.

di negeri kertas, tidak ada koruptor. setiap orang punya ketahanan ekonomi, baik rakyat biasa dan pejabatnya, semua ikut patungan/gotongroyong membangun negeri. demokrasi berjalan natural tanpa money politic. tidak seperti negeri tetangga yang rakyatnya kelaparan hingga rela menukar suara dengan sekantong sembako. #fileski

MUARA KATA Oleh Bambang Widiatmoko

MUARA KATA


OlehBambang Widiatmoko

Rendezvousdi Muara Kasih adalah buku antologi puisi bersama DimasArika Mihardja, Rahma Bachmid, dan Yosy Kasih Amalia. Diterbitkan oleh BengkelPublisher, 2015, 188 halaman. Kata pengantar ditulis oleh Dimas Arika Mihardja,Direktur Eksekutif Bengkel Puisi Swadaya Mandiri, sekaligus menyertakan 54judul puisi di dalam antologi puisi ini. Buku ini diniati sebagai perayaanulang tahun Dimas Arika Mihardja ke-56 dan sebagai upaya melakukan rendezvous yang menuju pada muara kasih.
            Sebagai catatan untuk merayakanulang tahun Dimas Arika Mihardja (DAM), saya berharap sajak “Catatan MalamJumat” tepat untuk merefleksikan perjalanan hidupnya://Kunamai Engkaumisteri/jauh dan dekat bias mendekap/tahu segala yang diperbuat/kau tak maudikeramatkan/suara serupa mantera/mengaduk-aduk rasa//rupa tiada banding/tiadaterbilang sayang/kasih tak berlebih/tak letih//sabar setiaselalu/menunggu/waktu bertemu//(Hlm. 14).
            Kehidupan seseorang tentunya takberanjak dari sesuatu misteri sebagai mahluk-Nya. Misteri yang lebih darisekadar rasa ketika berada pada waktu malam Jumat. Misteri itu tentu mendekapseseorang hampir sepanjang hidupnya baik dalam waktu tidur atau terjaga.Membaca puisi di atas tentu akan terasa bahwa kehidupan seseorang pada akhirnyaadalah “menunggu/waktu bertemu”. Bertemu siapa? Tentunya bertemu Engkau yangoleh penyairnya “Kunamai Engkau misteri”.
            Jika kesadaran dalam kehidupanadalah sesuatu yang sifatnya misteri, maka DAM pun menangkap makna kehidupanseperti dalam penggalan kutipan puisi “Jejak Itu, Kekasih…” berikut ini://jejakrindu itu berenang di secangkir kopi./melambai-lambaikan tangankasmaran/kupandangi saja, kurenangi, kuhirup/wangi kopi yang mengombakkan jejakrindu, dan aku/turut merenangi waktu hingga subuh melepuh/dan mengaduh –mengadu kepada-Mu//(Hlm. 6).
            Demikian pula “Kunamai EngkauMisteri” dapat serupa://saat bukit berbunga kugamit tangan-tangankecil,/gemetar – samar memandang jalan terjal/dan berliku menuju-Mu,Kekasih//(Hlm. 9).
            Pada akhirnya saya menemukan sajakterbaik DAM dalam buku ini sebagai intisari hakekat misteri dalam puisi “TelagaCinta, Muara Terdalam”://inilah telaga, anakku, menyelamlah/dikedalamannya-Nya, kautemukan/mutiara. senja main mata, katanya/berkacakaca.lihatlah bibir itu merekah/di sekitarnya tumbuh rerumput dan umbut/hei, riakair bergelombang, buih putih/berkejaran di antara gelembung cinta/menyelamlahanakku dalam/dalam. engkau akan memahami isyarat/hidup yang berdenyut//(Hlm.20).
            Sebagai “telaga cinta, muara terdalam”maka kita pun perlu memaknai puisi berjudul “Ngecas”://Aduh bateray lowbat, ayo ngecas/Kusiapkan jiwa raga untuksatukan tenaga/Aku pun tengadah, pasrah./Terasa dan teraba sesuatumengalir/Berdesir//Engkau masuk dan menusuk ke ruang hampa/Hatiku penuhmemori/Ada lagu tentang kamu/Rindu yangrindang/Gambarmu/Senyummu/Rindumu/Rinduku juga//Cass/Begitu dalam/Cess/Begitudingin, dan empuk//Hei, kenapa kautimpuk batu?/Rindu./Baiklah kalaubegitu/Rindu membiru/Kenapa membatu?//Bantulah aku/Kembalikan daya/Tenagakata/Ruang maya/Raungmeruang//(Hlm. 17-18).
            Jika dalam perjalanan kehidupantiba-tiba “bateray lowbat,” apa yang perlu dicas? Tentu di antaranya dengankembali mengingat penggalan kutipan puisi berjudul “Di Depan Pintu, Ibu…”berikut ini”//di depan pintu, ibu selalu mengiring doa dan harapan/lekaslahbesar anakku sayang/rajin sembahyang/ingat nasehat eyang//(Hlm. 22). Setelahitu berdiri di tepian sungai Batanghari lantas berteriak://yes, engkaulah puisipaling memuisi/jejak kasih Ilahiah, begitu indah merekah//(Hlm. 25).
            Jika melihat keterkaitan antara sesuatuyang sifatnya misteri dan upaya melakukanrendezvousyang menuju pada muara kasih. Hal itu sepenuhnya tersaji dalam puisi“Qasidah Cinta Sebelum Ajal Mengekalkan Amal” berikut ini:
Allah Allah Allah
ya, Allah kulidahkan bahasa jiwa
atas sajadah basah dengan rupa wajahbersalah
setiap saat aku bersijingkat mendekapmesjid
menguntai wirid, merajut tasbih dantahmid
menjeritkan debudebu yang lekat padatubuh.

