.

MUSIK    TEATER    SENI RUPA    FILM    SASTRA    ESAI    PUISI    CERPEN    DOK.VIDEO    WORKSHOP    ANTOLOGI    INSPIRASI    RESENSI BUKU    PROFIL   
Home » » #CERPEN: Sebotol Bir di Kedai Air Mata

#CERPEN: Sebotol Bir di Kedai Air Mata

Posted by NegeriKertasCom on 30 Des 2018

ADA sebuah kedai sederhana di pelosok. Kedai yang terletak jauh dari kota. Di kedai itu, orang-orang biasa menghabiskan seluruh air matanya. Mereka akan bersandar pada tiang-tiang penyangga, meneguk kopi, dan menyebarkan keputusasaannya. Tak banyak yang tahu tempat itu. Sebab, hanya orang-orang tertentu yang mendapat wangsit melalui mimpi—dan mereka akan berjalan dengan goyah, air mata berlinang, menuju ke tempat yang kerap disebut sebagai Kedai Air Mata.
***
Aku berkunjung ke sana. Bukan. Tentu bukan karena aku sedang putus asa, melainkan sedang mengantar temanku, Ken, yang baru saja diputuskan pacarnya. Tadi pagi, Ken menelepon. Katanya, ia ingin mengajakku ke sebuah kedai. Kukira, kami hanya sekadar bersantai. Atau, Ken ingin curhat kepadaku. Tapi, Ken bilang, ia ingin menghabiskan seluruh kesedihannya, dan menggantinya dengan secangkir kopi. Aku belum paham maksud Ken—sebelum kami benar-benar tiba di kedai itu.
“Aku mau pesan kopi.” Ken berkata padaku, lirih. Lalu, ia menangis pada sebuah baskom meteran yang terletak di atas meja. Aku baru sadar kalau seluruh meja di kedai ini selalu dilengkapi dengan baskom meteran kecil.
“Aku juga sama,” ucapku, pada Ken.
Ken menoleh. “Aku pesan kopi juga,” jelasku. Kupikir, Ken belum mengerti kalimatku.
“Kau tak akan dapat apa-apa!”
“Maksudnya?” tanyaku, bingung.
Ken tak berkata apa-apa. Ia mengajakku menuju meja kasir. Di sana, Ken memberikan baskom meteran kecil pada kasir. Lalu, seorang gadis cantik yang menjadi kasir mengukur air di dalam baskom meteran.
“Kau dapat Cappucino,” kata kasir.
“Apa aku tak dapat yang lebih enak dari itu?” protes Ken, memandang wajah gadis cantik penjaga mesin hitung itu.
“Menangislah. Ratapi nasibmu. Maka, kau dapat bir.”
Kemudian, Ken mengajakku duduk di salah satu meja dengan membawa segelas Cappucino. Lelaki berwajah kusut itu—Ken—meneguk kopinya di meja nomor sembilan. Aku melihatnya. Seolah ia begitu menikmati secangkir kopi asal Italia yang diteguknya. Di sisi lain, seakan-akan, lelaki yang berteman denganku sejak SMA  itu, sedang menikmati kesedihannya.
Selama menemani Ken, otakku dipaksa mencerna seluruh kejanggalan di kedai ini. Ornamen kedai cukup berseni. Aku melihat beberapa pengunjung bersandar pada tiang penyangga di meja mereka masing-masing. Mereka meluapkan kesedihan. Ada yang menangis tersedu-sedu dengan air mata yang mengucur deras, ada yang menangis normal, dan ada pula yang meraung, mengamuk, menendang tiang penyangga, memukul meja, dan memekik keras. Setidaknya, terdapat sembilan pengunjung dengan kesedihan yang berbeda-beda.
Aku memandang sisi lain di kedai ini. Selain kudapati bunga mawar hitam layu yang tergantung di setiap penjuru, seluruh ornamen kedai terbuat dari kayu jati berwarna hitam—aku dapat merasakan serat kuat kayu jati hanya dengan sekali sentuh. Di beranda, ada banyak payung hitam yang tergantung. Payung-payung itu disusun sedemikian rupa, hingga tampak arstistik. Cukup berseni dan mewah.
