005

header ads

Cerpen Fileski: Puyuh Telur Emas



















PUYUH TELUR EMAS

Pak Samedin duduk termenung di kandang ternak puyuh miliknya, sambil menggenggam sebutir telur emas, pikirannya melayang jauh. Telur emas, ia telah mendapatkan 98 telur emas yang sebagian sudah ia jual dan sisanya ia simpan di dalam kamar. Suara omelan istrinya makin keras dari ruang dapur, sesekali terdengar perabotan dilemparkan istrinya, suara rantang dan baskom dilempar bersamaan yang terdengar paling keras. Mungkin cara itu dilakukan istrinya untuk menunjukkan kemarahannya yang sudah di ambang batas kesabaran.
"Sudah jual saja semua puyuhmu itu, aku malu sama tetangga pak, setiap hari dirasani" istrinya terus menggerutu.
Sementara Pak Samedin sama sekali tak bergeming. Pandangannya kosong, angannya jauh ke awang-awang.

***

Kisah ini berawal dari satu tahun yang lalu, ketika Samedin bersama istri dan satu anaknya merantau ke Madiun. Ia datang dari Jawa Tengah, entah dari kota mana tepatnya. Dengan bekal uang tabungan yang tak terlalu banyak, hasil jual sawah dan rumah di kampungnya, ia ingin punya rumah sederhana yang tak jauh dari kota. Karena di kota ia bisa lebih mudah mendapatkan pekerjaan sebagai kuli serabutan atau apa saja.

Hari pertama sampai di Madiun, ia tinggal di sebuah kos-kosan sederhana bersama istri dan anaknya yang masih umur 4 tahun. Beberapa hari ia lalui dengan mengandalkan uang tabungan. Ia berpikir harus segera membeli tanah dan membangun sebuah rumah, jika tidak maka uang tabungannya bisa cepat habis dan akhirnya ia tak punya tempat tinggal milik pribadi.
Sampai akhirnya ia menemukan sebuah tanah kosong yang tak jauh dari kosannya. Ia heran, kenapa ada tanah di jual murah di wilayah yang masih dekat dengan pusat kota. Di tengah tanah itu ada sebuah pohon asam yang lumayan besar. Tanpa pikir panjang, ia langsung menghubungi nomor telepon si pemilik tanah yang terpajang di papan yang tertancap di depan tempat ia berdiri.
Keesokan harinya ia telah berhasil membeli tanah itu, seluruh transaksi lancar. Dan ia pun mengunjungi tanah yang baru saja ia beli. Di bawah pohon asam yang besar, ia menemukan seekor burung puyuh, dengan warna sayap yang agak aneh, berwarna keemasan. Biasanya burung puyuh warnanya kelabu, namun ini langka dan berbeda dari biasanya. Tanpa mengalami kesulitan ia tangkap puyuh itu.

"Selamat sore pak, perkenalkan nama saya Joko, tetangga sebelah" sapa seorang tetangga
"Oh iya, perkenalkan saya Samedin, yang kebetulan baru saja membeli tanah ini"
"Menurut cerita bapak saya, tanah ini wingit pak, tak ada seorangpun yang berani membeli tanah ini, banyak keanehan sering terjadi di sini, semoga saja tidak terjadi apa-apa ya pak"
"Amin... oh iya maaf mas Joko, saya harus segera pulang ke rumah, hari sudah hampir magrib, istri saya menunggu di rumah" Samedin bergegas pulang ke kos yang berjarak tak jauh dari tanah kosong itu.

Adzan subuh menyelinap di telinganya, membuatnya terbangun dan bergegas melakukan sembahyang. Usai sembahyang ia teringat kata-kata tetangganya kemarin sore, yang membahas tentang tanah kosong itu. Sebagai orang yang beriman, ia memantabkan hatinya untuk tidak dikuasai ketakutan mistis tentang jin, setan atau apalah itu. "Manusia adalah makhluk yang paling mulia, tak perlu takut pada sesama makhluk, cukup takut sama Allah saja!" ujarnya dalam hati. Sontak ia teringat dengan burung puyuh yang ia dapatkan kemarin. Ia langsung menuju ke belakang rumah untuk melihat puyuh yang telah ia taruh dalam sangkar bambu.

