.

di negeri kertas, tidak ada koruptor. setiap orang punya ketahanan ekonomi, baik rakyat biasa dan pejabatnya, semua ikut patungan/gotongroyong membangun negeri. demokrasi berjalan natural tanpa money politic. tidak seperti negeri tetangga yang rakyatnya kelaparan hingga rela menukar suara dengan sekantong sembako. #fileski

KEMASAN DOA KURNIA HIDAYATI YANG KEEMASAN

Catatan Kecil Dimas Arika Mihardja

Kurnia Hidayati, lagi-lagi merampas perhatian dengan sejumlah puisi bertajuk doa. Doa yang ia kemas, menurutku mengarah kekeemasan—bukan kecemasan. Yuk kit abaca bersama:

Doa Sungai

sungguh, ini bukanlah harapan sebuah sungai–sungai yang menyimpan ancam dan ketakutan bagi para penambang batu dan pasir,para penghuni bantaran yang menerbitkan senyum getir, juga orang-orang yangasing pada pukat dan kail pancing. ketika kemarau pergi tanpa lambaian danmusim menghadirkan hujan. aku memaksa cadas batu cemburu kepada aliran yangmenderas di tubuhku, menyimpankan dendam muara dan meluapkan diri jauh melatake jalan-jalan.
aku berdoa, semoga hujan enggan lama bertahan.

Batang, 2014

“Doa Sungai” memiliki rupa bentuk yang berbedadibandingkan puisi Kurnia Hidayati (KH) lainnya. Puisi  ini serupa sungai yang mengalirkan idekreatif, harapan-harapan, dan doa yang tertata secara naratif. Sungai dan kehidupandi dalamnya “dipinjam” oleh aku lirik memanjatkan doa, dan doanya menurut sayaluar biasa sebab menyangkut hajat hidup orang banyak. Saat puisi menyangkutpersoalan hajat hidup orang banyak, maka puisi itu masuk ke wilayah persoalansocial-budaya yang perlu direnungkan oleh orang banyak, yakni pembaca budiman.Pembaca yang turut memikirkan solusi persoalan social.
Puisi “Doa Jembatan” secara estetik terasa lebih kuatdisbanding puisi “Doa Sungai”, kit abaca “Doa Jembatan” yang pilihan diksi danpenempatannya dalam larik puisi sangat kuat dan memikat:

Doa Jembatan

detik peristiwa melulu jadi lanskap yang pedih dimata
batu-batu mengubur diri dalam jerit suara arus
deras.
para pemancing melemparkan umpan cemas di ujungkail, mendamba ikan-ikan, sambil duduk di atas batu, menunggu
“adakah ikan-ikan sembunyi dalam arus sungaipaling misteri?”

jika hujan tiba menggeleparkan tubuhnya
tak ada yang lebih menghunus dari doa sebatangjembatan
yang membentang, merelakan tubuh dilindas kerasjentera
menjadi pialang yang setia, mengantar orang-orangsinggah
pulang dan pergi
dari tepi ke tepi

Batang, 2014

Peri kehidupan social masyarakat dipotret atau lebihtepatnya dilukis oleh KH. Terasa benar kecemasan mengendap  dan kita selalku pembaca diajakberkontemplasi persoalan social-masyarakat. Persoalan social-masyarakat itusemakin nyata pada puisi yang tak kalah menariknya, yakni “Doa Penambang Pasir”seperti ini:

Doa Penambang Pasir

bantaran sunyi, gerung truk jadi bunyi di dalammimpi. sebab hanya ada tanah sarat genangan, pasir-pasir hanyut, aliran sungaimengabarkan perasaan takut. bukan pengharapan dan ruah pasir. segala dambatentang uang dan sambung nyawa telah hilang dan terusir.

sungai muntah sampah, kami mengungsikan resah padamendung di langit murung. hujan akan tiba, tapi izinkanlah kami menyelam lagi,menating ember ke dalam sungai yang timpas, agar elan kami tentang rezeki danhujan tak moksa dan terlepas.

Batang, 2014

Puisi “Doa Aspal” tidak kalah gregetnya disbandingpuisi-puisi doa lainnya. Puisi-puisi doa KH tidak jatuh menjadi puisiartificial, melainkan secara estetik telah menjadikan puisi-puisi ini menarik.Kita simak “Doa Aspal”:

Doa Aspal

kikislah kulitku, wahai hujan! namun jangan kauhilangkan debar keberanian di dada orang-orang. ingar klakson dan umpatan jadiserenada yang tumpah di jalanan, lampu-lampu berkedip tiap malam namun hanyauntuk bersolek, bukan menerangi sesuatu yang hilang.
maka, ketika banjir tiba menyepuh seluruh tubuhjalan. aku berdoa kepada hening cakrawala, agar hujan tak lekas tiba jadibencana. sebab kulitku yang bak rahasia panjang dan gerowong di mana-mana,senantiasa menyimpan petaka bagi pengendara.

