SEDEKAH BUKU

Negerikertas.com menyalurkan bantuan SEDEKAH BUKU untuk taman baca di berbagai pelosok daerah yang kekurangan buku bacaan. Kirimkan buku ke alamat: Fileski 085731803357 | Jl Koperasi A08 | Banjarejo | Kec.Taman | Kota Madiun. Bisa juga berupa uang ke rek BCA 1771531313 a/n Walidha. Madiun

MAKALAH WORKSHOP MUSIKALISASI PUISI OLEH FILESKI



MENCINTAI MUSIKALISASI PUISI DENGAN SEDERHANA
Oleh: Tanjung Files S.Sn (Fileski)
Mengenal Musikalisasi Puisi
Musikalisasi puisi, seperti halnya deklamasi atau pembacaan puisi, rampak puisi, dan dramatisasi puisi, adalah salah satu cara yang digunakan untuk menyampaikan dan mengekspresikan puisi kepada audien. Pada deklamasi puisi, penyampaiannya disesuaikan dengan syarat-syarat deklamasi. Seperti: dengung vokal, artikulasi, ekspresi, dan gestikulasi yang baik serta tepat, sesuai dengan isi dan maksud puisi. Pada puisi yang disampaikan dengan cara musikalisasi, alat bantu utamanya ada pada musik (irama, nada, tempo, dan sebagainya). Musik diolah sedemikian rupa sebagai hasil dari penafsiran puisi yang dilakukan oleh pembuat  musikalisasi puisi. Jenis penyampaian puisi dengan cara dimusikalisasi puisi ini ada banyak macamnya. Tetapi yang penting, musik yang dibuat adalah semata untuk kepentingan puisi. Sehingga musik tersebut dapat menyampaikan pemahaman dan penghayatan tentang puisi itu kepada apresian, seperti halnya deklamasi dan dramatisasi puisi.
Semarak pertumbuhan musikalisasi puisi seperti digambarkan di atas tidak mengherankan apabila kita meninjau sejarah perkembangan sastra dan musik itu sendiri. Sejak awal pertumbuhannya, sastra dan musik memang saling terkait. Seperti kita ketahui, munculnya bidang hidup yang bernama kesenian berawal dari kepentingan ritual dalam upacara-upacara yang dilakukan masyarakat tradisional. Dalam kegiatan ini, segala aspek yang kini disebut seni, seperti sastra (mantera), musik, nyanyian, dan tarian, merupakan satu kesatuan yag saling mengisi tanpa ada pengkategorisasian.
Begitu pula dalam perkembangan selanjutnya yang terwujud dalam kesenian-kesenian rakyat dan tradisi sastra lisan. Syair-syair, cerita-cerita di dalam tradisi lama kita, kerap disampaikan dan dibawakan dengan iringan musik atau dibawakan dalam lantunan tembang. Pawang penglipur lara/Pawang Kaba di Sumatra misalnya, bercerita/bersyair dengan iringan musik (yang alat-alatnya terbuat dari kulit binatang, kayu, dan bambu). Di daerah Jawa Barat dikenal Tukang Pantun (contohnya dalam Seni Beluk). Tukang Pantun ini bercerita semalam suntuk dalam bentuk lantunan tembang sambil memetik kecapi. Cerita-cerita yang kerap dibawakan adalah karya sastra berisi hikayat yang terkadang membutuhkan waktu sampai 7 malam berturut-turut untuk menyelesaikannya.
Hal seperti ini terdapat pula dalam tradisi Barat. Pada tradisi mereka dikenal istilah Troubadur. Troubadur awal mulanya berkembang di Prancis abad 11. Troubadur atau kaum penglipur lara di Eropa Lama ini, merupakan suatu kelompok/kaum yang selalu berkeliling mementaskan syiar/cerita melalui nyanyian dan tarian dengan iringan musik.
Keterkaitan seperti itu tampak pula dalam perkembangan musik zaman Barok (1600-1750), terutama di Italia, yang terlihat dari seni opera. Seperti tercatat dalam sejarah musik, seni ini bermula dari keinginan para seniman, bangsawan, dan cendekiawannya menghidupkan kembali drama klasik Yunani dalam ciptaan baru yang mensintesakan seni sastra, drama, musik, dan tari. Pada seni ini, drama Yunani dalam terjemahan Itali dideklamasikan dan diselingi sejumlah lagu solo vokal dengan diiringi beberapa alat musik dalam gaya monodi, yang disebut dengan intermezzi, sebagai tanggapan terhadap cerita.
