.

di negeri kertas, tidak ada koruptor. setiap orang punya ketahanan ekonomi, baik rakyat biasa dan pejabatnya, semua ikut patungan/gotongroyong membangun negeri. demokrasi berjalan natural tanpa money politic. tidak seperti negeri tetangga yang rakyatnya kelaparan hingga rela menukar suara dengan sekantong sembako. #fileski

JIKA POLITIK BENGKOK, PUISI MELURUSKANNYA


Catatan Kecil Dimas Arika Mihardja

Mingggu-minggu belakangan ini santer pemberitaan mengenai perseteruan antara eksekutif dan legislatif, yakni antara Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) sebagai eksekutif dan anggota DPRD DKI terkait dengan dana siluman. Perseteruan ini sarat aroma politik, tepatnya politik "uang siluman" yang hendak ditilep, dan upaya mengamankan Angaran Pendadapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI. Ahok seakan berada di pihak pemberantasan korupsi (Ahok melaporkan anggota DPRD ke Komisi Pemberantasan Korupsi), dan di pihak lain DPRD merasa menjadi pahlawan rakyat dengan mengatakaan Ahok dengan perkataan diskriminatif--yang tidak sepantasnya keluar dari mulut anggota dewan yang terhormat. 

Perseteruan antara eksekutif dan legislatif ini mengundang menteri dalam negeri mengupayakan perdamaian dengan  jalan mediasi. Namun, saat mediasi berlangsung terjadi keributan, pasalnya ada teriakan "Ahok Anjing", Ahok sipit dan lainnya. Pemerintah melalui otoritasnya memberi kesempatan pada eksekutif dan legislatif selama seminggu untuk mendapatkan titik temu. Akibat kasus ini muncul "pahlawan" baru (phlawan dalam tanda petik, yang dielu-elukan dan sekaligus diledek yakni kemunculan H. Alung lewat sosial media--yang menduduki orang terkenal ketiga sedunia. Dunia politik penuh dengan intrik dan taktik, orang awam seperti saya melihatnya sebagai sesuatu yang bengkok. Terkait dengan bengkoknya politik ini, seorang Wild Dove, yang menamakan dirinya penulis bebas, menulis puisi seperti ini:
METODOLOGI ANJING
Ada legitlatif
Ada jua esek-esek kutif
:
Laki-laki tadi teriak;
"Perempuan kuning, kau anjing!"
Sekali lagi dia berteriak;
"Perempuan sipit, bangsat kau!"
:
Ah
:
Aku kembali ke peraduan
Lalu tersadar
Di pembaringan ada penantian
:
"Perempuan kuning, burungku berdiri"
:
Dijilati tiap jengkal kulit kuning bagai anjingmenjilat
Digigiti dalam liur menetes kerap layaknya bangsat
"Oh, burungku siap terbang"
:
Hening;
:
Laki-laki teriak
"Perempuan kuning, aku bangsat yang memujakemaluanmu"
"Perempuan sipit, aku anjing yang akan gilabila tiada memasukan burungku dalam-dalam"
"Perempuan cina, aku tak hendak kehilangankesempatan dalam kesempitan liang vaginamu"
:
Dan aku kembali mencambuk laki-laki dalam tajamnyapena orgasme

Wild Dove the freedomwriter
Saya  kutip dari statusnya hari ini, Kamis 12 Maret 2015

Puisi berjudul METODOLOGI ANJING ini, tidak hanya satir, tajam, menghunjam, tetapi juga menyoroti hal yang palig pantang di Idonesia, yakni terkait hal yang tabu: SARA (Suku Agama dan Ras). Persoalan bentroknya antara eksekutif dan legislatif bermula pada persoalan komunikasi. Dan puisi terutama juga terkait persoalan komunikasi. Teriakan anggota DPRD "Ahok Anjing", "sipit" dan lainnya telah masuk wilayah diskriminatif, sebab kata tabu itu muncul telanjang dalam komunikasi bersemuka--berhadapan di dunia nyata. Celakanya, kata-kata tabu itu justru keluar daeri mulut wakil rakyat yang terhormat. Tentu akan berbeda jika kata-kata itu hadir dalam puisi, misalnya. Sebab kata-kata dalam puisi tidak saja bermuatan makna tersurat, tetapi juga tersirat dan terbiat. Makna tersurat cenderung lugas, dan makna tersirat cenderung kias dan bias. Sedangkan makna terniat hanya kreatornya sendiri yang memahaminya.

