SEDEKAH BUKU

Negerikertas.com menyalurkan bantuan SEDEKAH BUKU untuk taman baca di berbagai pelosok daerah yang kekurangan buku bacaan. Kirimkan buku ke alamat: Fileski 085731803357 | Jl Koperasi A08 | Banjarejo | Kec.Taman | Kota Madiun. Bisa juga berupa uang ke rek BCA 1771531313 a/n Walidha. Madiun

POLIGAMI DAN KEADILAN

POLIGAMI DAN KEADILAN

Gender disebut sebagai konstruksi budaya yang menempatkan laki-laki dan perempua dalam posisi yang berbeda. Anak-anak yang lahir laki-laki akan diberikan mainan mobil-mobilan sedangkan anak perempuan akan dibelikan boneka. Perbedaan yang berjalan seiring keberlangsungan kehidupan seorang laki-lai dan perempuan selalu menimbulakan pertanyaan. Kondisi sosial seorang isteri yang dipoligami turut menjadi perbincangan dalam bingkai gender. Hak yang didapatkan laki-laki dan perempuanpun berbeda, laki-laki boleh melakukan poligami kenapa peremuan tidak boleh poliandri?
Pembahasan mengenai poligamipun tak ada bosan-bosannya untuk dijadikan perbincangan, pro dan kontra masyarakat mengenai keadilan yang digadang-gadangkan oleh kaum feminisme turut mewarnainya. Berbagai kasus yang muncul akibat poligami menjadi pertimbangan penting yang harusnya lebih dikaji oleh kaum feminisme. Poligami seperti apa yang menimbulkan kekerasan maupun marjinalisasi bisa dijadikan bahan acuan untuk memperoleh informasi dari kasus tersebut. Karena poligami bisa terjadi karena persetujuan isteri sebelumnya dan bisa juga terjadi tanpa ijin dari isteri sebelumnya hinnga banyak yang memilih nikah siri sebagai cara untuk menikah lagi.
Tindakan adil yang dilakukan oleh seorang suami yang melakukan poligami memang harus adanya, kalau memang bisa berlaku adil tidak ada salahnya melakukan hal tersebut, syarat untuk boleh melakukan poligami kan sudah bisa didapatkan. Jika mau mengkaji seperti apa tindakan adil dan bagaimana tindakan tidak adil ini bisa kita lihat dari manifestasi ketidakadilan dalam psikologi gender. Manifestasi ketidakadilan sendiri adalah marjinalisasi, sub-ordinasi, pelabelan negatif, kekerasan, dan beban kerja ganda. Kalau tidak ada salah satupun yang terjadi kepada seorang istri maka bisa dikatakan ini poligami yang sehat karena tidak selalu poligami dihubung-hubungkan dengan ketidakadilan.
Isteri yang dengan ikhlas menyetujui poligami yang dilakukan oleh suaminya malah kerap kali dijadikan bahan bully-an, perbincangan mengenai isteri yang tidak terlalu cinta dengan suaminya, tidak memperdulikannya hingga rela membaginya, sampai dibilang lebih adil dari suaminya karena lebih mampu membagi. Padahal jika dilihat dari pandangan psikologi isteri yang benar-benar tidak mengalami satupun dari manifestasi sebuah ketidak adilan maka orang tersebut dalam keadaan psikologi yang sehat dalam kondisinya yang dipoligami oleh sang suami. Justru seorang isteri yang kerapkali mengalami masalah perselingkuhan yang dilakukan suaminya adalah wanita-wanita yang mengalami kondisi yang sangat berat dalam hidupnya, tuntutan untuk tidak menyukai wanita lain selain dirinya tidak semua di dapatkan oleh wanita di dunia ini, apalagi sang suami tidak 24 jam tepat bersamanya maka sang isteri tidak dapat mengawal apa saja yang dilakukan suaminya.
Jika ditarik dengan pembahasan agama Islam, kitab suci Al- Quran menjelaskannya dalam QS. An-Nisa’ ayat 3. Firman Allah SWT memperbolehkan poligami sebagai jalan keluar dari kewajiban berbuat adil yang mungkin tidak terlaksana terhadap anak-anak yatim. Dalam Al- Quran juga dikatakan bahwa boleh menikahi dua, tiga ataupun empat wanita yang diinginkannya, tentunya tafsir yang dilakukan oleh para ulama selalu menimbulkan kontroversi karena perbedaan inilah yang mendorong adanya pro dan kontra di dalam masyarakat yang mayoritasnya adalah muslim. Tokoh yang dikaitkan dengan poligami adalah Nabi Muhammad yang selalu menjadi panutan seorang muslim, tidak akan ada lagi keraguan jika yang dilakukan menurut dengan ajarannya. Para pemberontak poligamipun menghubungkan dengan tindakan adil yang didapatkan seorang isteri bahwa, yang bisa adil hanya Nabi Muhammad, namun umat setelah Nabi Muhammad tidak ada yang bisa melakukannya. Selayaknya orang yang tidak menyetujui adanya poligami, hal-hal yang bertentangan dengan kata adil  yang didapat dari suami yg melakukan poligami juga selalu dicari sela kesalahannya dari persoalan ini.
Terlepas dari ketidaksetujuan sebagian kaum, ketidakadilan yang dimanifestasikan dalam psikologi gender jika mengambil subjek seorang isteri yang dipoligami dengan keadaan benar-benar ikhlas dan dengan ijin dari sang suami maka tentunya lebih sehat secara psikologis daripada para isteri yang mengalami masalah perselingkuhan yang dilakukan oleh suaminya sendiri. Poligami juga bisa dilakukan untuk menghindari perilaku zina. Jadi terlihat jelas bagaimana poligami yang sehat dan bagaimana poligami yang tidak sehat. Karena pada dasarnya pro dan kontra selalu hadir dalam keputusan untuk berpoligami tinggal bagaimana pasangan tersebut menyikapinya dan menghadapi segala masalah yang ada dalam urusan rumah tangga dengan ikhlas dihatinya.

yuniartiyuyun0@gmail.comyuyun yuniarti
No.tlp : 083852425149 
Share on Google Plus

About Fileski Channel