CERPEN Hilangnya Sosok yang Paling Dicari di Pasar : Lintang Alit Wetan - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis cerpen atau puisi untuk memperebutkan Anugerah Kesaktian Pancasila. Deadline 1 Oktober 2022 | Kirim ke email nkertas@gmail.com

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

30 Apr 2022

CERPEN Hilangnya Sosok yang Paling Dicari di Pasar : Lintang Alit Wetan

 Hilangnya Sosok yang Paling Dicari di Pasar

Cerpen: Lintang Alit Wetan 


Pasar bergetar. “Eloi, Eloi Lama Sabaktani!” Pasar hancur berantakan. “Tuhanku, Tuhanku. Mengapa Engkau tinggalkan aku?” Raungan seorang pengemis penyandang disabilitas bernama Gimin bin Sentulkenyut. Sehari-hari aku mengais rejeki dari belas kasihan orang-orang yang hilir mudik di pasar. Pasar musnah. Kumuntahkan lahar panas dari rongga mulut. Puluhan tahun tak terjamah obat pembersih mulut. Dan, ketika mulutku terbuka, lebar-lebar mirip mulut gua, bau busuk mulut inipun sanggup meninabobokan seisi pasar. 

***

Tidak ada keanehan. Seperti biasa, Sarkoni, tukang ojek kampung, mengantarku ke pasar. Aku tinggal di lereng bukit Serayu Utara. Medan terjal, jalanan berbatu, berkelok-kelok adalah santapan harian di perjalanan yang biasa aku lewati. Dari rumah gubuk reot menuju pasar. Di kanan kiri jalan selebar bentangan sajadah, di bibir jurang dan ngarai yang dalam dan curam. Siap mencaplokku menjadi mayat, bila aku lengah barang sedetik pun, lalu jatuh. Tamat riwayat, menjadi hantu-hantu bergentayangan di siang bolong.

Tidak ada keluhan. Bahkan aku bersyukur dengan keadaan seperti ini. Istriku, Sukilah buta sejak kecil, karena penyakit katarak. Tidak mampu disembuhkan. Keluarga miskin yang hidup dari memburuh serabutan, hasilnya cuma cukup untuk dimakan sehari-hari. Itu pun dicukup-cukupkan. Kurang. Untuk makan sehari-hari saja mencekik leher, boro-boro untuk biaya berobat Sukilah yang sakit katarak.

Tidak masalah. Walaupun istriku, tuna netra, tapi istriku sangat mencintaiku. Aku pun demikian. Kami layaknya pasangan suami istri idaman. Bagai pasangan Raden Arjuna dan Dewi Subadra. Ini membuat banyak tetangga di sekitar rumah, iri pada kami. Nah, ini akan menjadi masalah besar di kelak kemudian hari.

***

“Teman-temanku. Es teh manis sudah aku sediakan. Silakan diminum.” Begitulah, biasa aku traktir teman-temanku di beranda pasar. Es teh manis-es teh manis itu aku beli dengan uang yang sengaja aku sisihkan, aku tabung di celengan gogok. Aku ambil sediikit tiap kali akan berangkat mengemis di pasar. Ini ikhtiarku sebagai tabungan amalan kelak.

“Mba Sri, monggo diminum es teh manisnya.” Ucapku pada Sri, penjual bunga.

Sri berkenalan denganku tanpa sengaja. Jadi, sehari-harian aku mengemis di beranda pasar ini, kadang-kadang juga di pasar itu. Pasar ini, pasar itu. Rumahku yang di lereng gunung, banyak bunga di gunung yang sering kupetik. Aku menyuruh orang untuk memetiknya, terutama bunga-bunga Edelweis. 

Sembari mengemis, aku titipkan bunga-bunga Edelweisku ke Sri, untuk dijual. Jujur sebenarnya aku tak sekadar menitip jualan bunga pada Sri. Tetapi, dari lubuk hatiku terdalam, aku menaruh hati padanya, pada Sri. Walaupun, ini satu langkah pengkhianatan cintaku pada Sukilah, istriku. Biasa kan, laki-laki melihat daun muda yang lebih kinclong, aku pun terpesona dengan kemolekan Sri. 