Allah Allah Allah
ya, Allah kupahami bahwa sejatinya hidupberasal dari lubang
menuju ke sebuah liang gelap, pekat, dandingin
kusadari bahwa di dalam diri inimenganga 9 lubang
lubanglubang itu senantiasa terbuka,terus mengangakan luka
sebab ternyata mulut ini tak pandaimelafazkan doa
telinga ini senantiasa dipenuhi anginfitnah dan sumpah serapah
dua mata ini hanya bias memandanggelimang bendabenda
dan memujanya sebagai berhala
dua lubang hidung ini teramat susahmencium wangi sorga
lubang kemaluan dan lubang pembuanganmenyemburkan nafsu
setiap saat kulihat syahwat tumbuh dijalan dan kelokan
anakanak zaman diasuh angin malam, penuhimpian
di bawah jembatan peradaban, anakanaksejarah
tak pernah tercatat nama dan asalusulnya
di kolong langit makin mewabah anekapenyakit
yang menambah sesak dadaku.

Allah Allah Allah
ya Allah aku berdendang menyuarakantasbih putih
kafan putih
melati putih
jiwa perih
ya Robbana, aku berlagu dan berguruhanya pada-Mu
kenapa aku dilanda ragu dan cemburu?
denganmu aku memang bias bergurau
tetapi di hadapan-Mu ya Allah
aku hanya debu diterbangkan angin lalu
debu yang hangus dipanggang Cahaya-Mu.
Allah Allah Allah
ya Allah aku berusaha berlagu hanyapada-Mu
kulidahkan resah waktu lalu kunyanyikandalam sujudku
kusenandungkan salah-khilafku
lalu kubasuh dengan dingin air wudhu
kupadamkan api benci di hati kupadamkan
kupahamkan api sufi di hati kupahamkan
kusahamkan iman dan amalan kusahamkan
kuqatamkan dan kukuburkan dendan di hatikumakamkan.

ya, Robbana
rebana bertalutalu di hatiku yangmerindu maghfirahmu
rebana berdentam-dentam siang malam
rasa cinta kulidahkan di atas sajadahbasah
tapi resah tak terbasuh dan jiwa masihlusuh dan kumuh.

Allah Allah Allah
ya Allah aku mengarungi lautan gelisahyang membuncah
sebagai ikan aku megapmegap di daratan
tersuruk di lumut dan bebatuan
terdampar mendekap luka sendirian.

