SEDEKAH BUKU

Negerikertas.com menyalurkan bantuan SEDEKAH BUKU untuk taman baca di berbagai pelosok daerah yang kekurangan buku bacaan. Kirimkan buku ke alamat: Fileski 085731803357 | Jl Koperasi A08 | Banjarejo | Kec.Taman | Kota Madiun. Bisa juga berupa uang ke rek BCA 1771531313 a/n Walidha. Madiun

JAWA POS - RADAR MADIUN - 22 JANUARI 2015

DUNIA sastra nampaknya tidak bisa dilepaskan dari pemuda 26 tahun ini. Sejak kecil, pemuda yang dikenal dengan nama pena Fileski ini mengaku mencintai kesusastraan karena akrab membaca puisi-puisi karya ayahnya yang seorang guru mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Sastra. Kecintaannya semakin menjadi saat dia menginjak bangku SMA dan ikut ekstrakurikuler teater. ‘’Sastra, terutama puisi itu unik. Dari satu kata saja bisa menjadi bermacam-macam tafsir makna,’’ tuturnya.

Berangkat dari pengamatan dan pengalaman hidup sehari-hari, Fileski mulai belajar menulis puisi. Kebiasannya ini masih terbawa sampai sekarang. Pun, dari kegemarannya tersebut menghasilkan sebuah buku kumpulan puisi karyanya berjudul Kitab Puisi Negeri Kertas. Selain aktif menulis puisi, Fileski juga gemar mengkompos lagu. Hobi sampingannya ini pun dia gabungkan dengan puisinya. ‘’Jadinya ke musikalisasi puisi,’’ ujarnya.

Dari kegemarannya menulis puisi, dia mulai mengenal komunitas penyair se-Asia Tenggara yang tergabung dalam forum e-Sastera beberapa tahun silam. Dia juga mengetahui setiap tahun, komunitas ini memberi penghargaan pada para penyair yang didasari pada penilaian sejumlah kriteria, termasuk kualitas karya, prestasi dan konsistensi dalam berkarya, serta dedikasi pada pengembangan kesusastraan Bahasa Melayu. Seleksi dilakukan oleh Dewan Kurator yang beranggotakan sastrawan senior Malaysia. Agustus 2014 lalu, Fileski iseng mengirimkan sekitar 30 puisi dan komposisi 10 musikalisasi puisi karyanya. ‘’Nggak berharap menang sih. Cuma sekadar pengin unjuk eksistensi pada penyair yang lain saja,’’ ungkap penyair musisi yang pernah mencetak rekor bermain musik-puisi selama 11 jam non-stop tersebut.

Hescom sendiri merupakan singkatan dari Hadiah eSastera.com, semacam komunitas di dunia maya beranggotakan penyair di seluruh Asie Tenggara. Komunitas ini berangkat dari keprihatinan penyair terhadap bahasa Melayu yang mulai ditinggalkan generasi muda. Maka dari itu, sekali dalam setahun, komunitas ini menggelar malam penganugerahan bagi penyair yang cukup produktif menelurkan karya sastra berbahasa Melayu. ‘’Kategorinya banyak. Ada puisi, esai, musikalisasi puisi, cerita pendek, dan sebagainya,’’ jelas pemuda yang pernah sebulan penuh tur keliling resital biola puisi dalam rangka Bulan Bahasa di Singapura pada September-November 2014 lalu tersebut.

Pada malam penganugerahan dihelat awal Desember 2014 lalu, Fileski memilih tidak datang. Saat itu, dia disibukkan mengurus proses penyelesaian pembuatan album musikalisasi puisi fotografi. Dalam buku tersebut bersisi kumpulan foto dan puisi berkolaborasi dengan seorang fotografer yang bernama Arik S.Wartono, sebagai bonus buku diselipkan beberapa komposisi musikalisasi karyanya. Pun, prosesnya sudah mencapai tahap finishing. ‘’Lagi pula saya juga pesimistis nggak bakal menang,’’ ungkap alumnus Jurusan Teater salah satu perguruan tinggi seni (Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta) di Surabaya tahun 2012 tersebut.

Malam itu juga, Fileski mendapat kabar menjadi pemenang kategori musikalisasi puisi oleh salah seorang teman sesama penyair dari Cilegon, Banten. Kebetulan, temannya menghadiri malam penghargaan yang digelar di Hotel Dynasty, Kuala Lumpur, Malaysia. Sulung dua bersaudara ini seakan tidak percaya dia mendapatkan Anugerah HesCom Musikalisasi Puisi e-Sastera Malaysia. ‘’Dia memberi tahu lewat Facebook. Saya sempat nggak percaya. Takutnya dia ngerjain saya,’’ kenang pemuda yang bernama lengkap Walidha Tanjung Files itu.

Meski tidak percaya, rasa penasaran pemuda yang akrab dipanggil Files ini seolah semakin menggebu. Keesokan harinya, dia mencari tahu kebenaran kabar tersebut pada panitia via Facebook. Tak berselang lama, dari pihak panitia membenarkan kabar tersebut. Pun, mereka memberi ucapan selamat pada Fileski. ‘’Campur aduk rasanya mendengarnya,’’ ungkapnya.
Pemuda kelahiran 21 Februari 1988 ini mengaku sempat melamun beberapa saat begitu mendengar kepastian kabar tersebut. Bahagia dan bangga tentu dirasakan putra pasangan Kasim Kustiono-Nur Minarsih tersebut. Di sisi lain, Fileski getun tidak menghadiri acara tahunan tersebut. Dia takut disebut penyair yang sombong karena tidak mau datang. ‘’Nggak enak sama teman-teman sesama penyair yang lain,’’ ucapnya.

Keesokan harinya, alumnus SMAN 1 Geger, Kabupaten Madiun tahun 2006 ini melalui akun facebooknya ia menghubungi presiden e-Sastera untuk mengkonfirmasi alasan ketidakhadirannya. Semua temannya pun dia tag dalam pemberitahuan tersebut. Intinya, Fileski meminta maaf karena tidak muncul dalam malam penganugerahan karena benar-benar sibuk. ‘’Saya harap mereka mengerti,’’ imbuhnya.

Sebagai juara, Fileski berhak mendapat hadiah berupa uang tunai ringgit Malaysia dan sertifikat. Sesuai aturan yang berlaku, bagi pemenang yang tidak menghadiri acara malam penganugerahan otomatis hadiah uang tunai hangus. ‘’Tapi bukan uangnya yang utama bagi saya. Menjadi pemenang saja senangnya minta ampun,’’ tuturnya.

Akhirnya, dia hanya mendapat sertifikat sebagai bukti pemenang anugerah musikalisasi puisi e-sastra. Ternyata, Fileski harus menunggu sekitar satu minggu hingga sertifikat tersebut sampai di tangannya. Saat dia menghubungi pihak panitia, katanya sudah dikirim. ‘’Sempat takut sertifikat itu tersangkut di mana. Tapi alhamdulillah akhirnya sampai juga,’’ ungkap penyair yang sejumlah puisinya sudah banyak dimuat di berbagai media cetak tersebut. ***



Share on Google Plus

About Fileski Channel