpaling kearah pangeran riana.
                            “Bagaimana munurutmu riana” tanyanya kemudian
                            Pangeran riana menatapku sejenak
                            ”dia terlihat sama seperti biasa, tidak ada yang berubah”
                              Ujar pangeran riana. Bangsawan voldermon yang mendengar komentarnya langsung memprotes tidak sependapat.
                            “kau memang payah” gerutunya.
                            Pangran riana berjalan menghampiri ku. Dia meletakan tanganku dilengannya
                            “ayo berangkat”

                            Aku berdiri disamping pangeran riana yang sedang berbincang dengan seorang raja dari Negara Halmahera yang baru tiba. Aula sekolah sudah penuh dengan tamu undangan kerajaan. Tapi aku juga sudah melihat pangeran Sera secara langsung walaupun dari jauh. Sepertinya yang para putri katakan memang benar, Pangeran sera sangat tampan. Aku setuju mengenai hal itu.
                            Acara makan siang berlangsung secara formal. Aku duduk bersama dengan pangeran riana di depan meja bundar ditemani empat orang lainnya.
                             Pangeran sera dan pendeta Naru, kemudian Raja dari Negara Halmahera dan ratunya duduk diseberang kami, tak jauh dari Lampion yang baru saja selesai dibuat oleh para bangsawan, terkesan sangat mewah dan indah membuat sejurus mata memandang nampak terpukau. Aku duduk menunduk berusaha menikmati hidangan yang disajikan walaupun sebenarnya aku tidak benar-benar menikmatinya.

                            “kalau boleh tau, siapa putri ini riana”
                            Ujar ratu dari negara Halmahera dengan nada lembut. Menatapku dengan pandangan serba ingin tau. Aku semakin menunduk, aku genggam kedua tanganku dipangkuan. Pangeran riana meletakkan tangannya diatas tanganku. Memberi peringatan padaku agar bersikap sopan.
                            “maaf  belum memperkenalkannya”
                            dia putri dari keluarga olwhrendho. Putri yuki “Kekasihku”
                            Raja halmahera mengerjap, langsung memusatkan perhatian kearahku. Aku semakin gugup, aku tundukan kepalaku tidak berani membalas tatapannya.
                            “benarkah itu”
                             Baru pertama kali ini, kau berani memperkenalkan seorang wanita pada kami secara resmi seperti ini. Aku terkejut mendengarnya “ujar ratu halmahera tampak senang”
                            “salam kenal putri yuki“
                             aku berusaha menebar senyum dan memberi hormat.
                            “dia sangat cantik”
                            “terimakasih”  Ujar pangeran riana puas
                            Setelah acara makan siang, dilanjutkan dengan perjamuan biasa. Para tamu undangan mengobrol di taman belakang sekolah yang telah disulap sedemikian rupa untuk menyambut tamu undangan.

                             Aku duduk dibawah pohon, memilih menyendiri. Aku ingin pergi dari sini.
                            “Kau terlihat jelek jika berwajah sedih”
                            Aku mendongak. Mendengar suara bangsawan voldelmon yang berdiri didepanku, menampakan senyumannya yang menyebalkan.
                            “Jangan ganggu aku”
                            Pintaku padanya dengan nada kesal. Bukannya malah pergi, bangsawan voldermon malah duduk disampingu. Aku berusaha tidak mempedulikannya.
                             Angin berhembus, lembut dan hangat. Biasanya dicuaca secerah ini aku dan bangsawan dalto menghabiskan waktu dipondok kecilnya ditengah hutan. Sudah beberapa hari ini aku tidak bersamanya. Aku merindukannya. Aku merindukan sosoknya yang selalu menemani hariku di dunia ini. 

                            Seketika penglihatanku tertuju pada sosok yang aku rasa bangsawan dalto, aku bisa mengenali sosoknya walaupun  dari kejauhan. Berjalan keluar dari dalam hutan dengan membawa seikat bunga mawar merah yang masih nampak segar. Dia menuju kearah tepi danau.
                             Aku dapati beberapa bangsawan dan putri berusaha mengganggunya. Aku refleks berdiri saat melihat salah seorang bangsawan bertubuh gemuk yang dulu pernah kulihat mengganggu bangsawan dalto dilorong, dengan sengaja mendorong badannya ke arah bangsawan dalto hinggga bangsawan dalto terjatuh kedalam danau.
                            Suara ceburan keras terdengar, menarik perhatian semua orang yang ada disekitar. Bangsawan dalto menggapai-gapaikan tangannya. Dia tidak bisa berenang. Aku tidak tau apa yang aku pikirkan. seketika aku langsung berlari dan meloncat masuk kedalam danau. Aku berenang untuk menyelamatkannya, agak kesulitan saat gaunku yang tebal mulai menyerap air. Terasa berat. Dengan susah payah aku terus berenang. Aku berhasil menggapai bangsawan dalto yang sudah tidak sadarkan diri didalam danau.
                            Aku mengangkatnya, sekuat tenaga aku mengimbangi bangsawan dalto, badannya cukup berat untuk aku rasakan, dengan bersusah payah aku berhasil membawanya kepermukaan .
                             Seseorang  mengulurkan tangan, berusaha membantuku untuk mengangkat bangsawan dalto. Kau berenang saja ketepi, perintah pangeran sera. Aku melepaskan bangsawan dalto. berenang beriringan dengan pangeran sera ketepi danau. Bangsawan xasfir membantu pangeran sera mengangkat bangsawan dalto yang sudah pinsan. Aku bergegas menghampirinya.
                            “Bangsawan dalto, bangsawa dalto” kataku panik.
                             Kutepuk-tepuk pipinya namun tidak ada reson. Aku mencoba menekan dadanya, berusaha mengeluarkan air yang ditelan. Elber datang menghampiri dengan wajah terkejut.
                            “Apa yang terjadi yuki” Ujar elber sambil berlutut disampingku.
                            “Bantu aku menekan dadanya”
                            Elber dengan sigap menggantikan posisiku. Aku membuka mulut bangsawan dalto, memberi nafas buatan “bangun” pintaku saat usahaku tidak menunjukan hasil “ayo bangun” aku kembali memberinya nafas buatan.
                             Bangsawan dalto, kataku panik. Bagaimana jika aku terlambat menolongnya. Saat aku akan memberinya nafas buatan lagi, bangsawan dalto terbatuk. Air keluar dari mulutnya.
                            “yuu...ki”
                            “bangsawan dalto, kau tidak apa-apa kan”
                            “aku.....”
                            “Tenang kau aman sekarang”
                            Dua orang prajurit datang membawa tandu. Bangsawan dalto diletakkan diatas tandu. Aku berdiri hendak mengikutinya, seketika pangeran riana mencekal tanganku dari belakang. Wajahnya dingin penuh amarah. Aku mengibaskan tanganku, melepas tangannya dengan kasar. Tanpa menatap kearahnya lagi aku berlari mengikuti para prjurit yang membawa bangsawan dalto.
                            Aku menunggu bangsawan dalto diruang kesehatan, dia masih belum sadarkan diri. Aku menempelkan tanganku didahinya. Suhu tubuhnya naik beberapa derajat. Namun secara fisik sudah cukup membaik. Tidak berapa lama utusan kelurganya datang untuk menjemput. Aku menatap kepergiaan bangsawan dalto dengan sedih. Aku hampir saja kehilangannya, dan itu membuatku sesak.
                            Aku kembali ke kamar tempat bangsawan dalto dibaringkan tadi. Aku meringkuk disana dan merasakan kenyamanan dari kehangatan tubuhnya yang masih tersisa. Aku memejamkan mata. Aku tidak boleh membiarkan mereka menindas bangsawan dalto. mereka harus menerima balasan dari semua ini, pikirku setengah mengantuk.

                            Aku mengerjap, terbangun dan mendapati diriku sudah berada didalam kamarku yang hangat. Perapian didalam kamar menyala. Dengan malas aku meringkuk kembali, menarik selimut. Pemandangan diluar cendela menunjukan bahwa hari sudah malam.
                            Tiba-tiba aku merasakan kehadiran seseorang disampingku. Refleks aku terbangun dan mendapati pangeran riana sedang duduk dibangku samping tempat tidurku, sembari asyik membuka album fotoku yang kebetulan ikut terbawa saat aku dibawa paksa kedunia ini.

                            “Kenpa kau ada disini” kataku kaget
                            Aku langsung menyambar albumku. Pangeran diam, menatapku dengan pandangan tak suka.
                            “kau tau yang namanya privasi tidak”
                            Aku merasakan album fotoku jadi lebih tipis dari pada biasanya, saat aku cek ternyata ada beberapa fotoku yang hilang. Fotoku bersama mantan pacarku dulu, foto bersama kakak kelas yang kukagumi, foto bersama anggota club basket seusai pertandingan, fotoku bersama artis idolaku. Semuanya tidak ada lagi ditempatnya.
                            “dimana foto-fotoku. Protesku marah”
                            Aku tidak perlu mendengar jawabannya ketika melihat kearah perapian. Ada butiran kertas yang kukenali sebagai kertas foto terbakar.
                            “kau membakarnya, jeritku tidak percaya”
                            “apa aku harus diam melihat kau menyimpannya”
                            Tidak, aku sengka kau cukup banyak memiliki kekasih.
                            “itu urusanku” tidak ada hubungnnya denganmu.
                             keluar dari kamarku sekarang. Aku menunjuk kearah pintu dengan marah. Pangeran mencekal tanganku.
                            “beraninya kau mencium dalto”
                            Kau gila, jeritku. Apa kau tidak bisa membedakan antara menolong dan mencium.
                            “aku sudah mengatakan padamu yuki”
                            Kau miliku, apa kau masih belum paham itu. Pangeran riana mencekal rahangku dengan satu tangannya sangat kuat. Mendorongku kasar untuk menatap matanya. Jangan membuatku melewati batas kesadaran yuki, jika kau terus melawan, aku akan pindahkan kau ke istanaku. Jika saat itu tiba aku pastikan kau tidak akan bisa pergi kemanapun tanpa seizinku.