Allah Allah Allah
ya Allah kulukai dadaku sendiri denganlafaz doa
kunyanyikan luka hati di dalam geriaptarian jemari
malam kian kelam namun mulut dan batinkutak bias diam
o, tikamkan belati Cinta-Mu sedalam iman
remukkan rusuk Adam sebelum bersemayam
kuburkan luka menganga
di bawah rindang daun kamboja.

ya Robbana, rebana menggema dalam hatiku
yang rindu Senyum Manis-Mu
apa yang kudamba kini hanya satu, yaKasihku
ampunilah segala dosa dan salahku
Allahuma ya Robbana kubenahi jasadkucuci hati
kubenahi jihat dan niat kubenahi syariatdan hakikat
kusempurnakan tarikan nafas tarekat
untuk selalu terikat dan makrifat
Allah Allah Allah
ya, Allah  rebana cintaku bertalutalu menghalau pisaurisau
dada ini nganga terbuka, berdarah danbergairah
peluk dan dekaplah aku di kedalamanCengkeraman-Mu
yang maha Dalam
Yang Maha Pualam
Yang Tak Pernah Diam
: amin!
(Hlm. 54—56).

-o0o-
          
Bagi Rahma Bachmid (RB)puisi sebagai panggilan jiwa yang membuatnya bergairah. RB tentu selalubergairah menulis puisi meski beberapa puisinya berisi tentang kegelisahan,kesedihan, galau, dan bersuasana muram. Seperti misalnya dalam puisi berjudul  “Karam”://Kubakar cintaku di tiang-tianghati/dari segala kerapuhan yang kujaga selama ini/api berkobar membaramenyala-nyala/di sisa pembakaran/kayu-kayu cinta pun hangus terbakar//(Hlm.87).Demikian pula dalam puisi berjudul “Retak”://Layar cintaku pecah/kutambaldengan balutan/susah payah ku membungkusnya/kini dindingnya retak/kubalut denganmiris/masih juga kikis//Layar cintaku robek/terkoyak/di hamparangelombang/terombang-ambing/menuju dinding//(Hlm. 106).
Selain puisi di atassaya menemukan beberapa puisi bersuasana galau seperti dalam puisi “Bersaksi”(Hlm. 65), “Menjemput Malam” (Hlm. 67), “Menatap Gerimis” (Hlm. 68), “MengorekLuka” (Hlm. 70-71), “Malam Pun Pergi”, “Merangkai Cemburu” (Hlm. 78), “MenyayatHati” (Hlm.  86), “Merobek Nasib” (Hlm.107).
Menyimak puisi-puisi RBseperti membuka lembaran kehidupan. Diawali dengan puisi berjudul“Disunting”://Kaugagahi aku/malam disunting/tadinya aku menjeritmenangis/ditinggalkan bunda/kini tangisku pecah, sakit/malam pertama dipelukanmu//(Hlm. 102). Di dalam puisi tersebut dapat ditemukan  tangis yang berbeda maknanya. Tangis pertamaadalah tangis ketika ditinggalkan bunda karena memasuki kehidupan baru bersamakekasih yang telah menyuntingnya. Tangis kedua adalah tangis merasakan malampertama di pelukan suami. Sungguh betapa beragamnya seseorang dapat memaknaikata tangis. Saya yakin tangisan kedua tentu tidak akan terulang di malamberikutnya karena telah berubah menjadi kenikmatan.
Setelah disunting tentuakan merenda hari esok, layaknya dalam penggalan kutipan puisi berjudul“Merenda Hari Esok”://Mari kita membentuk hati,/di hati yang pecah menipis,menebal/kita gulung semua kenangan/di benang-benang merah/kita sulam hatimembentuk ikatan/merenda hari esok yang pasti//Mari kita duduk berdua,bersua/bercerita pada ranting dengan tangkai muda/kuncup bermekaran di musimtaman bunga//(Hlm. 98). Lantas kita pun tentunya akan menghadapi gelombang danbadai  kehidupan, seperti tersirat dalampuisi berjudul “Kemelut Kehidupan”://Kuajak seisi semesta berbaring,/ladangmasih mengering/badai datang menerjang//(Hlm. 76).
Saya terkesima denganpuisi RB yang sederhana tetapi sangatlah menarik dan imajis dalam puisiberjudul “Menatap Gerimis”:
Ku menatap gerimis
di mata yang berkabut
tertahan kusebut namanya
di antara tanya dan gelisah
gairahku menarik dan menari-nari
Adakah dia mengingatku,
seperti aku di sini menatap imaji ritmis
gerimis di hati?
(Hlm. 68).

