Puisi Saat Keadilan Dibacakan karya Min Youxi - negerikertas.com

INFO ATAS

Share link karya anda ke banyak orang agar mendapat peluang besar untuk meraih Anugerah Sastra dari Negeri Kertas, dengan kriteria karya kualitas terbaik dari 10 karya dengan pembaca terbanyak. Berhadiah uang tunai dan piagam penghargaan.

Media Sastra dan Seni Budaya

WA 628888710313 | Email nkertas@gmail.com

16 Jun 2022

Puisi Saat Keadilan Dibacakan karya Min Youxi

 Saat Keadilan Dibacakan

Oleh: Min Youxi*

Saat Keadilan,

Kemakmuran, dibacakan

:

Panca Makmur

Satu, Ketuhanan tanpa ketahanan

semoga terus Maha Esa.

Dua, Kemanusiaan adil tidak kerdil

beradap tanpa muslihat debat.

Tiga, Satukan rakyat surga Indonesia.

Empat, yang dipimpin dengan khidmat, hikmat

penuh bijak jangan dibajak

demi musyawarah melalui keadilan.

Lima, adili dan imbangi seluruh hak rakyat Indonesia

tanpa harta di tangan, mulut, kaki dan mata.

:

Sungguh tenang tanpa didengar.

Namun aku melihat yang dibacakan,

Diimplementasikan, dalam mimpi

Penuh ayal-hayalan dan harap-harapan


Pada ayat-ayat yang bibacakan

;Bendera merah putih, berkibar

Penuntut keadilan, berkobar.


Corona 

Malang sekali hidup mereka

Mati dalam bingkai sia-sia

Pemimpin, pejabat, petani, dan rakyat

Meringkuk gentar gemetar

Makhluk abstrak tak berdosa

Menebar asa tanpa rasa

Penjemput maut banyak jiwa,

O, makhuk abstrak 

Dihadapanmu, mereka bisa apa?


Si mungil Corona

Kamu tidak bisa dilihat dengan mata telanjang

Kamu sejauh ini banyak merebut harapan

Hei, kamu begitu baik rupanya

Menjaga aku agar tidak keluyuran di luar sana

Menjaga jarak agar tak tersentuh hal fana

Kamu;

Si mungil yang kasat mata

Nyata namun tak ada

Masih akan berapa nadi lagi?

Masih berapa denyut lagi akan kau buat mati?

Tuhan, kapan kau akan meniadakan

Seutuhnya,

Sebab hantu yang telah mengabadikan


Pejabat Hantu

Pada sebuah gubuk bambu sempit

Kami hanya menyantap tahu dengan sumpit

Tahu yang kami dapat dari curian

Sumpit hasil pungut dari comberan

Oh Tuhan kami,

Di zaman corona ini

Sungguh betapa nestapa nasib kami

Petinggi yang dulunya mengaku arif

Tak lebih dari sesosok hantu di ujung alif

Memeras kami dalam bisu

Menindas kami, begitu nyilu

Oh Tuhan kami,

Mereka yang berjanji menolong dengan hati

Hanya semakin membuat kami mati suri.


*Min Youxi, nama pena dari Chalidatul Maghfiroh. Lahir pada tanggal 17 Desember 2002. Perempuan asal Rubaru Sumenep Madura ini tercatat sebagai anggota Forum Lingkar Pena ranting PP Annuqayah Latee II sejak 2020. Saat ini menjadi santri di Ponpes Annuqayah. Ia suka menulis sejak di bangku SD. Jejaknya bisa ditemukan di instgram: min.youxi. dan facebook: Min Youxi.

E:\Ramadhan Tajalla\RAMADHAN CEK!\Save Picture\DSC00240.jpg


INFO BAWAH

[ Dukung peningkatan honor penulis karya terbaik dengan cara klik iklan yang ada di website ini. Untuk berhenti mendapat info dari NK, caranya ketik UNREG kirim ke nkertas@gmail.com ]