CERPEN Bunga Kenangan Kunti : Lintang Alit Wetan - negerikertas.com

INFO ATAS

Share link karya anda ke banyak orang agar mendapat peluang besar untuk meraih Anugerah Sastra dari Negeri Kertas, dengan kriteria karya kualitas terbaik dari 10 karya dengan pembaca terbanyak. Berhadiah uang tunai dan piagam penghargaan.

Media Sastra dan Seni Budaya

WA 628888710313 | Email nkertas@gmail.com

30 Apr 2022

CERPEN Bunga Kenangan Kunti : Lintang Alit Wetan

 Bunga Kenangan Kunti

Cerpen: Lintang Alit Wetan


     Perempuan itu begitu peduli dengan semua orang. Ia pernah divonis mati oleh dokter akibat sakit komplikasi penyakit dalam. Vonis mati, ia jungkir balikkan. “Mukjizat masih ada!” Ia berujar padaku suatu hari, ketika di atas becak kuantar menuju kampus.  Bahkan, ia masih hidup, sehat wal’afiat sampai sekarang.   

    Perempuan itu berdarah biru. Ia lahir dari keluarga istana. Perempuan berumur separuh baya --50 tahun, itu bertutur kata halus, sopan perilaku dan budi bahasa. Ia berpostur tinggi semampai, memakai kaca mata minus tebal, berambut panjang ekor kuda –kadang-kadang digelung atau sanggulan. Ia ramah.

     “Ya, di kalangan tetangga sekitar rumahnya, atau di perjalanan berangkat pulang dari rumah atau ke kampus, atau dimana tempat di acara apa pun.” Cara berpakaian, sederhana. Tidak ada perhiasan dan aksesoris yang dipakai untuk menghias penampilan. Tidak ada lipstik, gincu, aesadow, bulu mata palsu, anting sebesar koin rupiah yang bergelayutan di sepasang daun telinganya yang sudah indah, cantik dan elok, dengan lubang telinga yang lebar. Senyum ramah. 

     “Perempuan itu sungguh sopan. Berpapasan dengan siapa pun, ia serta merta lebih duluan membungkukkan badan, tersenyum, tangan kanan lurus ke bawah menghadap tanah.” Tatapan matanya tajam, tetapi tidak jelalatan. Tidak pecicilan. Sapaan ramah dan lembut menjadi ciri khasnya. Ia selalu menyapa terlebih dulu, dengan kata-kata sapaan ”Nyuwun sewu..Nderek langkung..Kados pundi kabaripun.”

     Kunti. Di namanya, justru ia tidak mau disertakan embel-embel yang menunjukkan bahwa ia bergaris keturunan ningrat, atau berdarah biru. Atau gelar kesarjanaan, pertanda ia lulusan perguruan tinggi. Tidak! Ia tidak mau ada gelar kebangsawanan dan gelar kesarjanaan pada namanya. Cukup Kunti saja. Kuntiku ya, ingat, bukan Kuntimu!

***

     Perempuan itu hambel dan empati, lebih-lebih ketika melihat tetangganya, aku, menganggur. Dan, aku baru saja mengalami musibah. Sebagai petani salak pondoh madu. Satu hari, kudapat orderan berton-ton salak pondoh madu, dari seorang juragan pedagang buah kaya raya tapi baik hati, yang tinggal di Bogor. Dengan colt cowak, aku berangkat gasik menuju Bogor. “ Ya untuk mengirim pesanan salak pondoh.” Kataku pada Gombloh, kenet colt cowak, buruh serabutan.

     Bagiku --yang cuma tamatan Sekolah Dasar-- pembeli adalah raja. Selalu kujalin komunikasi secara baik dan harmonis dengan para pelanggan. Ini kutunjukkan dengan mau berkunjung dan mengirim salak pondoh madu langsung ke pelanggan, walaupun kalau dihitung jaraknya sangat jauh. Bukan! Bukannya aku malahan menyuruh-nyuruh, mengatur pelanggan supaya mengambil sendiri salak pondoh madu itu di kebun, atau di rumahku. Tidak!

     Maka, di pagi subuh, di saat hujan lebat. Ditemani Gombloh, aku meluncur menuju Bogor.

