.

.

KARYA TERBAIK MINGGUAN: Puisi - Eddy Pranata PNP



KELOPAK MAWAR YANG GUGUR

untuk menyembunyikan airmatamu yang bercucuran
engkau mandi hujan dan berdendang
tapi kalau mau lebih memperhatikan jelas terdengar ratapan
: "sejauh melangkah berujung ke dinding sesal
sedalam menyelam membentur bebatuan berlumut tebal"
lalu kaukemas masalalumu yang retak dengan tangan dan tubuh gemetar
susah payah kaumenyeruak dari balutan kabut yang tiba-tiba mengurung
dan setiap airmatamu bercucuran
kuduga engkau akan terus mandi hujan
dan berdendang walau jelas serupa ratapan
: "perih dada ini bukanlah karena luka
tapi lebih karena kelopak mawar yang gugur!"

Cirebah, 11 Mei 2016

Eddy Pranata PNP

SUARA AZAN BERGEMA DI KEJAUHAN

sebenarnya aku ingin mengajakmu
mengelilingi jalan kampung
setelah sungguh malam
berisik jangkrik dan belalang
berseliweran kunang-kunang
juga kelepak kelelawar
embun menebal di dedaunan

setelah lewat rimbun rumpun bambu kita tengadah
langit kemilau serupa hati kita, serupa hati kita?

kita susuri jalan setapak

menjelang subuh sampai di sebuah lembah
kabut tebal mengapung
tiba-tiba kauberbisik: "peluklah aku, sekali saja"
sorot matamu mengerjap
darahku mencair

suara azan bergema di kejauhan.

Cirebah, 10 Mei 2016

Eddy Pranata PNP


SEJARAH KECIL ‘WEISKU DAN NUEIKU’

sekecil apa pun 'weisku memendam rasa benci pada nueiku'
sebesar apa pun nueiku' menaruh harapan pada 'weisku
matahari dan bulan menjadi saksi
dalam segala perubahan musim

dan orang-orang pergi menyeret sunyi dengan pedih hati

'weisku, hanya engkau yang paham pada malam yang turun perlahan
dengan kunang-kunang melintas-lintas di atas taman bunga

(entah sejak kapan, diam-diam 'weisku jatuh hati
pada lelaki yang selalu berjalan sepanjang malam
dengan menimang kunang-kunang)

terkadang nueiku' seperti melihat seorang dalam rasa sakit
melintas-- terhuyung seraya memegang dadanya yang rapuh
dan panas-dingin yang tak kunjung sembuh
: apakah ia maut? nueiku' kian menua dalam ruang kian sunyi

(ia terlanjur menabur keringatnya di laut yang maha luas
apakah ia benar-benar bisa lepas dari kepungan ombak?)

ia memejamkan mata: ia lihat langit jingga
ia lihat seseorang tersaruk-saruk
menuju ruang hati 'weisku

april demam: nueiku’ belajar bagaimana menelan pahitnya
kehidupan agar mei manis di tenggorokan
nyaman sepanjang bulan

seberapa sering engkau susah tidur?
nueiku’lah imsonianis kambuhan yang selalu ingin menemanimu
kesendirianmu dan kesunyianmu
dalam larik-larik sajak pendek 'weisku

seseorang yang selalu menyusuri jalan paling sunyi
berbisik di telinga 'weisku dengan sangat hati-hati
: "bahkan keringat yang mengucur dari tubuhmu
tidak akan mampu memperbaiki masa depanmu
andai engkau tidak pernah membasuh tubuhmu dengan
embun di atas dedaunan sebelum cahaya pagi!"

hati 'weisku pualam, nueiku' penjaganya
agar tak retak hingga berabad-abad

dalam hujan menderas
ia temukan jasad rindumu serupa pisau
berkilat tajam
hendak mengiris hati-jiwamu?
ou, 'weisku, irislah!

(maaf bila ia lupa menyematkan anggrek ungu
di rambut di atas telinga kananmu
padahal telah ia kecup keningmu
ia seret juga masa lalumu yang lama membeku
ke taman kota yang jauh)

nueiku' bertekuk-lutut; hatinya remuk
perempuan bergamis-berhijab hitam menatapnya dengan mata teduh
lalu tidak acuh dan sibuk membersihkan musala dan halamannya
lalu melangkah pelan ke barat laut
ribuan sayap malaikat mengurung tubuhnya yang menyala
dan kemilau; nueiku' lebur!

kepada nueiku' selalu aku tekankan dengan kata-kata yang keras
: jangan buang-buang usiamu hanya berkelakar dengan nasib
piuhlah keringat, kayuhlah sampan berlumut
sebelum karang melipat ombak, sebelum maut menjemput

piuh keringat sajakmu sekarang jua!

Cirebah, 26 April sd 8 Mei 2016


***

Eddy Pranata PNP, sekarang tinggal di Cirebah --sebuah dusun di pinggiran barat Banyumas, Jawa Tengah. Lahir 31 Agustus 1963 di Padang Panjang, Sumatera Barat. Sehari-hari beraktivitas di Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap. Buku kumpulan puisi tunggalnya: Improvisasi Sunyi (1997), Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (2012), Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur (2015), Ombak Menjilat Runcing Karang (2016). Puisinya dipublikasikan di Horison, Aksara, Kanal, Jejak, Indo Pos, Suara Merdeka, Padang Ekspres, Riau Pos, Kedaulatan Rakyat, Fajar Sumatera, Lombok Pos, Harian Rakyat Sumbar, Singgalang, Haluan, Satelit Pos, Radar Banyuwangi, Solopos dan lain-lain. Puisinya juga terhimpun ke antologi: Rantak-8 (1991), Sahayun (1994), Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Antologi Puisi Indonesia (1997), Puisi Sumatera Barat (1999), Pinangan (2012), Akulah Musi (2012), Negeri Langit (2014), Bersepeda ke Bulan (2014), Sang Peneroka (2014), Metamorfosis (2014), Patah Tumbuh Hilang Berganti (2015), Negeri Laut (2015), Palagan Sastra (2016) dan lain-lain.



Share on Google Plus

About Fileski Channel