[TERBAIK] Cerpen Rumadi | Klinik yang Menawarkan Kenangan - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis cerpen atau puisi untuk memperebutkan Anugerah Kesaktian Pancasila. Deadline 1 Oktober 2022 | Kirim ke email nkertas@gmail.com

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

25 Mar 2022

[TERBAIK] Cerpen Rumadi | Klinik yang Menawarkan Kenangan

 Klinik yang Menawarkan Kenangan

Rumadi

Sab memandangi nomor antrian yang digenggamnya. Nomor 110. Ia melihat angka digital yang menunjukkan angka pengantri yang sedang berada di dalam. Nomor 95. Ia menghela napas panjang untuk mengusir ketegangan dalam batinnya. Awalnya ia ragu, ada klinik yang menawarkan kenangan. Kau tidak salah dengar. Sab dulu juga menertawakannya saat teman-temannya menggunjingkannya di kantor. Bagaimana mungkin ada klinik yang bisa mengubah kenangan? Salah seorang dari mereka marah, dengan mata menyala, Sab mengira ia akan dihardik olehnya, tetapi yang terjadi sungguh di luar dugaan. Salah seorang temannya menempelkan sebuah brosur di dadanya, dan dengan jengkel ia mengatakan, salah seorang keluargaku sekarang tampak sangat bahagia karena datang ke klinik ini. Kalau kau tak percaya, datanglah ke sana, sepertinya hidupmu banyak masalah. Siapa tahu, pemilik klinik kenangan bisa mengubahmu menjadi periang, mengubah kenanganmu di masa lalu. 

Sab tidak pernah menceritakan perihal apa pun dan kepada siapa pun tentang hidupnya. Saat teman-temannya bergerombol berbagi kisah dengan mereka, Sab hanya sesekali menimpali, tetapi tak sekalipun ia berucap betapa sengsara kehidupan pernikahan yang dijalaninya. 

Rumah tak ubahnya neraka, itulah alasan kenapa ia lebih memilih pulang larut, berada di kantor. Ia salah memilih lelaki. Dulu, sewaktu belum menikah betapa suaminya begitu perhatian. Jun, sering menanyakan hal remeh-temeh sebagaimana orang-orang yang dimabuk cinta. Sudah makan apa belum? Jangan tidur malam-malam yah? Semangat yah? Dan Sab hanya mengingat-ingat semuanya untuk membahagiakan perasaannya yang demikian kalut. 

Setelah menikah barulah tampak bagaimana watak Jun yang sebenarnya. Ia hanya menghendaki kekayaannya. Setelah semua harta kekayaannya dibalik atas nama Jun, karena Sab terlalu percaya dan teramat mencintai lelaki itu, barulah tampak watak aslinya. Hal ini sudah diingatkan beberapa teman dekatnya, tetapi kepala orang yang jatuh cinta keras belaka bukan? Maka sehari setelah Jun menguasai seluruh kekayaannya, Jun berubah menjadi pemarah. 

Di awal pernikahan, Jun adalah lelaki yang baik, bahkan ia sering pamer dengan teman-teman atau keluarga besarnya, hal itu sengaja ia lakukan untuk membuat mereka iri, atau juga untuk memperlihatkan bahwa pilihannya tidak salah. 

Jun tak pernah marah saat ia bangun kesiangan. Ia selalu bangun sebelum subuh, membersihkan seluruh rumah, mencuci baju, dan menyiapkan sarapan. Betapa Jun adalah suami idaman. Bahkan Jun membawakan secangkir teh hangat dan sarapan ke kamar. Dengan senyum yang seolah tulus, Jun membangunkan Sab dengan beberapa kecupan. Satu di kening, merambat ke pipi, kemudian bibir. Yang terjadi ketika itu, Sab sering malu-malu, karena ia bangun kesiangan. Jun dengan senyum yang selalu memikat hatinya, berkata tak apa-apa. Kamu kan lelah bekerja, untuk tugas di rumah biar aku yang mengerjakan. 

Sab tidak pernah mencium gelagat aneh dari lelaki yang menjadi suaminya itu. Semua tampak normal dan natural. Ia jatuh cinta pada lelaki itu sebagaimana yang terjadi dalam film-film. Saat itu ia kecopetan, Sab berteriak minta tolong, dan beberapa orang mengejar. Pelaku tak tertangkap. Ia sangat putus asa, dan beberapa orang yang melihatnya menangis hanya bisa menyabar-nyabarkannya, pasti akan diganti dengan sesuatu yang lebih baik. 