Dalam perkembangannya kemudian, para seniman opera menyusun syair-syiar baru dan aransemen musiknya. Setiap seniman memiliki pola-polanya sendiri. Ada yang mengkompromikan deklamasi dan nyanyi, ada yang berprinsip musik hendaknya mengabdi pada kata-kata dan bukan menguasainya. Ada pula yang berkehendak mengungkapkan makna kata melalui musik. Pengungkapan makna dalam musik ini, bukan hanya pada musik vokal, tapi juga pada musik instrumental. Dalam perkembangan sastra modern kita, Upaya memadukan musik dengan puisi ini terus berkembang hingga mencapai bentuk yang sekarang, yang kemudian mendapat nama: musikalisasi puisi.
Musikalisasi puisi bukan barang baru di dunia seni. Namun, perlu diketahui bahwa definisi musikalisasi puisi adalah taksemata membacakan puisi dengan diiring musik agar lebih asyik dinikmati. Yang terjadi adalah proses pengiringan pembacaan puisi dengan alat musik seperti piano, gitar, seruling, dan alat-alat yang bernuansa ritmis lainnya. Padahal, yang disebut musikalisasi puisi sudah ada ranah totalitas menjadikan karya sastra berupa puisi sebagai seni musik karena memang sudah dilengkapi dengan pemilihan tangga nada, permainan melodi, akurasi ritme, serta aturan-aturan khusus dalam hal vokalisasi sebagai bentuk ekspresi puisi itu.
Contoh akurasi vokal dan musik ini, jika puisinya penuh dengan amarah, irama musik dan vokal pun akan ikut menghentak-hentak. Tidak menarik jika yang terjadi malah sebaliknya. Puisinya penuh semangat, tetapi dimusikkan dengan lemah gemulai. Musikalisasi puisi adalah genre baru dalam apresiasi karya puisi. Saat ini, musikalisasi puisi  masih merupakan istilah yang menjadi perdebatan di kalangan guru Bahasa Indonesia. Para guru mempunyai konsepsi yang berbeda-beda dalam memahami istilah dan mengimplementasikan dalam pembelajaran. Akibatnya pembelajaran yang berkaitan dengan musikalisasi puisi cenderung bias dan membingungkann bagi banyak guru dan siswa. Kerancuan konsep musikalisasi puisi itu dalam pandangan guru Bahasa Indonesia berimplikasi pada dua aktivitas yaitu bahwa musikalisasi puisi adalah: 1) Kegiatan membaca puisi dengan diiringi musik, 2) Kegiatan menyanyikan/ melagukan puisi yang disertai atau tanpa disertai dengan iringan musik.
Perbedaan pandangan ini tentu saja perlu dipertemukan dalam sebuah konsep yang jelas. Apabila dirunut lebih lanjut, ruang lingkup musikalisasi puisi sebenarnya sangat terbuka. Artinya kegitan itu tidak menutup kemungkinan munculnya berbagai kreativitas yang berbeda. Musikalisasi puisi bukanlah sekadar kegiatan membaca puisi yang diiringi dengan musik. Lebih dari itu kegiatan ini menuntut pembaca untuk mampu menghayati dan menikmati isi bait-bait puisi dengan cara melagukan dalam titi-titi nada tertentu dengan atau tanpa iringan musik. Dengan demikian, pembacaan puisi tidak hanya berlangsung secara konvensional, tetapi bisa dilakukan dengan lebih ”terasa” dan ” bermakna” melalui pembacaan yang diekspresikan dalam sebuah lagu yang dapat disertai iringan musik. Penyatuan puisi dengan lagu/musik itu merupakan kegiatan yang sering disebut musikalisasi puisi (Dirjen Dikdasmen, 2005:15).

