CERPEN: Ngawur | Muhammad Lutfi. - negerikertas.com

.

(Mulai 1 Agustus 2021 setiap Cerpen yang dimuat di negerikertas.com mendapat honor Rp 100.000)

CERPEN: Ngawur | Muhammad Lutfi.

 Ngawur


Seorang lelaki yang berdagang sayur keliling dengan setia mendorong gerobak berisi sayur-sayuran menapaki jalan melewati perumahan. Dia tetap memandang lurus ke depan. Melihat jalan setapak yang dihiasi Ibu-Ibu di perumahan. Seorang wanita memanggilnya, membuat dia berhenti di tepian. Dia buka topinya. Ditaruhnya topi itu di atas paku di ujung papan. Dia memang sengaja membuat paku itu menancap pada salah satu tubuh gerobaknya untuk meletakkan topinya. Ibu-Ibu di perumahan segera datang berhamburan padanya. Mereka angkat sayur-sayuran sekedar untuk memilih. 

“Bawang merah sekilo, berapa?”

“Sekilo tiga puluh ribu.”

“Mahal sekali, tidak boleh kurang?”

“Itu sudah saya kurang-kurangin harganya.”

“Biasanya harganya masih bisa dinego!”

“Harga bawang sekarang sedang naik!”

Mereka masih memilih sayuran yang akan dibungkus. Untuk mereka racik menjadi sayuran. Kewajiban sebagai wanita yang sudah menjadi Ibu rumah tangga. Seperti kebiasaan pada umumnya sebagai seorang emak-emak, mereka selalu ngomongin hal-hal tentang gosip-gosip murahan. 

“Eh, kata-katanya seorang lelaki yang biasa kita kenal sebagai Bapak-Bapak yang bijaksana dan punya wibawa sedang tergila-gila pada pemilik warung kopi di ujung pintu masuk perumahan.”

“Aku dengar juga begitu! Kata-katanya sih. Istrinya itu sudah cantik, setia, dan nurut padanya. Tega-teganya dia bisa main cinta sama penjual kopi.”

“Aku kasihan pada istrinya. Bu RT pasti masih tidak percaya. Aku yakin, Bu RT belum tahu gosip ini.”

“Kalau dia tahu, habis sudah penjual kopi itu. Dilabrak ke warungnya.”

“Eh… siapa tahu… di warung kopi itu Pak RT sedang ngopi.”

Penjual sayur yang sudah terbiasa ngerumpi bersama emak-emak ini juga jadi ikut-ikutan. 

“Saya kemarin lihat Pak RT di warug kopi itu. Saya lihat dengan mata saya sendiri.”

“Bener aja! Itu pasti mereka sedang melakukan pertemuan.”

“Pasti sudah mereka rencanakan.”

“Di warung saat itu pasti hanya ada Pak RT.”

“Saya kurang paham suasana di sana. Saya hanya menyaksikan Pak RT saja.”

“Itu berarti benar! Mereka sudah melakukan rencana ini.”

“Apa istrinya di rumah tidak buat kopi untuknya.”

“Ini tidak bisa dibiarkan terus-menerus.”

“Saya kasihan sama Bu RT.”

“Dia teman arisan.”

“Saya tidak mau ikut-ikutan. Saya diam saja. Saya takut dilabrak Pak RT yang badannya tinggi-besar itu,” kata penjual sayur mulai mundur dari obrolan Ibu-Ibu perumahan.

Ibu-Ibu itu masih ngomongin tentang gosip Pak RT dan penjual kopi. Mereka tidak akan menyerah sebelum bikin kapok Pak RT. Bu RT adalah teman mereka arisan. Mereka berencana melaporkan berita ini pada Bu RT.

“Ayo kita segera adukan pada Bu RT. Biar Pak RT kapok main selingkuh!” ajak seorang Ibu perumahan yang masih memakai daster. Mereka tenteng sayuran yang masih ada di dalam plastik di tangan mereka. Serempak mereka menuju ke rumah Bu RT.

***

Mereka temui Bu RT sedang menyirami bunga di depan pagar rumah.

“Bu RT! Kamu harus tahu!”

“Kamu harus segera melabrak suamimu, Bu!”

“Di mana Pak RT sekarang?”

“Dia sedang jalan-jalan pagi,” Bu RT memberi jawaban.

“Kamu dibohongi. Pak RT bukan lari pagi.”

“Dia sedang selingkuh!”

“Hah….?” Bu RT terperangah.

“Pak RT sekarang sedang minum kopi sama penjual kopi di ujung gerbang perumahan itu.”

“Dia harus kita labrak Bu RT.”

“Pak RT harus segera diberi pelajaran.”

“Pak RT harus segera disadarkan!”

Emak-emak perumahan itu saling melempar pernyataan. Mereka saling memberi jawaban. Masih ngoceh tentang Pak RT dan penjual kopi ngalor-ngidul. 