                            “Lepaskan aku, jeritku marah”
    Kau tidak bisa melakukannya. Aku memejamkan mata. Saat wajahnya mulai mendekatiku.
     “tidak..”
                Ayah pasti akan menghukummu. aku memalingkan wajahku sejauh mungkin, berusaha menghindar darinya.
                            “apa yang bisa dilakukan ayahmu, terhadap keluarga kerajaan yang menginginkan anak gadisnya”  Ujar pangeran riana ditelingaku dengan nada mengejek.
                            “tidak..”  jeritku  menahan marah. wajahku sudah basah oleh air mataku
                            Terdengar bunyi gulf milik pangeran riana. Pangeran menggerang. Dia melepaskan cengramannya setelah membiarkan gulf itu berulang kali berbunyi. Aku shock dengan apa yang terjadi.
                            “maaf pangeran, pangeran harus segera kembali ke istana sekarang” ujar prajurit dalam gulf.
                             Pangeran riana menutup gulfnya.  Langsung berlalu pergi tanpa melihatku.
                            “jangan biarkan dia keluar selangkah pun dari kamar selama aku tidak ada”
                              Ujarnya pada prajurit penjaga pintu dengan nada dingin penuh kemarahan
                            Aku langsung menangis sejadi-jadinya.Takut, aku takut pada pangeran gila itu. Kenapa Dewa mempertemukan aku pada orang seperti dia di dunia asing ini.
                           







Sembunyi




                            Aku mengambil bukuku ketika kelas memasak selesai. Elber sudah lebih dulu keluar setelah menyampaikan kabar bahwa hari ini bangsawan dalto akan dibawa berobat ke desa sebelah oleh kerabatnya. Aku bersyukur masih ada kerabat yang peduli denganya.
                            Dengan santai aku berjalan keluar kelas yang mulai sepi. Aku merapikan kain yang ku gunakan sebagai syal.
                            “Putri yuki”
                            Empat orang prajurit datang menghadang langkahku .
                            ”maaf, pangeran riana meminta putri untuk datang ketempatnya”
                            Aku mendesah, sejak dia mengatakan padaku bahwa aku kekasihnya, hidupku tidak lagi bebas. Dia mengatur hidupku dan membuatku untuk menuruti semua perintahnyahnya. Gara-gara dia juga aku terpisah dari bangsawan dalto.
                            “aahhhh paman coba lihat disana ada apa”
                             Saat ke empat prajurit itu berbalik aku langsung berlari kearah yang berlawanan. Ke empat prajurit itu tersadar, mereka langsung mengejarku. Aku terus berlari sekuat tenaga. Bersembunyi dibalik semak-semak yang rimbun. Ke empat prajurit itu melewatiku tanpa menyadari keberadaanku.
                            “kau cari disana, aku disana”
                            Ujar seorang prajurit memimpin. Mereka berpencar terus mencariku. Aku mengedarkan pandanganku mencari tempat bersembunyi. Namun tidak ada satupun tempat yang bagus untuk bersembunyi. Jika aku terus berada disini cepat atau lambat mereka akan menemukanku. Aku menatap kearah pohon didekatku. Daunnya cukup rimbun. Baiklah, aku memutuskan untuk memanjat dan bersembunyi disana. Paling tidak diatas sana aku bisa memantau keadaan.
                             Aku memanjat pohon dengan cekatan. Duduk didahan yang tinggi dan tertutup dedaunan. Dari tempatku aku bisa melihat empat prajurit berlalu lalang mencriku. Agak kasihan juga sebenarnya, jika mereka sampai dihukum pangan riana, namun bagaimana lagi. Aku tidak mau jika harus datang ketempatnya.
                            Aku tau dia pasti akan mengajakku untuk menyambut tamu kerajaan yang datang. Dan memperkenalkanku sebagai kekasihnya seperti tempo hari.
                            Terdengar suara cendela dibuka didekat tempat persembunyianku. Pangeran sera muncul. Dia menatapku kaget, begitu juga dengan aku. Rasanya malu sekali sedang kepergok memanjat pohon seperti ini disaksikan langsung olehnya. Dia sangat tampan Nilai 95 atau lebih untuknya dalam sekali melihat. Pria yang sempurna. Aku merasa seperti meleleh saat melihat wajahnya, sosok karismatik dan  penuh kelembutan yang mendalam.
                            “maaf pangeran”
                             Aku membeku saat mendengar suara seorang prajurit dibawah pohon. Gawat. Pangeran sera menatap kearah prajurit itu.
                             "Apa pangeran melihat seorang putri disini”
                            Aku langsung menempelkan jari telunjuk dibibir, memintanya agar pangeran sera tidak membuka suara mengenai keberadaanku. Pangeran sama sekali tidak merespon. Aku hanya bisa  pasrah.
                            “Putri..” tanya pangeran sera
                             Suaranya terdengar lembut dan hangat. Membuatku terpukau.
                            “ya, pangeran”
                             Seorang putri dengan perawakan mungil, berambut coklat yang diikat dengan riasan kerajaan.
                            “Tidak. aku tidak melihatnya”
                             Tapi bisakah kalian tidak terlalu ribut disini. Aku sangat terganggu.
                            “maafkan kami pangeran sera. Kami permisi”
                            Pangern sera langsung menutup cendela. Aku menghela nafas lega. Terdengar lagi suara cendela dibuka. Kali ini tepat dibelakangku .


                            “kau mau masuk”
                            Tawar pangeran sera pelan. Tenang lah, kau aman didalam. Aku mengangguk senang. Pangeran membantuku masuk kedalam ruangan. Tubuhnya wangi, aku suka farfum yang dikenakannya. Dari jarak dekat dia sangat menawan. Aku kenakan kembali sepatuku begitu menginjakan kaki dilantai. Lantainya dingin, membuatku gemeteran jika tidak mengenakan alas kaki. Pangeran sera menatap kearah  luar sebentar, sebelum akhirnya menutup cendela.
                            “terimakasih bantuannya” ujarku tulus.
                            “kau mau minum teh”
                            Pangeran sera menuangkan segelas teh dalam cangkir dan memberikannya padaku. Jarinya bersih dan rapi. Aku menghirup aroma teh yang diberikan olehnya dengan perasaan senang.
                            “ini enak sekali” ujarku ketika mencicipi teh dalam cangkir.      
                            “ini adalah teh rosmana, daunnya hanya bisa tumbuh dinegaraku. Kau suka
                            “Tentu saja” Selain wangi, teh ini sangat enak
                            Aku melihat kesekeliling, menyadari dimana sekarang aku berada. Ternyata kami berdua berada digedung kelas memasak level 5. Pangeran duduk didekat cendela, dia terlihat sangat anggun dan menawan. Jantungku berdebar melihat ketampanannya. Rasanya aku bisa meleleh jika terus memandanginya.
                            “ngomong-ngomong kenapa pangeran berada disini”
                            Tanyaku tak mengerti. Bukan hal yang lazim jika seorang pangeran seperti dia berada di gedung kelas memasak seperti ini.
                            “menyendiri” jawab pangeran sra kalem.
                            Aku menatapnya bingung. Pangeran melihat kearah luar cendela. Wajahnya tampak sedih. Sepertinya ada sesuatu yang sangat mengganggu pikirannya.
                            “maaf aku telah membuat keributan diluar”
                             Aku sudah mengganggu pangeran. Ujarku menyesal
                            Pangeran sera berbalik menatapku. Tersenyum. Aku jadi ikutan membalas senyumannya dengan canggung.
                            “tidak apa-apa putri yuki”
                             Ngomong-ngomong apa aku boleh menanyakan sesuatu padamu.
                            “tentu saja boleh”
                            Aku refleks menggangguk. Tatapan matanya semakin membuatku salah tingkah. Jantungku berdebar sangat kencang. Aku takut detakan jantungku sampai terdengar olehnya.
                            “apa kau kekasih riana?..”
                            Aku mendesah. Rasanya seperti ditarik kembali kedunia nyata. Ku tatap kembali pangeran sera, dengan pandangan frustasi.
                            “kau kenapa”
                             Pangeran sera menghampiriku yang mulai terbatuk.
                            “Kenapa semua orang mengatakan hal itu”
                             Itu tidak benar “ujarku marah” dia sendiri yang seenaknya menjadikanku kekasihnya. Aku ingin kembali menarik ulur kata-kataku ini dan menyumpal mulutku. Bodoh sekali aku, kenapa sampai keceplosan mengatakan hal itu pada pangeran sera. Pangeran sera mengerjapkan mata sejenak. Menatapku dengan tatapan kosong.
                            “jadi kau tidak pacaran dengannya”
                            Aku diam. Pangeran sera kembali duduk. Matanya masih menatapku dalam. Berusaha mencari kebohongan dalam diriku yang parahnya tidak bisa ditemukan olehnya.
                            “Riana memaksamu agar kau menjadi kekasihnya secara sepihak” Kenapa kau tidak menolaknya jika kau keberatan.
                            Aku menghela nafas. Menatap matanya membuatku tidak lagi bisa berbohong, dan aku tidak bisa memaksakan diriku untuk berpaling darinya.
                            “Kau tau peraturan kerajaan kan”
                            Jadi bagaimana bisa aku menolak ”keluhku kesal” keluargaku dalam bahaya jika aku melawan ketetapan kerajaan. Kerajaan bisa mengganggap keluarga kami sebagai pemberontak.
                            Pangeran sera diam. Aku menunduk. Merasa bersalah. Tidak seharusnya aku mengatakan hal ini padanya, mengingat dia adalah orang yang notabene baru kukenal selama sepuluh menit terakhir.
                            Aku bisa dihukum karena telah membongkar rahasia kerajaan. Terdengar suara lonceng  berdentang sangat keras menandakan jam pelajaran segera dimulai kembali. Aku menghela nafas dalam-dalam bersyukur suara lonceng itu menyelamatkan ku dari kegugupan akibat pembicaranku dengan pangeran sera. Aku berdiri.
                            “terimakasih atas tehnya” ujarku sembari menunduk memberi hormat
                            “kau mau pergi tanyanya”
                            Entah hanya perasaanku saja atau apalah. Tapi aku mendengarkan nada ketidak sukaan pada diri pangeran sera atas niatanku segera pergi. Aku menganggukan kepala.
                            Aku bisa mendapatkan masalah jika tidak segera kembali”
                             Maksudku, setelah ini aku harus mengikuti kelas tata tertib. Ujarku setengah berbohong. Aku hendak berbalik berlalu pergi. Namun, ku urungkan niatanku, aku menatap pangeran sera yang kembali menatap kearah cendela.
                            Kali ini tidak ada  raut kesedihan yang terpancar diwajahnya. Tapi berganti dengan kemarahan. Pikirannya entah berada dimana. Aku merogoh kantong bajuku. Menemukan lobi-lobi, semacam manisan diduniaku sana, yang jika semakin lama disimpan rasanya akan semakin enak, dan semakin mahal harganya. Membuat lobi-lobi sangat susah. Aku hanya bisa membuatnya Satu sewaktu pelajaran memasak tadi.
                            “ini untuk pangeran”
                            Pangeran sera menatapku dengan pandangan bingung.
                            “ini adalah lobi-lobi”
                             Aku hanya bisa membuat Satu. Tapi biarpun bentuknya begitu, rasanya lumayan enak kok.
                            Pangeran sera tersenyum. Menerima lobi-lobi pemberianku.
                             “Ini sepecial”
                             karena lobi-lobi buatanku hanya ada satu-satunya didunia.
                            Pangeran sera tertawa, aku jadi  ikut senang melihatnya tertawa seperti ini. Setelah berpamitan, aku segera pergi.
                            Aku tidak mau terlambat masuk kelas. Namun aku nyaris berteriak, saat berlari dilorong, dari belakang aku melihat sosok pangeran riana berjalan memunggungiku. Sepontan aku langsung menghentikan langkahku. Kurapatkan badanku ditembok, berharap dia tidak menyadari keberadaan ku. Raut wajahnya terlihat sangat garang, sangat tidak baik berurusan dengannya jika dia memasang ekpresi wajah seperti itu.
                            “putri yuki”
                             Aku mengumpat dalam hati. Ketika mendengar suara seseorang memanggil namaku dari belakang, suaranya  terdengar sangat keras. Pangeran riana langsung berbalik. Seorang bangsawan bertubuh ceking dengan wajah imut datang menghampiriku.
                            “maaf sudah membuat putri kaget”
                             perkenalkan, saya bangsawan helmiton
                            Dari sudut mata, aku bisa melihat pangeran riana menatap kearahku dengan pandangan tajam. Sepertinya bangsawan didepanku ini tidak menyadari keberadaan pangeran riana.
                            “sebenarnya saya ingin mengajak putri yuki untuk makan malam bersama, putri yuki tidak keberatan kan”
                          Aku mendesah, aku tarik nafas sedalam mungkin, sekuat yang aku bisa.
                            “dia tidak akan pergi dengan siapapun”
                             Apa lagi dengan orang yang memiliki maksud khusus padanya. Pangeran riana menarikku kearahnya dengan kasar, wajahnya terpancar sifat angkuh dan menantang, seolah bisa membunuh orang yang berada didekatnya saat ini. Bangsawan tersebut terkejut melihat pangeran riana
                            “maaf mengecewakan”
                            Aku ditarik pergi. Bangsawan helminton tampak kecewa dan kesal. Pangeran riana Sendiri tidak mau mempedulikan kekecewaan bangsawan helminton. Pergelangan tanganku dicekal erat olehnya. Aku mengikuti tarikan tangannya dengan langkah terhuyung-huyung. Perbedaan jarak langkah yang kami ambil membuatku kesusahan.
                            “dari mana saja kau“
                            Ujar pangeran riana setelah kami tiba di sebuah lorong yang sepi.
                            ”aku sudah menyuruhmu untuk datang, kenapa kau tidak datang juga. Bentaknya kasar. Membuatku kaget dan  ketakutan.
                            “apa aku harus datang ke tempatmu”
                            Keluhku. Kedua tangan pangeran riana mengurungku di tembok. Aku merapatkan tubuhku. Memalingkan wajahku tidak ingin melihatnya. Terasa hembusan nafasnya dipipiku. Kugenggam selendang yang kulilitkan sebagai syal. Pangeran menangkap gerakan tanganku, dia menarik selendagku. Aku berusaha mempertahankan genggaman tanganku, tapi gagal. Dia membentak aku kasar dengan suara yang keras, membuat aku semakin membeku.
                              “kau gila”
                             kau tidak bisa memperlakukan aku seperti ini, jeritku histeris.