Batang, 2014

Empat doa yang dipanjatkan oleh penyair KH ini tak pelaklagi merupakan akumulasi dari kepekaan penyair menangkap momentum puitik padasaat ia menulis puisi-puisinya. Kepekaan, kecermatan menelisik, merenung, dankeinginan menyodorkan persoalan social-budaya menjadikan puisi-puisi bertemasocial yang ditulis KH menarik diapresiasi. Kelak, saat buku yang sedangdipersiapkannya terbit, maka masyarakat Indonesia—masyarakat susastraIndonesia—seyogianya mengoleksi, menginventarisasi, dan mendokumentasikanpuisi-puisi KH yang penuh talenta ini. Saya yakin, pergaulan kreatifnya dengan penyair lain akan semakinmenggisok talentanya menjadi keemasan, berkilau serupa butiran emas dan kitatidak cemas oleh minimnya penyair perempuan, eh maksud saya perempuan penyair.


Diskursus yang tetap actual dalam konteks kepenyairanIndonesia ialah sejauh mana penyair Indonesia menggunakan bahasanya untukmengungkapkan nilai-nilai baru, cita rasa estetis, dan jiwa manusia kini yangdirongrong   oleh kegelisahan, alienasi,obssi, dan harapan-harapan baru yang selalu menggodanya? Penyair kini yang hidupdi dua kutub berbeda: tradisi—modernisasi, Barat—Timur, Utara—Selatan,lokas—nasional—global niscaya mengelami dampak keterpecahan budaya. Nilai-nilaibudaya yang berbeda berkonfrontasi, berinteraksi, dan terakumulasi dalam wacanayang suit dibaca. Kegagapan budaya—gegar budaya dan trauma acap menggoda duniakepenyairan.

Penyair sebagai pejalan ulang-alik budaya, terperangah ditengah-tengah lalu lintas budaya di hadapannya. Penyair Indonesia mutakhirlantas tergoda menyangsikan kemampuan bahasa nasionalnya—bahasa Indonesiasebagai wahana ungkap yang mantab. Migrasi bahasa akhirnya menjadi agenda dalambenak kepenyairan Indonesia (ingatlah polemic ini beberapa tahun silam yangterekam dalam buku Prahara Budaya). Ketika penyair Malaysia, Singapura,Filiphina gelisah dan merasa tercerabut dari akar budayanya dapat dimaklumikarena mereka memang bermasalah dalam soal bahasa. Tetapi ketika penyairIndonesia tertular ikut gelisah, apakah hal itu dapat menjadi agenda utamadalam konteks berbahasa—bernegara—bersastra?

Penyair dan bahasa ibarat sekeping uang logam yang antara sisi yang satu dengan sisilainnya saling mendukung makna, nilai dan eksistensi. Menghilangkan yang satuatau meniadakan salah satu sisi  dapatberakibat kehilangan jati diri dan akan berdampak pada krisis nilai-nilai.Begitu ada penyair Indonesia bermigrasi bahasa—misalnya ke bahasa Inggrisdengan harapan mendapatkan hadiah nobel, misalnya, ia akan kehilangan bahasanasionalnya. Penyair Indonesia bias saja menulis sajak dalam bahasa Inggris,Jepang, Jerman, Perancis, dan sebagainya, tetapin percayalah bahwa karyanyaakan dipandang sebelah mata oleh kritisi dan akademisi. Masalahnya tidaklahsederhana, kerumitan akan terwujud dalam konstelasi nilai-nilai yanggonjangganjing, asing, dan bias jadi dianggap sinting.

Penyair Indonesia akan eksis dan establish ketika iamenguasai bahasa nasionalnya. Seorang penyair memang harus menguasai saranaretorika berupa bahasa dalam berkarya. Tanpa menguasai saranaretorika berupadiksi, imajinasi, figure of speech, ritma dan rima dapat dikatakan penyairakana gagal membahasaakan cita rasanya, jiwanya, dan obsesinya. Bahasa bagipenyair ibarat jendela kaca: melaluinya ia dapat melihat realitas, tetapi iadalam hal-hal tertentu dibatasi oleh keterbatasan bahasa. Jadi, jika penyairgagal memotret realitas, fenomena-fenomena, dan Realitas Hakiki yang transendensifatnya, adalah lumrah belaka.

Bahasa Indonesia memang sederhana dalam stuktur danmanifestasinya, namjun sesungguhnya bahasa Indonesia mampu menyimpan kekayaanbudaya, alam pikiran, dan memantulkannya melalui wacana-wacana susastra.Persoalan menjadi krusial ketika penyair Indonesia menyangsikan kemampuanbahasa Indonesia sebagai bahasa nasionalnya sebagai wahana ekspresi karyakreatifnya. Para penyair haruslah kreatif mengolah, meramu, dan pada akhirnya“menemukan bahasa” yang paling tepat bagi ekspresi jiwanya.

Empat puisi yang dikemas dalam bentuk doa yang dihadirkanitu menunjukkan kepada kita (para pembaca) bahwa Kurnia Hidayati—sosokperempuan penyair yang menurut pembacaan saya telah menemukan bahasa. Artinya,ia telah menemukan pola ungkap, gaya ekspresi bagi puisi-puisinya. Saya akansenang menjadi saksi yang sexy atas perjalanan kreatif Kurnia Hidayatiselanjutnya, apakah ia akan menggantungkan pena setelah menikah? Sama kita tunggukeajaiban selanjutnya.
Selamat dan sukses buat penyair muda penuh talenta: Kurnia Hidayati.

Salam DAM 123 sayang semuanya
Share on Google Plus

About Fileski Channel