.

di negeri kertas, tidak ada koruptor. setiap orang punya ketahanan ekonomi, baik rakyat biasa dan pejabatnya, semua ikut patungan/gotongroyong membangun negeri. demokrasi berjalan natural tanpa money politic. tidak seperti negeri tetangga yang rakyatnya kelaparan hingga rela menukar suara dengan sekantong sembako. #fileski

FORMULIR ONLINE LOMBA BACA PUISI SE-JAWA TIMUR - DL 21 APRIL 2015

FESTIVAL BACA PUISI SE-JAWA TIMUR 2015 (TEATER AKeQ GRESIK)
PETUNJUK PELAKSANAAN FESTIVAL BACA PUISI SE-JAWA TIMUR

PERSYARATAN DAN KETENTUAN LOMBA BACA PUISI SE-JAWA TIMUR UKM TEATER AKeQ STAI QOMARUDDIN GRESIK


1. PESERTA

 a. Peserta adalah siswa/siswi yang berasal dari SMA/MA/SMK sederajat se-Jatim
 b. Peserta adalah maksimal 2 (dua) delegasi dari tiap sekolah
 c. Peserta melengkapi formulir pendaftaran
 d. Peserta mengikuti technical meeting - bagi peserta dari luar kota yang jauh dari Gresik diperbolehkan tidak mengikuti technical meeting (TM).
 e. Jumlah kuota terbatas 50 orang
 f.  Pendaftaran dimulai tanggal 17 Maret – 21 April 2015
 g. Biaya Pendaftaran Rp.50.000,- (free workshop dan tiket pementasan + snack). Biaya pendaftaran bisa transfer ke rekening BRI (002) atas nama Mohammad Muttaqi Al Kaab 6207 01 019190 53 5 (Bukti transfer wajib dibawa pada saat teknikal meeting) - setelah melakukan trasfer segera konvirmasi lewat sms ke 0857 3888 3131 (kak Taqi)

 h. Fotocopy kartu pelajar 1 (satu) lembar


2. KETENTUAN LOMBA

 a. Peserta datang 30 menit sebelum jadwal perlombaan
 b. Perserta memilih salah satu puisi yang telah disediakan oleh panitia (puisi bisa diambil di sanggar teater AKeQ atau bisa di download di www.akeqteater.blogspot.com
 c. Saat baca puisi peserta tidak diperkenankan menggunakan alat bantu apapun
 d.  Saat baca puisi peseta tidak diperkenankan memakai seragam sekolah
 e. Nomor urut peserta diberikan saat technical meeting
 f. Juara dipilih dari 3 (Tiga) peserta terbaik
 g.Penilaian dan perlombaan meliputi:
     a) Interpretasi (penafsiran dan penghayatan)
     b) Vokal (intonasi dan artikulasi)
     c)  Penampilan (mimic dan gestur)
 h. Keputusan panitia bersifat mutlak
 i. Pengumuman lomba dipublikasikan saat malam puncak pementasan
 j. Peserta yang sudah dipanggil 3 kali, tidak datang tanpa alasan yang jelas, maka akan diDISKUALIFIKASI

3. KETENTUAN TAMBAHAN

    a. Semua peserta mendapatkan piagam penghargaan
    b.  Hadiah:
        a)      Juara 1: trophy dan uang pembinaan.
        b)      Juara 2: trophy dan uang pembinaan.
        c)      Juara 3: trophy dan uang pembinaan.

