Sesal yang Tak Berujung - negerikertas.com

INFO ATAS

LEMBAGA INDEPENDEN DI BIDANG PENDIDIKAN LITERASI, SENI BUDAYA, DAN SASTRA.

11 Agu 2023

Sesal yang Tak Berujung




 

Suara kereta berderit-derit memenuhi stasiun. Arman duduk dengan gelisah di bangku ruang tunggu. Sesekali ia terlihat mondar-mandir di peron stasiun sambil menyapukan pandangannya ke arah penumpang yang baru turun dari kereta. Tampaknya, Arman sedang menanti seseorang.

“Marni seharusnya sudah tiba. Mengapa dia belum datang juga?” gumamnya dalam hati.

Hari itu adalah hari yang istimewa. Marni berulang tahun. Arman sudah berjanji untuk merayakannya di tempat makan favorit mereka di tengah kota Jakarta. Untuk itu, keduanya berjanji bertemu di stasiun pada pukul sepuluh pagi, lalu berangkat bersama menggunakan mobil Grab.

“Apa yang terjadi dengan Marni ya?” pikirnya kemudian.

Hingga sejam berlalu, Marni masih belum tampak batang hidungnya. Arman lalu memutuskan untuk menghubungi kekasihnya itu melalui ponsel. Sayangnya, panggilan telepon itu tidak sekalipun tersambung. Sepertinya, ponsel Marni tidak aktif atau berada di luar jangkauan.

***

Sore yang kelam. Marni tiba di Desa Baya, Sulawesi Tengah. Dia melangkah dengan hati yang berat menuju rumahnya. Beberapa kerabat tampak berkumpul di depan rumah menyambut kedatangannya. Wajah-wajah mereka terlihat muram, segelap mendung yang menggelayut di langit Desa Baya sore itu. Marni tak kuasa menahan air mata yang terus membanjiri pipinya sejak kabar duka itu diterimanya pagi tadi.

Suasana duka itu semakin terasa tatkala Marni memasuki rumahnya. Tampak olehnya kedua adiknya, Dedi dan Farah berlinangan air mata. Keduanya menangis sesenggukan sambil memeluk foto ibu mereka yang jasadnya baru saja selesai dihantarkan ke peristirahatan terakhir.

“Kita harus kuat. Kita harus menjaga satu sama lain sekarang. Kakak akan menjaga kalian seperti Ibu melakukannya,” ucap Marni sambil memenangkan kedua adiknya.

Ada rasa penyesalan dalam hatinya karena ia tidak sempat menemani ibunya di saat-saat terakhir perempuan itu menghembuskan nafas terakhirnya. Bahkan, rasa sesal Marni semakin dalam, karena ia tidak sempat lagi menyaksikan wajah perempuan yang melahirkannya itu untuk terakhir kalinya sebelum dikebumikan. Marni terlambat karena harus menempuh perjalanan pesawat yang cukup jauh dari Jakarta.

Sore itu di pusara ibunya, Marni menumpahkan segala duka dan penyesalan yang begitu dalam. Dia berjanji akan menjaga adik-adiknya dalam kondisi apapun. Sebab hanya dia satu-satunya orang yang menjadi tumpuan harapan kedua adiknya yang masih duduk di bangku SD itu.

***

Arman merasa cemas dan gusar. Beberapa hari kemudian, setelah mencoba menghubungi Marni tanpa hasil, ia memutuskan untuk mencari tahu apa yang terjadi. Arman pergi ke tempat tinggal Marni. Namun, Marni tidak ada di kamar kosnya. Di sana, Arman hanya bisa menemui Bu Inge, ibu kos Marni.

“Maaf, bu. Saya mencari Marni. Dua hari lalu kami ada janji bertemu, tetapi Marni tidak datang. Ponselnya tidak aktif. Saya tidak tahu apa yang terjadi dengannya.”

“Oh, Maafkan saya. Marni pulang ke kampung halamannya karena mendapat kabar bahwa ibunya meninggal dunia,” jawab Bu Inge.

Arman tersentak mendengar berita itu, “Apa? Ibunya meninggal? Mengapa Marni tidak memberitahuku?”

“Mungkin dia terlalu sedih dan terburu-buru pulang ke kampung halamannya,” jelas Bu Inge.

Arman hanya mengangguk. Ia lantas mencoba lagi menghubungi ponsel Marni. Namun, masih belum tersambung juga. Nomor ponsel kekasihnya itu sepertinya tidak aktif lagi. Sambil menghela nafas panjang, Arman berusaha menenangkan dirinya. Mungkin sinyal telepon di kampung Marni kurang baik. Begitu pikirnya. Siang itu, Arman kembali ke rumahnya dengan perasaan galau dan campur aduk. Ia tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan.