Setelah ia begitu lemas, dan meyakini segala dalam tasnya telah raib, ia pulang dengan langkah gontai. Ia menyesali kenapa ia begitu ceroboh? Tiba-tiba ia mendengar bel berbunyi. Dengan gerakan malas, ia membuka pintu. Itulah untuk pertama kalinya, ia mengenal Jun. Rambutnya berwarna kuning-hitam, berselang-seling, disemir tak rata. Celananya penuh dengan sobekan, dan ada sebuah tindik di hidungnya. Betapa ia tak tampak sebagai lelaki baik-baik. Ia datang ke rumahnya untuk menyerahkan tasnya yang dicopet. 

Sab tak percaya tasnya kembali. Ia merasa berbahagia dengan kembalinya tas itu. Bukan tas itu yang ia sayangkan, tetapi banyak kartu-kartu penting yang jika hilang teramat rumit mengurusnya. Ia membayangkan seandainya tas itu tak kembali tentu ia akan sangat kesulitan mengurus kartu-kartu yang hilang. Selain menghabiskan waktu dan tenaga tentunya. Ia membuka dan meneliti semua isi dalam tasnya dengan perasaan gugup. Satu per satu ia periksa. Dan tak ada yang hilang. Jumlah uangnya pun masih utuh. Akhirnya Sab mempersilahkannya duduk. 

Jun bercerita ia mendapatkan alamat rumah Sab dari kartu identitas yang tertera. Bagaimana kau bisa mendapatkan tas ini dari pencuri? Ia tak sengaja melihat tas ini tergeletak di masjid terbiasa duduk dan beristirahat. Setelah celingukan tidak ada yang mengambil tas ini, ia berinisiatif untuk mengambilnya, begitu tahu ada identitas pemilik entah angin apa yang membuatnya berpikir untuk mengembalikannya. 

Sab yang hidupnya teramat kesepian, dan ia telah begitu kagum dengan kepribadian lelaki itu, mengundangnya untuk menemaninya setiap akhir pekan. Awalnya Jun menolak, tetapi setelah dibujuk sedemikian rupa, demi mengusir kesepiannya selama ini, karena ia hanya punya sedikit teman dan tentu saja mereka sibuk dengan kehidupan mereka sendiri, akhirnya Jun mau menemaninya. 

Sab mulai merawatnya, dan tentu saja mengubah penampilan Jun. Ia bekerja sebagai pengamen. Keliling kota bertarung dengan terik yang panas, juga lebih sering mendapatkan makian ketimbang recehan. Ia juga menjadi penyanyi beberapa cafe yang dikenal Sab. Pernah suatu kali Sab ingin mendengarkan ia menyanyikan sebuah lagu, dan ia terpana betap Jun memiliki suara yang sedemikian indah. Sab hanya melongo tak percaya mendengarkannya. 

Benih-benih cinta muncul. Jun telah berubah. Telah berkemeja, memakai sepatu, dan celana bahan. Demi menghindari gunjingan tetangga dan teman-temannya. Tentu saja, yang demikian dilakukannya atas kesadaran penuh. Dalam matanya, Jun adalah lelaki tulus yang tidak ada bandingannya. 

Nomor 98. Masih dua belas nomor lagi. 

Segala bentuk tanggung jawab dalam pernikahan adalah tanggung jawab lelaki. Itu yang Sab percaya. Maka demi menghindari aib, atau memang ia telah sebegitu percaya dengan Jun, ia mengganti surat dan kendaraan atas namanya. Meski memakan biaya yang tidak sedikit, ia tidak ingin pria itu meninggalkannya hanya karena hal sepele. Untuk mengikatnya, ia menyerahkan semua surat, termasuk bpkb dan stnk, surat tanah, surat rumah, dan segala harta yang ia punya. 

Jun berubah. Ia menjadi pemarah. Ia tak lagi membersihkan rumah. piring dan baju kotor berserakan di mana-mana. Ia yang masih tak tahu apa yang menyebabkan perubahan itu, dan tentu saja tanpa merasa curiga, menanyainya pada malam yang demikian dingin. 

Kamu kenapa? Sebuah pertanyaan wajar telah terlontar dari bibirnya.  Jun tak menjawab, ia malah sibuk memainkan gawai yang digenggamnya dengan tertawa cekikian. Beberapa kali ia berusaha untuk menegur, dengan cara yang paling lembut, dan Jun tetap tidak menjawab. Ia terus tertawa cekikikan seolah menertawakan dirinya yang tampak bodoh. 