     “Ciit..Ciit...Jedor! Bres...Bres...Bress!”

     Sial. Celaka. Colt cowakku, ban mbledos. “Dor!” Oleng ke kanan, oleng ke kiri. Dan, colt berakhir menabrak ruko satu dealer sepeda motor yang terletak di sisi utara perempatan jalan kotaku. Colt cowak itu ringsek. Salak pondoh madu tumpah berantakan kemana-mana. Lebih ngeri lagi, Gombloh ditemukan meninggal di TKP (Tempat Kejadian Perkara). Gombloh nyungsep di bawah kolong colt cowak, tertimbun salak pondoh madu, dan kondisi jenazahnya, sungguh mengenaskan. Sementara itu, aku masih bisa diselamatkan. Dan, segera dievakuasi. Dengan mobil lain yang kebetulan lewat di saat insiden terjadi. Oleh pengemudi mobil lain; aku dan Gombloh, sama-sama dilarikan ke rumah sakit terdekat. Aku dirawat hampir setengah tahun di rumah. Dengan berpindah-pindah rumah sakit, lebih dari 5 rumah sakit, atas rujukan dokter. Kujalani bermacam operasi besar. Setelah 1 tahun, kondisi kesehatanku berangsur-angsur pulih. Membaik. Sehat wal’afiat. Masalah lain muncul. “Aku menganggur!”

***

     Melihat kondisi ekonomi keluargaku, Kunti tergerak hatinya. Ia pun rajin berkunjung ke rumahku. Satu waktu, Kunti berkata padaku,“Bagaimana kalau saya belikan becak, Mas bekerja? Lalu, Mas antar jemput saya pergi pulang dari kampus? Dan, saya tetap mengongkosi Mas?”

     “Dheg!” Aku terhenyak. Kaget. Seperti tertohok dengan empati, dan perkataan Kunti. Memang, semua warga di kampung tempat kutinggal mengenal akan kebaikan perempuan itu, seperti bunga-bunga surga yang ditebarkan di sepanjang pematang kehidupan. Setelah berembuk dengan istri tercinta, kuiyakan tawaran perempuan itu.

     Di rumahku, kini ada 10 becak. Semua dibelikan oleh perempuan itu. “Tak tanggung-tanggung, 10 becak. Tidak cuma 1 becak.” Setelah tragedi kecelakaan itu, kini aku punya pekerjaan baru sebagai tukang becak spesial. Khusus antar jemput perempuan itu. Aku selalu setia menunggu di emper kampus, hingga perempuan itu selesai mengajar. Nah, aku agak bergegas menuju pintu keluar kantor perempuan itu, begitu rampung. Kubawakan tas, lebih tepatnya kopor berisi diktat-diktat tebal, paper-paper mahasiswa yang dibawa pulang oleh perempuan itu, untuk dibaca ulang, dikoreksi lagi di rumah.

     Kuparkir becak di parkiran roda 2 di Pasar Beringharjo. Pulang mengajar di Kampus Karangmalang, perempuan itu berbelanja tetek bengek ini itu di Pasar Beringharjo. Usai belanja di pasar, aku akan mengayuh pedal becak mengantar perempuan berdarah biru itu melindas aspal panas kota Yogyakarta. Bagiku, perempuan itu, yang sedang duduk di jok depan becak, bukan perempuan biasa. Kuanggap sebagai perempuan luar biasa. Atau, malaikat yang turun dari langit ketujuh, turun dari surga bagi keluargaku.

***

     Kunti suka naik kuda balap. Suatu kali, ia menunggang kuda dari rumah menuju kampus. Kuda balap, bernama Jack, ia uger di bawah pohon kelengkeng. Lalu, ia bergegas meninggalkan kuda balap itu, lalu masuk kampus.  Jack, menjadi pusat perhatian para mahasiswa yang berada di luar ruangan kelas. Mereka secara bergiliran menyediakan pakan,  makanan kuda balap itu. Heboh! Dasar Kunti. Selain ningrat atau bangsawan berdarah biru. Ternyata, ia juga menyukai hal-hal yang menakjubkan. Spektakuler! Ditantangnya, aku, menggenjot becak start dari rumahnya, finish di kampus. 