Rambutnya yang panjang terurai berkibaran diterpa semribit angin. Bibir Sri yang merah merona, dihiasi ketebalan gincu. Jenjang-jenjang kaki indahnya, panjang menjuntai. Pleding pahanya kuning bersih berkilauan terkena kilatan cahaya. Bulu mata lentik, mata belo indah merona. Hidung mbangir. Sepasang tangan nggendewa pinenthang. Dan cara berjalan yang mblarak sempal adalah daya tarik Sri sebagai seorang perempuan. Sri.

“Kembang..Kembang..Kembang gunung,” Teriakan Sri melumat hati seluruh pengunjung pasar. Pasar ini, pasar itu, mungkin juga pasarmu, sabar kusinggahi. Cuma untuk mengemis. Meminta belas kasihanmu. Dengan demikian, bukankah engkau dan mereka, orang-orang yang hilir mudik di pasar bersedekah, menabung amalan lewat aku di kelak kemudian? Insya Allah.

***

Hujan lebat. Sungguh lebatnya. Sri memayungi tubuhku dengan payung berwarna hitam yang disana-sini bolong-bolong. Di emperan pasar ini, kami mengais rezeki. Tubuhku menggigil kedinginan. Sri mengelap wajahku yang basah dengan sapu tangan jadul. Sapu tangan ungu. Diperasnya sapu tangan yang menyerap air dari wajahku. Berkali-kali. Ratusan kali. Ribuan kali. Tak terhitung berapa kali lagi.

“Duar! Duar! Duar!” Guntur menggelegar. Sore yang basah, seisi pasar di dataran rendah, kota ini digenangi air yang nyaris bagai bah Nuh. Lama kelamaan, pasar pun tak nampak lagi. Ditelan air bini

***

Ketika sapu tangan ungu Sri tak terhitung sudah berapa kali diperas airnya, air yang menyapu wajahku. Sri berinisiatif memanggil ojek online, lantas kami, aku dan Sri buru-buru pulang ke rumah, meninggalkan pasar yang pasti dalam hitungan menit, ditelan banjir bah. Rumahku dan Sri bertetanggaan, beda desa. Sri dari Desa Nggerotan Kretek. Aku dari Desa Posong. Di sepanjang jalan, Sri disibukkan dengan memunguti bunga-bunga gunung jualannya yang belum laku, lalu dibawa pulang. Tukang ojek online tergesa-gesa, aku yang di jok tengah, sedangkan Sri di jok belakang. Aku dan Sri terbanting-banting di jalanan gunung, berbatu-batu, belak-belok mengular, naik terjal, turunan tajam di kanan kiri jalan ialah jurang. Lengah sedikit, siap menerkam nyawa kami bertiga.

Bunga-bunga Sri, satu persatu berjatuhan. Satu dipungut, ojek berjalan, jatuh satu bunga lagi. Terus begitu berulang-ulang.

Kabut gunung makin tebal. Kabut menutup jarak pandang kami. Kabut seperti menutup rekah hatiku, hatimu, atau hati kami yang penuh kemelut. 

Sempat-sempatnya, aku berpuisi dalam situasi seperti ini. Dengan lantang, di atas jok motor terdengar oleh tukang ojek online yang menggerutu ngomel-ngomel oleh ulahku. Dan, Sri cengar-cengir, senyummu indah menusuk-nusuk jantung hatiku.

KABUT

Hari berkabut/Menutup rekah hatimu yang penuh kemelut/Aku pun kalut

Kalang kabut/Memper pukat harimau diterjang torpedo//“Blar! Blar! Blar!”/Hari berkabut/Bahkan semakin tebal/Makin tebal!//Na..na..na..na..Hopla!/Na.. na..na..na..Plung!/Na..na..na..na..Lap!/Na..na..na..na..Plas!//Kabut/Lenyap/Musnah//Blar//

Dalam hitungan sepersekian detik, bertepatan musnahnya kabut, tukang ojek online, Gimin Sentulkenyut dan Sri raib. Tertelan masuk ke dalam hape masing-masing, dan pindah tempat melewati dimensi ruang dan waktu. Mereka menghuni kota yang sedang dimulai pembangunannya sebagai ibukota negara, yang baru di satu pulau. Di luar Pulau Jawa!***

Seperti biasa, diperlakukan tidak terjadi apa-apa. Pasar ini ramai dikunjungi orang. Transaksi jual beli berjalan sedia kala.

