.

.

Belajar tentang KETAHANAN PANGAN ala anak-anak DAUN




“Rice Planted”  by Thifalia Raudina Mahardya / THIFA (9 years old), A3, Acrylic and Water colour on Paper, 2015

karya ini berhasil meraih Golden Pallete dalam sebuah kompetisi internasional di Macedonia, sekaligus membuat Thifa dan 2 anak DAUN lain serta 1 guru berangkat ke Macedonia, Eropa tgl 23-30 Mei 2015 mendatang, mewakili Indonesia pada even Pameran Lukisan Internasional dan Pekan Budaya “The Small Montmartre of Bitola 2015”
----
Teks dan foto oleh Arik S. Wartono


DAUN adalah lembaga pendidikan karakter, bukan sekadar sanggar lukis.
Di sini anak-anak belajar tetang kehidupan dan nilai-nilai, sedangkan kegiatan melukis hanyalah “pengantar”nya.

DAUN (Duta Alam Untuk lingkungaN) didirikan oleh Arik S. Wartono (seorang seniman dan aktivis lingkungan) pada HARI BUMI tanggal 22 April 2004.

Pada awalnya DAUN merupakan lembaga advokasi non-profit yang mengangkat isu-isu lingkungan di Gresik dan sekitarnya, yang kemudian lebih berkonsentrasi pada program pendidikan lingkungan terutama yang ditujukan untuk anak-anak khususnya para pelajar, kemudian sepenuhnya menjadi lembaga budaya.

Cara belajarnya lebih banyak di luar ruangan: di taman kota, stasiun kerta api, trotoar jalanan, alun-alun, pantai, gunung, sawah, hutan dll. Untuk pelajaran teknis biasanya lokasi belajarnya bergantian di teras rumah siswa, atau di halaman belakang, bukan di dalam ruangan.

Pola belajar kreatif melalui kegiatan melukis ini telah mempersembahkan lebih dari 175 juara internasional untuk Indonesia dalam 11 tahun, melalui berbagai kompetisi yang diselenggarakan oleh lembaga PBB, negara sahabat, organisasi internasional dan perusahaan multinasional.

Bahkan dalam setiap kompetisi internasional yang diikuti anak-anak DAUN jarang tidak mebawa hasil. Telah lebih dari 10 kali anak-anak DAUN memborong juara dalam satu penyelenggaraan ivent kompetisi internasional. Rekor tetinggi adalah 12 juara dalam sebuah kompetisi internasional di Polandia tahun 2014, untuk berbagai kategori.

Anak- anak DAUN juga telah mewakili Indonesia dalam berbagai pameran internasional di Inggris, Russia, Australia, Jerman, Prancis, Kanada, USA, Polandia, Macedonia, Turki, Jepang, Hongkong dll

Meski telah banyak aktif di dunia internasional, DAUN justru menganggap kegiatan melukis hanyalah “pengantar”, hanya sebuah cara untuk meraih tujuan-tujuan lain yang lebih besar. Bahkan DAUN tidak pernah mendidik anak-anak untuk tumbuh menjadi seniman. Bagi DAUN, seni adalah untuk kehiidupan, dan mereka belajar kehidupan melalui kesenangan melukis.

Ketika melukis tentang sawah padi (rice field) misalnya, anak-anak DAUN benar-benar ke sawah. Bukan cuma mengunjungi sawah dan melukisnya dari kejauhan tapi benar-benar turun ke sawah, mereka belajar secara utuh:

1. Ikut menanam padi pada saat musim tanam, belajar langsung dari petani
2. kembali 3 bulan berikutnya ke sawah yang sama untuk ikut memanen padi yang mereka tanam, juga belajar langsung dari petani caranya memanen padi
3. Ikut makan makanan petani
4. Melukis semua pengalaman mereka langsung di lokasi, tidak di rumah masing-masing, tidak di sanggar.

