Cantik Itu Relatif: Subjektivitas yang Berdampak Pada Kesehatan Mental - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis cerpen atau puisi untuk memperebutkan Anugerah Kesaktian Pancasila. Deadline 1 Oktober 2022 | Kirim ke email nkertas@gmail.com

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

20 Des 2021

Cantik Itu Relatif: Subjektivitas yang Berdampak Pada Kesehatan Mental


Opini Suciana Alfiradesti

Pendidikan Sosiologi-Antropologi Universitas Sebelas Maret


Apa sih definisi cantik itu dan bagaimana standar cantik pada masa sekarang? Apa hubungan pandangan cantik dengan kesehatan mental seorang perempuan?

Kata ‘cantik’ pasti sering kali terdengar di telinga manusia baik laki-laki maupun perempuan. Namun yang paling utama jika berbicara soal cantik pasti tidak pernah terlepas dari seorang perempuan. Kecantikan sendiri telah menjadi fokus utama dalam memberikan kesan kepuasan dan rasa percaya diri ketika melakukan berbagai aktivitas sosial dengan orang lain. Oleh karena itu kecantikan adalah hal yang didambakan seorang perempuan. Dan menganggap bahwa diri sendiri itu cantik adalah sebuah bentuk ucapan rasa syukur atas anugerah yang telah sang pencipta berikan kepada setiap perempuan.

Banyak yang mengatakan bahwa cantik itu bersifat relatif namun tidak dipungkiri cantik juga bisa bersifat individual. Pernyataan cantik bersifat relatif sering kali masih menjadi faktor perdebatan. Pada masa sekarang dapat dikatakan tuntutan-tuntutan untuk menjadi cantik semakin banyak dikarenakan standar-standar dan nilai kecantikan yang dibentuk semakin meningkat serta tingginya pengaruh pandangan subjektif cantik menurut kaum laki-laki.

Pada dasarnya cantik terbagi menjadi cantik fisik dan cantik non-fisik. Cantik fisik dapat meliputi wajah, bentuk tubuh seperti tinggi dan berat badan, warna kulit, dan model rambut. Dalam menciptakan cantik fisik ini seorang perempuan diminta untuk memiliki keterampilan dalam melakukan perawatan. Sedangkan cantik non-fisik seorang perempuan dapat dinilai dari sikap, tingkah laku, cara menghargai orang lain dan wawasan perempuan itu sendiri. 

Di era modern ini dengan sistem teknologi yang sudah canggih dan adanya berbagai sosial media membuat kita bisa menyaksikan banyak perempuan mengabadikan kecantikannya, memperlihatkan kulit yang mulus, wajah tanpa jerawat, pipi yang merona, bibir yang seksi, tubuh yang langsing, tinggi semampai, hidung yang mancung, dan rambut yang lurus berkilau. Ilustrasi cantik seperti inilah yang sangat mempengaruhi standar cantik bagi masyarakat terutama kaum laki-laki. Banyak dari mereka yang menyetujui bahwa definisi cantik adalah sama seperti yang telah disebutkan.

Seperti contoh ketika saya menanyakan sebuah pertanyaan kepada tiga teman saya mengenai ‘Perempuan cantik bagi kalian itu seperti apa?’ dan ketiganya menjawab dengan jawaban yang berbeda namun intinya sama. Teman 1 menjawab “Cewek cantik itu putih, tinggi tapi nggak tinggi-tinggi amat, rambut lurus panjang dikuncir kuda kalo gak rada keriting di bagian bawah, bibir tipis tapi seksi, sama gak gendut”, teman 2 menjawab “Menurutku cewek cantik itu, cewek yang cerdas. Aku dari dulu suka banget sama cewek yang cerdas dan ditambah baik lagi tapi kan biasanya cewek ngga percaya cowok ngga mandang fisik jadinya kalau ditanya tipe ideal, aku lebih suka cewek yang tinggi”, dan teman 3 menjawab “Cewek cantik itu bersih, putih, rambut panjang, pakaiannya nggak terlalu tertutup, dan kalau diajak ngobrol nyambung”.

Inti persamaan dari jawaban ketiganya adalah mereka sama-sama menyebutkan definisi cantik ada pada fisik walaupun dua dari tiga juga menyebutkan satu definisi cantik pada non-fisik. Hal ini mungkin saja bisa disebut dengan rasisme dan sebenarnya rasisme sudah terjadi pada masa kolonialisme bangsa Eropa yang mana ras kulit putih menempatkan dirinya pada level yang paling tinggi dan ras kulit berwarna dianggap ada pada level yang lebih rendah. Pemikiran ini sudah tertanam dari abad ke adab di dalam benak para korban diskriminasi. Jawaban-jawaban tersebut berkemungkinan menciptakan rasa insecure yang nantinya berkaitan dengan kesehatan mental perempuan.

