.

di negeri kertas, tidak ada koruptor. setiap orang punya ketahanan ekonomi, baik rakyat biasa dan pejabatnya, semua ikut patungan/gotongroyong membangun negeri. demokrasi berjalan natural tanpa money politic. tidak seperti negeri tetangga yang rakyatnya kelaparan hingga rela menukar suara dengan sekantong sembako. #fileski

MEILA GOLINA - Cerpen Yuditeha

Wanita setengah baya dengan rambut warna merah itu sedang mengamati halaman depan koran hari ini. Kekuatan tangannya tidak stabil, hingga lembar-lembar koran itu tampak bergetar. Matanya tertuju lekat pada tulisan headline yang menurutku, memberitakan dirinya. Headline itu berjudul: MEILA GOLINA GILA. Dapat jelas kubaca, ketika aku ngepel di dekat dia duduk di selasar rumah sakit ini.
    Ya. Berita itu benar. Meila Golina, perempuan itu, terpidana kasus korupsi proyek pembangunan gedung atlit, setelah melalui serangkaian tes psikologi, divonis gila. Sudah sebulan, dia jadi salah satu penghuni rumah sakit ini. Rumah bagi orang-orang yang jiwanya dinyatakan hilang. Orang gila, begitulah.
    “Enak ya?” kata Tarjo mengagetkanku.
    “Apanya yang enak?” tanyaku.
    “Orang itu. Koruptor itu. Aku yakin dia tidak gila. Dia hanya berpura-pura gila,” kata Tarjo lagi. Temanku kerja kebersihan di rumah sakit.
    “Jo, kamu tahu, kata orang, jiwa itu seperti samudera,” kataku.
    “Maksudnya?”
    “Sangat luas.”
    “Lalu apa hubungannya dengan PSK, itu?”
    “PSK?”
    “Bukankah, koruptor sama buruknya dengan PSK?”
    “Bukan.”
    “Maksudmu?”
    “Dia lebih buruk dari PSK.”
    “Lalu?”
    “Lalu apa?”
    “Yang jiwa-jiwa tadi.”
    “Kita bisa bersembunyi di sana untuk jadi apapun.”
                                                                 ***
    Pada saat aku membersikan kamar wanita itu, aku melihat dia sedang menekuri sebuah tas.
    “Siapa kamu?” tanyanya saat dia melihatku.
    “Aku petugas kebersihan. Saat ini mau membersihkan kamar Ibu,” jawabku sedikit ragu-ragu. Aku takut wanita itu curiga terhadapku. Ah, orang gila, mana ada perasaan curiga terhadap orang lain? Batinku.
    “Kamu mengawasiku?” dia bertanya lagi, sembari mendekap tas yang dari tadi dibawanya.
    “Tidak. Untuk apa aku mengawasi Ibu?” tanyaku balik padanya.
    “Seperti orang-orang. Semua mencurigaiku.”
    “Dalam hal apa itu?”   
“Ah sudahlah. Yang pasti tidak ada orang yang percaya kepadaku.”
    “Percaya apa?”
    “Tentang kebenaran isi tas ini.”
    “Jika Ibu ingin orang lain percaya, gampang,” kataku spontan. “Ibu tinggal menunjukkan isi tas itu ke orang lain. Selesai,” terangku.
    “Sudah berulangkali aku lakukan,” jawabnya dengan wajah muram,  “tetap tidak ada orang yang mau percaya, termasuk juga penghuni rumah ini,” lanjutnya.
    “Percaya tentang apa?”
    “Kau ini gimana sih? Pokoknya percaya semuanya. Percaya aku. Percaya ini,” kata wanita itu sembari tangannya membuka tas itu.
    Sejenak wanita itu mengamati isi tasnya. Lama dia diam terpaku. Namun, tiba-tiba matanya jelalatan, melihat di sekeliling. Aku bingung hendak bersikap bagaimana. Akhirnya aku memutuskan untuk membersihkan kamarnya lain waktu saja. Aku tidak mau berurusan dengan wanita ini lebih dalam. Orang gila dengan latar belakang yang buruk, tidak ada untungnya. Bahkan mungkin akan menyusahkan, pikirku.
    Namun ketika aku hendak berlalu dari kamar, dia menoleh ke arahku. Tatapan matanya menajam. Menusuk. Seakan-akan dia tahu apa yang barusan aku pikirkan. Aku salah tingkah di hadapannya. Benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Ah, biarkan saja. Aku akan nekat pergi dari kamar ini. Toh dia orang gila, batinku.
    “Tolonglah, aku,” katanya pas saat aku membalikkan badanku.
    “Tolong apa?” tanyaku.
    “Lihatlah,” katanya sambil jari telunjuknya diarahkan ke tas itu. Aku ragu. Apakah aku pergi saja atau aku harus ke sana, menuruti wanita itu.
    “Tolonglah. Lihatlah ini,” katanya merajuk.
    Aku mendekat ke arah tas itu. Dia nampak senang, terlihat jelas dari binar  matanya. Jarinya terus saja menunjuk ke arah tas. Dan kini aku sudah ada di dekat tas itu.
    “Lihatlah. Lihatlah,” katanya lagi.
    “Sudah aku lihat,” kataku kikuk.
    “Peganglah. Peganglah,” dia merayu lagi.
    Kulihat, di dalam tas itu ada beberapa baju, celana dalam, kutang dan beberapa lembar foto. Entah foto siapa. Namun ketika sekilas kuamati foto itu, bukan gambar dirinya.
    “Peganglah,” bujuknya lagi. Aku bingung, mana yang mesti kupegang. Aku semakin salah tingkah dibuatnya.
    “Foto itu. Lihatlah. Peganglah.”
Ah, jantungku tidak karuan. Aku ambil dan kuamati salah satu foto itu. Terpampang gambar seorang wanita separuh baya. Rambutnya hitam legam. Cantik. Lebih cantik dari wanita itu.
    “Foto siapa ini?” tanyaku spontan. Aku lihat ke arah dirinya. Kali ini jari telunjuknya diarahkan bergantian, ke arah foto yang kupegang dan dirinya, sambil dia bilang bahwa foto itu dirinya Wajahnya tampak bahagia. Aku kembali mengamati gambar foto itu dan wajah dirinya, bergantian. Perasaan ibaku muncul. Karena itulah aku tak kuasa bersikap yang bisa membuatnya bersedih. Aku tersenyum sambil mengangguk-angguk.
    “Itu aku,” katanya lagi.
    “Oh, jadi semua orang tidak percaya kalau foto ini adalah kamu?” tanyaku berusaha menghubungkan pernyataannya tadi.
    “Ya. Apa kamu juga tidak percaya?” katanya.
    “Kalau kamu bilang ini kamu, ya tentu aku percaya ini kamu,” kataku berusaha menutupi ketidakpercayaanku juga. Karena memang foto itu sangat berbeda dengan dirinya. Setelah aku berkata demikian, dia berteriak histeris. Bukan karena sakit atau kesal namun karena kegembiraan yang tiada tara. Aku bisa melihatnya. Aku sangat terharu.
    “Kenapa bisa sangat berbeda?” kataku pelan karena aku sendiri tidak yakin bermaksud menanyakannya.
    “Aku dioperasi,” dia menjawab dengan mantap.
    Hmm. Aneh. Normalnya, jika ada orang melakukan operasi wajah agar wajahnya menjadi cantik atau biar tambah manis. Tapi kenapa ini justru lebih cantik sebelum dioperasi? Batinku.
    “Aku dipaksa,” katanya sambil menatapku lekat. Seakan dia tahu apa yang sedang kupikirkan.
                                                               ***