                            “aku tidak tau kalau kau begitu berminat padanya”
                             Sampai kau memperlakukan dia seperti itu Riana. Terdengar suara teguran yang halus namun tajam. Pangeran riana langsung berbalik menoleh kearah suara itu.
                            Pangeran sera berdiri didekat kami. Menatap kearah kami dengan pandangan yang sukar dijelaskan. Kakiku lemas, tubuhku gemeteran, aku langsung merosot jatuh kelantai. Namun pangeran riana masih memegangi pergelangan tanganku. Tangannya seperti belenggu besi yang memenjarakanku.
                            “jangan campuri urusanku”
                            Kata pangeran riana pada pangeran sera dengan wajah dingin “pergi dan urusi saja gadis-gadis penggemarmu itu”
                            “yuki itu urusanku”
                             kau tidak bisa seenaknya seperti itu padanya
                            “apa maksudmu”
                            Terasa genggaman tangan pangeran riana semakin erat memegangi pergelangan tanganku. Seakan tanganku hampir lepas olehnya.
                            “aku tidak akan membiarkan mu menyakiti yuki seperti itu, dia tidak pantas kau perlakukan seperti itu” pangeran sera menatap pangeran riana penuh amarah.
                            “dia kekasihku, aku berhak melakukan apapun padanya”
                            “yuki, apa kau benar-benar menyukainya? ..”
                            Aku kaget tidak menduga pangeran sera akan bertanya seperti itu padaku. Dia menatapku dengan pandangan lembut dan hangat.
                            “kerajaan sudah mengakui kami”
                            Tegas pangeran riana tak terbantahkan.
                            “aku tidak bertanya padamu”
                            Pangeran sera kembali berpaling padaku. Katakan, apa kau setuju untuk menjadi kekasihnya yuki.
                            “dia milikku, tidak peduli, dia suka atau tidak suka. Dia akan tetap menjadi miliku. Dan kau tidak perlu bersusah payah menyampuri urusan kami sera ”
                            pangeran sera berjalan mendekat, menyambar sebelah tanganku. Tarikan kedua tangan pangeran ini begitu keras membuatku semakin kesakitan. Pangeran riana dan pangeran sera menarik tanganku kearah yang berlawanan, tenaga mereka sangat kuat.
                            “lepaskan aku” Sakit,  pintaku memohon.
                            “lepaskan dia”
                            “aku tidak akan membiarkan mu menyakiti yuki riana”
                            “aku bilang lepaskan”
                            Pangeran riana maju, menghantamkan pukulan diwajah pangeran sera hingga terjerambah jatuh kelantai. Aku berteriak, kaget. Aku ingin menolong pangeran sera, tapi pangeran riana sudah lebih dulu kembali menarik tanganku dengan kasar.
                            “ada apa ini”
                             Rombongan raja datang saat situasi menjadi tegang.
                            “pangeran”
                            Terdengar nada seruan kaget dari rombongan kerajaan Garduete yang datang bersama raja. Raja melihat kearah kami bertiga secara bergantian.
                            Raja tampak terkejut mendapati pangeran sera yang terjatuh dilantai dengan bibir berdarah, dan aku yang terlihat kacau dengan lengan baju yang robek, serta pangeran riana yang berdiri diantara kami dengan wajah siap membunuh.
                              “apa yang terjadi”
                            Tuntut raja pada semua orang yang ada. Aku menunduk ketakutan.
                            “apa yang sudah pangeran riana lakukan pada pada pangeran sera adalah penghinaan”
                            Seru seorang laki-laki paruh baya berpakaain ala pendeta, dengan nada penuh kemarahan.
                            “aku tidak apa-apa pendeta Naru”
                             Jangan dibesar-besarkan, ujar pangeran sera sambil berdiri. Menatap pangeran riana tajam dengan wajah manisnya. Dia mengusap darah disudut bibirnya.
                            “maafkan kami pendeta naru”
                            Saya akan menyelesaikan masalah ini dengan baik, ujar raja bijak.
                             “Pengawal”
                             Bawa pangeran sera ke tabib istana untuk segera diobati lukanya dan antarkan putri yuki kembali keistanyanya.
                            “tidak, bawa dia ke istanaku”
                             Dan kurung dia dikamar sampai aku kembali dan jangan biarkan dia keluar selangkah pun dari sana tanpa seizinku.
                            Aku semakin menangis histeris mendengar perkataan itu
                            “riana” protes raja tak suka”
                            “maafkan saya ayah”
                            Tapi ini adalah masalah kami, biarkan kami berdua yang menyelesaikannya.
                            Pangeran riana berbalik menatap kearah para prajurit yang masih bingung dengan situasi yang ada.
                             “apa yang kalian tunggu”
                            Cepat pergi. aku diapit dua orang prajurit. Setelah memberi hormat aku langsung dibawa pergi.
                            “riana, temui aku nanti”
                            Terdengar suara raja dibelakangku. Aku memalingkan wajah, menatap pangeran sera dengan pandangan meminta maaf. Kemudian berjalan kembali mengikuti langkah dua prajurit yang mengawalku.
 ____________”______________”______________”_______________”____________  “______________
                            Aku melempar buku dengan kesal kelantai. Aku rebahkan badanku, menempelkan pipi di dinginnya lantai batu. Hari sudah larut malam. Namun apa bedanya waktu untukku. Aku menjalani hidup selama satu minggu ini diistana pangeran riana. Aku tidak diperbolehkan keluar kamar atau menerima kunjungan dari siapa pun. Aku seperti hidup didalam penjara atau lebih dramatisnya lagi, seperti burung dalam sangkar emas. Aku menghabiskan waktu dengan membaca atau hanya duduk diam di kamar. Badanku jadi pegal semua karena kurang bergerak.
                            “putri yuki,  nanti putri sakit” tegur Rena disampingku.
                            “aku ingin pulang” bisik ku sedih.
                            “jika putri bersikap baik”
                             Mungkin pangeran riana bisa mempertimbangkan untuk memulangkan putri.
                            “apa kau tidak lihat, dia sudah mempersiapkan semuanya  untuk ku”
                            Aku mendesah. Saat aku datang pertama kali ke kamar ini, aku terkejut melihat bagaimana sudah siapnya pangeran riana membuatkan penjara untuk ku. Aku mendapatkan satu ruangan besar penuh pakaian, sepatu, tas, perhiasan dan kebutuhnan ku lain nya. Yang semuanya sesuai dengan ukuranku jika aku kenakan. Dia benar-benar tidak main-main dengan ucapannya untuk menjadikan aku sebagai kekasihnya.
                             “apa ayah masih lama”
                            Bisik ku lagi diiringi isak tangis yang terkesan pilu.
                            “beliau sudah mengetahui tentang hal ini”
                            Namun beliau belum bisa pulang  karena kewajiban tugas kerajaan. Tapi, beliau sudah berjanji akan segera pulang begitu urusan kerajaan terselesaikan. Perdana mentri akan bicara langsung dengan pangeran riana dan baginda raja mengenai permasalahan putri.
                            “Namun aku tidak mau berharap”
                            pangeran riana sangat susah dibelokan keputusannya.
                            “Putri saya mohon Makanlah”
                             Putri dalam seminggu ini sangat sedikit sekali makan, kalau perdana menteri pulang saya bisa dimarahi. Badan putri terlihat kurus sekali.
                            “aku sedang tidak nafsu makan rena”
                            “tapi putri”
                            “aku akan makan jika lapar” janjiku.
                            Terdengar suara ribut-ribut diluar kamarku. Aku dan rena saling menatap kebingungan, sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar melihat apa yang sedang terjadi.
                            Empat orang pelayan kerajaan sedang berkumpul didepan pintu kamar pangeran riana dengan wajah cemas. Aku memanggil salah seorang pelayan untuk datang mendekati ku.
                            “ada apa..? Tanyaku penasaran”
                            “putri kami harus bagaimana”
                             Pangeran riana sedang terluka, tetepi beliau melarang kami untuk mengobatinya, kami tidak diperkenankan masuk ke dalam kamar pangeran, sedang kan menurut pendeta serfa, walaupun sudah diobati lukanya ada kemungkinan malam ini pangeran akan terserang demam tinggi. Ujar seorang pelayan dengan wajah panik, dia berkali-kali menatap kearaku memohon
                            “terluka, bagaimana dia bisa terluka”
                            “Pangeran riana menolong seekor kucing yang hampir tertimpa peti kayu saat pembuatan gerbang istana untuk festival mendatang putri”
                             “Aduh putri kami harus bagaimana”
                             Kami tidak bisa membantah perintah pangeran riana, namun jika terjadi sesuatu dengan pangeran riana kami bisa mendapat hukuman.
                            Kucing. Aku sama sekali tidak mempunyai bayangan jika orang seperti dia akan melakukan tindakan seperti itu. Aku menatap pelayan itu sambil berfikar dengan cara apa aku bisa membantu mengobati luka pangeran riana.
                            “biar aku coba untuk melihatnya“ ujarku akhirnya.
                            “putri...” rena menatap ku khawatir.
                            “Tenang saja”
                            Dia tidak akan membunuhku karena berani masuk ke kamarnya.
                             “boleh kan paman penjaga”
                            Ujarku pada dua orang prajurit yang ditugaskan untuk menjaga kamarku. Kedua prajurit itu menunduk dengan hormat. Aku lalu berjalan menyeberangi taman. Setelah menarik nafas sejenak aku masuk kedalam kamar pangeran riana.
                            Ternyata pintu ini terhubung dengan ruang kerjanya, ada rak besar disisi utara yang penuh dengan buku-buku tebal, didepannya ada meja kerjanya. Kemudian disisi baratnya ada cendela yang langsung menghadap ke arah kamarku, dari cendela ini aku bisa menatap jelas keadaan kamarku. Aku harus mengingatkan diriku untuk menutup rapat gorden kamar jika pangeran riana sedang berada didalam kamarnya, karena bisa jadi dia melihat serangkaian aktivitasku dari cendela ini, dia bisa mengawasi ku kapan pun dia mau tanpa aku sadari dari ruangan ini. Kemudian disisi selatan ada ruang yang aku kira untuk menerima tamu. Semua ruangan disini sangat mewah didominasi warna biru, ada lukisan pangeran riana yang sedang menunggang kuda, terlihat gagah. Dia akan banyak dikagumi banyak perempuan jika saja sifatnya sedikit lebih baik terutama padaku. Aku mengetuk pintu yang ku prediksi sebagai pintu kamar pangeran.
                            “aku sudah bilang jangan ada yang memasuki kamar ini”
                             Apa kalian tidak dengar. Terdengar suaranya yang mengancam dari balik pintu. Aku menghela nafas panjang.
                            “ini aku, apa aku boleh masuk”
                            Tidak ada jawaban, tapi tak lama kemudian terdengan suara pintu dibuka dari dalam. Pangeran riana muncul. Dengan tekat bulat aku melangkahkan kaki memasuki kamarnya.
                            “Aku dengar kau terluka, apa kau baik-baik saja”
                            “aku tidak apa-apa, sudah malam kau kembali saja kekamarmu”
                            “aku akan memutuska apakah kau baik-baik saja jika aku sudah melihat lukamu”
                            Aku menghampirinya, berhati-hati untuk melihat responnya, satu hal yang ku pelajari darinya adalah jangan membuat masalah disaat dia sedang memiliki mood buruk. Atau aku akan mendapat masalah besar.
                            Karena pangeran riana tidak mengusirku dan membiarkanku mendekat, aku memegang lengannya, dengan penuh kehati-hatian aku menyibakkan lengan bajunya. Ada memar berwarna kebiruan dengan bercak darah yang tampaknya tidak terlalu bagus dan akan mempengaruhi kesehatannya.
                            “oke, aku rasa kau memang kenapa-napa, aku akan mengobati lukamu karena itu bekerja sama lah”
                            Ujarku kemudian. Aku membantu pangeran melepas bajunya, memar dilengannya menjalar hingga bahu sampai kepunggungnya, dia terbentur cukup keras. Aku membersihkan bekas darahnya dengan kehati-hatian supaya dia tidak merasa kesakitan, kemudian menaburkan ramuan yang sudah disiapkan oleh pelayan. Setelah itu aku membalut lukanya. Pangeran sama sekali tidak melawan dan menolak bantuannku, dia hanya diam menuruti permintaanku.
                             “kau mau makan, para pelayan sudah mempersiapkan makanan untuk mu”
                            Ujarku kemudian. Aku keluar kamar, mengambil makanan yang sudah dipersiapkan pelayan .
                            “tenanglah dia sudah cukup baik, aku akan menjaganya”
                            Ujarku pada para pelayan yang masih menanti di pintu kamar dengan ekpresi wajah cemas. Aku menyuapkan makanan padanya, pangeran menghabiskan makanan di atas tempat tidur, sedangkan aku duduk dikursi yang kutarik ke pinggir tempat tidur. Setelah makan aku kembali keluar untuk mengembalikan piring pada para pelayan.
                            “kau mau apa”
                            Tanya pangeran riana saat melihatku kembali masuk kedalam kamarnya sambil membawa selimut.
                            “kata pendeta serfa walaupun lukamu sudah di obati kau masih akan merasakan demam malam ini, jadi aku akan tidur disini untuk memantau keadaanmu”
                            Jelasku. Aku duduk diatas sofa disampingnya. Pangeran berbaring menatapku tak percaya.
                             “kau tidak mencoba untuk kabur kan”
                            Ujarnya. Membuatku memutar bola mata
                            “seolah aku bisa saja”
                            Desahku pasrah. Aku merapikan selimutnya, mengusap rambutnya yang lembut
                            “tidurlah aku akan menjagamu”
                             Aku bernyanyi, mendendangkan lagu nina bobo yang sering di nyanyikan mama saat aku masih kecil. dalam sekejap pangeran sudah lelap tertidur. Setelah memastikan keadaannya baik-baik saja. Aku menyandarkan tubuhku disofa, menekuk lututku dan berusaha memejamkan mata.
                           
