5 Puisi Terbaik Karya :Pulo Lasman Simanjuntak - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis cerpen atau puisi untuk memperebutkan Anugerah Kesaktian Pancasila. Deadline 1 Oktober 2022 | Kirim ke email nkertas@gmail.com

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

12 Sep 2022

5 Puisi Terbaik Karya :Pulo Lasman Simanjuntak

 5 Puisi Terbaik

 

Karya  :Pulo Lasman Simanjuntak

 

TUNTAS

 

duka siapa mau menyergap di rimba kamarmu yang purba- tak pernah berkelamin dengan matahari pagi

 

hanya sepotong roti tua disuguhkan pria perkasa bersenjatakan roh ketakutan digelar di meja judi tertangkap angin jahat pada tiap dinihari

 

kini kita saling menjaga jarak- ruang dan waktu tak pernah lagi saling bertemu kadang kita masih rindu menulis berita tentang kapal digital, samudera raya, dan air laut yang merembes sampai ke penjara di benua orang-orang mabuk kekayaan

 

sekarang tersisa hanya doa berdarah saudara- bersaudara sejam masa kanak-kanak

rasa sesal mengapa dulu kita tak lagi rajin berenang di sungai membusuk depan rumah

 

atau menghitung sejumlah perkawinan retak mulai dari pewarta muda, pujangga teler sampai perwira mualim yang sempat terjebak mengurai kesepian di rumah bordil

 

Jakarta, Jumat 15 Juli 2022

 

IBADAH TANAH MERAH

 

dimulai dari kecemasan yang terus membara kuhitung waktu di bawah matahari semua sia-sia kekayaan di bumi sodom dan gomora

 

diperlihatkan jelang pagi iring-iringan menembus paru-paru kota kawan di sebelahku tak lagi pandai bercerita

 

tiba di sini tak ada lagi tangisan makin gemuk kugali lobang beton tergesa-gesa

nyaris membentuk sebuah koor kematian dan penderitaan

 

Jakarta, Minggu 17 Juli 2022

 

MENULIS PUISI TANPA MEZBAH PAGI 

 

menulisi puisi tanpa mezbah pagi

bersama permaisuri mati suri

larik puisi ini ternyata masih membutuhkan seribu ton beras impor

yang tersimpan dalam kompor 

 

 menulis puisi tanpa mezbah pagi

bersama perkawinan kurus kering kerontang

bait puisi ini ternyata masih membutuhkan tiupan daun-daun migas

tersembur liar dari cuaca  makin panas 

 

lalu kemanakah penyair usia senja  ini mau bercerita

gadai gitar yang bisa bernyanyi  rock n roll dengan perut lapar

pinjaman oline yang bertebaran dalam

paru-parunya  yang lumpuh setengah badan

ataukah kupilih terus menulis puisi

tanpa matahari risih

tanpa sungai mati

tanpa laut berombak kisruh

tanpa kuburan

dengan kain kafan kejang-kejang 

 

masihkah iman ini kuat

ditusuk bertubi-tubi

dengan jutaan jarum kebenaran 

 

Jakarta, Senin 22 Agustus 2022 

 

MATI SURI 

 

obrolan petang ini telah jadi

kesaksian pendek

mengapa matahari kian kurus kering

langit biru melahirkan tulang belulang ditiup angin kemarau kehabisan nafas alam semesta 

 

“aku butuh dokter kulit untuk suntikkan vitamin dosis liar

sebab sindirin ini telah membuat mimpiku semakin jauh dari rumah tanpa suara paranabi ,” katamu seraya malas menyantap makanan najis di atas meja makan 

 

sudahlah, kataku

mari kita bersetubuh di ranjang kolam ikan itu

agar tubuhmu makin gemuk

serta dapat membuang pikiran-pikiran yang membatu 

 

jangan lagi taruh pisau tajam

di ujung bibirmu yang kian menyusut karena dilindas penyakit katarak menahun

atau kecelakaan lalu lintas

di trotoar yang menjual angan-angan patah hati

 

Jakarta, 30 Agustus 2022 

 

MANUSIA TAKUT TERBANG KE SURGA

 

“seperti boneka kapas

dari kepala sampai kaki berjubah,

” seruku saat belum mematahkan tiang-tiang berhala

masih ada aroma butiran tembakau, teh tebu,  alkohol hijau, dan perzinahan rohani di mezbah baal 

 

semua sepakat memenggal jejak arang

terperangkap dalam lingkaran ruang

batu-batu roh 

 

“dia duduk bersujud,rambut sebahu amat kecil," berteriaklah sajakku saat itu tanpa membuka kitab suci 

 

muatan angin malam

mengingatkan kepada gembala dan domba

yang meluncur deras dari bukit-bukit pengorbanan di bawah pohon rimbun

ditentang para nabi 

 

sayap-sayap beelzebul dipatahkan berkeping-keping

muntah dosa-dosa ganjil 

 

usus perut meletus

di pinggul rumah hitam

mula pertama tak berziarah

tiap dinihari menabur kembang birahi 

 

penyakit kusta masuk ke dalam tong sampah

daging berdarah kubanting ke tanah 

 

tertidur pulas dalam sumur kering

otak disiram bunga api

mabuk air keras 

 

daun pintu hati

yang dulu rajin diketuk

dikunci !

kuncinya ialah layangan terbang

ke negeri-negeri orang

menggilas genteng rumah

mengangkat tabut perjanjian 

 

Pamulang, Kamis 1 September 2022

----------------------------------------------------------------

Biodata : 

Pulo Lasman Simanjuntak, dilahirkan di Surabaya 20 Juni 1961.Pendidikan Sekolah Tinggi Publisistik (STP/IISIP- Jakarta).Karya puisi pertama berjudul IBUNDA dimuat di ruang sajak anak-anak Harian Umum KOMPAS (Juli 1977) saat masih duduk dibangku SMP.

Setelah itu dari tahun 1980-2022 karya puisinya telah dimuat (dipublish) diberbagai surat kabar, majalah, media online, dan majalah digital di Indonesia dan di Malaysia.

Telah menerbitkan 7 buku antologi puisi tunggal dan 17 buku antologi puisi bersama para penyair di seluruh Indonesia.

Saat ini tengah persiapan untuk penerbitan buku antologi puisi tunggal ke-8 berjudul BILA SUNYIKU IKUT TERLUKA.

Ketua Komunitas Sastra Pamulang (KSP), anggota Dapur Sastra Jakarta (DSJ- Jakarta),  Sastera Sahabat Kita (SSK-Sabah Malaysia),  Komunitas Negeri Poci, dan anggota Sastra Nusa Widhita (SNW). Aktif dalam menulis puisi diberbagai komunitas sastra di media sosial (medsos).

Bekerja sebagai wartawan dan rohaniawan.

Telepon (WA) 08561827332.


INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa puisi/cerpen/artikel + biodata narasi + foto penulis atau gambar ilustrasi, semuanya dalam satu lampiran MS Word. Kirim ke email nkertas@gmail.com