Pemahaman Yang Selama Ini Berkembang
1. Bahwa dalam musikalisasi puisi tidak boleh ada orang membaca puisi, jika ada pembacaan puisi, maka itu bukan musikalisasi puisi.
2. Bahwa dalam musikalisasi puisi boleh saja ada orang membaca puisi, sebab tidak semua kata-kata dalam puisi bisa dimusikalisasikan.
3. Bahwa orang membaca puisi diiringi alat musik bukan musikalisasi puisi; dan

4. Bahwa orang membaca puisi diiringi alat musik juga merupakan kegiatan musikalisasi puisi.
Mengapa musikalisasi puisi tidak terdefinisikan? Dan mengapa pula istilah itu sering ditolak?
Pertama, bahwa secara etimologi musikalisasi puisi merupakan dua konstruksi yang hampir identik, yakni musik dan puisi. Puisi telah memiliki musik tersendiri, maka mengapa pula lagi harus dimusikalisasikan dengan memberikan unsur musik kepada puisi. Imam Budi Santosa pernah mengusulkan istilah musik puisi, yang tekanannya pada kolaborasi musik dan puisi. Sementara dalam musikalisasi puisi, puisi yang memiliki aturan-aturan dan kaidah-kaidah sendiri dipandang harus tunduk menjadi objek, yang bisa diperlakukan apa saja dalam proses itu.
Kedua, musikalisasi puisi merupakan kegiatan yang bersifat kreatif. Kreatif, artinya gagasan memusikalisasikan puisi didasari oleh dan dari keinginan-keinginan individual bersifat subyektif yang bertujuan untuk kepuasan pribadi. Puisi, selain sebagai karya sastra yang harus diinterpretasikan, juga dapat menjadi medium kreativitas. Sama seperti dramatisasi puisi, yang juga merupakan kegiatan kreatif. Dan ketiga, karena bersifat kreatif, maka musikalisasi puisi pun tidak memiliki kategori-kategori, batasan, atau aturan-aturan yang bersifat mengikat.
Membaca Puisi Diiringi Alat Musik Bukan Musikalisasi Puisi!!!? Pemikiran ini mungkin tidak bisa begitu dipaksakan. Dalam Materi Pelatihan Bahasa dan Sastra Indonesia Kurikulum Berbasis Kompetensi dijelaskan, bahwa kegiatan membaca puisi diiringi alat musik termasuk kegiatan musikalisasi puisi. Penjelasan ini, bagi para juri atau panitia lomba musikalisasi puisi, harus dipertimbangkan, agar tidak bersikukuh mengatakan membaca puisi diiringi alat musik bukan musikalisasi puisi.
Namun tetap diperhatikan, bahwa alat musik tersebut tidak hanya sekedar mengiringi pembacaan puisi belaka, yang mungkin membuat puisi cuma jadi semakin enak dinikmati. Fredy Arsi, pemimpin Sanggar Matahari yang bekerja sama dengan Pusat Bahasa telah mengeluarkan album musikalisasi puisi, menyarankan agar musik atau alat musik di sini harus mampu berintegrasi dengan puisi, di mana musik yang dipergunakan memang diaransemen atau diimprovisasikan untuk dapat mengikuti irama dan musik yang ada pada puisi dan semakin memperjelas suasana puisi.
Lagu-lagu Ebiet G. Ade sering dijadikan contoh sebagai hasil musikalisasi puisi. Ini jelas kurang tepat dan kurang dapat dipertanggungjawabkan. Kita lupa, bahwa Ebiet G. Ade tidak mencipta puisi, tetapi dia memang mencipta lagu. Ebiet G. Ade tidak dapat dianggap sebagai penyair, dia adalah pencipta lagu dan penyanyi. Belum pernah ada, misalnya antologi puisi-puisi Ebiet G. Ade.
Benar, sebagian lagu-lagu yang dibawakan oleh Bimbo adalah hasil musikalisasi puisi, sebut saja lagu “Salju”, puisinya Wing Kardjo, “Balada Sekeping Taman Surga”, “Sajadah” atau “Rindu Kami Padamu Ya Rasul” merupakan puisi-puisi Taufik Ismail. Benar pula ada lagu-lagu Iwan Fals berangkat dari musikalisasi puisi, seperti “Kantata Takwa” dan “Sang Petualang” dan “Paman Doblang” adalah puisi-puisi Rendra, di mana dalam lagu ini kita mendengar Rendra membaca puisi, sementara lagu “Belajar Menghargai Hak Azasi Kawan” adalah musikalisasi puisi mbelingnya Remi Sylado. Sementara “Perahu Retak” karya Taufik Ismail dimusikalisasikan oleh Franky Sahilatua.
Benar pula lagu-lagu Leo Kristi, Ulli Sigar Rusady, Franky dan Jane, lagu-lagu Gombloh 1970-an dan juga sebagian lagu-lagu Katon Bagaskara memiliki kata-kata yang puitik, tetapi itu semua bukan puisi. Itu semua adalah lagu! Bahkan, banyak lagu-lagu puitik tersebut tidak begitu berhasil ketika dibacakan atau dideklamasikan, karena memang struktur dasarnya adalah untuk dilagukan, bukan dibaca.