Tak lama berselang, aku memandang Ken. Seberes meneguk kopi, Ken mengambil sebatang kebahagiaan di dalam sakunya. Ia menyalakan macis, lalu menyulut “batang kebahagiaan” itu. Asap mengepul. Kalau sudah begitu, Ken tampak lebih tenang dan bahagia.
“Kau sudah lama ke sini?” Aku yang sejak tadi dibikin linglung dengan kejanggalan ini sontak bertanya. Memaksa Ken memberikan penjelasan terhadap apa yang tak dapat kuterima dengan akal sehat.
“Belum,” jawab Ken, nadanya lemah. “Ini pertama kalinya aku berkunjung ke sini. Kemarin malam, aku bermimpi. Seseorang mendatangiku. Kulitnya keriput, rambut putihnya ranggas. Ia seperti utusan Tuhan yang ditugaskan untuk menjawab segala keputusasaanku.”
“Ia memberitahumu tempat ini?”
“Tepat.” Ken menyeletuk. “Pada mulanya, aku tak percaya dengan wangsit itu. Mana mungkin, ada sebuah kedai yang alat pembayarannya ialah air mata? Mana mungkin ada tempat yang menjual kebahagiaan dengan kesedihan?”
Mendengar penjelasan Ken, aku tercenung, lama. Berupaya mencerna setiap kalimatnya. Sampai saat Ken menghabiskan seluruh “jatah kebahagiaannya” di dalam cangkir, aku masih belum percaya.
Ken mengajakku pulang.
Kata Ken, kedai ini akan tutup menjelang fajar. Dan buka kembali saat keramaian telah tenggelam. Sebelum kedai ini benar-benar tutup—dan matahari menyembul dari timur, aku mengekor Ken. Sembilan langkah menjauh dari kedai, aku menengok ke belakang. Tak kutemui kedai itu lagi. Hanya ada pohon trembesi dan semak belukar.
***
Selama di rumah, aku menceritakan seluruh kejadian janggal yang kualami bersama Ken ke Isabel, istriku. Tak ada yang dilakukan oleh Isabel selain menggeleng-geleng, seolah menganggap itu hanya bualan. Isabel menatapku. Satu kalimat keluar dari mulutnya. “Ken menipumu!”
“Maksudmu?”
“Mungkin, kau hanya mengigo. Semalam, kau tertidur pulas di sampingku. Aku melihatmu menceracau dengan mata terpejam. Kucoba membangunkanmu, tapi kau tak juga bangun. Akhirnya, kubiarkan kau menceracau sampai matahari terbit,” jelas Isabel yang sontak menambah kebingunganku.
“Apa kau serius?”
“Aku serius.”
Isabel merapikan piring, menuang sayur asem ke salah satu rantang di atas meja, di bawah tudung saji yang terbuka.
“Kau harus paham. Kesedihan itu tak pernah ada. Ken juga tak pernah keluar rumah. Hanya saja, aku acap kali mendapatinya melamun sendirian di beranda rumahnya, sejak ia diputuskan oleh perempuan mata duitan itu,” imbuh Isabel.
Aku masih bingung. Semalam, jelas-jelas aku mengekor Ken menuju kedai. Aku melihat dengan jelas. Ken mengendarai motor bututnya menuju hutan, jauh dari kota. Aku dan Ken melewati rimbun semak belukar, pohon-pohon jati tinggi menjulang, kulat setinggi mata kaki, dan udara lembap, serta suara jangkrik yang saling sahut-menyahut. Itu semua nyata, aku merasakannya.
Bahkan, aku dan Ken hampir terjerembap ke mulut jurang. Sebab, lampu depan di motor Ken tak dapat menembus embun yang membentuk halimun. Setelah beberapa jam mengemudi, akhirnya kami tiba di depan kedai. Ratusan kunang-kunang mengungkung kulit kedai. Aku dan Ken sesegera mungkin turun dan memarkir motor.
“Lebih baik, kau urusi saja pesanan mebel dari tetangga, daripada menceritakan sesuatu di luar nalar,” celetuk Isabel, membuyarkan lamunanku.
Aku mengangguk, menurutinya.
“Atau, kaupergi ke dokter, berobat. Menanyakan pada sarjana kesehatan itu: ‘mengapa selama lima tahun menikah, kita tak pernah dikaruniai anak?’ Jangan-jangan kau bermasalah,” tambah Isabel.
