Puisi Ahmad Rizki | Enigma masa depan - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis puisi untuk memperebutkan ANUGERAH HAK ASASI MANUSIA. Deadline 10 Desember 2022 | Apabila dalam 30 Hari, karya yang anda kirimkan di Negeri Kertas tidak dimuat, secara otomatis karya tersebut statusnya dikembalikan.

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

27 Jul 2022

Puisi Ahmad Rizki | Enigma masa depan

 Puisi Ahmad Rizki  | Enigma masa depan


Masa lalu adalah sepasang mata

wanita yang berkaca-kaca dan

indah bentuknya.

Masa lalu adalah kecantikanNya yang hangus diterpa usia.

Masa kini adalah hati wanita yang sengsara.

Dari tubuh wanita yang molek

dan kulit setengah putih ini,

aku pergi pada kehampaan masa

depan.

O, keinginan wanita yang penuh tanya.


Air matanya mengelabui pria.

Senyuman dan bibirnya lelehan

kesenangan.

Seperti cinta dan kesetiaannya

yang tak diukur oleh matematika

dan logika manusia.


Keinginan yang penuh tanya

membuka cakrawala dunia.

Jutaan tanda-tanda tak jua

kita pahami dengan baik dan

semestinya.

Lalu, apakah Tuhan

sengaja menciptakan Hawa untuk 

menuntun Adam ke masa depan?


Masa lalu adalah sepasang mata

wanita yang berkaca-kaca dan

indah bentuknya.

Masa lalu adalah kecantikanNya yang hangus diterpa usia.


Ciputat, 2019



Kematian puisi


Seorang penyair mondar-mandir

memperkenalkan puisi ke teman,

sahabat, keluarga, penerbit,

pacar, tapi tak ada yang menerimanya.

Begitulah ia lakukan dalam

waktu sebulan penuh.

Di penghujung bulan itu,

ia lakukan hal yang serupa

dengan lesu, payah, sia-sia,

putus asa, sengsara, dan sedikit

tetesan air mata, tapi hasilnya

tetap sama--tak ada yang mau

membaca, melirik pun tidak--puisinya.


Dengan hati-hati di ujung hari--

akhir bulan--hampir senja itu,

ia sempoyongan membawa puisinya

pulang ke rumah.

Si penyair berkata: Sudahkah kau

mati, wahai puisi?

Napasnya kecewa dan remang-

remang di matanya kembali

mengeluarkan kata-kata:

Ya, lebih baik kau mati,

kau pergi dari duniaku,

karena tak mungkin lagi

orang-orang membutuhkanMu

lagi--mustahil.


Seorang penyair datang ke pemakaman

puisiNya untuk memanjatkan doa, dan

ia berkata:

Selamat untuk kematian

yang tak dirindukan--bahkan

air mata pun tak ada--orang-orang,

wahai puisi.


Ciputat, 2022

Paradoks kebesaran puisi masa kini


Tubuhmu yang estetika, puisi,

tak lagi memperoleh

kebesaran. Bahkan

Sedikit jua tak mempengaruhi

hati kekasihku.

Kau tak lebih besar dari syahwat

manusia yang bertahan

hanya sebentar saja.

Kau tak besarkan.

Kau tak diagungkan.

Karena waktu dan keadaan

sudah mengalahkanMu.


Dan kenyataanMu

adalah terasing. Dan

kau tak lagi besar, puisi.


Seketika aku lihatMu

yang sekarang

tak lebih miris dari

belenggu kemiskinan.

Atau sekadar cita-cita

perdamaian

manusia yang mustahil

adanya. Atau seperti

dunia yang bongkok

dan tak diperhitungkan

keberadaannya.


Ya, Kau seperti kerajaan purba

yang (miris) mengais

kebesaran, tapi

orang-orang tak ada yang

melihatmu sedikit jua.


Ciputat, 2022

Pertanyaan sebelum berlayar


Jasadku, o, jasadku.

Ke manakah kau akan

membawaku?

Sepanjang malam kau

ceritakan ombak dan ikan-ikan

yang berkeliaran di lautan ini,

tapi bagaimana dengan ombak,

angin, perahu bocor, gunung es,

terik di tengah lautan, perompak,

burung pemakan bangkai, dan

makanan jiwa yang nikmat itu?


Jasadku, o, jasadku.

Apakah lautan itu persis sorga?

dan dapat kumiliki sepenuhnya

air dan seluruh isinya?

Aku ingin setiap malam berlabuh

di dermaga, dan siang berlayar

ke penjuru dunia.

Dan seperti pengembara sejati,

aku ingin abadi di lautan itu.

Aku tak ingin menahan dan

menanggung rindu daratan.

Dan, dalam pelayaran sejati itu

apakah dapat kupastikan kebahagiaan

di tengah lautan?