Sungguh, imaji sayaturut terbang tinggi membaca diksi “gerimis di hati”. Demikian pula “aku lupa,lupa membawa pulang hatimu” (Hlm. 73). Juga dalam puisi (menurut saya terbaik)karya RB di buku ini berjudul “Negeriku” dalam kutipan seutuhnya://Aku inginbermain dengan warna,/Merah negeriku berdarah//(Hlm. 85).
-o0o-

Yosy Kasih Azalia (YKA)berteman karib dengan dunia maya dan puisi-puisinya lahir dari kekuatan dankemurnian cinta dan cinta-Nya. Sebagian besar puisinya yang terangkun dalambuku ini bernuansa rindu.
Kita simak puisinyaberjudul “Rendezvous Rindu”://Kau bagai irama Mozart memainkan jiwa/mengalunlenakan gelora rasa/kadang semu, hadirmu melabirin rindu/kadang nyata,membalutku dalam nada kasmaran//Meski terkadang duri menusuk perih/hadirkuseolah tiada arti namun aku tetap menapaki hatimu/kau tahu apa sebabnya/acuhmu, telah membakar bara inginku//Andai boleh aku meminta berhentilahmenjadi spionase rinduku/jangan lumpuhkan imajiku oleh diammu/jangan hilangkanjejakmu dari tatapanku/aku ingin bertemu//Lihatlah El, aku masih disini/menantimu walau berkalung semu/menghalau segala rerantai ragu/mengharapkau datang untuk menyaksikan syahdunya/rendezvous dua rindu//(Hlm. 143).
Saya merasa terganggudengan munculnya pilihan diksi misalnya seperti “spionase rinduku”. Dalambeberapa puisi YKA  isinya masih terkesanbertele-tele dan belum dipadatkan. Tentunya puisi diolah dengan intuisi,imajinasi, dan pikiran. Puisi  bukansembarang curhat. Puisi adalah curhat yang telah disublimasi atau dipadatkan,dimatangkan dengan perenungan dan penalaran.
Nuansa rindu dapat kitanikmati dalam puisi “Lautan Rindu” (Hlm. 142), “Riak Cemburu di Kabut Rindu”(Hlm. 144), “Muara Asa dan Rindu” (Hlm. 145), “Antara Sepi, Aku, dan Kau Rindu”(Hlm. 146), “Kisah Rindu Sang Puan” ((147), “Gerhana Rindu” (Hlm. 148),“Pantulan Rindu” (Hlm. 149), dan beberapa puisi lainya.
Terakhir saya berharapYKA belajar menulis puisi dari keberhasilan puisi yang telah ditulisnya sendiridalam puisi berjudul “Ajari Aku”:
Ajari aku mengenal malam, agar mesradengan rembulan

Ajari aku mengerti suara hati, kelopakbunga resah, bibir pasrah

Ajari aku aksara, akan kueja c-i-n-t-a,merangkai berjuta kisah
pesona, menikmati tiap inci sabdanya,demi sebuah kesucian rasa

Ajari aku makna setia, menyatukan puzzleberserak, burai oleh
kejujuran retak, mampukan utuh? tidak!dan kalaupun bisa, hanya
bak lukisan bulan merah

Ajari aku menghapus rindu, membuatsegalaku terkujur pasi,
hidup segan mati tak sudi, abadi dalamkehampaan hati, mati suri.
(Hlm. 175

Sebagai penyair tentunya kita tidak pernah merasa berhentimencari dan menemukan makna kata di balik puisi itu sendiri. Saya sepakatdengan penyataan yang dimuat dalam kata pengantar antologi puisi ini bahwa“Seorang penyair bukanlah tukang sihir. Ia seperti air yang seharusnya selalumengalir menuju muara yang dapat menampung aneka makna lewat kesaktiankata-kata”.
 Sebagaimanalayaknya arti kata Rendezvous yangdipilih untuk menjadi judul buku antologi puisi ini. Semoga kehadiran buku inisangat berarti bagi penikmat puisi atau pembaca yang lain.
             Penulis adalah penyair dan  Ketua Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Pusat

Share on Google Plus

About Fileski Channel