                            Dimana aku
                            Aku membuka mata, merasakan hembusan angin dingin menerpaku. Pemandangan disekelilingku terasa menyekam. Aku berada didalam hutan yang lebat. Namun aku masih bisa melihat sinar bulan yang menerangi malam.
                            Kenapa aku berada disini. Apa yang terjadi. Apakah pangeran riana membuangku saat aku tertidur karena aku tidak mau mematuhi perintahnya. Jika benar hal itu. Tega sekali dia padaku
                            Terdengar suara pedang beradu dibelakangku. Begitu berbalik aku melihat pertempuran yang terjadi didepanku. Para prajurit Argueda saling bertempur dan saling menyerang satu sama lain. Tercium bau darah yang sangat menyengat.
                             Aku terkejut begitu menyadari bahwa kereta kuda yang sedang terguling ditengah pertempuran adalah kereta kerajaan milik ayah. Sepontan aku berlari, kaliku yang telanjang tanpa alas terasa sakit tertusuk bebatuan & ranting ditanah.
                            “Ayah”
                             Aku melihat ayah sedang bertempur melawan dua orang prajurit yang menyerangnya.
                            “Ayah”
                            Aku panggil ayah dengan suara lantang tapi seolah ayah tidak menyadari keberadaanku.
                            Aku kaget saat berusaha menyentuh ayah. Tanganku tembus pandang seolah aku adalah halogram yang kasat mata. Walau aku disamping ayah, tapi ayah sama sekali tidak menyadari keberadaanku. Bukan hanya ayah saja, tapi semua orang tidak bisa merasakan kehadiranku disini. Apa yang terjadi, kenapa seperti ini.
                            Ayah berhasil membunuh dua orang prajurit. Namun, dibelakangnya, muncul prajurit lain dan parahnya ayah tidak menyadari. Pedang terangkat, memantulkan sinar bulan diujungnya.
                            “Ayah awaaasssss....”
                            Pedang meluncur turun.
                            TiidaaaakkkkKKKkk