Sontak ia terkaget-kaget bukan kepalang, puyuh itu mengeluarkan telur berwarna emas. Sembari lingak linguk ke kanan dan ke kiri, ia langsung ambil telur emas itu dan coba menggigitnya dengan gigi seri. Ternyata keras, itu benar-benar telur emas. Samedin kegirangan seperti ketiban harta karun, ia langsung sembunyikan puyuh itu di ruang khusus, jangan sampai ada orang yang tahu, bahkan termasuk istrinya.

Beberapa hari berlalu, Samedin menjadi orang kaya baru. Hanya dengan beberapa telur emas yang ia jual, ia sudah bisa membangun rumah di tanah kosong itu, dengan jumlah tukang yang cukup banyak. Sehingga rumah itu cepat selesai. Pohon asam besar yang berada di tanah itu, ia tebang dan kayunya iya jadikan bahan untuk membangun rumahnya.

Malam itu ia mendapat mimpi yang aneh, ia didatangi seorang kakek yang muncul dari balik pohon asam yang ia tebang. Kakek itu berkata "Samedin kau boleh tinggal di tanah ini dan merawat puyuh itu, namun ingat, waktumu di sini hanya sementara, hanya sampai puyuh itu bertelur 99 butir, setelah itu kamu harus segera pergi dari tanah ini. Apabila puyuh itu sampai bertelur 100 butir, maka semua kekayaan yang kamu miliki dari puyuh emas itu akan lenyap".

Tetangga sekitar mulai heran tentang keberadaan keluarga Samedin. Sebab awalnya ia pendatang dengan prejengan orang miskin, untuk bayar kos saja susah, tapi nyatanya ia bisa membangun rumah besar di tanah keramat itu. Samedin putar otak, ia harus segera mengambil tindakan, ia harus jadi pengusaha sukses agar tetangganya tak curiga lagi pada kekayaannya. Tercetus sebuah ide untuk membuka bisnis ternak puyuh.

Langsung ia beli 3000 ekor puyuh, lengkap dengan kandangnya, dan memang puyuh emas itu membawa keberuntungan. 3000 ekor puyuh yang ia beli sangat hyper produktif, setiap hari bertelur sangat banyak, dan itu tak wajar. Membuat teman sesama peternak puyuh terheran-heran.
Meski usahanya sukses dan tidak dicurigai sebagai seorang yang melakukan pesugihan, Samedin menemui masalah baru. Penyebabnya karena ia beternak puyuh di area perkampungan padat penduduk. Itu bukan masalah yang sederhana, banyak tetangga yang mulai resah dari dampak bau kotoran 3000 puyuh miliknya. Beberapa warga bisa meredam emosi karena Samedin rajin memberi telur puyuh dan juga sering menyantuni warga kurang mampu di sekitarnya.

Masalah mulai runyam karena ada satu tetangga yang bernama mas Joko menuduhnya sebagai biang kematian bapaknya, yang dikabarkan meninggal karena sakit pernafasan. Sebelum adanya ternak puyuh milik Samedin, bapaknya mas Joko sudah cukup tua dan sering batuk-batuk. Namun mas Joko tetap bersikukuh menuduh Samedin dan ternak puyuhnya adalah biang kematian bapaknya. Pak RT pun tak bisa mengambil tindakan tegas untuk menutup usaha ternak puyuh milik Samedin. Karena pak RT adalah salah satu orang yang juga paling diuntungkan dengan pemberian-pemberian Samedin.

