SEDEKAH BUKU

Negerikertas.com menyalurkan bantuan SEDEKAH BUKU untuk taman baca di berbagai pelosok daerah yang kekurangan buku bacaan. Kirimkan buku ke alamat: Fileski 085731803357 | Jl Koperasi A08 | Banjarejo | Kec.Taman | Kota Madiun. Bisa juga berupa uang ke rek BCA 1771531313 a/n Walidha. Madiun

4 PUISI PILIHAN LOMBA BACA PUISI




KAMI MUAK DAN BOSAN
Karya Taufik Ismail
Dengarlah kami akan menyanyi lagu yang tidak nyaman di hati
Lagu tentang sebuah negeri, negeri yang sedih dan ngeri
Dahulu di abad abad yang silam, negeri ini penduduknya begitu rukun
Pemimpinnya jujur dan ikhlas, memperjuangkan kemerdekaan
Mereka secara pribadi tidak menumpuk numpuk harta dan kekayaan
Ciri utama yang tampak adalah kesederhanaan
Hubungan kemanusiaannya adalah kesantunan dan kesetia kawanan
Semuanya ini fondasinya adalah keimanan

Tapi ... negeri ini berubah jadi negeri maling, copet, rampok, bandid & makalar
Negeri pemeras, pencoleng, penipu, penyogok, & koruptor, negeri banyak omong
Orang banyak omong fitnah kotor tukang dusta, jago intrik, dan ingkar janji
Kini, mobil tanah deposito, relasi dan kepangkatan
Kini politik ideologi kekuasaan disembah sebagai tuhan
Kini dominasi materi menggantikan tuhan
Kini negeri ini penuh dengan wong edan gendheng sinting
Negeri padat, jerema garelo, urang gilo
orang gila kronis nyaris sempurna infausta

Jika mereka dibawa ke depan meja pengadilan
apa betul mereka akan mendapatkan hukuman
Divonis juga tapi diringan ringankan, bahkan berpuluh puluh dibebaskan
Yang mengelak dari pengadilan lari keluar negeri dibiarkan
Semua tergantung kecil besarnya uang sogokan

Di RRC koruptor dipotong kepala, di Arab Saudi koruptor dipotong tangan,
di Indonesia koruptor dipotong masa tahanan
 Kemudia berhayutanlah nilai-nilai luhur luar biasa tingginya
Nilai keimanan, kejujuran, rasa malu, kerja keras, tenggang rasa,
pengorbanan, tanggung jawab ketertiban, pengendalian diri,
remuk berkeping keping
remuk berkeping keping
Akhlak bangsa remuk berkeping-keping
Dari barat sampai ke timur, berjajar dusta-dusta.
Itulah kini Indonesia.
Sogok menyogok menjadi satu, Itulah kini Indonesia.
Kami MUAK dan BOSAN!!! MUAK dan BOSAN!!!
Kami sudah hilang kepercayaan lama
lama kami sudah hilang kepercayaan.
Hilang kepercayaan!!!

TERPECAH BELAH - PUISI FILESKI
Indonesia menanti seorang sosok
Sosok yang membawa genderang harapan
Yang membawa cangkul dan perahu di sorot matanya
Mengikrarkan dirinya pelayan rakyat dan bukan penguasa
Berbicara dengan bahasa sederhana dan mudah dimengerti hati
Membaca persoalan sehari-hari yang telah lama bersitegang
Kami melihat sawah-sawah kering kekurangan air
Langit runtuh menyapu rumah-rumah dengan longsoran lumpur

Kami melangkah menuju kotak-kotak suara
Menghitung langkah, hingga kemenangan tiba
Namun kami merasa asing di antara sesama
Kami telah dipecahbelah oleh ambisi segelintir megalomania
Yang mengaku negarawan dan penyelamat bangsa

Kami mengubur kata-kata
Menyumpal kedua telinga karena telah bosan
Perubahan yang kami rindukan dikotori oleh ambisi mereka
Kejadian demi kejadian berlalu begitu drastis
Silih berganti perkara demi perkara
Bergolak penuh pergulatan tanpa jeda untuk bernafas
Untuk bisa merenung dan meresapi atas semua yang terjadi
Sebab semuanya sibuk menghujad dan mencari kesalahan kubu lain
Lupa akan kebobrokan diri dan sosok yang dibela seolah dewa

Secara tiba-tiba sodara menjadi lawan
Hingga ketegangan itu masih terasa di meja makan
Semuanya siap untuk menang
Namun tidak siap untuk menerima kalah
Jika Indonesia tak menjadi bijak
Mungkin sebentar lagi tak ada lagi bendera sang dwi warna
Karena telah terberai menjadi kepingan pulau yang punya bendera berbeda.
Surabaya, 08072014

TANAH AIR MATA
Oleh Sutardji Calzoum Bachri
Tanah airmata tanah tumpah dukaku
mata air airmata kami
airmata tanah air kami
di sinilah kami berdiri menyanyikan airmata kami
di balik gembur subur tanahmu kami simpan perih kami
di balik etalase megah gedung-gedungmu kami coba sembunyikan derita kami
kami coba simpan nestapa, kami coba kuburkan duka lara
tapi perih tak bisa sembunyi, ia merebak kemana-mana
bumi memang tak sebatas pandang dan udara luas menunggu
namun kalian takkan bisa menyingkir,
ke manapun melangkah kalian pijak airmata kami
ke manapun terbang kalian kan hinggap di air mata kami
ke manapun berlayar kalian arungi airmata kami
kalian sudah terkepung, takkan bisa mengelak
takkan bisa ke mana pergi
menyerahlah pada kedalaman air mata
(1991)






SATU MIMPI SATU BARISAN Oleh Wijil Tukul
Di Lembang ada kawan Sofyan
jualan bakso kini karena dipecat perusahaan
karena mogok karena ingin perbaikan
karena upah ya karena upah

Di Ciroyom ada kawan Sodiyah
si lakinya terbaring di amben kontrakan
buruh pabrik the, terbaring pucet dihantam tipes
ya dihantam tipes
juga ada neni, kawan bariah
bekas buruh pabrik kaos kaki
kini jadi buruh di perusahaan lagi
dia dipecat, ya dia dipecat
kesalahannya : karena menolak diperlakukan sewenang-wenang

Di Cimahi ada kawan Udin buruh sablon
kemarin kami datang dia bilang, umpama dironsen pasti nampak
isi dadaku ini pasti rusak , karena amoniak, ya amoniak

Di Cigugur ada kawan Siti
punya cerita harus lembur sampai pagi
pulang lunglai lemes ngantuk letih
membungkuk 24 jam, ya 24 jam

Di Majalaya ada kawan Eman
buruh pabrik handuk, dulu
kini luntang-lantung cari kerjaan
bini hamiL tiga bulan
kesalahan : karena tak sudi terus diperah seperti sapi

Di mana-mana ada Sofyan ada Sodiyah ada Bariyah
tak bisa dibungkam kodim
tak bisa dibungkam popor senapan
di mana-mana ada neni ada Udin ada Siti
di mana-mana ada Eman
di Bandung - Solo - Jakarta - Tangerang
Tak bisa dibungkam kodim
tak bisa dibungkam popor senapan
satu mimpi
satu barisan

Bandung, 21 Mei 1992

Share on Google Plus

About Fileski Channel