                            Aku terbangun, bersimpah peluh. Nafasku memburu. Keringat dingin mengalir. Dengan cepat aku menyambar gelas yang ada disampingku dan menuangkan segelas air. Tanganku gemeteran sehingga aku menumpahkan sebagian besar air kebaju. Mimpi, aku menatap kesekeliling. Aku masih berada didalam kamar pangeran riana. Ternyata yang tadi itu hanya mimpi. Aku menarik nafas dalam-dalam. Bayangan mimpi yang menakutkan. Seolah nyata terjadi dihadapanku. Menyaksikan kematian ayahku.
                            Terdengar suara rintihan yang mengusik. Aku berpaling dan melihat kearah pangeran riana. Kondisinya sangat aneh. Bergegas aku menghampirinya.
                            Dia terlihat gelisah dalam tidurnya. Suhu tubuhnya tinggi. Pangeran membuka matanya saat aku mengusap rambutnya.
                            “ yuki. Bisiknya lemah”
                            “tidak apa-apa, aku akan menjagamu. Semua akan baik-baik saja”
                             Ujarku menenangkan. Aku berlari mengambil obat yang sudah dipersiapkan pelayan. Menompangkan tanganku membantu pangeran riana untuk bangun.
                                 “minumlah”
                            Ujarku menyodorkan obat itu kedalam mulutnya. Namun, pangeran riana malah memuntahkannya. Aku menjadi panik. bagaimana ini. Dia tidak juga bisa meminum obat. Aku melihat ke sekeliling, sekarang sudah tengah malam tidak ada siapapun disini yang bisa aku pintai pertolongan. Aku tidak mungkin keluar kamar dengan kondisi pangeran seperti ini. Kalaupun aku paksakan keluar untuk mencari pertolongan, fatalnya aku malah akan tersesat di istana pangeran riana yang sebesar ini.
                             Aku menatap pangeran riana yang bersandar lemah dibahuku. Aku tidak bisa membiarkanya begitu saja. Aku membaringkannya kembali keatas tempat tidur, menyambar obat, lalu menggerusnya sampai halus agar dia mudah meminumya, aku dekatkan wajahku kemulutnya memastikan dia benar-benar bisa meminumnya. Setelah itu aku mengambil baskom, mengelap tubuhnya yang bermandikan keringat dan menggantikan baju. Aku mengganti bajunya dengan baju baru.
                            “kau akan baik-baik saja, tidurlah”
                            Bisikku di telinganya. Jangan cemas.
                            Sepanjang malam ini aku terus berjaga dan memantau kondisi pangeran riana. Aku juga mengelap dan mengganti pakaiannya yang basah oleh keringat. Saat fajar menjelang demamnya sudah turun dan dia sudah tidur nyenyak. Aku keluar kamar mendapati para pelayan sudah berada didepan pintu kamar, dari wajah mereka aku tau mereka juga kurang tidur, sama seperti aku. Mereka sangat mengkhawatirkan kondisi kesehatan pangeran riana.
                            “dia sudah cukup baik, kalian bisa beristirahat”
                            Ujarku sambil menyerahkan pakaian kotor milik pangeran riana kepada salah seorang pelayan. Aku kembali masuk kedalam kamar pangeran riana. Mengecek suhu tubuhnya setelah yakin dia tidak akan serserang demam lagi. Aku berjalan lelah kearah sofa panjang. Aku mengambil bantal dan membaringkan tubuhku disana. Dalam sekejap aku langsung tertidur lelap.


                           
                              
                           







Buah jatuh tidak jauh dari Pohonnya


                            Aku berguling, rasanya ada yang aneh harusnya gerakan ini membuatku terjatuh, dan lagipula sofa ini terlalu nyaman untuk sebuah sofa. Menyadari hal itu aku membuka mata. Hari sudah menjelang siang, sinar matahari masuk dalam cendela yang sengaja dibuka. Aku berada diatas tempat tidur pangeran riana. Sejak kapan aku dibaringkan disini “ujarku pada diri sendir” aku baru menyadari jika pangeran riana sudah tidak ada lagi dikamarnya. Aku mendengar suaranya berada didalam ruang kerjanya. Bergegas aku bangun dan membuka pintu.
                            Aku menyesali diriku, karena telah ceroboh membuka pintu ruang kerja pangeran riana. Pangeran riana tidak sendiri, ada dua orang tetua kerajaan diruang itu, yang sedang bersamanya saat ini. Keduanya seperti kaget melihatku keluar dari kamar pangeran riana, dengan wajah  baru bangun tidur dan rambut acak-ajakan, belum disisir.
                             “sudah bangun“
                             Tanya pangeran riana santai sambil menutup dokumen yang sedang dibacanya. Aku diam menatap kedua tetua itu yang melirikku dan pangeran riana bergantian.
                            “aku akan membacanya nanti, terimakasih atas laporannya paman”
                             Ujar pangeran riana kemudian. Kedua tetua itu berdiri memberi hormat pada pangeran. Saat mereka keluar, mereka kembali melirikku dan pangeran riana bergantian lalu menggelengkan kepala.
                            Pangeran riana menghampiriku yang masih terpaku.
                            “ada apa”  tanyanya mendekat.
                            “kenapa, kau tanya aku kenapa”
                             Apa kau tidak melihat reaksi kedua tetua itu saat melihatku berada dikamarmu ditambah dengan pemanpilanku seperti ini. Kau harus menjelaskan pada mereka, kalau tidak pernah terjadi apa-apa diantara kita. Kalau tidak, bisa-bisa mereka salah paham “ujarku panik”

                            “menjelaskan apa”
                            “menurutmu apa yang mereka pikirkan jika melihatku keluar dari kamarmu dengan penampilan seperti ini”
                            Kataku kesal. Mereka pasti berfikir yang macam-macam tentang kita.
                            “bagus kan jika mereka mengira seperti itu”
                            “kau..” aku menatapnya tak percaya.
                            Aku menghela nafas menyadari bahwa dia menikmati apapun yang dipikirkan tetua itu mengenai kami.
                             Aku menyentuh dahinya ragu. Mengusap keningnya memastikan demamnya sudah benar-benar hilang. Kau sudah cukup baik kan, kataku ragu.
                            “sudah”
                             seperti yang kau lihat sekarang. Bahkan lukaku sudah sembuh.
                            “yang benar mana mungkin”
                             “lihat saja sendiri”
                             Aku mencekal lengan pangeran riana menggulungkan bajunya. Mataku terbelanga, terkejut melihat tidak ada lagi bekas luka apapun dilengnnya seperti yang ku lihat semalam.
                            “berkat ramuan pendeta serfa”
                             Ujar pangeran riana kemudian, yang melihatku terbengong. Pangeran tersenyum menatapku penuh arti. Aku balas menatapnya dengan pandangan penuh curiga.
                            “apa, kataku mundur saat dia mendekatiku”
                            Aku terdorong hingga menempel pada rak buku. Kedua tangannya mengurungku, terasa hembusan nafasnya di pipiku. Aku mundur semakin menempel pada rak.
                             “cium aku”
                            Pintanya aku menatap pangeran riana kaget. Dia memegang sejumput rambutku yang terurai dan menciumnya, sambil menatapku penuh arti.

                            “minggir aku harus pergi”
                            kataku berusaha mendorongnya menjauh.
                            “kenapa,bukan kah semalam kau juga menciumku” Tanyanya tak mau kalah
                            “apa kau gila”
                             Itu bukan ciuman, aku memang mendekatkan wajahku untuk memastikan kau benar-benar bisa meminum obat itu. Karena kau tidak juga bisa meminumnya. Tegasku dengan pandangan meyakinkan. Taganku menahan dadanya agar tidak mendekat lagi.
                            “aku tau”   
                            Tapi aku lebih senang jika kau menciumku tidak hanya seperti kondisi semalam saja.
                            “kau gila”
                            Minggir. Pintaku lagi dengan nada galak.
                            “haruskah selalu aku yang memaksamu duluan” desahnya tak suka
                            “tidak...”
                            Kau pangeran tergila yang pernah aku temui.
                            “kalu begitu cium aku” dia semakin mendekatiku.
                            “kau tidak bisa memaksaku” ancamku galak. Kau tidak akan pernah bisa.
                             “tentu saja aku bisa”
                             Dia tersenyum penuh kemenangan.
                            ”begini saja, kita buat kesepakatan”
                             Jika kau menciumku aku akan mengijinkan mu sekolah hari ini.
                            Aku menatapnya kesal. Curang sekali dia. Dia tau aku sangat ingin keluar istana dan ingin segera kembali masuk sekolah. Sekarang dia memberiku penawaran yang tidak adil.
                             “ kau jahat sekali” keluhku tak percaya
                             “terserah apa katamu”
                            Sekarang pikirkan lah sebelum aku berubah pikiran.
                            Pangeran riana menatapku dari jarak dekat penuh kemenangan. Aku ingin ke sekolah. Aku ingin main bersama elber dan juga bangsawan dalto. Pangeran riana tau itu dan dia memanfaatkannya. Tapi walau begitu aku memang ingin sekolah hari ini. Andaikan pun jika aku menolak ciumannya dia akan tetap memaksa menciumku dan aku tidak mendapat jaminan akan diperbolehkan keluar istana apalagi diperbolehkan sekolah.
                            “licil sekali” kataku menyerah
                            Pangeran riana seperti menyadari bahwa aku sudah memutuskan jawaban. Dia tampak puas membuatku berfikir menyerah.
                             Aku sedikit canggung saat dia mendekatkan wajahnya. Aku menyadari beberapa detik kemudian kalau dia menungguku menciumnya. Aku mencoba mendekatkan wajahku kearahnya. Tanpa diduga dia langsung menarikku ke pelukannya. Aku kaget dan langsung menepis. Pangeran riana tersenyum sinis dia nampak puas melihat reaksiku.
                            “bersiaplah kita akan berangkat kesekolah” katanya kemudian
                            “kau serius” ujarku masih tak percaya
                            “kalau kau tidak mau aku tidak akan memaksa”
                            “tidak-tidak, sambarku senang. Tunggu aku bersiap, kau tidak boleh meninggalkan aku”
                            Aku langsung berlari keluar kamar pangeran riana senang
                             “rena tolong bantu aku cepat”  teriak ku penuh kesenangan.

                            Kereta kuda memasuki gerbang sekolah, suasananya semakin ramai. Di lapangan yang luas sudah dibangun empat gerbang buatan masing-masing kerajaan yang akan mengikuti festival empat negara dengan konsep yang berbeda. Aku terpana saat melihat gerbang itu. Tidak percaya kalau gerbang itu dibangun sendiri oleh para bangsawan. Sangat indah dan menakjubkan.
                            “hay, putri yuki senang sekali bertemu denganmu”
                             Ujar bangsawan voldermon saat melihatku berjalan bersama pangeran riana. Aku langsung cemberut melihatnya. Bangsawan voldermon sedang membantu bangsawan xasfir membuat ukiran yang indah pada kayu, untuk menghias tandu kerajaan.

