SEDEKAH BUKU

Negerikertas.com menyalurkan bantuan SEDEKAH BUKU untuk taman baca di berbagai pelosok daerah yang kekurangan buku bacaan. Kirimkan buku ke alamat: Fileski 085731803357 | Jl Koperasi A08 | Banjarejo | Kec.Taman | Kota Madiun. Bisa juga berupa uang ke rek BCA 1771531313 a/n Walidha. Madiun

PUISI 2KOMA7: MASSIF, TERTRUKTUR, SISTEMATIK

Oleh Dimas Arika Mihardja

Penerbitan buku puisi 2koma7 ini jujur diakui dilakukansecara massif, terstruktur, dansistematik. Nah, kenapa begitu? Ya, tiada yang keliru dengan tiga katasakti yang akhir-akhir ini begitu mengemuka di tengah masyarakat Indonesia:massif, terstruktur, sistematik. Tanpa perlu membuka referensi, massif dapatdimaknai bahwa penerbitan puisi 2koma7 memang sebaiknya meliputi wilayah yangsangat luas, baik domisili penyairnya, wilayah estetiknya, maupun wilayahtematiknya.

Tiga buku yang sekaligus diterbitkan masing-masing  berjudul (1) “Jalan Terjal Berliku Menuju-Mu”,(2) “MendarasCahaya”, dan (3) “Nyanyian Kafilah” secara massifmelibatkan tema besar yang melibatkan hubungan horizontal antara manusia  dengan manusia lain, manusia dengan dirinyasendiri, dan manusia dengan Sang Maha Pencipta. Secara estetik juga berangkatdari ruang kreativitas yang luas, baik menyangkut pergulatan personal penyairdengan dirinya sendiri, persoalan keimanan, keyakinan, atau persoalan hubunganintim antara manusia dengan Sang Maha Pencipta.

Demikian pula mengenai luasnya domisili dan jumlahpenyair yang karyanya  disertakan dalamterbitan kali ini berasaldari 8.000 lebih jumlah anggota grup puisi 2koma7 yangtersebar di seluas nusantara raya (Indonesia, Malaysia, Singapore, Taiwan,Hongkong,  hingga pelosok nusantara yangsecara massif memilih puisi pola tuang 2koma7 sebagai media ekspresinya. Halyang mengharukan, redaaktur grup ini mampu mengajak anggotanya bergotong royongsecara swadaya dan swadana membiayai penerbitan buku ini secara terstruktur,sistematik, dan massif dengan cara SUSU TANTE (Sumbangan Suka Rela TanpaTekanan) yang jumlah dan distribusinya dilaporkan secara terbuka dan berkala digrup.

Puisi 2koma7 jelas merupakan puisi pendek yang berpola(berstruktur) 2 larik 7 kata. Siapa pun tertarik pada jenis puisi ini mau tidakmau harus tunduk pada pola struktur adanya JUDUL, 2 larik dan 7 kata sebagaiisi, dan dilengkapi dengan titimangsa (penanda akhir). Inilah yang kami sebutdengan terstruktur dan sistematik. Terstruktur dan sistematiknya puisi inidapat dipahami dengan penjelasan sebagai berikut. Ide awal puisi pola tuang 2koma7itu dari Imron Tohari. Ide awal ini semakin dapat dipahami dan diterima olehkomunitas sastra puisi karena disediakan wadah ekspresi, yakni Grup Puisi2Koma7 Oleh Haris Fadhillah dan Dimas Arika Mihardja. Pelan tetapi pasti, grupini memiliki anggota yang semakin banyak. Tahun kedua, saat ada prakarsa menerbitkanpuisi-puisi terpilih, anggota grup telah lebih 8.000 anggota dengan diredakturi10 orang.

Redaktur inilah yang bekerja ekstra keras memilah,memilih, dan membantu menyimpan puisi terpilih ke dalam file dokumen grup.Redaktur inilah yang secara struktural dan sistematik menanamkan pengaruhnyamelalui proses saling asah, saling asih, saling asuh kepada setiap anggotadalam memosting puisi. Puisi yang menyalahi stuktur/pola 2koma7 oleh redaktur“dipaksa” menyesuaikan dengan pola 2koma7 yang senyatanya dinamis, luwes, danfleksibel. Pemosting puisi dengan suka rela “diintervensi”   redaktur agar puisi yang mereka hasilkanselain memuisi, juga memuasi dahaga jiwa para pembaca. Dengan tiga kata sakti: massif,terstruktur, dan sistematik puisi 2koma 7 menunjukkan eksistensinyadari waktu ke waktu. Redaktur secara sistematik dan tertruktur serta massifberhasil mengintervensi anggota untuk berani menulisn esai apresiatif padapuisi pilihan. Kita baca apresiasi dari Moh. Ghufron Cholid, salah satu memberyang mulai berani menuliskan komentarnya yang terstruktur, sistematik, danmasif berikut:

Penyair danPuisi  yang Menjadi Saksi (Oleh: Muh.Ghufron Cholid)

Dari puisi ke puisi, kau bermula dan kembali, barangkaliuntaian inilah yang tepat untuk menggambarkan sesosok Diani Noor Cahya, dibelantara sastra barangkali namanya tak populer namun pengabdiaannya pada duniasastra, tak bisa saya ragukan, utamanya perannya dalam menyemarakkan khazanahpuisi di group bernama DuKoTu (Dua Koma Tujuh) yang diperkenalkan oleh ImronTohari (Indonesia). Marilah kita baca karya Diani menjelang kematiannya.

YANG BERTEDUH DI KEINDAHAN REMBULAN, MENYELAMIJIWA-JIWANYA SEPANJANG PERJALANAN PUISI
: 2 baris 7 kata untukmu

kutenun aksara dengan sirnarNya
berpendarlah, puisi untukmu

---------------------------
Rahim_Imaji, 170714

Semacam ada isyarat magis yang ingin disampaikan penyairkepada kita selaku pembaca. Tanda kematian begitu kuat diperkenalkan dalampuisi Diani.

Kutenun aksara dengan sinarNya, demikian Diani membukalarik pertama puisinya. Ada kesaksian dengan keyakinan yang begitu utuh, bahwaada yang harus dilakukan penyair (manusia) di segenap usaha yang dilakukanyakni segalanya tak pernah lepas dari karunia Tuhan.
Ketika mendapat keberhasilan, Tuhan hendak menguji seberapapandai seorang hamba bersyukur. Ketika yang didapat hanya kegagalan, Tuhanhendak menguji seberapa mampu bersabar dan bangkit dari keterpurukan.
Diani begitu menyadari dirinya sebagai seorang hamba yangbertuhan, yang melibatkan peran Tuhan di segenap helaan nafasnya.

Kutenun aksara dengan sinarNya, seakan ingin mempertegasbahwa tiada daya dan upaya yang dimiliki melainkan tercipta karena karuniaNya.
Pandangan Diani mengingatkan saya pada surat yang pertamakali diterima oleh nabi Muhammad yakni surat al-alaq ayat 1-5.
Bacalah dengan nama Tuhanmu, firman Allah. Kutenun aksaradengan sinarNya, kata Diani. Diani telah membawa masuk firman Allah ke dalamtubuh puisi Diani. Firman Allah ia jadikan ruh dalam puisi Diani.
Kutenun, ada kesaksiaan yang diungkap Diani tentangadanya usaha yang menjadi kegiatan yang tak pernah lepas bagi manusia. Kutenunaksara, Diani semakin mempertegas bahwa yang ia lakukan adalah kerja yang baik.Aksara adalah awal mula dari kerja kreatif sebelum disulap menjadi suku kata, kata,kalimat bahkan paragraf. Kutenun aksara dengan asmaNya, ada upanya menciptaruang spritual bahwa kegiatan yang baik haruslah dikaitkan dengan Tuhan.

Aksara yang ditenun Diani, penyair akui dilakukan dengansinarNya (hidayah Tuhan). Tuhan menjadi sangat vital dalam kerja kreatifseorang Diani. Saya tertegun, angin membisikkan firman Allah, "Dantidaklah Kuciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu."jadi hakekat adanya jin dan manusia adalah beribadah kepada Allah, larikpertama Diani, kutenun aksara dengan asmaNya merupakan tafsiran Diani akanfirman Allah yang telah diyakini penyair. "KepadaMu kami beribadah dankepadaMu kami memohon pertolongan." sinarNya yang tertera di lari pertamadalam puisi Diani bisa jadi terjemahan atau tafsiran penyair Diani akanintisari yang terkandung dalam surat alfatihah.

Betapa Diani telah mengerahkan segala kepekaan yangdimiliki untuk menggali diri akan pemahaman penyair pada agama yang dianut.Kematian yang begitu disadari akan hadir tanpa proses tawar menawar membuatpenyair Diani seakan memahami gejala kematian begitu dekat menghampiri dirinya.
Berpendarlah, puisi untukmu, saya kira larik kedua inilebih kental membicarakan hubungan sesama manusia, sesama pecinta puisi.

Membaca puisi di larik kedua yang ditulis Diani mengingatkan saya pada sosok penyair Hamid Jabbar. Sosok penyair legendarisyang semasa hidup begitu mencintai puisi namun kematiannya lebih puitis dibandingkan hidupnya.