Seoraqng penyair pada hakikatnya melaksanakan sepenuhnya apa yang dikemukakan oleh Karl Jasper: "Bukan saja dalam kenyataannya saya bukan untuk diri saya sendiri, tetapi bahkan saya tidak dapat menjadi diri saya sendiri tanpa muncul dari kehadiran saya bersama orang lain." (Goenawan Mohamad, 1993:80). Puisi Wild Dove muncul serupa gema setelah perseteruan antara Gubernur DKI Jakarta dan DPRD. Perseteruan ini hadir dan mencair di awal puisi, seperti ini:

Ada legitlatif
Ada jua esek-esek kutif
:
Laki-laki tadi teriak;
"Perempuan kuning, kau anjing!"
Sekali lagi dia berteriak;
"Perempuan sipit, bangsat kau!"
:
Ah

Ada legislatif/ Ada jua esek-esekkutif/ kata eksekutif diplesetkan menjadiesek-esekutif, yang bermakna merekasuka esek-esek, atau berada dalam transaksi esek-esek. esek-esek dalam dunia politik tidaklah menjurus ke permainan seks, meskipun pada realitasnya cukup banyak dibongkar skandal sex, berupa video mesum yang tersebar di jejaring sosial media maya, lalu dalampuisi itu terdengar teriakan( sama juga ada teriakan pada sidang mediasi perseteruan dua kubu itu) : Laki-laki tadi teriak;/ "Perempuan kuning, kau anjing!" Sekali lagi dia berteriak;/ "Perempuan sipit, bangsat kau!". Jika dalam kehidupan nyata saat terjadi keriuhan antara eksekutif dan legislatif pelakunya adalah lelaki, dalam puisi ini tokohnya adalah perempuan berkulit kuning dan bermata sipit. Perempuan itu mendesah "Ah" lalu mengatur siasat bagaimana melakukan pembalasan kepada pihak yang melecehkannya. Stategi itu dipaparkan melalui judul METODOLOGI hingga  kutipan ini:

Aku kembali ke peraduan
Lalu tersadar
Di pembaringan ada penantian
:
"Perempuan kuning, burungku berdiri"

Burung berdiri adalah lambang kejantanan lelaki. Rupanya, sosok perempuan yang dihina itu mengatur siasat menaklukkan lelaki melalui ranjang. Bagi yang tidak mengenal karya Wild Dove, pengungkapan serupa ini dipandang masuk ke ranah pornografi dan porno aksi. Sebagai penulis bebas, Wild Dove memang mengunakan frame reference seperti ini untuk melancarkan sikap kritisnya terhadap kritik kehidupan. Diksi-diksi yang bagi orang lain tabu, leluasa dipakai oleh Wild Dove seperti ini: "Perempuan kuning, burungku berdiri" (yang mengingatkan Pengakuan Pariyem, sebuah prosa lirik karya Linus Suryadi AG sastrawan lelak)i. Pembaca dapat saya terkejut membaca bagian puisi Wild Dove (sastrawan perempuan) ini:

:
Dijilati tiap jengkal kulit kuning bagai anjingmenjilat
Digigiti dalam liur menetes kerap layaknya bangsat
"Oh, burungku siap terbang"
:
Hening;
:
Laki-laki teriak
"Perempuan kuning, aku bangsat yang memuja kemaluanmu"
"Perempuan sipit, aku anjing yang akan gilabila tiada memasukan burungku dalam-dalam"
"Perempuan cina, aku tak hendak kehilangankesempatan dalam kesempitan liang vaginamu"
:
Dan aku kembali mencambuk laki-laki dalam tajamnyapena orgasme

Kata-kata seperti kutipan itu bagi pembaca pada umumnya (awam) akan menjijikkan, kehidupan ranjang mungkin dipandang sebagai vulgar, tetapi itulah siasat yang dipilih oleh Wild Dove, sama dengan siasat Rendra saat menulis "Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta": Pelacur- pelacur kota Jakarta, ambillah galah dan kibarkan kutangmu di ujungnya...." dan sebagainya. Rendra berpandangan bahwa politisi itu nyaris sama dengan pelacur yang dikutuk dan perusak moral masyarakat. Wild Dove tentu saja juga geram, dan dengan siasatnya menyatakan yang bejat itu lelaki, tetapi selalu ditimpakan pada perempuan. Protes sosial seperti ini terasa lebih bergema melalui sastra puisi. Puisi ternyata tidak selalu dalam ungkapan yang indah, bahasa yang meliuk muluk, melainkan ada yang diungkapkan secara khas, mengkritik, menyindir, ironi, dan lainnya. Ada pengamat yang memasukkan sastra jenis ini sebagai SMS (Sastra Mazhab Selangkangan) (Ingat Taufiq Ismail), GSM (Serakan Sahwat Merdeka) yang ditujukan pada karya-karya Ayu Utami, dan "Ayu-ayu lainnya". Hiruk-pikuk kehidupan politik yang cenderung bengkok lalu diluruskan oleh puisi yang disenngaja dengan ungkapan khusus. Begitu? Bagaimana menurut Anda duhai pembaca?

Share on Google Plus

About Fileski Channel