DAFTAR JUDUL DAN PENYAIR


1. Sesobek buku harian Indonesia - Emha Ainun Najib

2. Rayu Santi-santi - WS. Rendra
3. Selama ini dinegerimu - Gus Mustofa Bisri
4. Membaca Tanda-tanda - Taufiq Ismail
5. Ciuman Bibirku yang Kelabu - Mardi Luhung
6. Terpecah Belah - Fileski
7.  Ayo - Sutardji Calzoum Bachri


SESOBEK BUKU HARIAN INDONESIA - EMHA AINUN NAJIB


Melihat pentas-pentas drama di negeriku

berjudul Pesta Darah di Jember
Menyerbu Negeri Hantu Putih di Solo
Klaten, Semarang, Surabaya dan Medan
Teror atas Gardu Pengaman Rakyat di Bandung
Woyla.
Ah, ingat ke hari kemarin
pentas sandiwara rakyat
yang berjudul Komando Jihad
Ingat Malari.
Ingat beratus pentas drama
yang naskahnya tak ketahuan
dan mata kita yang telanjang
dengan gampang dikelabui dan dijerumuskan
Ah, drama-drama total
yang tanpa panggung
melainkan berlangsung di atas hamparan
kepala-kepala penonton
Darah mengucur, kembang kematian.
Bau busuk air liur para sutradara licik
yang bersembunyi di hati mulia para rakyat.
Drama peradaban yang bermain nyawa
mencumbu kemanusiaan
berkelakar secara rendahan kepada Tuhan
Kita orang-orang yang amat lugu dan tak tahu
Pikiran disetir
Hidung dicocok dan disemprot parfum
Pantat disodok dan kita meringkik-ringkik
tanpa ada maknanya
Kita yang terlalu polos dan pemaaf
beriuh rendah di antara kita sendiri
bagai anak-anak kecil yang sibuk dikasih petasan
kemudian tertidur lelap
sesudah disuapi sepotong kue bolu dan permen karet
Ah, milik siapa tanah ini
Milik siapa hutan-hutan yang ditebang
Pasir timah dan kayu yang secara resmi diseludupkan
Milik siapa tambang-tambang
keputusan buat masa depan
Milik siapa tabungan alam
yang kini diboroskan habis-habisan
Milik siapa perubahan-perubahan
kepentingan dari surat-surat keputusan
Kita ini sendiri
milik siapa gerangan.
Pernahkan kita sedikit saja memiliki
lebih dari sekedar dimiliki, dan dimiliki.
Pernahkan kita sedikit saja menentukan
lebih dari sekedar ditentukan, dan ditentukan.


RAYU SANTI-SANTI – WS RENDRA


Ratap tangis menerpa pintu kalbuku

Bau anyir darah mengagu tidur malamku
Oh tikar tafakur
Oh bau sungai Tohor yang kotor
Bagaimana aku bisa membaca keadaan ini?
Di atas atap kesepian nalar pikiran
Yang digalaukan oleh lampu-lampu kota yang bertengkar dengan malam
Aku menyerukan namamu,
Wahai! Para leluhur nusantara!
Oh Sanjaya,
Leluhur dari kebudayaan tanah
Oh Purnawarman,
Leluhur dari kebudayaan air
Kedua wangsa mu telah mampu mempersekutukan budaya tanah dan budaya air,
tanah,
air
Oh Resi Kuturan,
Oh Resi Nerarte,
Empu-empu tampan yang penuh kedamaian
Telah kamu ajarkan tatanan hidup yang aneka dan sejahtera
Yang dijaga oleh dewan hukum adat
Bagaimana aku bisa mengerti bangsa phising dari bangsaku ini?
Oh Katjau Lalido,
Bintang cemerlang tanau ugi
Negarawan yang pintar dan bijaksana
Telah kamu ajarkan aturan permainan di dalam benturan-benturan keinginan yang berbagai ragam dalam kehidupan
Ade, Wicara, Rabang, dan Wali
Ialah adat, peradilan, Yudis-prodensi, dan pemerincian perkara
Yang dijaman itu, di Eropa, belum ada
Kode Napoleon 2 abad lagi baru dilahirkan
Oh lihatkan wajah-wajah berdarah
Dari rahim yang diperkosa
Muncul dari puing-puing tatanan hidup yang porak-poranda
Kejahatan kasat mata tertawa tanpa pengadilan
Kekuasaan kekerasan kaki-tangan penguasa berak dan berdahak di atas bendera kebangsaan
Dan para hakim yang tak mau dikontrol korupsinya,
Berakrobat jempalitan di atas meja hijau mereka
Oh Airlangga,
Raja tampan bagai Arjuna,
Dalam usia 17 tahun
Kau dorong rakyat di desa-desa adat untuk menyempurnakan keadilan hukum adat mereka yang berbeda-beda
Dan lalu kau perintahkan,
Agar setiap adat mempunyai 40 prajurit adat
Yang menjaga berlakunya hukum adat
Sehingga hukum adat menjadi adil, mandiri, dan terkawal
Baru kemudian sesudah itu,
Empu Baradah membantumu menciptakan hukum kerajaan
Yang mempersatukan cara-cara kerjasama antar hukum adat yang berbeda-beda
Sehingga penyair Tantular berseru, Bhineka Tunggal Ika!
Tetapi lihatlah di jaman ini,
Para elit politik
Hanya terlatih untuk jalan-jalan di pasar
Tersenyum, dan melambaikan tangan
Sok egaliter!
Tetapi egalitarianisme tidak otomatis berarti demokrasi
Dengan puisi ini aku bersaksi:
Bahwa hati nurani ini mesti dibakar
Tidak bisa menjadi abu
Hati nurani senantiasa bisa bersemi
Meski sudah ditebang putus di batang
Begitulah,
Fitrah manusia ciptaan Tuhan, yang maha Esa


