.

.

KEMBARA JURNALISTIK BUAT ANAK ESDE

Salah satu hal yang paling berkesan di tahun ini adalah melakukan perjalanan ke belasan sekolah dasar. Pernah ditolak, dipandang sebelah mata bahkan dianggap mengganggu. Cuek aja karena lebih banyak yang menyambut baik. Para peminat alias anak-anak esde itu, wajah polosnya nggak bisa bohong kalau mereka hepi disambangi, dikasi ilmu tanpa ditarik dana sepeserpun.
Buat sebagian orang kegiatan ini mungkin dianggap nggak ada keren-kerennya sama sekali. Karena memang tidak untuk keren-kerenan. Bahkan ada yang komen: Apa untungnya ngasi pelatihan jurnalistik buat anak esde? Di tempat terpencil pula! Wait, yang nanya begitu kayaknya wajib kudu harus sehari aja ikut acara ini dan rasakan sensasinya .
Ngomong-ngomong, buat saya pribadi kegiatan ini menjadi semacam roadshow literasi. Sederhana tapi berkarakter. Betapa tidak? Mayoritas sekolah yang kami sambangi adalah sekolah-sekolah dasar yang letaknya di pinggiran kalau tidak mau disebut pelosok. Tujuan kami juga tak kalah sederhananya, menginginkan mereka mencintai buku. Menggemari membaca dan menulis. Hingga kelak suatu saat para pencinta buku tak lagi dijuluki kutu.
Ada banyak hal yang membuat saya merinding (bukan karena lokasinya horror!). Ternyata kemampuan para peserta banyak yang melampaui ekspektasi saya. Di salah satu sekolah dasar, ada seorang siswa namanya Aji, masih duduk di bangku kelas 2. Saat sesi materi yang khusus hanya untuk kelas 5 dan 6, tiba-tiba si Aji ini nyelonong dan dengan cueknya dia berdiri di depan saya yang saat itu lagi serius memberi materi. Setiap ada pertanyaan dia selalu ngacung untuk menjawab. Bahkan ketika saya tanya siapa yang punya buku favorit. Eh, si Aji ngacung lagi. Dia menjawab kalau dia punya buku favorit dan sudah berkali-kali dibaca. Ketika dia menyebutkan judul bukunya, asli saya hampir tidak bisa menahan diri untuk tidak shock. Judul buku favorit Aji : SIKSA NERAKA. Melihat ekspresi saya yang seolah tidak yakin, Aji tiba-tiba lari ke luar ruangan. Belum lima menit dia kembali dengan membawa buku yang disebutkannya tadi. Ini bu bukunya, kemana-mana saya bawa. Mendengar penjelasannya saya makin shock dan mendadak nge-fans sama Aji .
Akhirnya, sehari itu Aji menjadi peserta termuda. Tak hanya piawai baca, ternyata puisinya pun luar biasa. Berkisah tentang alien yang turun dari langit untuk menyerang bumi.
Di sekolah lain juga tak kalah serunya. Selalu saja ada cerita yang nempel di kepala. Bikin saya senyum-senyum sendiri sambil nyetir motor saat perjalanan pulang.
Intinya sih, di sekolah-sekolah yang saya datangi, yang mayoritas siswanya berasal dari lingkungan menengah ke bawah, yang nggak kenal piranti teknologi, saya menemukan harta karun. Hasil karya mereka, baik itu puisi, karangan maupun lukisan adalah batu mulia yang kelak akan bermetamorfosa menjadi berlian berkualitas tinggi. Saya bermimpi, suatu hari kelak, karya-karya mereka dibukukan dalam satu antologi.
Pertengahan bulan, ada beberapa pesan yang masuk. Yang isinya permintaan untuk mengadakan pelatihan jurnalistik di SMA dan beberapa sekolah dasar di kecamatan tetangga. Bersyukur, meski pun belum bisa memenuhi permintaan itu, paling tidak virus yang kami tebarkan mulai menunjukkan tanda-tanda baik. You’ll be infected, as soon as possible!!
(Btw, diantara semua itu saya ingin bilang terimakasih buat P.T Djarum, yang dulu sering ngasi saya uang saku bulanan dan ngajak jalan-jalan. Salah satunya nyambangi Graha Pena di Surabaya, tempat kedua di dunia setelah rumah yang bikin saya termehek-mehek. Pertamakali kesana saya langsung bertekad untuk kembali lagi sebagai bagian darinya. Tepat setahun kemudian, telepon dari Bapak Sujatmiko membawa anak desa ini kembali kesana, untuk menempati Lantai IV. Hari pertama, Tuhan memperkenalkan saya dengannya. Gayanya yang cerdas, cuek dan santai langsung bikin saya klop. Dan seringlah saya membunuh waktu bersamanya. Ngopi, begadang, ngobrol kadang-kadang naek motor melintasi fly-over tengah malam buta. Dialah Yeti Kartikasari Lestiyono, yang setiap kali bersamanya, kepala saya memercik kembang api. Darinya letupan-letupan itu bermula: ide, mimpi, harapan yang tak melulu untuk diri sendiri. Makasih buk.. 
‪#‎yee‬, dapat salam dari anak-anak jurnalistik smp duta
Untuk tim yang luar biasa: semoga selalu sehat, semoga makin hebat di edisi 2! bu Neneng Indra Kurniasih, bu Enge Rika Lilyana buSuswati Darmoko, bu Relize Triana, bu Sri Haryati bu Maimuna, bu Aeny Yuliastutikpak Dani Emka, pak Suman Se Mellaz Inga Miranda Ria Mualimatul UlumPalupi Martaning Tyas Maya, Ido, Ica, Wildan, Algi, Fandi

Artikel: Rica Susilowati

Share on Google Plus

About Fileski Channel