.

.

PENEGASAN MAKSUD LABELING SITUS OLEH KOMUNITAS SAVE TROWULAN



sumber: Deddy Endarto Wilwatikta
 
Sebagai komunitas sejarah dan budaya "Komunitas Save Trowulan Majapahit" telah berkembang pesat keanggotaannya paska permasalahan industrialisasi di Trowulan. Berbagai program dirancang guna upaya perlindungan terhadap semua situs yang merupakan peninggalan Majapahit, baik yang berada di Trowulan ataupun yang berada diluar Trowulan.
Selain itu juga upaya melakukan gerakan budaya berbasis ekonomi lingkungan dengan melibatkan sebanyak mungkin masyarakat dalam pelaksanaannya.
Banyak kasus peninggalan arkeologi didaerah terpencil tergeletak begitu saja tanpa ada keterangan apalagi sejarahnya. Ekspedisi besar semacam PATI (Penelitian Arkeologi Terpadu Indonesia) pun tidak meninggalkan jejak laporan yang bisa diakses oleh masyarakat luas. Demikian pula ada beberapa area terpencil juga minim informasi dari BPCB Trowulan kecuali tulisan register dalam bentuk cat putih pada artefak atau situs.
Atas dasar pemikiran tersebut maka komunitas Save Trowulan Majapahit melakukan beberapa ekspedisi guna mendata dan mendokumentasi sebaran situs di Jawa Timur guna dibùkukan agar dapat diketahui masyarakat luas keberadaannya.
Untuk situs tanpa label, nantinya diupayakan pemberian label dan stempel Surya Wilwatikta. Adapun data yang tercantum adalah nama situs, titik koordinat GPS, nomor register kunjungan dan tanggal kunjungan.
Labeling dilakukan "TIDAK DIBADAN ARTEFAK ATAU SITUS, BUKAN MENGGUNAKAN SERAKAN MATERIAL ARTEFAK ATAU SITUS" tetapi merupakan batu atau material lain yang mudah didapatkan dilingkungan serta diletakkan pada area yang mudah dilihat. Untuk situs yang sudah mempunyai label dari BPCB Trowulan tidak perlu diberi labeling kembali, kecuali bila dianggap perlu (khususnya yang tanpa data GPS) bisa dilabel ulang. Dimana label komunitas harus diletakkan berdampingan atau dibawah tiang informasi milik BPCB Trowulan.
Hal tersebut akan perlu guna kepentingan mereka pembaca buku panduan jelajah situs Majapahit mencocokan data buku dengan kondisi lapangan yang ada.
Labelling prasasti bisa berupa ukiran batu, ukiran semen, logam dan lainnya dengan pertimbangan keawetan informasi di situasi ekstreem terbuka. Semoga upaya inventarisasi artefak dilapangan dan buku panduan yang akan disusun dapat memberi manfaat bagi masyarakat luas.
Jaya - Jaya - Wijayanti
Share on Google Plus

About Fileski Channel