Maka dalam proses belajar ini mereka (anak-anak mulai usia playgroup) bukan cuma menghasilkan karya-karya dengan feel lebih sekaligus kemudian menjadi karya-karya juara internasional dan mewakili Indonesia dalam berbagai pameran internasional di berbagai negara. Yang lebih penting adalah mereka belajar melalui pengamatan dan pengalaman langsung tentang sawah padi.

DAUN adalah lembaga PENDIDIKAN KARAKTER

Target kegiatan ini sebenarnya bukan cuma melukis, lebih dari itu yang terpenting dalam proses belajar utuh dari menanam sampai panen dan berkenalan langsung dengan para petani bahkan sekaligus ikut merasakan makanan petani adalah pendidikan sejak dinitentang kesadaran KETAHANAN PANGAN

Bahwa:

1. Setiap makanan yang hadir di meja makan tidak datang dengan sendirinya, tapi mesti ada orang yang menanam, merawat, memanen sampai kemudian bisa dihidangkan

2. Petani mesti dibikin bisa terus menanam, demi ketersediaan pangan dalam negeri.

Jika sampai petani berhenti menanam karena lahan bearlih fungsi, panen yang selalu gagal, harga yang terus dipermainkan atau banyak sebab lain, maka kita semua sepenuhnya akan bergantung pada impor (beli pangan dari luar negeri).

3. Jika ketahanan pangan kita sudah jebol, maka selamanya kita akan tumbuh menjadi bangsa TERJAJAH. Karena berapapun harga yang mereka tetapkan akan terpaksa kita beli, sebab kita butuh makan.

Anak-anak mesti kita pahamkan ini sejak dini, agar kelak saat mereka dewasa dengan pilihan profesinya mereka tetap mengerti tentang betapa mutlaknya kita butuh KETAHANAN PANGAN

Kita tentu masih ingat bahwa harga cabe ternyata bisa sampai hampir 100 ribu per kg (atau sudah pernah lebih) ?

Pernahkah kita berpikir saat kita masih kecil bahwa harga cabe bisa melebihi harga daging?

TIDAK, kita tidak pernah berpikir tentang itu, karena kita memang sejak kecil tidak pernah diberi pemahaman itu oleh orang tua dan para guru kita.

Kita telah tumbuh sebagai generasi yang tak memahami dan akhirnya tak peduli dengan KETAHANAN PANGAN bangsanya sendiri.

Jika anak-anak kita tumbuh dengan cara yang sama, maka jagan salahkan orang lain jika pada saatnya mereka kelak mengalami harga beras jadi 1 juta rupiah per kg dan mereka terpaksa harus tetap BELI hanya karena mereka gak akan merasa sudah makan jika belum makan nasi.

Apakah itu mustahil terjadi?

Bagaimana itu mustahil jika harga cabe sekarang sudah pernah bisa mengalahkan harga daging dan kita semua tetap mesti beli karena butuh makan yang ada rasa pedasnya murni dari cabe dan gak mau diganti merica atau yang lain.

Pendidikan tentang KETAHANAN PANGAN adalah materi WAJIB yang selama ini DIABAIKAN oleh negara.

Jika negara mengabaikan ini, maka kita sebagai para orang tua wajib mengambil alih tugas ini.

DAUN bukan cuma tempat anak-anak belajar melukis, sebab materi melukis hanyalah media bagi mereka untuk belajar berbagai hal, belajar tentang bagaimana caranya tumbuh menjadi generasi yang lebih baik.

Generasi kita adalah generasi yang bahkan masih sanggup tidur nyeyak ketika mendapati fakta bahwa lahan-lahan pertanian telah berubah fungsi dan para petani dipaksa berubah profesi.

Kita baru ribut saat harga-harga sembako naik sampai level tidak masuk akal, lalu kita menciptakan kambing hitam.

Tapi kita tetap bisa tidur nyenyak saat lahan pertanian terus berubah fungsi, bahkan kita malah dengan bangga menjadi bagian dari perubahan ini.

Kita tidak pernah kuwatir pada saatnya kelak jika ini terus berlangsung dan tidak ada upaya solusi, mungkin saja anak-anak kita kelak hanya menghabiskan waktu mereka untuk bekerja demi bisa beli sembako, tidak lebih dari itu.