SELAMA INI DINEGERIMU – KH. MUSTOFA BISRI


Selama ini di negerimu

manusia tak punya tempat
kecuali di pinggir-pinggir sejarah yang mampat

Inilah negeri paling aneh

Dimana keserakahan dimapankan
Kekuasaan dikerucutkan
Kemunafikan dibudayakan
Telinga-telinga disumbat harta dan martabat
Mulut-mulut dibungkam iming-iming dan ancaman

Orang-orang penting yang berpesta setiap hari

Membiarkan leher-leher mereka dijerat dasi
Agar hanya bisa mengangguk dengan tegas
Berpose dengan gagah
Di depan kamera otomatis yang gagu

Iinilah negeri paling aneh

Negeri adiluhung yang mengimpor
majikan asing dan sampah
Negeri berbudaya yang mengekspor abu-babu dan asap
Negeri yang sangat sukses
Menernakkan kambing hitam dan tikus-tikus
Negeri yang angkuh dengan utang-utang
yang tak terbayar
negeri teka-teki penuh misteri

Selama ini di negeri mu

kebenaran ditaklukkan
oleh rasa takut dan ambisi
keadilan ditundukkan
oleh kekuasaan dan kepentingan
nurani dilumpuhkan
oleh nafsu dan angkara

Selama ini di negeri mu

manusia hanya bisa
mengintip masalahnya dibicarakan
menghabiskan anggaran
oleh entah siapa
yang hanya berkepentingan
terhadap anggaran
dan dirinya sendiri

Selama ini di negeri mu

anginpun menjadi badai
matahari bersembunyi
bulan dan bintang tenggelam
burung-burung mati
bunga-bunga layu sebelum berkembang
dan tembang menjadi sumbang
puisi menjadi tak indah lagi

Yang tersisa tinggal doa

dalam rintihan
mereka yang tersia-sia
dan teraniaya
untunglah Allah Yang Maha Tahu
masih berkenan memberi waktu
kepadamu untuk memperbaiki negerimu
dari kampus-kampusmu yang terkucil
Ia mengirim burung-burung ababil
menghujani segala yang batil
dengan batu-batu membakar dari sijjil
dan pasukan bergajah abradah kerdil
bagai daun-daun dimakan ulat
beruntuhan menggigil

Di negeri mu

kini telah menyingsing fajar peradaban baru
jangan tunggu, ambil posisi mu
proklamasikan kembali
kemerdekaan negeri mu