Bu RT masih terperangah. Tangannya masih memegang selang air untuk menyirami bunga-bunga di depan pagar rumahnya. Bagi Bu RT, selain suami dan anaknya, yang bisa dia percaya adalah teman-teman arisannya itu. Bahkan Bu RT kadang yang jadi ketua memulai obrolan gosip-gosip di antara mereka. Dia tidak bisa menolak. Dia percaya saja pada teman-teman arisan. Bu RT melangkahkan kakinya. Membawa sebuah sapu. Mereka mendukung dan semakin memanas-manasi Bu RT. Ibu-Ibu perumahan itu melangkah beriringan menuju ke warung kopi. Mereka mencari Pak RT. Pak RT siap akan dilabrak.

Tidak ada yang berani menghentikan langkah rombongan itu. Paving yang diseret di sandal mereka berubah jadi debu. Bu RT melihat warung kopi itu sudah buka pagi-pagi begini. Semakin menambah kecurigaan. Bu RT masuk melihat isi warung kopi. 

***

Pak RT ditemukan sedang minum kopi sambil ngobrol hangat sama si penjual kopi. Benar-benar naik pitam Bu RT. Bu RT segera menggedor pintu. Memukulkan sapunya ke meja. Penjual kopi itu benar-benar tidak tahu apa maksudnya. Dia merasa tidak bersalah apa-apa. Pak RT segera berdiri, menghadapi mereka sendirian.

“Kamu benar-benar menduakan aku. Aku sakit hati.”

“Kamu bicara ngawur!”

“Siapa yang ngawur, aku atau kamu!”

“Kamu!”

Bu RT semakin tidak bisa dikendalikan. Bu RT telah lepas kendali. Dia hadapi suaminya itu terang-terangan di hadapan teman-temannya. Bu RT merasa mendapatkan dukungan dari teman-temannya. Ibu-Ibu perumahan yang menyertai Bu RT senyam-senyum sinis pada Pak RT dan penjual kopi itu. 

“Rasakan itu! Jadi suami itu yang setia.”

“Jadi orang suka selingkuh.”

“Kamu juga! Dia itu suami orang!”

Ibu-Ibu perumahan itu masih melempar pernyataan-pernyataan memojokkan Pak RT dan penjual kopi. Pak RT benar-benar naik darah. Dia merasa difitnah dan dibuat malu. Pak RT merasa tidak melakukan hal seperti yang mereka tuduhkan. Pak RT mulai membela diri. Dia hadapi Ibu-Ibu perumahan itu sendirian.

“Kalian sudah memfitnah saya!”

“Kenyataannya memang seperti ini.”

“Kalian hanya melihat kami sedang ngobrol berdua.”

“Kamu tukang selingkuh!”

“Tolong! Jaga bicara kalian semua!”

“Sudahlah, kamu jangan mengelak terus. Sudah terbukti kamu melakukan hal ini!”

“Kalian tidak punya saksi melakukan tuduhan palsu tersebut.”

“Pedagang sayur keliling yang memberikan kesaksian pada kami!”

Sekarang Pak RT semakin tahu apa penyebab kemarahan istri dan Ibu-Ibu perumahan di pagi hari. Dia merasa dipermalukan oleh pedagang sayur. Dia merasa difitnah oleh pedagang sayur yang biasanya menjual sayur di perumahan. Dia benar-benar merasa difitnah.

***

Sebenarnya, Pak RT sedang  membantu membayar utang-utang pemilik warung kopi itu. Pemilik warung kopi itu adalah seorang janda empat anak. Suaminya sudah meninggal. Jadi, dia harus menjadi tulang-punggung keluarga untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Salah satu usaha yang bisa dia lakukan adalah membuka warung kopi. Tetapi dia tidak punya modal yang cukup untuk membuka warung kopi. Tabungan suaminya sudah habis untuk biaya periksa anaknya ke rumah sakit. Di perumahan itu, hanya Pak RT yang terkenal dermawan yang siap untuk membantu siapa saja yang meminta pertolongannya. Itu berkaitan dengan tugasnya sebagai pemimpin RT, yang harus memiliki tanggung jawab dan mengayomi warganya.

***

Pak RT tahu siapa kini dalang yang telah ngawur memfitnahnya. Sungguh ngawur pedagang sayur itu. Dia telah memberikan berita bohong pada Ibu-Ibu perumahan. Sehingga istrinya ikut terbawa berita tersebut. Selain itu, memang sudah tabiat Ibu-Ibu perumahan yang suka ngomongin gosip-gosip murahan seperti itu. Tanpa ba-bi-bu Pak RT meraih sapu yang dibawa istrinya. Dia mencari pedagang sayur itu. Istrinya belum selesai berbicara. Bu RT meneriaki suaminya, “Tunggu!”


Pati, 19 Oktober 2020












Biodata


Description: Description: D:\foto\BBM\IMG_20161011_181109.jpg

Muhammad Lutfi. Sastrawan Indonesia dari Jawa Tengah. Karya-karya dari penulis dapat anda cari di toko buku. Penulis puisi, cerpen, dan novelet, serta syair. Buku-buku karya penulis: Mata Sengsara, Tabula Rasa, Serat Tri Aji, TAKA, Gugat, Aku dari East City, Pelaut.

 





.