    Pagi-pagi rumah sakit ini sudah digegerkan oleh teriakan histeris. Kali ini teriakan seperti teriakan kesakitan. Teriakan itu berasal dari kamar Ibu Meila Golina. Wanita gila yang kemarin bercakap-cakap denganku. Para perawat dan petugas mendatangi kamar wanita itu. Aku penasaran. Aku ikut mendekat dan ingin melihat keadaannya. Kamar itu ternyata dikunci dari dalam. Petugas terpaksa harus mendobrak pintu karena perawat dan petugas telah memanggil wanita itu berulangkali dan tidak ada respon. Petugas tidak kuat mendobrak pintu itu, aku mendekat dan ikut membantu mendobrak.
    Pintu berhasil dibuka paksa. Wanita itu tergeletak di lantai. Rambutnya brondol digunting-gunting. Di wajahnya ada beberapa sayatan, seperti sayatan silet. Secepat kilat, wanita itu sudah di tangan dokter. Di tangan ahlinya. Hatiku sedikit lega.
    Di sela-sela waktu kerjaku, aku menyempatkan diri menjenguknya. Sekedar melihat perkembangan keadaannya. Hari ini sudah dua kali aku melihatnya dan ternyata dia belum siuman juga. Esok harinya aku mendengar kalau wanita itu telah sadar diri. Saat istirahat siang aku menjenguk dia.  Ketika aku datang di kamar rawatnya, dia tersenyum. Aku pun ikut tersenyum.
    “Bagaimana keadaanmu?” tanyaku basa-basi.
    “Buruk,” jawabnya singkat sambil tetap tersenyum. Kali ini malah tambah lebar.
    “Kenapa kau melakukannya?” tanyaku serius.
    “Aku mau diriku yang dulu,” jawabnya membuatku bingung.
    “Maksudmu?”
    “Katanya kamu percaya?” tanyanya.
    “Aku tidak tahu apa yang kamu maksudkan.”
    “Aku ingin kembali seperti dalam foto itu.”
    “Sebentar. Sebentar. Jadi sebenarnya kamu ini siapa?” tanyaku panik.
    “Aku bukan siapa-siapa,”
    “Bukankah kamu Meila Golina?”
    “Bukan.”
    “Kamu kenal dengan Meila Golina?” tanyaku penasaran.
    “Tidak,” jawabnya singkat membuatku tambah bingung.
Aku meyakini, wanita ini memang tidak perpura-pura gila seperti yang pernah dikatakan Tarjo. Menurutku wanita ini setengah gila. Jadi tidak sepenuhnya gila. Atau lebih tepatnya isi otaknya tidak penuh saja. Semacam idiot, begitulah. Dan satu lagi, aku percaya dengan wanita ini kalau dia bukan Meila Golina. Entah alasannya aku yakin begitu tapi yang pasti dia bukan Meila Golina.
Share on Google Plus

About Fileski Channel