Insecure sendiri adalah sebuah istilah yang menggambarkan sebuah perasaan tidak aman yang akan membuat diri menjadi cemas, gelisah, takut, kehilangan rasa percaya diri bahkan bisa sampai membenci diri sendiri. Subjektivitas pandangan cantik inilah salah satu pemicu banyak perempuan yang mengalami rasa insecure karena mereka mengganggap bahwa diri mereka tidak sesuai standar kecantikan yang telah dibuat diantara masyarakat dan kaum laki-laki. Seperti perempuan yang bertubuh gemuk dan pendek akan merasa bahwa mereka tidak layak disebut cantik karena tidak sesuai dengan standar yang ada yaitu mempunyai tubuh langsing dan tinggi, dan seorang perempuan yang memiliki wajah berjerawat akan merasa minder karena wajah mereka tidak seperti standar kecantikan yang dibangun yaitu berwajah mulus serta dianggap tidak pintar merawat diri.

Pada akhirnya membuat perempuan tersebut dipaksa melakukan diet ketat atau perawatan wajah, tapi apabila diet dan perawatan wajah yang mereka lakukan belum berhasil dan ditambah lagi dengan cibiran dari orang lain maka hal inilah yang nantinya akan menciptakan rasa tertekan, minder, frustasi, kecewa karena merasa gagal sehingga sangat berdampak pada kesehatan mental para perempuan tersebut.

Dalam buku Mental Hygiene, kesehatan mental memiliki kaitan dengan tiga hal. Pertama, bagaimana seseorang merasakan, memikirkan, serta menjalani keseharian dalam hidup; Kedua, mengenai bagaimana pandangan terhadap diri sendiri dan orang lain; Ketiga, tentang bagaimana mengevaluasi berbagai alternatif solusi dan mengambil keputusan terhadap keadaan yang dihadapi. Kesehatan mental merupakan aspek perkembangan baik fisik maupun psikis. Selain itu kesehatan mental juga mengenai usaha untuk mengatasi stres, adanya ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri tentang bagaimana berhubungan dengan orang lain, dan juga berkaitan dengan bagaimana mengambil keputusan.

Pada dasarnya semua perempuan itu adalah cantik, apapun bentuk tubuhnya, warna kulitnya, model rambutnya, tergantung persepsi kita terhadap diri sendiri. Ketika sulit untuk mengubah persepsi orang lain mengenai definisi perempuan cantik maka yang harus diubah adalah persepsi diri kita sendiri. Bagaimana kita seorang perempuan mampu untuk menerima diri sendiri, memiliki kepuasan terhadap diri sendiri, menganggap kekurangan yang dimiliki adalah sebuah keunikan. Karena definisi cantik yang sebenarnya bukanlah mereka yang memiliki tubuh langsing, tinggi, hidung mancung, kulit mulus. Tapi ‘kita, semua perempuan’ adalah definisi cantik yang sebenarnya.

Sebagai seorang perempuan diharapkan bisa mengenali diri sendiri karena salah satu cara agar bisa lebih dekat dengan diri sendiri adalah dengan mengenal diri. Setelah mengenal diri maka pemahaman terhadap diri akan baik dan pemahaman ini akan menghindarkan kita dari kondisi yang merugikan diri kita, selain itu mengendalikan pikiran dengan selalu berpikir positif juga sangat dibutuhkan. Dan hal yang perlu diingat adalah setiap manusia yang diciptakan pasti memiliki kekurangan dan kelebihan yang semua itu kembali ke diri kita masing-masing, bagaimana kita memanfaatkan kekurangan dan kelebihan yang ada dan bagaimana rasa syukur kita terhadap sang pencipta.

Referensi:

Aminah, S. (2020). Good Looking; Bullying And Insecure.

Fakhriyani, D. V. (2019). Kesehatan Mental (Vol. 124). Duta Media Publishing.

Ikasari, O. (2018). Representasi Kecantikan pada Video Youtube Beauty Vlogger “The Power of Makeup!”(Analisis Semiotika pada Video “The Power of MAKEUP!” dalam Akun Beauty Vlogger YouTube Nikkie Tutorials).

I'rab, Y. (2007). Rasisme. Jurnal Jaffray5(1), 50-58.

Kusumawati, D. Makna Kata Cantik Menurut Persepsi Wanita yang Memiliki Tubuh Gemuk Melalui Film Imperfect. Skripsi.

Manenelu, S. W. (2017). Makna Cantik di Kalangan Sales Promotion Girl Dealer Mobil Nissan Gorontalo. Skripsi1(291410053).

Sari, W., Indrawati, L., & Basuki Dwi Harjanto, M. M. (2012). Panduan lengkap kesehatan wanita. Penebar PLUS+.

PROFIL PENULIS



SUCIANA ALFIRADESTI, yang biasa dipanggil “Alfira”. Lahir di Banyumas, pada hari Senin tanggal 02 Desember 2002. Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Antropologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yang ingin belajar menulis. Bertempat tinggal di desa Kebokura RT 02 RW 03 Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas. Nomor rekening: BNI KCP Kroya 1285751668, whatsapp: 088233140862, alamat surel: salfiradesti@gmail.com 


INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa puisi/cerpen/artikel + biodata narasi + foto penulis atau gambar ilustrasi, semuanya dalam satu lampiran MS Word. Kirim ke email nkertas@gmail.com