***

Sementara itu di kampungnya, Marni menyadari bahwa dengan kondisi seperti ini dia tidak bisa kembali lagi ke Jakarta, tempatnya mengadu nasib selama ini. Adik-adiknya masih terlalu kecil untuk ditinggal sendirian. Untuk membawa serta mereka berdua ke Jakarta juga tidak mungkin. Itu terlalu berisiko.

“Dedi… Farah… Kak Marni mau menyampaikan sesuatu. Kakak tidak bisa kembali lagi ke Jakarta,” ucap Marni beberapa hari kemudian.

“Kenapa memangnya Kak?” tanya Dedi si bungsu.

“Ibu kita sudah tiada. Kakak harus menjaga dan membesarkan kalian berdua. Kalian masih sekolah dan perlu seseorang yang mengurus kalian di sini,” jelas Marni.

“Meskipun Kakak ingin sekali bekerja di kota Jakarta, tetapi keluarga adalah yang terpenting sekarang. Kakak akan bekerja di desa ini dan kita akan hidup bersama,” lanjutnya.

Dedi menggenggam tangan Marni, “Kami akan selalu bersamamu, Kak. Kita akan menjadi keluarga yang kuat.”

Marni tersenyum pahit. Dia harus meninggalkan impian dan kehidupan di Jakarta. Namun, dia tahu bahwa dia telah membuat keputusan yang benar. Bersama adik-adiknya, mereka akan membentuk keluarga yang saling mendukung.

“Terima kasih, Dedi dan Farah. Kalian adalah adik-adik yang memberi Kakak kekuatan untuk melanjutkan hidup ini. Kita akan melewati semua ini bersama ya,” ucap Marni sambil mengusap air mata.

Dedi dan Farah merangkul Marni. Di dalam hati keduanya, ada cinta kasih yang membuat mereka saling menguatkan dalam menghadapi masa-masa sulit yang terpampang di depan mata. Hal itu membuat Marni bertambah haru. Marni teringat masa lalu, kala ia masih duduk di kelas 6 SD. Sementara Dedi baru berusia satu tahun dan Farah tiga tahun. Ayah mereka, Pak Rudi, memutuskan untuk bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi. Namun, setelah kepergiannya itu, Pak Rudi tidak pernah kembali ke kampung.

“Ibu, di mana Ayah sekarang? Kapan dia akan pulang?” tanya Marni suatu hari.

Bu Siti tak kuasa menahan sedih saat mendengar pertanyaan anak sulungnya itu. Matanya berkaca-kaca sambil memandangi satu per satu wajah-wajah polos anaknya.

“Sayang, Ayahmu memilih untuk bekerja di Arab Saudi dan meninggalkan kita. Dia tidak akan pernah kembali lagi.”

Marni terkejut mendengar penuturan ibunya. “Tidak mungkin Bu. Ayah pasti akan kembali, ya kan?” ucapnya sambil mengguncang-guncangkan tubuh ibunya seolah tak percaya dengan kenyataan itu.

“Ibu juga berharap begitu, Nak. Tapi kenyataannya, Ayahmu tidak pernah menghubungi kita lagi. Dia telah meninggalkan kita sendiri di kampung ini.” Bu Siti merangkul Marni. Tangisnya tumpah di dalam hatinya. Ia berusaha menahan kesedihannya, agar anak-anaknya tidak ikut merasakan kepiluan itu.

Marni merasakan hatinya ikut hancur kala itu. Dia tidak mengerti mengapa ayahnya memilih pergi dan meninggalkan mereka tanpa kabar apapun. Ia bisa merasakan kesedihan batin yang mendera ibunya. Kini sepeninggal ibunya, Marni harus mengambil peran sebagai seorang ibu, sekaligus ayah bagi adik-adiknya.

“Aku akan bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan kita bertiga,” ucap Marni dalam hatinya.

Seiring berjalannya waktu, Marni berusaha keras untuk mencari pekerjaan. Ia bekerja sebagai buruh tani serabutan dan menjalankan berbagai pekerjaan sampingan untuk menghidupi keluarganya.

Meski hidup mereka berat, Marni tetap berusaha memberikan kasih sayang dan perhatian yang tulus kepada adik-adiknya. Ia memastikan bahwa Dedi dan Farah mendapatkan pendidikan yang baik dan makanan yang cukup.

***

Sepuluh tahun berlalu sejak kepergian Marni ke kampung tanpa kabar apapun. Arman menjalani hidupnya dengan pahit manisnya. Dia menikah dan memiliki anak, tetapi Marni masih bercokol dalam pikirannya.

Suatu malam, saat menonton acara televisi “Tali Kasih” Arman tercengang melihat sosok perempuan yang sedang berbicara di depan kamera. Ia seperti mengenal perempuan itu.

