005

header ads

Sosok Inspiratif: Indah Sui Sien Permatasari



Indah Sui Sien Permatasari
Pangkalpinang, Bangka Belitung


Indah Permatasari, lahir dari pasangan suami istri Juprai Syahro dan Rosna di Pangkalpinang Bangkabelitung, pada tanggal 25 Desember 1991. Merupakan anak pulau, keturunan Palembang dan Bangkabelitung. Anak bungsu dari tujuh bersaudara empat lelaki dan tiga perempuan( Juhairia, Rohaini, Muhlis, Eeng, Ujang Sandika) dimana kakak lelaki tertua meninggal ketika baru lahir. Agama Islam, walaupun kakak lelaki ke empat menikah dengan keturunan chinese tetapi  alhamdulillah sudah mualaf sang kakak ipar tercinta beserta keturunanya.


Mengenyam pendidikan TK dan sekolah dasar di SDN 457 Airgegas Bangka Selatan pada tahun 1996 sampai lulus dengan nilai tertinggi dari empat kelas tahun 2003. Selepas dari sekolah dasar melanjutkan kejenjang pendidikan menengah pertama di SMPN 1 Kota Madya Pangkalpinang, lulus tahun 2006. Melanjutkan pendidikan menegah atas dengan memilih Kejuruan pada bidang Pariwisata Akomondasi Perhotelan (Ap1) , lulus dengan nilai tertinggi dari empat kelas tahun 2009.


Setelah lulus sekolah kejuruan dan sebelumnya sempat PKL (Praktek kerja lapangan) di The Acacia Hotel Jakarta selama tiga bulan pada tahun 2007 tetap saja saat lulus tidak langsung melanjutkan ke perguruan tinggi, Maksud hati ingin merasakan mencoba bekerja dan kalaupun kuliah ingin menentukan tempat yang sudah lama diimpikan Yaitu Perguruan tinggi Universitas Indonesia.tetapi sampai  saat ini tidak terlaksana. akhirnya pada tahun yang sama yaitu 2009 sudah diterima kerja di sebuah hotel dikota kelahiran dan pada tahun itu juga untuk pertama kalinya bertemu dengan orang orang hebat dalam pertemuan TSI ll (Temu sastrawan indonesia ll) sebagai panitia sekaligus pesertanya.Sejak itu aktiflah saya dalam kegiatan sastra.


Awal Menulis Dan Proses Kreatif


Dimulai dari hoby saya membaca, karena memang pada saat kecil hingga kelas dua sekolah dasar saya baru bisa membaca. jadi saat bisa membaca apapun saya baca dari mulai buku cerita, bungkus makanan atau bungkus detergen saya baca. Ketika kecil orangtua merupakan petani sahang(lada) sebagian besar penduduk Bangkabelitung mengandalkan hasil kebun sahang ketika itulah saya sering ikut orangtua untuk kekebun, taklupa buku buku sekolah kakak yang bertumpuk saya selipkan untuk dibawa ke kebun, biasa saya baca saat lelah berpetualang di kebun.


Masih sangat belia untuk mengerti paham isi bacaan tapi saya suka. diantara buku cerita banyak sekali karya Sastrawan besar yang saya baca diantaranya karya Nh.Dini, karya Rahmat Ali, Hamsad Rangkuti dan Ajip Rosidi masih banyak lagi, maaf saya terlupa. merupakan buku langka pada zaman sekarang. Ketika sekolah dasar pula sang Ibu guru mengajarkan untuk setiap murid menulis Diary sepulang sekolah, apa saja yang dikerjakan, harus ditulis dan diceritakan keesokan harinya. Itu saat kelas empat, membuat saya hoby untuk menulis diary, puisi dan cerpen pribadi.


Tidak punya bakat untuk menulis hingga suatu saat sekolah menengah pertama dalam pelajaran bahasa indonesia suka melanjutkan cerpen pada soal soal ujian dan membuat puisi. sangat tertarik pada pelajaran bahasa Indonesia hingga bernilai bagus dan mulai mengirimkan puisi ketika ada lomba tetapi tidak pernah menang, tidak pernah memikirkan menang atau kalah karena menulis memang bagian tantagan yang berat saat itu. mulai suka maju ketika membacakan puisi didepan kelas. Memang tidak dipungkiri antara membaca dan menulis itu berkesinambungan, jikalau saya tak suka membaca tak akan pernah suka untuk menulis.