                             “Bagaimana rasanya tinggal di istana pangeran putri”
                             sangat menyenangkan bukan ?.
                            Rasanya aku ingin menonjoknya kali ini. Aku langsung melayangkan tatapan tak suka padanya, yang dia tanggapi dengan cengiran puas.
                            “bagaimana situasinya, apakah semuanya sesuai rencana”
                             Tanya pangeran riana. Seorang prajurit datang dan menyerahkan dokumen padanya.
                            “semua cukup terkendali” ujar bangsawan xasfir meyakinkan.
                            Aku menatap bangsawan xasfir kagum. Bagaiman dia bisa membuat ukiran seindah itu dengan jemari tangannya. Saat aku sedang mengamati bangsawan xasfir, tanpa sengaja aku melihat bangsawan dalto berjalan tak jauh dari tempatku berada.
                            Aku tidak percaya dengan penglihatanku. Benarkah itu dia. Aku hendak berlari ke arahnya untuk memastikan apakah itu benar dia, Namun tanganku lebih dulu dicekal oleh pangeran riana. Dia menatapku dengan tatapan dingin dan mengintimidasi ku untuk menuruti perkataannya.
                            “jika aku melihatmu bersama dalto ataupun sera, aku tidak akan segan-segan memulangkanmu kembali ke istanaku, dan memastikan kau tidak akan pernah bisa keluar lagi” ancamnya dingin, dengan nada suara yang tidak pernah aku sukai.
                            “sudah yuki, kemarilah dan bantu aku”
                            Ujar bangsawan xasfir menengahi. Dengan patuh aku duduk di samping bangsawan xasfir. Aku  tekuk lututkku didada menaruh daguku disana. Riana akan sangat menyebalkan jika kemauannya tidak dituruti. Bangsawan xasfir berbisik sambil menatap kearah pangeran riana yang sedang memeriksa dokumen yang baru diterimanya. Sesekali panheran bertanya pada prajurit yang dengan setia berdiri disampingnya.
                            “lebih baik kau menurut saja, jika tidak mau jadi tawanan lagi, ngomong-ngomong apa saja yang kalian lakukan selama berada diistan. Apakah telah terjadi sesuatu”
                             Tanya bangsawan voldermon sambil memfokuskan diri untuk merapikan ukiran yang dibuat bangsawan xasfir.
                            “apa yang kau pikirkan, kami tidak melakukan apa-apa” kataku kesal
                            “ohya, jika melihat kalian tadi, aku rasa telah terjadi sesuatu, walaupun belum jauh dari bayangan ku, menyenangkan bukan berciuman dengan riana”
                            “itu jauh lebih baik dari pada aku harus berciuman denganmu, bangsawan gila” kataku ketus.
                            “riana berbuat seperti itu karena dia tidak mau kehilanganmu”
                            Ujar bangsawan xasfir sambil tetap memfokuskan diri pada pekerjaan nya. Mungkin dia memang terlihat seenaknya, tapi dia seperti itu, sungguh untuk melindungimu yuki. Hanya saja dia tidak bisa mengungkapkannya dengan benar.
                            “apa mengurung orang diistana adalah termasuk kategori melindungi” Ujarku sengit pada bangsawan xasfir.
                            “aku mengenal riana dengan baik”
                            Kami semua tumbuh bersama semenjak kecil, dia memang dingin dan berlaku seenaknya terutama terhadap wanita, tapi denganmu.... kau boleh percaya, atau tidak percaya, bahkan riana sendiri tidak mau mengakuinya, tapi siapa saja yang melihat kalian berdua, akan tau bahwa sikapnya denganmu berbeda.
                             “aku tidak ingin mendengar apa-apa lagi tentang dia” gerutuku sambil menutup telinga.
                            “cobalah untuk memaghaminya” dia tidak seburuk dugaanmu.
                            “Riana tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu, dia hanya hidup dengan asuhan ibu pengasuh dan pelayan istana”
                            Walau memiliki ayah seorang raja sekalipun, tapi hubungan mereka tidak begitu bagus. Riana hidup dan mempelajari dunia ini sendirian. Posisinya sebagai putra mahkota pewaris tahta tunggal, membuatnya tidak bisa hidup damai sesuai dengan kata hatinya sendiri, dia harus mengikuti semua aturan kerajaan. Dia terus dituntut hidup seperti itu sampai kau muncul. Kau sangat berpengaruh dalam kehidupannya, seberapa besar dia berusaha menolak kehadiranmu, tapi dia tidak akan pernah bisa, karena kau memang ditakdirkan untuk masuk kedalam hidupnya.
                            Tapi akhir-akhir ini aku merasakan perubahan sikapnya lebih baik saat dia bersama denganmu. Sekarang dia bisa dikatakan lebih memanusiakan orang, semua itu terjadi karena kau yuki. Kau telah merubahnya...” kali ini bangsawan xasfir berbicara sambil menatap sosok pangeran riana yang sedang berbicara dengan prajuritnya.

                            “yuki”
                             Aku menoleh. Elber datang berlari menghampiriku. Dia mengenakan pakaian menarinya yang terbuka dan memaparkan bentuk tubuhnya yang sempurna.
                            “elber”
                            Aku berdiri dan langsung memeluknya senang.
                            “aku pikir aku tidak akan pernah bertemu dengan mu lagi yuki”
                            “aku juga berfikir begitu” Tapi aku rasa sekarang aku sedang beruntung. Aku bisa bertemu denganmu kembali.
                            “aku akan berlatih menari untuk pembukaan festival” kau mau ikut.
                            Aku menatap kearah bangsawan xasfir untuk meminta pendapat.
                            “bagaimana ini, aku sangat ingin bermain bersama temanku bangsawan xasfir”
                             Rengekku padanya. Asal kau tidak melanggar peraturan riana, aku rasa tidak masalah. Ujar bangsawan xasfir kalem.
                            “jika melanggar paling kau akan dikurung lagi”
                             Timpal bangsawan voldermon. Aku buru-buru mendorong elber menjauhi mereka, aku ingin bernafas lega sejenak dari pangeran riana dan teman bangsawannya. Walaupun artinya aku harus duduk manis menjadi penonton setia elber berlatih menari didalam kelas menari bersama beberapa putri.

                            Aku berjalan menuju lorong setelah berpamitan sejenak pada elber untuk ke kamar mandi. Tiba-tiba aku melihat sosok bangsawan dalto memasuki ruang musik yang saat ini kebetulan tidak ada siapapun. Aku mengedarkan pandangan kesekeliling, aman tidak ada orang yang mengawasi. Buru-buru aku masuk kedalam ruang musik mengikuti bangsawan dalto.
                            Saat aku masuk. Bangsawan dalto sedang merapikan alat musik kedalam tas. Aku langsung menghampirinya senang
                            “bangsawan dalto”  kau sudah sembuh. Kataku girang
                            “ya”
                             Bangsawan dalto menutup tasnya tanpa melihat kearahku sedikit pun. Lalu dia beranjak pergi. Aku dengan cekatan menarik bajunya, menghentikan langkahnya.
                            “Lepaskan aku”
                             Ujar bangsawan dalto masih tetap tidak mau menatap ku.
                            “kau marah padaku” tanyaku berhati-hati.
                            “tidak...”
                            “Lalu kenapa kau menghindariku dan tidak mau melihatku”
                             Tuntutku tak percaya. Jika aku salah aku minta maaf, tapi aku mohon kau jangan bersikap seperti ini padaku, kita bisa bicarakan dengan baik.
                            “yuki sebaiknya kita tidak usah berteman lagi”
                             Ujar bangsawan dalto berbalik menatapku dengan ekpresi muak. Berteman denganmu membuat hidupku menjadi jauh tidak baik. Maaf kau bisa pergi sekarang dan jangan pernah temui aku lagi.
                            Aku menatap bangsawan dalto tidak percaya dengan pendengaranku barusan.
                            “tidak mungkin, kau tidak mungkin begitu”
                            Ada apa, apa yang terjadi tolong katakan padaku. Kau tidak bisa berlaku seperti itu padaku. Kita akan terus berteman sampai kapanpun, tidak peduli orang lain berusaha merusak pertemanan kita. Aku berjanji padamu, aku akan tetap mempertahankan pertemanan kita, jadi kau tidak perlu berkata seperti tadi padaku.
                            “aku sudah bilang tidak ingin berteman lagi denganmu, apa kau tidak dengar”
                            Teriak bangsawan dalto marah. Kau pikir kau ini siapa, kau harus tau, berteman denganmu membuat hidupku semakin tersiksa. Jadi sekarang cukup yuki pertemanan kita sampai disini saja. Pergilah dan anggap kita tidak pernah saling mengenal.
                            “aku tidak mau”
                            Aku menggeleng, air mataku berkaca-kaca tidak terima dengan putusan bangsawan dalto.
                            “terserah..”
                             Bangsawan dalto menepis tanganku kasar, kemudian berjalan pergi tanpa sedikit pun berbalik melihatku. Aku diam terpaku ditempat. Masih tidak percaya dengan perkataanya, aku merasa disambar petir disiang bolong. Aku tidak mau kehilangannya, aku sangat menyayangi nya, dan ironisnya baru aku sadari setelah aku kehilangannya. Aku selalu ingin berada didekatnya, menghabiskan waktu di pondok tengah hutan berdua yang disaksikan oleh tanaman mawar yang ditanamnya.

                           
                            Semenjak kejadian diruang musik itu, bangsawan dalto benar-benar menyakinkan perkataannya. Dia mengangapku tidak ada, dan berusaha tidak pernah mengenaliku sebelumnya. Aku semakin merana oleh sikapnya. Tapi aku selalu berusaha mencari tau alasannya, kenapa dia menghindariku dan bersikap dingin padaku. Namun semakin aku mengejarnya semakin kuat dia menolak ku.
                            Elber menghampiriku yang duduk melamun diujung bangku, menyaksikan para putri berlatih menari dengan koreografi yang memukau.
                            “ini...”
                            Ujarku memberikan handuk kecil padanya untuk mengelap keringat yang menetes akibat gerakan menari. Elber langsung menerimanya senang. Elber duduk disampingku, meluruskan kakinya untuk memulihkan kembali otot-otot yang kaku karena terus-terusan berlatih menari.
                            “jadi bangsawan dalto masih menghindarimu ?..”
                             Tanya elber saat melihat ku hanya diam melamun.
                            Aku mengaguk lemas “aku sudah berusaha meminta penjelasan padanya. Namun hasilnya nihil” ujarku sedih.
                               “lohh..lohhhh. kenapa dia ada disini, dia kan tidak terpilih untuk menari“
                            Ujar putri norah didekat kami. Entah sejak kapan dia dan teman-temannya berada disini. Aku menatap putri norah muak. Aku dengar tadi pagi dia dan teman-temannya membuang semua bunga mawar milik bangsawan dalto yang dibawanya ke kolam dan menyiram bangsawan dalto dengan sampah basah.
                            Putri norah menatapku dengan tatapan jijik, elber memegang tanganku untuk menenangkan aku.
                            “tidak ada yang melarang siapapun menonton latihan menari kita norah” ujar elber berusaha membelaku.