MEMBACA TANDA-TANDA – TAUFIK ISMAIL


Ada sesuatu yang rasanya mulai lepas

dari tangan
dan meluncur lewat sela-sela jari kita
Ada sesuatu yang mulanya
tak begitu jelas
tapi kini kita mulai merindukannya
Kita saksikan udara
abu-abu warnanya
Kita saksikan air danau
yang semakin surut jadinya
Burung-burung kecil
tak lagi berkicau pagi hari
Hutan kehilangan ranting
Ranting kehilangan daun
Daun kehilangan dahan
Dahan kehilangan
hutan
Kita saksikan zat asam
didesak asam arang
dan karbon dioksid itu
menggilas paru-paru
Kita saksikan
Gunung memompa abu
Abu membawa batu
Batu membawa lindu
Lindu membawa longsor
Longsor membawa air
Air membawa banjir
Banjir membawa air
air
mata
Kita telah saksikan seribu tanda-tanda
Bisakah kita membaca tanda-tanda?
Allah
Kami telah membaca gempa
Kami telah disapu banjir
Kami telah dihalau api dan hama
Kami telah dihujani abu dan batu
Allah
Ampuni dosa-dosa kami
Beri kami kearifan membaca
Seribu tanda-tanda
Karena ada sesuatu yang rasanya
mulai lepas dari tangan
dan meluncur lewat sela-sela jari
Karena ada sesuatu yang mulanya
tak begitu jelas
tapi kini kami
mulai
merindukannya.
1982


GIRI: CIUMAN BIBIRKU YANG KELABU – MARDI LUHUNG


Seperti bangun-bangunan batu yang tebal

aku ciumi dindingmu dengan bibirku yang kelabu
lantaran kedua kakiku terikat besi, sedang
tanganku cuma bisa mencengkeram lemah

ya, ada degup di situ, aku dengar pelan-pelan

dan seseorang yang telah hancur berabad dulu
pun bangkit menghadang dengan rambut panjang
kemilau dan matanya, ya, matanya: “Mata si pemburu”

yang pernah melarung darah petir dan kilat

saat huruf belajar menyapa matahari-hijau, yang terbit
di antara kelangkang-gunungmu, tampak seperti
tatapan-tatapan yang sudah lama tak bergaung

dan mata si pemburu pun menggali lingkaran kapurmu

di mana, di situ tersimpan wajah-wajah makhluk
yang pernah berjaga di pinggir-pinggir sungai dengan
sorot tubuh menyiratkan pencapaian

lalu, mengapa wajah-wajah makhluk itu membedol

di pinggir-pinggir sungai? Apakah pencapaian yang
disiratkannya adalah dusta? Adalah si lendir amis yang
telah membuahkan patung dan menancapkan berjuta
bahasa-palsu di keningnya?


dan, lihat, kekuatan apakah yang sanggup menahan

limpahan bedolan sungai itu? Adakah yang tahu, jerit
kesakitan ataukan kelahiran yang disajikannya? Dan
adakah juga yang mencatatnya, lalu menenggelamkan

ke dasar-dasar palung dan jurang, dan membuat aku

mesti mengoreknya lewat cengkeraman yang lemah ini
sambil sesekali menatap angkasa yang menaburkan
serbuk-serbuk kasar bekas pecahan bulan-lain yang
sekarat

yang datang entah dari sisi mana, akibat peperangan

apa, dan membela dewa dan kitab siapa? Oh, aku pun
cuma sanggup mengigau sambil membayangkan sebuah
jalan-berkelok menuju keratonmu yang hilang itu

yang pernah mencelupi mimpi-mimpiku, dengan

puncak-puncak kubahnya yang gilap, yang melambai
penuh harap, agar kita berdua memasukinya, kawin di
situ, dan beranak tujuh-puluh-dua duyung dengan sisik
yang bening

duyung yang selalu berenang di seputar garis debar,

sambil mendedahkan sebuah teka-teki: “Manakah yang
lebih dulu, air ataukah lautan, manik tasbih ataukah
dengus dzikir, daya hafal ataukah daya baca?”