Ciputat, 2021

Aku mencintai diriku sendiri.


Aku cinta pada diriku sendiri.

Pada diriku yang kauciptakan

ketika malaikat meragukan kehendakMu.

Pada diriku yang kauciptakan

ketika Iblis menolak kehadiranKu.

Pada diriku yang kaubuang dari sorga

ketika godain iblis menyesatkan diriku.


Masya Allah.

Aku mencintai diriku sendiri.

Sungguh mustahil aku mencintai selain diriku.

Karena semua yang di luar diriku hanya kujadikan jalan mencintai diriku sendiri.


Masya Allah.

Tidak ada hidup dan mati yang kutuju untuk mencintai diriku.

Tidak ada sujud untuk mencintai diriku.

Tidak ada ruku' untuk mencintai diriku.

Tidak ada cahaya untuk menerangi cintaku pada diriku sendiri.

Tidak kekuasan untuk berkuasa atas cintaku pada diriku sendiri.


Masya Allah.

Alam semesta berjalan seperti biasanya.

Namun aku selalu cinta pada diriku sendiri.

Pada kebahagiaan

ketika kutolak kesedihan hidupku.

Pada kenikmatan

ketika kutolak kesengsaraan hidupku.

Pada kedamaian

ketika kutolak peperangan hidupku.

Pada kesejahteraan

ketika kutolak semua ancaman hidupku.

Pada kejujuran

ketika kutolak kebohongan

Pada ketaatan

ketika kutolak kemunafikan.


Buset!

Sudah kukatakan dan

tekankan berjuta kali:

Aku mencintai diriku sendiri.

Aku mencintai hidup yang mewah nan megah.

Aku mencintai hidup yang sehat

dan menolak sakit.

Aku mencintai hidup yang sempurna.

Aku mencintai hidup yang selalu berada di jalan kenikmatan.


Masya Allah.

Aku tak mencintai siapa-siapa.

Aku hanya mencintai diriku sendiri.

Mana mungkin aku akan peduli

pada masa depan, pada masyarakat, pada lingkungan,

pada segala putaran hidup di dunia.

Karena waktu hidupku hanya kuhabiskan

untuk mencintai diriku sendiri.


Astagfirullah.

Aku cinta pada diriku sendiri.

Mana mungkin aku cinta pada selain diriku.

Tak peduli bulan meleleh atau neraka masa depan yang menakutkan.

Karena sudah kupastikan cintaku pada diriku utuh dan sempurna.


Ciputat, 2020

Aku sudah berkuasa di dunia


Demi puisi yang terlanjur

berkeliaran di muka bumi.


Apakah sudah kau sadari

bahwa akulah yang berkuasa

di sini?

Akulah Khalifah yang

membuat kerusakan dan

pertumpahan darah di dunia ini.

Ketika makhluk-makhluk selain

bangsaku,

selain saudara dan keluargaku,

selain sejenis denganku

akan kuhabiskan dan musnahkan

dengan kedigdayaan

dan nafsuku.

Akan kurampok kehidupan satwa

dan fauna untuk kemakmuran

kerajaanku.

Akan kuambil dan habiskan

hasil laut, minyak yang bersembunyi

di bawah tanah, dan segala

hal yang menyelamatkan kerajaanku.


O, akulah yang berkuasa

di dunia.

Tak ada yang berhak

memerintahkan putaran

dunia, putaran arah angin,

putaran ekonomi, putaran

kesehatan, putaran 

kemakmuran, putaran

kelayakan hidup yang baik,

benar dan semestinya.


Demi puisi yang terlanjur

berkeliaran di muka bumi.


Akulah yang berkuasa

di bumi ini.

Siapapun yang melawan

dan membangkang pasti kukutuk.

Atau bahkan Dewa, Gusti, dan

Tuhan yang dibicarakan makhluk-

makhluk di sini itu harus tunduk

dengan perintahku!

Karena aku sudah berkuasa

di dunia ini.

Dan tak ada yang bisa mengalahkan

kekuasaanku.


Demi puisi yang terlanjur

berkeliaran di muka bumi.


Akulah raja atas segala raja

di bumi ini.

Dan semuanya harus tunduk-

patuh atas perintahku.


Ciputat, 2020


Ahmad Rizki, menggelandang di Ciputat, Tangerang Selatan. Beberapa puisi omong kosongnya termaktub di media daring. Buku puisi yang terlanjur terbit, Sisa-Sisa Kesemrawutan (2021). Informasi tambahan dapat ditemukan di Instagram @ah_rzkii email ahrizki048@gmail.com


INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa puisi/cerpen/artikel + biodata narasi + foto penulis atau gambar ilustrasi, semuanya dalam satu lampiran MS Word. Kirim ke email nkertas@gmail.com