Manusia adalah cerita bagi generasi berikutnya maka jadilah cerita yang baik bagi generasi yang ditinggalkan, demikian puisi bahasaarab yang terjemahan bebasnya saya dapatkan di pesantren.
Oleh semasa hidup yang begitu singkat saya mengenal Dianimelakukan kerja yang baik dalam menyemarakkan sastra khususnya puisi di groupDuKoTu, maka Diani dikenal lewat puisinya dan kematian penyair menjadi ceritayang baik. Banyak puisi lahir didekasikan buat penyair.

Akhirnya sebagai penutup saya kutip ucapan hikmah yangdisampaikan Kiai Faizi semasa sowan bulan puasa yakni idealisme tidak pernahmenipu, ia akan membalasnya dengan caranya sendiri.
Selamat jalan Diani, selamat jalan pejuang, hanya catatansingkat ini yang bisa saya berikan.



MerayakanKemerdekaan

Dalam menulis puisi memang diperlukan ruang kebebasan.Kebebasan kreatif namanya. Dengan bekal kreativitas keluarga besar Grup Puisi 2koma7dapat mengebor sukma, menggali tata nilai terdalam, dan berusaha (tidak sekedarcoba-coba) dengan sungguh-sungguh bergumul dengan diri sendiri untuk menjadipemenang, yakni menulis puisi pendek-padat hanya dengan dua larik tujuh kata.Puisi 2koma7 memang menyediakan ruang lapang untuk mengeskplorasi bakat dankemampuan setiap anggota keluarga grup ini.

Dalam merayakan kemerdekaan (kebebasan kreatif) kreatordapat memanfaatkan piranti bahasa, sarana retorika, dan berbagai kemungkinanyang disediakan untuk membuat puisi yang memuisi dan memuasi. Piranti yangmasih langka digunakan oleh kreator puisi 2koma7 ialah lambang, simbol, anekatanda; majas, bahasa kias, dan aneka ungkapan khas; para kreator puisi 2koma7juga belum memaksimalkan ambiguitas, korespondensi, dan intensifikasi. Aspekmusikalitas seperti rima, ritma, periodus, asonansi, aliterasi, dan berbagaigema dari pilihan kata juga belum banyak dieksplorasi dalam menulis puisi 2koma7.Akibatnya, puisi-puisi yang terposting kering, gersang, atau ibarat masakanmasih hambar--kurang bumbu.

Buru-buru ditambahkan, memang tidak setiap anggotakeluarga puisi 2koma7 berobsesi ingin menjadi penyair. Ada sejumlah orang yangmasih iseng, ingin berteman dan belum menjadikan puisi sebagai salah satu mediaekspresi kemerdekaan pribadi. Disadari menjadi penyair memang tidaklahmudah--tidak semudah membalik telapak tangan, melainkan memerlukan prosespanjang, sikap serius, dan banyak melakukan proses belajar. Dalam prosesbelajar, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama kreator lain ada baiknyamempertinggi frekuensi interaksi dan interelasi, bersikap kritis mempertanyakansesuatu, rajin bertanya dan menggali informasi terkait dengan puisi.

Memang, penyair yang baik mesti membekali diri denganwawasan pengetahuan sejarah puisi, teori puisi, dan kritik puisi. Celakanya,tidak setiap orang memandang penting wawasan sejarah, teori, dan kritik puisi.Akibatnya, perkembangan puisi--termasuk puisi 2koma7 seakan-akan berjalan ditempat, kurang progres, dan kurang mencapai target yang diharapkan. Adasejumlah penyakit yang menghinggapi keberhasilan puisi 2koma7, di antaranyapemosting lekas puas dan senang mendapatkan pujian, kurang tahan kritik, dankurang dapat menerangjelaskan puisi yang ditulis.

Dalam merealisasikan kemerdekaan ekspresi, penyair taksemata bersandar pada tema--meski penguasaan tema menjadi urgen. Masih banyakditemukaan pilihan tema-tema kecil, sehari-hari, dan kurang penting. Kreator puisi2koma7 kurang mengesplorasi tema-tema besar, yakni tema yang menyangkut hiduporang banyak secara luas. Tema-tema yang banyak diungkapkan ialah tema-temapersonal: rindu, benci, dendam, dan persoalan personal lainnya. Tema-temapersonal ini sebenarnya cukup menarik asalkan krator dapat mengemasnya denganbaik berdasarkan pengalaman. Pengalaman ini adalah sesuatu yang dialami,sesuatu yang menyentak, sesuatu yang memukau, sesuatu yang berkesan. Dalam gruppuisi 2koma7 belum leluasa dieksplorasi tema-tema terkait mitos, keyakinan,masalah sosial-politik, dan kegelisahan batin terhadap Sang Maha Pencipta.Sebenarnya sejak dulu hingga kini tema-tema yang diangkat ke dalam puisi takberubah, dan yang menjadikan sebuah puisi menarik memang tak semata-mata padatema, melainkan pada gaya pengungkapan, kemasan, dan penyajian.