ya, Giri, Giriku, lebih dekatkanlah dindingmu pada

ciuman bibirku yang kelabu ini …


TERPECAH BELAH - PUISI FILESKI


Indonesia menanti seorang sosok

Sosok yang membawa genderang harapan
Yang membawa cangkul dan perahu di sorot matanya
Mengikrarkan dirinya pelayan rakyat dan bukan penguasa
Berbicara dengan bahasa sederhana dan mudah dimengerti hati
Membaca persoalan sehari-hari yang telah lama bersitegang
Kami melihat sawah-sawah kering kekurangan air
Langit runtuh menyapu rumah-rumah dengan longsoran lumpur
Kami melangkah menuju kotak-kotak suara
Menghitung langkah, hingga kemenangan tiba
Namun kami merasa asing di antara sesama
Kami telah dipecahbelah oleh ambisi segelintir megalomania
Yang mengaku negarawan dan penyelamat bangsa
Kami mengubur kata-kata
Menyumpal kedua telinga karena telah bosan
Perubahan yang kami rindukan dikotori oleh ambisi mereka
Kejadian demi kejadian berlalu begitu drastis
Silih berganti perkara demi perkara
Bergolak penuh pergulatan tanpa jeda untuk bernafas
Untuk bisa merenung dan meresapi atas semua yang terjadi
Sebab semuanya sibuk menghujad dan mencari kesalahan kubu lain
Lupa akan kebobrokan diri dan sosok yang dibela seolah dewa
Secara tiba-tiba sodara menjadi lawan
Hingga ketegangan itu masih terasa di meja makan
Semuanya siap untuk menang
Namun tidak siap untuk menerima kalah
Jika Indonesia tak menjadi bijak
Mungkin sebentar lagi tak ada lagi bendera sang dwi warna
Karena telah terberai menjadi kepingan pulau yang punya bendera berbeda.
Surabaya, 08072014


AYO - SUTARDJI


Adakah yang lebih tobat

dibanding air mata
adakah yang lebih mengucap
dibanding airmata
adakah yang lebih nyata
adakah yang lebih hakekat
dibanding airmata
adakah yang lebih lembut
adakah yang lebih dahsyat
dibanding airmata

para pemuda yang

melimpah di jalan jalan
itulah airmata
samudera puluhan tahun derita
yang dierami ayahbunda mereka
dan diemban ratusan juta
mulut luka yang terpaksa
mengatup diam

kini airmata

lantang menderam

meski muka kalian

takkan dapat selamat
di hadapan arwah sejarah
ayo
masih ada sedikit saat
untuk membasuh
pada dalam dan luas
airmata ini

ayo

jangan bandel
jangan nekat pada hakekat
jangan kalian simbahkan
gas airmata pada lautan airmata
malah tambah merebak
jangan letupkan peluru
logam akan menangis
dan tenggelam
dikedalaman airmata
jangan gunakan pentungan
mana ada hikmah
mampat
karena pentungan

para muda yang raib nyawa

karena tembakan
yang pecah kepala
sebab pentungan
memang tak lagi mungkin
jadi sarjana atau apa saia

namun

mereka telah
nyempurnakan
bakat gemilang
sebagai airmata
yang kini dan kelak
selalu dibilang
bagi perjalanan bangsa

NOTE: SILAHKAN MENGISI FORMULIR PENDAFTARAN DI BAWAH INI - BATAS WAKTU PENDAFTARAN 21 APRIL 2015 - JIKA ANDA TIDAK BISA MELIHAT FORMULIR INI, SILAHKAN MEMBUKA WEB INI MENGGUNAKAN PC (KOMPUTER)
__________________








Share on Google Plus

About Fileski Channel