Tak terasa hari begitu cepat berlalu, telur-telur emas sudah banyak terkumpul. Beberapa sudah ia jual namun beberapa juga masih ia simpan di kamar rahasia yang ada di dalam rumahnya. Di ruang rahasia itu selain ada telur-telur emas, juga ada sebuah buku yang mencatat jumlah telur yang sudah keluar dari perut puyuh itu. Ia mencatatnya karena teringat pesan dari kakek yang sering datang di mimpinya, jangan sampai ketika telur yang ke 100 ia masih tinggal di rumah itu. Hari ini sudah mencapai telur yang ke 98.

Istrinya yang marah-marah di dapur tak ia hiraukan. Dalam pikirannya masih bertanya-tanya, apakah yang kakek itu katakan dalam mimpi adalah benar. Nampaknya ia sudah mulai ragu dengan ucapan kakek itu. Ia terlanjur terbiasa hidup enak, bisa mendadak jadi kaya raya dari puyuh itu. Apa jadinya kalau ia sudah tak memiliki puyuh emas itu, ia khawatir bakal jadi orang miskin lagi, sering dihina dan diremehkan seperti dulu.

Keesokan harinya, ia mengunjungi puyuh emas yang ia taruh di kandang. Ia kaget, ternyata pagi itu puyuhnya bertelur sebanyak 2 butir. Sehingga hari ini tepat 100 butir. Perasaannya campur aduk, antara takut dan ragu. Takut kalau apa yang dikatakan kakek dalam mimpinya itu benar adanya, dan ragu kalau kakek itu ternyata cuma mimpi belaka, ia takut hidup miskin lagi jika harus meninggalkan rumah yang ia tempati.

Suara kentongan bertalu-talu. Api membumbung tinggi, pukul 2.00 dini hari. Samedin bersama anak istrinya berlari ke luar rumah. Menyaksikan rumahnya yang pelan-pelan dilahap si jago merah. Ia tak menangis, dan juga tak berteriak histeris seperti istrinya. Ia hanya tertegun, memikirkan ucapan kakek itu ternyata benar. Syukurlah anak istrinya dan beberapa koper berisi uang tunai dan dokumen penting bisa terselamatkan.

Samedin tau yang membakar rumahnya adalah mas Joko yang dendam padanya, karena kematian bapaknya. Kabar itu ia dengar dari omongan beberapa tetangga. Namun Samedin tak menuntutnya, Sebab ia berfikir mas Joko hanya pemicu, penyebab yang sebenarnya adalah karena ia sendiri yang melanggar pantangan si kakek yang ada di mimpinya.

Setelah rumahnya rata dengan tanah, ia mencari telur emas yang ia taruh di ruang rahasia. Di antara puing-puing ia temukan kotak besi tempat ia menaruh telur-telur emas itu. Ia buka kotak besi itu. Tak ada satupun telur emas di kotak itu.

Samedin akhirnya memutuskan untuk hijrah meninggalkan tanah wingit itu. Tak ada satupun orang yang bersedia membeli tanah itu. Ia biarkan tanah itu terbengkalai. Selanjutnya ia membeli tanah baru, yang berada di daerah pedesaan, yang sekitarnya masih banyak terdapat sawah. Di sana Samedin meneruskan bisnis ternak puyuh berdasarkan hasil pengalaman sebelumnya. Meskipun hasil telur dari ternaknya tak sebanyak yang dulu, Samedin merasa hidupnya yang sekarang jauh lebih damai. Meski tak bergelimang harta dari telur emas, ia bahagia hidup sederhana di pedesaan dan tak lagi mengalami mimpi buruk yang aneh-aneh seperti sebelumnya. (*)


Fileski
lahir dan tinggal di Madiun, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Taman Tak Bernama (2016) dan Jejak Inspirasi Fileski (2015). Sedang buku puisinya berjudul Kitab Puisi Negeri Kertas (2015). Akun media sosial: @Fileski (instagram) | WA 628888710313
Alamat: Jl Koperasi A08 Banjarejo, kec Taman, Kota Madiun.