                            “Memang tidak ada”
                            Tapi aku hanya kasihan melihatnya, bagaimana ya. Mungkin dia sangat ingin menari tapi semua orang tau, jika putri Raynszah ibunya adalah penari terburuk diNegeri ini. Ujar purti norah puas dengan ketawa yang membahana. Aku bisa tahan jika mereka mengejekku, tapi aku tidak tahan jika mereka mengejek mamaku atau siapapun yang aku sayangi. Terlebih hinaan itu aku saksikan langsung dihadapanku.
                            “Buah tidak jatuh dari pohonnya”
                             Ujar bangsawan Dolderes, bangsawan bertubuh gemuk yang selalu menyakiti secara fisik bangsawan dalto disekolah.
                            Teman-teman putri norah tertawa mengejek, mendengar seloroh mereka aku menghela nafas panjang. Menahan emosi.
                            “hay, bagaimana kalau kita bertanding menari
                             Ujarku menantang. Serentak tawa mereka berhenti. Elber melotot tak percaya mendengar perkataanku.
                            “kau menantangku”  tanya putri norah ragu tapi penuh ejekan.
                            “ya..”
                             Jika aku menang kalian harus meminta maaf padaku karena telah mengejek ibuku dan berjanji tidak akan pernah mengganggu bangsawan dalto lagi, jika kau tidak menepati janji kau dan teman-temanmu harus mencium 1000 kambing di halaman sekolah.
                            “tapi jika aku yang menang, kau harus menjadi budak kami. Bagaimana..?”  tanya putri norah penuh kesombongan.
                            “aku mengangguk setuju”
                            “ayo teman-teman kita bersiap, sebentar lagi kita akan punya budak baru “ ujar putri yasfa senang di ikuti riuhan teman-temannya.
                            “selepas makan siang kita akan bertanding”
                             Persiapkan dirimu sebaik mungkin putri yuki, walaupun nantinya kau akan kalah dariku. Ujar putri norah sembari berlalu pergi dari hadapanku.

                            “ yuki kau gila”
                             Ujar elber tak percaya. Kau tau siapa norah, dia adalah putri yang berhasil memenangkan lomba menari antar sekolah dau tahun berturut-turut  dia penari terbaik di negeri ini yuki, dan sekarang kau malah menantangnya dengan kosekunsi taruhan seperti itu. Apa yang kau pikirkan kau yuki, kau akan mendapat masalah besar.
                            Aku berdiri cuek, menatap kepergian putri norah dan teman-temannya, yang menghilang di belokan. Cepat bantu aku bersiap-siap elber, aku pinjam baju menarimu.
                            Aku berjalan menuju ruang berpakaian. Elber mengikutiku dari belakang, dia memprotes semua kegilaanku.
                            “kau gila, benar-benar gila yuki”
                             Bahkan aku saja tidak pernah melihatmu menari dipelajaran menari. Apa yang sebenarnya penyebab kegilaan mu ini. Bisa-bisanya kau menantang Norah.
                            “tenanglah elber” jangan mendramalisir masalah.
                           “bagaimana aku bisa tenang” Aku akan mengadukan ini pada pangeran riana.
                            Aku langsung melototi elber dengan pandangan marah. 
                            “jadi kau tidak mempercayaiku”
                            “tidak dengan kegilaanmu kali ini” aku tidak akan bertaruh jika aku tidak yakin bisa menang.
                            “pangeran riana tidak akan menyukai ini”
                            “aku janji, aku tidak akan melibatkanmu dalam hukuman ku nanti”
                            Janjiku sungguh-sungguh. Elber mendesah pasrah, dia membuka pintu berpakaian menatapku dengan pandangan menyerah.
                            “janji...”
                            “ ya, aku janji”
                            Aku dan elber berada dibelakang panggung, aku menutupi tubuhku dengan kain panjang. Menyesal kenapa aku tidak menyimpan pakaian menariku, sebab pakaian menari yang aku pinjam dari elber tidak sesuai dengan seleraku. Elber cenderung memilih pakaian menari dengan tampilan seksi.
                            “Elber kau yakin tidak ada pakaian yang lebih tertutup”
                            “kau kira pakaian menari itu seperti apa” tegas elber
                            “tapi masalahnya”
                             Apa aku harus mengenakan baju ini dihadapan banyak orang seperti itu. Dan astaga, kenapa ramai sekali. Ini kan hanya taruhan biasa.
                            “Mereka memiliki kesempatan untuk mempermalukanmu yuki”
                             Karena itu mereka mengubah tempat pertandingan diaula menari dan mengumumkannya secara umum, sehingga banyak yang akan datang menyaksikan pertandingan ini. Ujar elber.
                            Putri norah sudah berdiri di tengah aula dengan sikap angkuh. Dia mengenakan pakaian yang terbuka, lebih parah dari pada pakaian menari yang aku kenakan saat ini. Bentuk tubuhnya sangat indah, aku jadi tidak percaya diri dengan bentuk tubuhku yang seperti ini.
                            “kalau kau kalah, kau habis”
                             Ujar elber mengingatkan. Kami mengintip dari balik tirai panggung. Menatap keramaian di depan sana. Ternyata di sana ada raja, selain raja juga ada beberapa tetua yang kebetulan berkunjung ke sekolah, berita pertandingan ini sepertinya memang disebar luaskan, terbukti banyak tamu dari kerajaan yang hadir untuk menyaksikan, termasuk pangeran sera. Wajah pangeran sera terlihat masam tidak bersahabat dari kejauhan. Terlihat juga bangsawan voldermon duduk di barisan depan bersama bangsawan xasfir, dia terlihat antusias menyaksikan pertandingan ini aku rasa.
                            “kau tau, kataku menyengir”
                            Masalah besarku bukanlah hasil pertandingan kali ini, tapi apa yang akan terjadi setelah akhir pertandingan ini. Aku menunjuk kearah pangeran riana yang berwajah dingin dengan sorot mata siap membunuh. Dari ekpresinya aku tau, seberapa besar masalah yang akan aku tanggung setelah usai pertandingan ini. Keluhku pada elber yang juga ketakutan setelah melihatnya.
                            “aku kan sudah mengingatkanmu sebelumnya yuki”
                            Musik berkumandang, sorak-sorak riuh mengiringi kemunculan putri norah dari balik tirai.
                            “sudah waktunya”
                            Elber mengambil kain yang tadi aku pergunakan untuk menutupi tubuhku. Dan tanpa peringatan dia mendorongku masuk kedalam panggung. Aku hampir saja terjatuh jika tidak berpegangan pada tirai panggung di sampingku.
                            “elber, kataku marah”
                            “maaf.. maaf...”
                            Aku malu, tapi aku berusaha menutupi rasa maluku itu. Aku maju ketengah panggung berdiri dengan jarak dua depa dari putri norah. Nyonya Almison, guru menari di kelas kami, memberikan kami masing-masing dua buah kipas yang dipergunakan untuk menari.
                            “Apa kalian sudah siap? “
                            Tanya nyonya almison sambil mengecek persiapan kami masing-masing.
                            “ ya, tentu saja” Jawabku dengan gugup.
                            Peraturannya adalah siapa yang lebih dulu terjatuh  atau menjatuhkan kipas, dia lah yang kalah. Apa kalian mengerti, papar nyonya almison sekali lagi.
                            Saat itulah pintu terbuka semakin lebar, bangsawan dalto masuk ke dalam aula. Dia berdiri disamping pintu, dalam kegelapan.
                            “putri yuki”
                            Tegur nyonya almison menarik perhatianku kembali padanya. Aku mengganggup mantap, meyakinkan diri untuk siap.
                            “aku mengerti “
                            Nyonya almison mundur, kemudian musik dimainkan. Aku yang terpaku dengan kedatangan bangsawan dalto tidak bisa berkonsentrasi. Putri norah sudah lebih dulu menari. Tarian ini adalah tarian yang sulit di lakukan. Gerakannya harus lincah, dengan musik yang cepat dan juga harus memperhatikan irama kaki. Lenggokan tubuh dan permainan kipas harus benar-benar di perhatikan dengan jeli. Membutuhkan konsentrasi penuh untuk melakukan tarian ini. Elber mengatakan dia saja belum menguasai tarian ini walaupun sudah belajar tiga tahun lebih.
                            Aku mperhatikan gerakan putri norah yang mantap dan anggun tidak peduli bisikan orang yang melihatku, aku hanya diam diatas panggung padahal musik sudah dimainkan. Kemudian aku menatap ke arah bangsawan dalto sekali lagi yang masih bersandar disamping pintu, bersedakap menatapku.
                            Walaupun dia membenciku sekarang dan tidak ingin berteman denganku lagi, namun aku tidak pernah membencinya aku akan tetap menyayanginya. Aku melakukan ini untuk dia. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuknya, sebagai teman , sebagai sehabat, sebagai orang yang mencintainya. Aku sadar, perasaanku padanya bukan lagi perasaan seorang teman saat dia jauh dariku. Aku mencintainya. Sama seperti seorang wanita yang mencintai seorang pria. Belum terlalu dalam namun sudah cukup menyesakkan.
                            Aku merentangkan tanganku, lalu menari mengikuti irama musik. Sebenarnya salah besar jika putri norah memilih lagu ini. Karena aku sudah sering menarikannya semenjak usiaku lima tahun. Mama memang bukan penari yang baik, tapi bibi shera, dialah yang mengajariku latihan menari, aku juga diikutsertakan Les menari balet modern, mama langsung memarahi aku, jika aku kedapatan membolos dari tempat Les. Demi hari ini, jika ada yang menantangku menari maka aku bisa menunjukan pada semua orang. Bahwa aku yuki anak dari putri raynszah bisa menari dengan baik.
                            Mungkin karena terkejut melihatku mampu mengimbangi gerakannya. Putri norah tanpa sengaja kehilangan keseimbangan dan menjatuhkan kipasnya. Secara otomatis dia telah kalah. Suara riuh terdengar membahana. Aku terus menari, tidak peduli jika dia telah berhenti menari. Dengan sigap aku mengambil kipasnya yang terjatuh dan memainkannya. Aku menari dengan tiga kipas sekaligus sekarang. Bangsawan voldermon tampak melongo saat melihatku menari. Dari ekpresi wajahnya dia tampak puas dan bangga padaku. Musik berakhir. Aku memberi hormat pada semua yang menonton pertandingan. Tepukan riuh membahana. Badanku basah oleh keringat. Namun aku sangat puas.
                            Elber memeluk ku senang“ hebat, kau hebat yuki. Kau bahkan mampu menari dengan tiga kipas sekaligus. Itu sangat sulit ku lakukan “ katanya girang”
                            “sudah ku bilang jangan meremehkan aku”
                            Aku mengedipkan mata manja padanya. Aku memakai kembali kain yang diberikan elber untuk menutupi tubuhku. Lalu menghampiri putri norah yang kesal.
                            “aku pemenangnya”
                            Jadi sesuai kesepakatan. Kau sudah tau apa yang harus kau lakukan.  kataku puas.
                            Putri norah dan teman-temannya menghentakan kaki kesal, lalu pergi menuju belakang panggung. Aku menatap kearah bangsawan dalto, namun dia sudah tidak ada ditempatnya tadi.
                            Setelah itu seperti yang aku duga. Pangera riana memerintahkan dua orang prajurit untuk mengawalku berganti pakaian dan segera mengantarkan aku kembali ketempatnya. Aku sudah siap dengan semua kosekuensi akibat tindakanku ini. Aku berjalan di lorong yang sepi. Mungkin karena asyiknya melamun aku sampai tidak  menyadari jika ada seseorang yang berdiri didepanku. Menghalangi langkahku.
                            “ pangeran sera” aku menatapnya kaget.
                            Aku lantas segera memberi mormat padanya. Kedua prajurit masih terus mengikuti aku dengan jarak yang lebih dekat, mereka seolah memasang sikap waspada mengingat kejadian tempo hari pangeran sera dan pangeran riana terlibat berkelahian, karena aku.
                            Aku menunduk tidak berani menatap pangeran sera. Dia tetap berdiri menghalangi langkahku. Apa dia marah padaku. Pasti dia marah, sebab karena aku dia mendapat masalah, bahkan dia jadi terluka akibat pukulan pangeran riana.
                            “apa kabar bagaimana keadaan pangeran”
                            Maksudku..maaf waktu itu aku...Aku tidak tau apa yang bisa kukatakan untuk memecahkan keheningan ini.