Betapa mengerikan jika (kurs sekarang, per kg) cabe harganya 100 ribu, bawang merah 100 ribu, bawang putih 100 ribu, jahe 100 ribu, gula 100 ribu, garam 100 ribu, beras 1 juta, dan semua harga bahan pangan kebutuhan pokok menjadi sulit dijangkau, nanti apakah mereka bukan cuma cari uang hanya untuk beli sembako?

Apakah ini paranoid?

TIDAK, ini niscaya kelak terjadi jika kita terus membiarkan setiap lahan pertanian berubah fungsi dan para petani dipaksa alih profesi dan kita tetap bisa tidur nyenyak atas semua ini.

Setiap lahan pertanian yang berubah fungsi berarti berkurangnya bahan pangan yang ditanam di negeri ini !

Dulu pada zaman Majapahit bahkan ada undang-undang kerajaan (berlaku untuk semua orang yang berada dalam wilayah taklukan Majapahit) yang menyatakan secara tertulis bahwa:

"Barangsiapa menelantarkan lahan pertanian selama 2 tahun berturut-turut, dia dijatuhi hukuman MATI".

Menelantarkan lahan saja sudah dihukum mati, tapi sekarang kita mengubah fungsi lahan pertanian secara permanen bisa tetap tenang-tenang saja.

Karena ada kitab hukum negara yang kemudian dilaksanakan secara konsisten untuk membangaun KETAHANAN PANGAN, maka wajar jika Majapahit bisa menjadi kerajaan ADI DAYA pada zamannya.

Setiap negara (bangsa) adidaya pasti punya sistem yang efektif, efisian dan konsisten tentang KETAHANAN PANGAN.

Kelihatannya anak-anak ini cuma belajar melukis, namun yang mereka pelajari sebenarnya adalah materi WAJIB tentang syarat mutlak untuk menjadi bangsa yang kuat

Itu sebabnya, DAUN berusaha membuat program-program semacam ini.

Bukan cuma tentang ketahanan pangan, tapi juga tentang cagar budaya (situs sejarah warisan leluhur) pohon dan hutan sebagai produsen abadi oksigen yang kita hirup setiap saat, dan masih banyak lainnya. Jika melukis tentang hutan maka anak-anak DAUN beneran masuk hutan dan langsung melukis di dalamnya, bukan di sanggar apalagi di rumah mereka yang nyaman dan ber AC.


Salam Kreatif dari anak-anak DAUN


Arik S. Wartono
pendiri dan Pembina utama DAUN


Lokasi:
desa Kedanyang, Kebomas, Gresik, Tawa Timur
Anak-anak DAUN berangkat dari Surabaya selepas subuh


I. MUSIM TANAM


Minggu 11 Januari 2015
Turun ke sawah


Minggu 11 Januari 2015
Belajar menjadi petani, bersiap menanam padi


Minggu 11 Januari 2015
Ikut menanam padi, belajar langsung dari petani



Minggu 11 Januari 2015
Melukis musim tanam, langsung di lokasi






Minggu 11 Januari 2015
Makan makanan petani “menu desa”


II MUSIM PANEN


Minggu 12 April 2015
Kembali ke sawah lokasi yang sama yang 3 bulan sebelumnya mereka ikut menanam


Minggu 12 April 2015
Bersiap ikut memanen padi


Minggu 12 April 2015
Panen padi yang telah ikut mereka tanam 3 bulan sebelumnya


Minggu 12 April 2015
Ikut memanen padi, belajar langsung dari petani


Minggu 12 April 2015
Melukis panen, langsung di lokasi



Minggu 12 April 2015
Makan makanan petani “menu desa”


Minggu 12 April 2015
Makan makanan petani “menu desa”


II HASIL KARYA


Thifa bersama karya juara yang dihasilkan melalui on the spot painting
musim tanam 11 Januari 2015
Share on Google Plus

About Fileski Channel