MenyelamatkanPuisi 2koma7

Dalam gejolak ekonomi, politik, sosial dan budaya seburuk apapun tidak menghalangi pelahiran dan kelahiran puisi 2koma7. Tidak ada pihakmana pun yang kuasa menghalangi pelahiran dan kelahiran puisi 2koma7. Puisi 2koma7bisa lahir di manapun dan dalam kondisi apapun sebab sejatinya kreator selalubergumul dengan daya kreativitasnya untuk berkarya. Menurut kodratnya, puisidapat lahir sendiri dengan selamat karena pelahiran puisi itu bersifat personaldan individual. Namun, ada kalanya kelahiran puisi 2koma7 perlu ditolong dandibantu oleh bidan (baca: penerbit berwibawa) dan dirawat oleh seorang BapakBijak (baca: pengamat/kritisi). Masalahnya adalah kehadiran bidan yang siaga(penerbit yang siap melayani) dan Bapak Bijak (pengamat/kritisi) yang penuhperasaan cinta untuk merawat dan memelihara sastra semakin langka. 

Memang, puisi 2koma7 dapat lahir, tumbuh, dan kemudianberkembang sesuai dengan dinamikanya sendiri. Kreator dapat”berdarah-darah”merawat tumbuh dan berkembangnya puisi 2koma7. Ia menyerahkan hidup dan matinyademi kemajuan puisi 2koma7. Ia tak mengenal cuaca. Tak mengenal musim. Takmengenal perubahan panca roba. Kreator ialah ibu kandung puisi yang selalumemelihara anak-anaknya dengan penuh perasaan bertanggung jawab, penuh cintakasih, penuh pengabdian, dan selalu menjunjung kebenaran dan keadilan di atassegala-galanya. Itulah sebabnya kemudian kita bisa memiliki khasanah puisi yangberagam: klasik, baru, dan  mutakhir. Kreator yang baik selalu mengawalkarya yang dilahirkannya hingga tumbuh menembus perjalanan waktu. Tugas utamakreator ialah bagaimana ia melahirkan karya puisi yang bernilai literer, bestseller, dan menawarkan sesuatu yang bermakna bagi dirinya sendiri, karyanya,dan terutama demi kebaikan orang lain.  

Lantas siapakah yang bertanggung jawab jika kondisi puisi2koma7 memprihatinkan, kurang sehat, dan perlu diselamatkan? Pertama dan utama,pihak yang bertanggung jawab atas keselamatan sastra ialah kreator. Kreatormestilah memiliki tanggung jawab ”moral” dalam berkarya. Kreator yang baikselalu berkehendak melahirkan karya sastra yang bernilai, baik lisan maupuntulisan. Pendeknya, kreator selalu berusaha melahirkan karya bernilai, baikbernilai bagi karyanya, pembacanya, maupun masa depan puisi 2koma7. Tugaskreator ialah menemukan medium ungkap yang paling tepat bagi karya-karya yangdilahirkannya.

Kedua, pihak yang juga bertanggung jawab ialah pengamat,kritisi, akademisi, penerbit,  dokumentator, pustakawan, institusikesenian dan kebudayaan. Jika karya-karya sastra hasil kreativitas putra-putriterbaik negeri ini ditelantarkan oleh dokumentator (seperti HB Jassin,misalnya), tidak tersusun dalam katalog pengarang di perpustakaan, dan tidakpernah dihargai oleh institusi kesenian dan kebudayaan, yang notabenebertanggung jawab turut membina dan mengembangkan sastra, tentulahmenggambarkaniklim yang tidak sehat bagi dunia sastra. Dalam konteks ini lalu tampak betapapentingnya menerbitkan buku khusus puisi 2koma7, baik berupa apresiasi,kolaborasi, maupun puisi-puisi terbaik yang diseleksi oleh tim kurator yangbertanggung jawab dan memiliki citarasa estetik yang memadai.

Pihak lainnya seperti penerbit, pengamat, kritisi,akademisi, perpustakaan, institusi kesenian dan kebudayaan semuanya turutbertanggung jawab menciptakan ekologi sastra yang sehat. Mereka terkait danbertanggung jawab langsung atau tidak langsung terhadap nasib sastra.Partisipasi, pengertian, dan pengorbanan berbagai pihak terkait atas nasibsastra kita akan menjadi penyelamat kehidupan sastra di masa-masa yang akandatang. Tentu saja sesuai dengan bidang garapan masing-masing, sesuai dengankemampuan, sesuai dengan perasaan ”tanggung jawab” masing-masing.





Jambi, Agustus 2014
Dimas Arika Mihardja
Share on Google Plus

About Fileski Channel