     “Hore... Horeee!” Bergemuruh, tepuk tangan meriah menyemangati aksi balapan ini. Jack dan becakku salib-menyalib. Kadang Jack posisi berada di depanku, selang beberapa menit disusul, tersalip becakku. Tontonan gratis ini, mengundang antusiasme orang-orang di sepanjang jalan yang dilalui. Semua pengendara, meminggirkan kendaraannya untuk memberi ruang. Agar aksi balapan ini lancar.

     Kunti nakal! Ia tusuk-tusuk silit Jack dengan tuding. Tuding adalah sebilah penggaris yang terbuat dari bambu, sehingga lari Jack pun amat kencang. “Ha…ha…ha….” Tawa riang Kunti. “Wekekek…wekekek…wekekek…. Ditimpali ringkik Jack.” Sial! Kunti dan Jack, salah jalan. Tidak mengarah ke kampus Karangmalang, tapi menuju ke Pantai Parangtritis. Aku pun gontai dan santai, mengayuh pedal becak mengarah ke kampus. Menerobos pita garis finish. Dan, kumenangkan ajang balapan ini.

     “Hah! Kita salah jalan, keliru arah, Jack!” Kunti tersadar. Bergegas, ia belokkan kuda Jack menuju ke kampus. Jack kencang melaju. Derap tapak-tapak kaki kuda bergemuruh, debu-debu jalanan beterbangan. Hingga garis finish, di pintu gerbang kampus. Jack dan Kunti yang duduk di pelana, kusambut dengan pelukan mesra Kugendong berkeliling kampus. Rambutnya yang kembar mayang panjang terurai, berorama semerbak berkibaran diterpa angin, mengelus-elus wajahku. Penonton bergemuruh, menggetarkan tembok-tembok gedung kampus. Daun-daun kering pepohonan kelengkeng, berguguran tertiup angin kencang. Matahari terasa sangat terik, panas menyengat kulit.

***

      Tapi, Kunti berselingkuh dengan seorang bule Australia. Dan menetap di Melbourne. Dari rahimnya yang subur, melahirkan anak 3. Anak-anak blasteran antara bule Australia dan perempuan Jawa. Kunti telah meninggalkan jejak-jejak kenangan dalam kehidupanku. Bagiku, ia selayaknya seorang perempuan yang menebarkan bunga-bunga surga, kenangan-kenangan indah, di sepanjang pematang kehidupanku. Purbalingga, 2022***






C:\Users\LABKOM\Downloads\IMG-20220121-WA0013.jpg

Biografi:

(*)Lintang Alit Wetan adalah nama pena dari Agustinus Andoyo Sulyantoro lahir di Kalialang, Kemangkon, Purbalingga 13 Mei. Alumni S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS IKIP Yogyakarta (UNY) 1997. Karya cerpen dan puisinya pernah diterbitkan  berbagai media cetak dan online, serta dibukukan dalam kumpulan bersama. 

Tahun 2021, ia tampil di Ubud Writers & Readers Festival, Bali. Cerpennya Seseorang dan Langkah Misterius Itu masuk NOMINE Anugerah Sastra LITERA, sehingga cerpen ini masuk di buku kumpulan puisi dan cerpen pilihan Memancing di Tubuh Ibu (Kerja sama antara LITERA dengan Badan Bahasa Kemendikbud RI, 2021). Sedangkan cerpennya Tuyul Pikmars (Piknik ke Mars) Naik UFO menjadi cerpen pilihan Mbludus.com.

Buku antologi puisinya yang sudah terbit Lingkar Mata di Pintu Gerbang (2015), kumpulan esai Banyumas dalam Prosa Nonfiksi (2016), menyunting buku antologi sajak Perjamuan Cinta (2015), kumpulan esai Manusia Jawa Modern (2016), kumpulan puisi Para Penuai Makna (2021), kumpulan sajak & cerpen Tuan Tanah Kamandaka (2021).

 










INFO BAWAH

[ Dukung peningkatan honor penulis karya terbaik dengan cara klik iklan yang ada di website ini. Untuk berhenti mendapat info dari NK, caranya ketik UNREG kirim ke nkertas@gmail.com ]