Hingga masuk di sekolah kejuruan merasa lebih bebas berkreasi lagi karena memang dasar pariwisata, ketika sekolah ini saya sudah mulai menulis puisi dan cerpen. disela belajar terkadang saya isi dengan membuat cerita drama biasa dipakai ketika pementasan akhir tahun dan sayapun ikut berakting dalam dramanya. dari sini saya selalu dekat dengan guru bahasa Indonesia dari mulai SD, SMP dibimbing Ibu Laila Asmara, dan ketika SMK dibimbing Pak Junaidi dan Bu Asma, beliau beliaulah yang selalu memuji hasil karya saya atau jawaban dari ujian yang ada. terkadang ikut memberanikan diri mengikuti lomba membacakan puisi yang diadakan Dinas Pariwisata juga. walaupun tak pernah menang tapi pengalaman yang membuat saya semangkin tahu proses dalam berkarya.


Masih ketika SMK saya ikut penyiaran di Radio kota setempat ketika malam malam saya harus keluar demi mengudarakan hasil puisi saya dan menjawab beberapa pertanyaan seputar puisi juga. disini saya merasa begitu indahnya puisi karena memang program puisi Islami yang harus dibacakan dan saya buat. Hari berganti minggu dan bulan semangkin banyak karya yang saya buat namun cuma beberapa yang saya kirim ke media. hari hari tidak hanya bersekolah terkadang ikut pementasan tari Bangka, Ikut membaca pantun dan pernah diajak menjadi juri puisi dan ajang tarik suara. dari sini juga mulai banyak kenal dengan senior sastrawan Mulai dari, Saad toyib( pemantun), Ian Sancin (novelis), Sunlie thomas Alexander ( Cerpenis). Hingga dikemudian beliau beliau inilah yang menjadi sahabat dalam banyak pertanyaan. Terimakasih saya ucapakan atas berkenanya sudah saya anggap sebagai orangtua sekaligus saudara.


Pada tahun 2009 keberuntugan berpihak pada saya walaupun tidak punya karya besar saya diajak untuk menjadi panitia sekaligus peserta TSI ll (temu sastrawan Indonesia ll) Bangkabelitung. saat itu tepat kelulusan sekolah kejuruan saya. dari sinilah lahir nama Indah Sui Sien/ Sui Sien yang diberikan oleh Penulis Sunlie Thomas Alexander dalam karyanya Malam Buta Yin berjudul Sui Sien. bertemu dengan Sastrawan yang sempat saya baca karya karyanya ketika kecil seperti Rahmat Ali dan Hamsad Rangkuti membuat saya semangat lagi.


Tahun 2009 akhir saya hijrah ke Jakarta disini saya bekerja di Kantor pusat sebuah perbelanjaan terbesar di Indonesia, sama sekali tak ada hubungan dengan proses menulis selama di Jakarta saya cuma aktif ikut menyaksikan pertunjukan pertunjukan teater di TIM (taman ismail marzuki) bersama senior sastrawan Irmansyah. terkadang juga menyambagi Planet senen. Ternyata jodoh saya di Ibukota, menikah pada 09  Oktober 2010, dengan Seorang jejaka asli Bogor yang bernama, Jarot firdaus. kemudian menetap di Kota hujan Bogor sampai putra pertama kami Jibran Mahar Firdaus lahir pada 22 Oktober 2011. dan pulang kampung halaman tahun 2012 akhir.


Sekarang sebagai Ibu rumah tangga satu putra, sesekali ikut mengisi beberapa Buku Antologi himbauan dari Senior sastrawan Bambang eka Prasetya
Diantaranya;
Merangkai Damai, Antologi puisi 149 Penyair Nusaantara, karya Nitramaya Magelang
Bunga Putra Bangsa, Antologi Puisi 70 Penyair Nusantara, karya Nitramaya Magelang
sebagian buku disumbangkan pada perpustakaan kota
Cerpen
Two jilbabers
Lelaki alun alun
(Koran Metropos)
Puisi
Kuatkanlah kami
Gubuk tepain paantai
(Bangkapos)
Dewi Banyu tahap penerbitan karya Rahmat Ali, narasumber cerita saya sendiri, mohon doanya


Jika ingin lebih kenal bisa melalui akun fb; permatasariindah32@yahoo.co.id/ Indah Sui Sien
gmail; ip436334@gmail.com/ Indah Permata
Pin;5b1b3501/ 081918990449


Dimanapun berada rumah orangtua tempat tertawa_Sastra tak Pernah Mati

  

Posting Komentar

0 Komentar