“Gimin Sentulkenyut, pengemis disabilitas dan Sri, kembang gunung tidak terlihat batang hidungnya, beberapa Minggu ini!” Teriakan Warsini, bakul cenil lopis.

“Iya. Kemana mereka, ya?” Bakul-bakul yang lain, balik bertanya. Semua orang di pasar ini, saling berpandangan. 1001 dugaan terbersit di kepala masing-masing. Mungkinkah, raibnya Gimin Sentulkenyut dan Sri berhubungan dengan kunjungan presiden dan gubernur beserta rombongan ke pasar ini, Pasar Kretek tempo hari. Untuk mengecek langsung produksi bawang dari petani di daerah asal penanaman bawang oleh petani di Parakan?

Masing-masing orang terus bertanya-tanya, kemanakah gerangan perginya, hilangnya Gimin Sentulkenyut dan Sri. Gimin Sentulkenyut dan Sri, menjadi sosok yang paling dicari oleh orang-orang seisi pasar.

Di tempat berbeda, di waktu yang sama. Masih sama-sama Waktu Indonesia bagian Barat. Gimin Sentulkenyut, sedang asyik menghitung uang. Ia tampil berdasi, kemeja kantoran, berjas dan sepatu disemir bersih, rambut disisir rapi model kalangan atas.

“Jadi meeting hari ini selesai. Salam sehat, selamat weekend dan berbahagia bersama keluarga.” Kata penutup Mr. Sugimin Sentulkenyut Prawironegoro, nama dan panggilan beliau kini.

“Baik, Pak Manager. Oke, Pak Bos. Terima kasih Bapak Gimin Sentulkenyut Prawironegoro.” Semua staff dan karyawan di ruangan meeting satu perusahaan money changer penukaran uang, berdiri hormat, kedua tangan mengatup di dada sikap hormat menyembah, dan menekuk badan ke depan 90 derajat. Tiap-tiap orang, bawahan di perusahaan itu, menahan tawa geli ketika menyebut nama Gimin. 

Dengan santun dan santai, aku keluar ruangan meeting. Berjalan tegap dan penuh wibawa, sebagai seorang big bos. Kutemui istriku, dua istriku: Sukilah dan Sri di ruang lobby. Kemudian, kugandeng Sukilah di sebelah kananku, Sri di sebelah kiriku, berjalan ke luar kantor. Di depan kantor, mobil Limousine disopiri oleh bekas tukang ojek onlineku di desa, dulu sudah menunggu. Kutinggalkan kantor money changer megahku, dengan mobil Limousine super mewah yang melaju. Menderu***Purbalingga, April 2022.









 


Biografi:

(*)Lintang Alit Wetan adalah nama pena dari Agustinus Andoyo Sulyantoro lahir di Kalialang, Kemangkon, Purbalingga 13 Mei. Alumni S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS IKIP Yogyakarta (UNY) 1997. Karya cerpen dan puisinya pernah diterbitkan  berbagai media cetak dan online, serta dibukukan dalam kumpulan bersama. Tahun 2021, ia tampil di Ubud Writers & Readers Festival, Bali. Cerpennya Seseorang dan Langkah Misterius Itu masuk NOMINE Anugerah Sastra LITERA, sehingga cerpen ini masuk di buku kumpulan puisi dan cerpen pilihan Memancing di Tubuh Ibu (Kerja sama antara LITERA dengan Badan Bahasa Kemendikbud RI, 2021). Sedangkan cerpennya Tuyul Pikmars (Piknik ke Mars) Naik UFO menjadi cerpen pilihan Mbludus.com. Buku antologi puisinya yang sudah terbit Lingkar Mata di Pintu Gerbang (2015), kumpulan esai Banyumas dalam Prosa Nonfiksi (2016), menyunting buku antologi sajak Perjamuan Cinta (2015), kumpulan esai Manusia Jawa Modern (2016), kumpulan puisi Para Penuai Makna (2021), kumpulan sajak & cerpen Tuan Tanah Kamandaka (2021).

 









INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa puisi/cerpen/artikel + biodata narasi + foto penulis atau gambar ilustrasi, semuanya dalam satu lampiran MS Word. Kirim ke email nkertas@gmail.com