                            “maukah kau berjanji padaku”
                            Tanya pangeran sera dengan suara lembutnya. Aku mendongak, menatapnya bingung.
                            “ya..”
                            “jangan menari seperti itu lagi dihadapan banyak orang”
                            “aku diam sejenak. Apa tarianku jelek”
                             Aku tau, aku tidak bisa menari sebagus bibi shera, tapi aku sudah berusaha maksimal.
                             Pangeran sera menghela nafas panjan. Dia mengusap keringat yang mengalir di pelipisku. Membuat dua penjaga semakin waspada.
                            “Bukannya tarianmu yang jelek yuki”
                             Kau sangat pandai menari. Tapi aku tidak suka membayangkan apa yang ada difikirkan para lelaki yang menyaksikanmu menari, apa lagi dengan pakaian yang kau kenakan menari tadi.
                            “ehh..”
                            “aku juga laki-laki yuki”
                            Aku tau apa yang mereka Fikirkan. Jadi berjanjilah kau tidak akan menari seperti itu lagi. Kau mengerti kan.
                            Aku mengangukan kepala.
                            “maaf pangern, kami harus segera membawa putri yuki pergi”
                            Ujar seorang prajurit penjagaku menimpali pembicaraan kami. Pangeran sera menggeser posisinya. Aku memberi hormat lagi padanya.
                            “yuki..”
                             Aku baru akan berjalan, saat pangeran sera menggenggam pergelangan tanganku. Menghentikan langkahku. Kutatap dia bingung. Pangeran sera  mengeluarkan sesuatu dari kantongnya dan langsung memberikannya padaku. Sebuah kotak kecil berwana merah hati.
                              “selamat ulang tahun yuki, sekarang kau sudah menjadi wanita dewasa”
                            “ehh..”
                            Pangeran sera tersenyum, dia mengusap poni rambutku lembut. Kau selalu melupakan hari ulang tahun sendiri.
                            Aku berusa mengingat apakah benar hari ini aku berulang tahun. Dan tarnyata memang benar, aku ulang tahun.
                            “Astaga kenapa aku bisa melupakannya” Terimakasih pangeran, kataku senang.
                            “pangeran sera. Maaf putri yuki harus segera pergi“ desak prajurit penjaga lagi.
                            “pergilah, ujar pangeran sera lembut”
                            Aku menganggukan kepala. Aku berjalan cepat hingga sosok pangeran sera sudah tidak lagi terlihat. Saking penasarannya aku mengintip isi kotak pemberian pangeran sera.
                            Jepit ramput berbentuk kupu-kupu yang sayapnya bisa bergerak jika tertiup angin. Terbuat dari batu permata yang tersusun sangat indah, didominasi warna biru laut yang sama dengan warna mata pangeran sera.
                            Tidak mungkin, bagaimana bisa. Aku menatap jepit itu terpukau. Aku memang sejak dari dulu menginginkan jepitan seperti ini, dan sudah lama sekali aku berusaha mencarinya kemana-mana saat masih tinggal di duniaku sana, tapi hasilnya Nihil. Bagimana bisa pangeran sera mengetahuinya, padahal aku tiidak pernah memberitahukan padanya atau kepada siapapun di dunia ini. Apa ini yang dinamakan kebetulan, tapi tidak mungkin rasanya jika ini suatu hal yang kebetulan.
                            Lalu kalau begitu bagaiman caranya pangeran sera juga mengetahui hari ulang tahunku, padahal aku tidak pernah memberi taunya, bahkan aku sendiri sempat lupa jika sekarang aku berulang tahun.

                            Aku selesai berganti baju dan mempersiapkan diri menerima kemungkinan terburuk dari pangeran riana. Aku tidak lagi bisa menunda hukuman yang akan dilayangkan pangeran riana untukku. Hampir satu jam aku berada diruang berpakaian ini, aku timang jepitan pemberian pangeran sera ditangan,  sebelum akhirnya aku putuskan untuk memakainya. Perasaan ku terasa nyaman setelah memakai jepitan ini. Aku harus berterima kasih pada pangeran sera.
                            Aku berjalan menuju gerbang istana buatan kerajaan Argueda. Pangeran riana sedang berdiskusi dengan para bangsawan mengenai pembuatan gerbang, saat aku datang. Aku memutuskan untuk tidak mengganggunya dan memilih duduk di atas peti dekat dengan bangsawan asry.
                            “jepit rambutmu bagus yuki”
                            Ujar bangsawan asry sambil memegang jepit kupu-kupu yang mengepakan sayapnya begitu tertiup angin. Aku tersenyum senang atas pujiannya.
                            “terima kasih, bagus kan..”
                            “pasti harganya sangat mahal”
                            “bukannya ini hanya jepitan rambut biasa” tanyaku bingung.
                            “memang itu hanya jepit rambut biasa” namun batu permata yang menghiasi itu yang membuatnya tidak biasa.
                            “apa..” kataku kaget
                            “memangnya kau tidak tau yuki”
                            Harganya cukup untuk membangun sebuah rumah mewah, bangsawan asry menatapku tak percaya.
                            Aku menatap bayangan diriku di cermin yang tergeletak didekat kami. Tidak mungkin, ini hanya jepitan rambut biasa. Aku menegaskan diriku sendiri. Yang benar saja pangeran sera memberikan aku hadiah semahal ini.
                            “aku mendapatkannya hari ini”
                             Sebagai hadiah ualang tahunku. Aku bahkan tidak tau kalau harganya semahal itu.
                            “ kau berulang tahun hari ini”
                            “ya”
                             Jawabku masih kebingungan, bayangan jepitan yang aku kenakan terlihat jelas di cermin dan baru menyakinkan aku, kalau ini bukan jepitan rambut biasa, kilau yang menawan serta percikan sinar batu permata yang membelangakan mataku. Sangat meyakinkan jika harganya mahal.
                            “benarkah itu..”
                            Aku berbalik setelah mendengar jeritan orang tak percaya di dekatku, suaranya tidak asing lagi di telingaku. Dan benar saja bangsawan voldermon. Dia tampak schok saat mendengar paparanku jika hari ini aku berulang tahun.
                            Pangeran riana yang mendengar ceritannya, berjalan mendekat.
                            “Kau berulang tahun hari ini”
                            “riana kita harus merayakannya” celetuk bangsawan voldermon
                            “apa, tidak perlu, aku tidak mau di rayakan” kataku kaget.
                            “tidak bisa”
                             Sekarang kau sudah berusia enam belas tahun. Kau sudah dianggap wanita dewasa. Dan secara hukum kerajaan kau sudah boleh di Nikahi. Jadi bagaimana mungkin kita tidak merayakannya.
                            “kau jangan bicara sembarangan, bangsawan gila”
                             Celetukku pada bangsawan voldermon. Umurku baru enam belas tahun, jadi bagaimana mungkin aku sudah dibolehkan untuk menikah. Aku masih terlalu muda, lagi pula aku juga tidak ingin buru-buru menikah.
                            “riana dia sudah aman”
                            Kau tidak perlu segan lagi sekarang, bangsawan voldermon masih saja mengompori pangeran riana. Dan hal itu membuat aku semakin  panik.
                            “jangan bicara sembarangan lagi”
                             Pangeran riana bukan orang seperti itu, dia tidak akan melakukannya, aku berusaha meyakinkan diriku sendiri dengan serangkaian ucapan bangsawan voldermon.

                            “siapa bilang”
                            Jika aku melihat tanda-tanda yang tidak menyenangkan darimu. Atau kau kepergok sedang bersama lelaki lain. Aku tidak akan segan langsung menikahimu dengan paksa. Agar kau hanya bisa menjadi milikku.
                            Aku terpaku mendengar perkataan pangeran riana, dia berkata serius. Sepontan aku menggeser posisi dudukku menjauhi pangeran riana yang berdiri disampingku.
                            “kau penjahat wanita” ujarku tegas.
                            Bangsawan vordermon dan bagsawan asry tertawa. Begitu mendengar makianku pada pangeran riana.
                            “pokoknya malam ini kau harus meneraktir kami riana” celoteh bangsawan voldermon tak mau kalah.
                            “tidak perlu”
                            Kau tidak perlu memanfaatkan aku, untuk menuruti kesenanganmu. Aku tidak suka pesta. Kau bisa merayaan hari ulang tahun wanita lain yang kebetulan juga berulang tahun hari ini. Kau juga bisa meminta pangeran riana untuk membuatkan pesta perayaan untuknya dan juga untukmu. Kataku kesal dengan nada tinggi.
                             “kami tidak dengar apa yang barusan kau katakan putri yuki”
                             Timbal bangsawan asry setengh menggodaku.
                            “bangsawan asry” aku merengut marah
                            “pangeran riana, putri yuki”
                             Seorang prajurit datang menghampiri kami dengan sikap terburu-buru. Maaf mengganggu, yang mulia memerintahkan agar pangeran dan putri yuki segera kembali ke istana.
                           
                           




                            Bersambung… ingin tahu kelanjutannya hubungi fileski21@gmail.com / wa 628888710313





#novel #NOVEL

SHARE :
CB Blogger
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Official © 2018 NegeriKertasCom. Email: nkertas@gmail.com | WA 628888710313
NEGERIKERTAS COM