SEDEKAH BUKU

Negerikertas.com menyalurkan bantuan SEDEKAH BUKU untuk taman baca di berbagai pelosok daerah yang kekurangan buku bacaan. Kirimkan buku ke alamat: Fileski 085731803357 | Jl Koperasi A08 | Banjarejo | Kec.Taman | Kota Madiun. Bisa juga berupa uang ke rek BCA 1771531313 a/n Walidha. Madiun

Suluk Pangkur Gedhong Kuning

Suluk karya Sunan Kalijaga ini ditembangkan dengan irama Sekar Pangkur Gedhong Kuning yang mengalun mendayu-dayu, penuh nuansa sugestif-kontemplatif. Kata-kata, kalimat dan iramanya dimaksudkan untuk menggalang kekuatan batin dan rasa percaya diri yang tinggi guna menundukkan segala kekuatan di luar diri sang penembang, terutama segala kekuatan jahat dari segala jenis makhluk, baik makhluk halus maupun bukan.
Bila naskah-naskah suluk karya Sunan Bonang banyak ditemukan dan antara lain tersimpan di Museum Perpustakaan Leiden, Belanda, tidak demikian halnya dengan naskah-naskah Sunan Kalijaga. Suluk-suluk dan kisahnya pada umumnya tersimpan dan tersebar dari mulut ke mulut. Jika ada itupun merupakan karya pujangga jauh sesudah masa kehidupannya. Misalkan, “Suluk Ling-lung Sunan Kalijaga” adalah karya Iman Anom (cucu Ranggawarsito) tahun 1884 M atau sekitar tiga abad kemudian. Juga “Serat Kaki Walaka” yang bisa disebut sebagai naskah biografi Sunan Kalijaga, merupakan naskah tua koleksi Trah Keluarga Besar Kanjeng Sunan Kalijaga, yang tidak diketahui siapa penulisnya dan dibuat pada tahun berapa. Demikian pula kitab “Tembang Babad Demak”, dari Kasultanan Yogyakarta, yang sebagian di  antaranya mengkisahkan tentang Sunan Kalijaga, melihat gaya bahasa Jawa yang dipakai, diperkirakan dibuat sekitar akhir abad ke – 19.
Oleh sebab itu tidak mengherankan bila tembang-tembang suluk Sunan Kalijaga yang pada umumnya sangat populer itu, mempunyai banyak versi, tak terkecuali suluk “Singgah- Singgah”. Jumlah baitnya misalkan, ada yang menyebutkan 12, ada yang 13 dan lain-lain.
Pun kata-katanya, sebagai contoh: “Singa sirah singa suku, singa tenggak singa wulu singa bahu”, ada yang menyatakan “Sing asirah sing asuku, sing atenggak sing awulu sing abahu”. Penulis termasuk yang memilih versi kedua, karena bisa dipahami artinya. Huruf “a” di sini berarti awalan kata yang berfungsi sebagai pemanis syair, terutama jika digabung dengan kata “sing”, akan terbentuk ucapan “singasirah” dan seterusnya, yang bisa memberikan nuansa perkasa bagaikan singa.
Berikut contoh beberapa bait Suluk Singgah-Singgah tersebut:

Audio Player

Singgah-singgah kala singgah
Tan suminggah Durgakala sumingkir
Sing asirah sing asuku
Sing atan kasat mata
Sing atenggak sing awulu sing abahu
Kabeh pada sumingkira
Hing telenging jalanidi

Aja anggodha lan ngrencana
Apaningsun ya sun jatining urip
Dumadiku saka henu
Heneng henenging cipta
Singgangsana hing tawang-tawang prajaku
Sinebut pura kencana
Bebetenging rajeg wesi (ada yg menyebut “rajah wesi”).

Ana kanung saka wetan
Nunggang gajah telale elar singgih
Kullahu marang bali kul
Jim setan brekasakan
Amuliha mring tawang-tawang prajamu
Eblise ywa kari karang
Kulhu bolak-balik.

Geger setan wetan samya
Anerus jagad kulon playuning dhemit
Ing tengah Bathara Guru
Tinutup Nabi Suleman
Daya setan brekasakan ajur luluh
Ki jabang bayi wus mulya
Liwat siratal mustakim.

Sun langgeng amuja mantra
Pan jaswadi putra ing kodratmanik
Laa ilaaha ilallah
Muhammad Rasulullah
Sallallahu alaihi wasallam
Waalaekumsalam
Puniku pupuji mami.


Share on Google Plus

About Fileski Channel