Puisi untuk Palestina karya Muhammad Lefand - negerikertas.com

.

(Mulai 1 Agustus 2021 setiap Cerpen yang dimuat di negerikertas.com mendapat honor Rp 100.000)

Puisi untuk Palestina karya Muhammad Lefand


DUKA DI JALUR GAZA LUKA DI DADA

Duka di jalur Gaza luka di dada 
Upacara doa-doa menyaksikan luka
Kepada segenap nyawa yang telah tiada
Air mata dan darah mengaliri tanah Palestina 

Di hari yang seharusnya fitri
Ingatan luluh lantak dibom bertubi-tubi

Jalur Gaza berduka 
Ada keberingasan nyata 
Lebih dari sekadar peluru buta
Ujung senapan tidak mengenal cinta   
Riuh suara gedung-gedung hancur dan rata 

Gaza semoga damai kembali 
Agar tak ada lagi tubuh yang mati
Ziarah doa mengamini harap pada Ilahi 
Aqso semoga tetap menjadi tempat yang suci

Luka tak bisa dihapus air mata 
Untuk menebus darah dan nyawa
Keadaan yang sangat porak poranda 
Akan jadi dendam yang tak semestinya

Di sujud yang paling sunyi 
Isyarat doa meminta duka pergi 

Duka di Jalur Gaza
Adalah luka di dada 
Duka tanah Palestina 
Adalah luka yang nyata 

Ponorogo, 17 Mei 2021

GAZA DAN DARAH DI TUBUH ANAK KECIL

Gaza hari ini tanpa cinta 
Anak kecil menghapus airmata 
Zionis bangga menodongkan senjata 
Ada banyak darah yang mengalir tanpa dosa

Dan orang-orang melihat semua 
Akan tubuh yang kehilangan cerita 
Namun masih saja benci tetap dibela

Darah di tubuh anak kecil di Gaza
Adalah bentuk kebrutalan tanpa cinta 
Riuh saling merasa benar dibaluti dusta
Agar dapat pembenaran dalam segala cara
Hingga tidak ada jalan untuk damai sementara

Duka menjadi pilihan paling nyata
Ibarat harga diri yang tak bisa ditukar harta 

Tubuh dan senjata 
Ujung peluru dan nyawa
Bagi anak Palestina itu biasa 
Usia tak menghalangi jiwa merdeka 
Hanya keberanian yang tersisa di dadanya 

Anak-anak tak mengenal duka 
Namun cinta begitu fatamorgana
Asap hitam pekat menyapa harinya 
Kisah mereka tak pernah ditulis dunia 

Kita yang jauh tak merasa dosa
Entah sebab nurani telah mati rasa
Cinta menghilang dari dalam isi dada  
Ingatan dihapus nafsu dan rayuan dusta 
Lupa kepada duka anak-anak di Jalur Gaza 

Ponorogo, 2021

SERIBU TAHUN LAGI

Seribu tahun lagi
Engkau akan mengerti 
Rahasia dalam risalah puisi 
Ingatan tak akan menghapus arti 
Bait yang ditulis dengan keutuhan imaji 
Usia membaca tiap makna yang tersembunyi

Tak ada yang perlu ditafsiri
Apalagi sampai harus ditangisi 
Hidup bukan untuk luka dan benci
Umur serta takdir keniscayaan hakiki 
Nafas dan nafsu setubuh meski tak abadi 

Lebih seribu tahun lagi 
Aku akan tetap dalam puisi   
Gairah tak pudar mencumbu diksi 
Ibarat pena yang tak lelah menulis mimpi 

Ponorogo, 16 Mei 2021



MALAM APABILA MATA TAK TERPEJAM

Malam tak pernah khianat
Apabila mulut tidak melaknat
Lelah tak halangi mata berhikmat
Atas nama tubuh yang meminta sehat
Maka tak ada rerindu yang harus bersyarat

Apabila mata melihat
Pada gelap bayang penat 
Ada yang harus selalu diingat 
Bukan leluka yang harus dipahat
Inti dari penglihatan ialah pesan ayat
Langit dan malam setia memberi hangat 
Apakah pantas mata minta waktu istirahat?

Mata mengerti sangat
Akan rerasa yang tersesat 
Tak mengintimi malam hikmat
Angin selalu mengirim semua isyarat 

Tak terpejam mata bersemangat
Agar rembulan mengerti tafsir ibarat
Kepada malam yang selalu meminta sifat

Tetap kuat
Erang sekarat
Rasa tanpa sayat
Pedih hilang gelagat
Elok peluk semakin erat
Juga mesra bertambah niat
Adakah mata pantas khianat? 
Malam tak akan menuntut syarat

Jember, 2020

.