Setelah kesabarannya habis, Sab merampas ponselnya dengan paksa, dan melemparnya. Baru kali itu ia melakukan yang demikian. Mata Jun merah menyala, dengus nafasnya memburu, dan menjambak rambutnya. Aku bukan babumu, kata Jun kemudian. Mulai sekarang, aku yang berkuasa penuh di rumah ini.

Sab lemas. Sekali dalam hidupnya ia jatuh cinta, dan dipatahkan. Bukan itu saja yang demikian menyakitkannya. Saat pulang dari kantor, Sab mendapati Jun sedang berpelukan dengan seorang perempuan dalam satu selimut di kamarnya. Mereka tidur dengan tenang. Sesekali si perempuan menggeliat manja di bahu Jun. Mereka masih memejamkan mata. Sab terduduk lemas, dan menahan tangisnya. Ke mana Jun yang ia kenangkan dan ceritakan kepada keluarga besarnya, kepada sahabat-sahabatnya? Ia tak ubahnya lelaki bajingan. 

Dan inilah puncak dari kesakithatiannya. Jun menjual segala yang ia punya. Semua kekayaan yang telah ia kumpulkan sejak belum menikah. dan Jun menemani si pembeli dengan ditemani si perempuan yang tidur di ranjangnya. Saat itulah Sab mengamuk, Jun memeganginya yang berusaha meronta, dan ketika si pembeli bertanya tentang Sab, ia hanya mengatakan perempuan gila. Sering begini setiap harinya. Aku istrinya, teriak Sab. Maka mata mereka terbelalak seolah-olah kaget. Tidak ada bukti kata Jun. Baiklah akan kutunjukkan buktinya, kata Sab.

Ia membongkar lemari, mencari dokumen pernikahan. Tak ada. Meski ia telah membongkar kasur dan sprei, ia tak menemukan surat nikah itu. Sab pergi ke dapur, mengobrak-abrik segalanya di sana, mencari dokumen pernikahan. Tiba-tiba ia melihat sesuatu yang habis dibakar di atas kompor. Dug! Jantung Sab berdetak hebat. Hanya ada satu serpihan kecil, yang menunjukkan bahwa kertas yang dibakar itu memang adalah sebuah surat nikah. 

Sab langsung melabrak Jun yang hanya disahuti dengan tawa terkekeh. Jun menelepon teman-temannya, dan mereka pun datang. Mereka menyeret Sab dengan keji. Ia dimasukkan ke dalam mobil dan dibawa pergi. Dan transaksi yang dilakukan Jun berhasil. 

Sab lemas tak berdaya. Ia kehilangan kekayaannya, juga Jun dan segala perhatiannya.

Untuk itulah, ia datang ke bengkel kenangan ini. yang konon bisa membuat hari-hari buruk berubah menjadi hari-hari yang menggembirakan. Sab perhatikan satu per satu orang yang keluar dari bilik pengobatan itu. Tak ada wajah muram. Sebaliknya, mereka tertawa dan tersenyum lepas. 

Antrean 109. Dada Sab bergemuruh hebat. Ia ingin mengenang Jun sebagai kekasih dan tak pernah membuatnya terluka. Ia ingin mengenangkan Jun sebagai orang yang telah mati karena suatu penyakit. Sab melihat wajah mereka yang masih mengantri seperti dirinya. Wajah mereka menunduk, dan beberapa tampak menangis tergugu. Begitu antrian 109 keluar, dan wajahnya tampak semringah, nomor antriannya dipanggil. Degup jantungnya bergetar lebih hebat. Sambil bertanya ia membayangkan, bagaimana bisa sebuah kenangan bisa dihapus dan ditambah? 

Ciputat, 3 Agustus 2021


 


Foto

Rumadi, lahir di Pati 1990. Menulis cerpen. Saat ini aktif di FLP Ciputat dan komunitas Prosatujuh. Cerpennya pernah dimuat harian Republika, kompas.id, cendananews.com dan detik.com

Penulis bisa dihubungi lewat Whatsapp 085711734787 atau instagram @pendekar_hati.

 






INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa puisi/cerpen/artikel + biodata narasi + foto penulis atau gambar ilustrasi, semuanya dalam satu lampiran MS Word. Kirim ke email nkertas@gmail.com