005

header ads

Puisi Balada Anak Sang Penyair | Isur Suryati

 Balada Anak Sang Penyair

Isur Suryati


a/

Ayah, sudah bolehkah aku makan?

Gadis kecil berkuncir dua, rambutnya apak

Tangan mungil memegang perutnya yang rata

Cacing dalam perutku teriak tanpa suara, Ayah!

Lagi-lagi, mulutnya ceriwis

Sang Penyair hanya menoleh

Sedang ditulisnya sebuah kisah yang indah

b/

Sudah berapa baitkah puisi yang ayah rajut?

Hari sudahlah terik, tapi nasi belum ditanak

Ibu berkata, “Sabar, Nak! Beras kita ada di kening ayahmu.”

Apakah kening ayah itu seperti sawah ataukah pabrik beras?

Cacing di perutku melilit-lilit, Ayah!

Karena, tadi pagi kata-kata dan pita suaranya

Sudah diberikan kepada ayah dengan suka rela

c/

Sang penyair tersenyum masam

Tanpa menoleh, dia tuliskan kata 

Takzimnya seluruh rakyat/harta benda dan kemasyhuran

Serta kerling bidadari dan berlimpahnya makanan

Mulut mungil nan ceriwis di sampingnya mengular liur

Tenanglah, Anakku! Bisiknya pada angin

Selembar uang menari dalam imajinasinya

d/

Ayah, angkatlah dagumu dan lihatlah perutku

Seharian, cacing-cacing berkubang lapar

Kini mereka diam, karena perutku penuh dengan air

Mereka menagih kembali kata-kata dan pita suaranya

Hush! Sang penyair mengusir ide yang liar

Setelah capek meminta

Si kecil tidur pulas di atas selembar puisi


Sumedang, 21 April 2022


Penulis adalah seorang guru bahasa Sunda di SMPN 1 Sumedang, menyukai sastra sejak SMP, sudah menerbitkan sebuah buku kumpulan cerpen dalam bahasa Sunda, berjudul Mushap Beureum Ati, aktif menulis di beberapa platform kepenulisan. 





Posting Komentar

0 Komentar