“Saya Marni. Sepuluh tahun lalu, karena keadaan memaksa saya terpisah dengan kekasih saya, Arman. Saya berharap dapat bertemu dengannya lagi. Saya masih mencintainya meskipun sudah lama kami tidak bertemu,” ucap perempuan itu.

Hati Arman berdebar. Jantungnya berdegup kencang. Ia seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Setelah sepuluh tahun, takdir masih memberinya kesempatan untuk bertemu dengan Marni lagi.

“Aku harus menemukan Marni. Aku harus tahu bagaimana kabarnya sekarang,” ucapnya dalam hati.

Keesokan harinya, Arman pergi ke stasiun televisi yang menyiarkan acara “Tali Kasih” tersebut. Dia menanyakan tentang Marni pada karyawan TV di sana.

“Permisi, saya ingin bertanya tentang Marni, sosok perempuan yang ditayangkan di acara Tali Kasih semalam. Saya Arman, kekasihnya.”

“Maaf, Bapak. Bu Marni melakukan pengambilan gambar untuk program itu sekitar tiga minggu yang lalu. Saya hanya punya alamat dan nomor ponselnya. Mau saya berikan?”

“Ya, tentu. Terima kasih banyak!”

Karyawan TV memberikan nomor ponsel dan alamat Marni kepada Arman. Dengan hati yang masih tak keruan, Arman langsung menghubungi nomor ponsel Marni yang baru.

“Halo …” Terdengar suara perempuan di ujung sana.

“Halo, ini Arman. Bisakah saya berbicara dengan Marni?

“Oh… Maaf, Pak. Kak Marni saat ini tidak bisa berbicara dengan Pak Arman..."

"Kenapa? Ada apa dengan Marni?

"Saya tidak bisa menjelaskannya lewat telepon. Pak Arman bisa datang ke sini untuk mengetahui semuanya."

"Oke, tolong berikan saya alamatnya."

"Ya, saya akan mengirimkannya lewat sms."

Arman menutup pembicaraan itu dengan perasaan penuh tanya. Ia semakin penasaran terhadap apa yang terjadi dengan Marni.

Berbekal alamat yang diberikan Farah, keesokan harinya Arman berangkat sendirian menggunakan pesawat. Hari telah menjelang senja ketika ia sampai di Desa Baya. Farah dan Dedi menyambutnya penuh haru. 

"Kak Marni sudah meninggal seminggu yang lalu karena sakit kanker. Selama ini Kak Marni tinggal bersama kami di kampung dan belum menikah. Tapi saya tahu dia masih mencintai Pak Arman,” ucap Farah. 

Arman terkejut. Ia tidak menyangka akan menemui kenyataan pahit seperti itu. Arman tertunduk lemas. Air mata berlinang di pipinya. Bibirnya kelu, tak sanggup berkata apa-apa lagi. Harapan yang sudah ia bangun, kembali hancur berkeping-keping setelah mendengar kabar duka tentang Marni.

“Maafkan aku, Marni. Aku tidak bisa memenuhi janji kita. Aku merindukanmu begitu dalam. Selama ini aku menunggu kabar darimu. Tetapi hari ini, yang kutemui hanya tinggal pusaramu.”

Arman tak kuasa menahan haru yang semakin menguasai dirinya. Ia berlutut di depan pusara kekasihnya yang sangat ia rindukan. Dalam tangisnya, Arman terus mengucapkan rasa cintanya kepada Marni dan penyesalannya yang terlambat.

Arman berjanji dalam hatinya untuk menjaga kenangan Marni tetap hidup dan melanjutkan hidupnya dengan cinta dan penghargaan terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya. Untuk menebus kesalahannya, Arman memboyong Dedi dan Farah ikut bersamanya ke Jakarta.

---SELESAI---

Jakarta, Penghujung Juni 2023


Bionarasi
Sahbuddin Dg. Palabbi. Lahir dan tumbuh besar di Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah. Saat ini bekerja sebagai ASN dan berdomisili di Jakarta. Penikmat dan penulis karya sastra seperti novel, cerpen dan puisi. Pernah menerbitkan novel ”Trilogi Konspirasi”. Meraih juara Harapan 1 dalam lomba menulis cerpen Leaders.id Tahun 2023 serta tergabung dalam beberapa antologi cerpen. Beberapa kali juga memenangkan lomba cipta puisi dan tergabung dalam antologi puisi bersama penyair lainnya.  Penulis dapat dihubungi via WA 08111959007



INFO BAWAH

NB: Untuk saat ini, Negeri Kertas belum bisa memberikan honor untuk karya (Puisi/Cerpen) yang tayang.