Isabel pergi, menuju dapur. Satu langkah beranjak, ia memutar badan, lalu menatapku. Lantas berketus, “Jangan bahas kedai itu lagi. Kesedihan itu tak pernah ada, seperti halnya rahimku yang tak pernah mengandung.”
“Mengapa masih membahas itu lagi?” tanyaku, gusar.
Kali ini, Isabel beranjak ke arahku, urung ke dapur. Aku tahu, ia pasti akan naik pitam—seperti sebelumnya, saat aku dan Isabel membicarakan perihal anak di teras rumah, di bawah hujan yang menabuh atap. Sembari menunjuk, Isabel berketus, “Lihatlah dirimu! Kau sudah menua. Siapa yang bakal meneruskan genmu? Siapa yang akan memahat kayu-kayumu? Siapa yang hendak mengirim mebel ke rumah-rumah para pemesan? Kita butuh keturunan!”
Kata-katanya tenggelam di telingaku.
***
Seminggu setelah kejadian janggal itu—dan Isabel yang masih membasah perihal anak, aku mendapati dunia kian kejam. Di bawah lampu yang memijar, aku memergoki Isabel sedang berduaan dengan lelaki lain. Hal itu sontak membuatku murka. Dua jam sebelum ia pergi meninggalkan rumah, ia pamit hendak mengurusi pesanan mebel—padahal, selama ini, akulah yang mengurusi seluruh pesanan. Ternyata, ia selingkuh di rumah lelaki buaya. Lelaki anjing. Lelaki setan. Lelaki terkutuk. Lelaki laknat. Kemarahanku memuncak petang itu juga.
Aku mengambil barang-barang yang ada di dalam kamar lelaki laknat itu; asbak, sebotol parfum, guci, jam beker, sebingkai foto, sebotol miras, remote tv. Seluruh barang kulempar ke arah lelaki laknat. Ia sempat menghindar, akan tetapi beberapa barang sukses mengenainya. Setelah tertumus, aku memukulnya berkali-kali. Hingga pecahan botol miras menusuk jantungnya.
Isabel melarikan diri.
Aku melempar pecahan botol miras yang masih tersisa ke arahnya. Praaakk. Pecahan botol minuman setan itu mengenai tembok, ia selamat. Kulihat ia berlari ke beranda rumah. Isabel pergi meninggalkan rumah lelaki laknat. Pada akhirnya, aku hanya bisa terduduk di bawah lampu beranda yang menjilat kegelapan.
***
Malam ini, tak kujumpai bulan bersinar terang. Aku berjalan dengan langkah goyah. Mengetuk rumah salah seorang yang kukenal. Pintu terbuka. Ia melihatku kuyu. Tak ada sepatah kata yang keluar dari mulutku, selain mengajaknya pergi.
Aku dan ia berjalan menerobos keheningan. Melewati mulut jurang dan pohon-pohon menjulang. Hingga sampai pada barisan pohon trembesi, semak belukar yang rimbun. Aku turun dari motor, menggenggam erat tangan sahabatku. Dengan langkah terhuyung, aku menuju suatu tempat, di mana kunang-kunang seperti menuntun langkahku. Di tempat itu, tak ada lagi kesedihan, tak ada lagi tangisan, tak ada lagi air mata. Sebab, aku dapat menukar seluruh kesedihanku dengan sebotol minuman yang sangat lezat. Bir. Aku dapat bir dari seluruh air mataku. []

2017-2018

Hendy Pratama, lahir dan bermukim di Madiun. Bergiat di
komunitas Forum Penulis Muda IAIN Ponorogo, Laskar Sastra Muda,
dan Pesantren Literasi (Omah Shoro). Instagram @hendyy_pratama.
Alamat: Jl. Raya Ponorogo-Madiun No. 86. RT 26 RW 08 desa Dolopo, kecamatan Dolopo, kabupaten Madiun. Selatan Masjid Besar Istiqomah.
Depan BRI unit Dolopo. Utara (pas) BMD Syariah Dolopo. Pos 63174.




Jika anda suka karya ini, berikan like n komentar sebanyak banyaknya agar bisa menang viral sepekan

SHARE :
CB Blogger
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Official © 2018 NegeriKertasCom. Email: nkertas@gmail.com | WA 628888710313
Redaktur:Fileski