005

header ads

PUISI GIMIEN ARTEKJURSI.


JANGAN BANGUNKAN AKU

(SEPOTONG PERMOHONAN KEPADA TUHAN)

 

 

 

tuhan

 

tolong jangan bangunkan aku

 

jika mimpi itu 

 

tak bisa jadi nyata

 

 

 

sudah bermusim-musim 

 

mimpi-mimpi itu kutinggal di sini

 

bermusim-musim, tuhan

 

masih saja tetap seperti dulu

 

 

 

padahal daun-daun yang gugur

 

lama sudah hilang jadi debu

 

cinta yang datang dan pergi

 

silih berganti dan kadang tak kembali

 

 

 

usiaku makin senja

 

rambutpun telah berubah warna

 

tapi kenapa mimpi-mimpi yang kutinggal sejak lama 

 

masih utuh tak berubah?

 

 

 

jadi, jika sampai kapan

 

mimpi-mimpi itu masih saja jadi mimpi

 

maka biarkan aku terus tidur

 

dan jangan kau bangunkan

 

 

 

jangan bangunkan aku, tuhan

 

biar kunikmati mimpi-mimpi itu dalam tidur

 

karena ketika aku lelap

 

mimpi-mimpi itu jadi nyata, sangat nyata!

 

 

Banyuwangi, 2022

 

 

 

TUHAN, CINTAMU TERJATUH DI RERUMPUTAN

 

 

rasanya cintamu terjatuh di sini

 

di atas rerumputan, di balik belukar

 

bukankah begitu, tuhan?

 

bukankah cinta yang kau ulurkan padaku sore lalu

 

terjatuh di sini?

 

 

 

rasanya memang di sini

 

ketika tanganmu berkelebat mengulurkan cinta itu sore lalu

 

aku yang tengah tenggelam dalam doa

 

menunggu isyaratmu

 

tersentak kaget

 

 

 

lalu cinta itu terjatuh

 

sebelum tanganku sempat menggenggamnya

 

cinta itu terjatuh di rerumputan

 

 

 

cinta itu terjatuh di rerumputan, tuhan

 

dan sampai sekarang aku masih mencarinya

 

lantaran tanganmu rasanya tak mungkin datang lagi

 

terulur di hadapanku membawa cinta seperti sore lalu itu

 

 

 

ODE SANG PENYAIR

 

 

aku berada di sini semata-mata karena cinta

 

jika akhirnya kita bersama

 

hanya karena nasib baik yang mempertemukan

 

 

 

aku datang dari ketiadaan

 

sejarahku masa lalu yang tak tercatat

 

tanah airku negeri antah- berantah

 

 

 

jika para petani rindu datangnya hujan

 

seorang penyair yang sampai di negeri ini

 

tak pernah mengerti apa yang diinginkan

 

 

 

sampai suatu ketika nanti aku tiba pada kematian

 

akan kupersiapkan upacara penguburanku sendiri

 

keranda terbuka lebar dan aku berkalung mimpi

 

 

 

tak ada air mata menetes untuk kematianku

 

sekalipun di jalan bertabur bunga

 

tak sekuntum tertuju pada penyair

 

 

 

apalagi doa atau nyanyian duka

 

di pintu kubur saja tak satu malaikat akan menyambut

 

sedang tuhan sendiri mungkin tak pernah mencantumkan namaku dalam buku-nya

 

 

 

memang sia-sia, semuanya, juga puisi

 

tapi tak ada lain yang bisa dilakukan karena cinta

 

dan seorang penyair di negeri ini hidup atau mati semata-mata karena cinta

 

 

 

GIMIEN ARTEJURSI lahir, 3 Agustus l963. Tinggal di Banyuwangi. Puisinya diterbitkan di media cetak dan on line di Indonesia. Antologi bersama Para Penyintas Makna (Teras Budaya 2021), Pujangga Facebook Indonesia (PT Metaforma Internusa 2022). Memenangkan lomba  cipta puisi nasional yang diselenggarakan Sanggar Minum Kopi Bali, 1989, dan Negerikertas.com 2022






 




Posting Komentar

0 Komentar