Beberapa Jenis Musikalisasi Puisi
Berdasarkan atas ketepatan melodisasi dan apresiasi terhadap sebuah puisi. Jenis musikalisasi puisi terbagi menjadi tiga jenis. Penjelasan lebih detailnya, penulis paparkan di bawah ini:
1)      Musikalisasi Puisi Murni (Versi Musisi)
Musikalisasi murni adalah pengubahan puisi menjadi syair lagu tanpa mengikutsetakan pembacaan puisi. Pementasan puisi dengan cara benar-benar menampilkan sebuah lagu, dan puisi hanya berperan sebagai syair lagu. Perbedaan lagu hasil musikalisasi dan lagu yang diciptakan bukan dari puisi tidak terlalu kelihatan. Hanya perbedaan isi syair dan kedalaman maknalah yang membedakan syair puisi dan syair nonpuisi. Model musikalisasi puisi semacam ini sebenarnya telah tumbuh lama. Syair-syair lagu yang dibawakan oleh BIMBO sebagian merupakan puisi-puisi ciptaan Taufiq Ismail. Misalnya saja lagu Panggung Sandiwara dan Sajadah Panjang. Model musikalisasi ini semakin terangkat pamornya ketika muncul musikalisasi puisi Aku Ingin karya Sapardi Djoko Damono.
2)      Musikalisasi Puisi Versi Sastra (Versi Sastrawan/ Aktor Teater)
Musikalisasi puisi versi sastra adalah pembacaan puisi yang diiringi oleh permainan alat-alat musik. Pementasan puisi dengan cara pembacaan puisi tanpa dinyanyikan, tetapi selama pembacaan puisi ada backsound live permainan alat musik seperti biola, gitar, atau alat musik lainnya. Jelas bahwa fokus utama musikalisasi puisi versi ini adalah keahlian olah vokal pembacaan puisi. Model musikalisasi seperti ini sudah tumbuh lama di dunia pementasan karya sastra dan teater.
3)      Musikalisasi Puisi Campuran (Kombinasi)
Musikalisasi puisi campuran adalah kombinasi musikalisasi jenis murni dan versi sastra. Pementasan puisi dengan perpaduan pembacaan puisi dan nyanyian. Porsi pembacaan dan nyanyian bergantung ketepatan apresiasi dan kenyamanan melodisasi terhadap puisi.
Musikalisasi puisi harus tercermin keindahan nyanyian dan keindahan pembacaan puisi. Kolaborasi lagu dan pembacaan puisi dapat diciptakan jika suasana puisi dapat diapresiasi dengan baik oleh pembaca puisi dan pencipta lagu. Jika dapat diapresiasi dengan baik maka akan terpancar kualitas puisi sekaligus kualitas musikalnya.

Kita Perlu Memahami Bahwa Musik Tidak Identik Dengan Lagu
Musik (music) sering dipahami sama dengan lagu (song). Berangkat dari pengertian inilah, maka musikalisasi puisi sering terjerumus pada anggapan mengubah sebuah puisi menjadi lagu. Ini jelas kurang tepat, karena musik tidak identik dengan lagu. Musik yang berasal dari bahasa Inggris, music, (apa padanannya dalam bahasa Indonesia?) secara sederhana memiliki pengertian berirama, suatu susunan bunyi-bunyi bernada yang membentuk sebuah irama tertentu yang harmoni. Sementara pengertian lagu (dari bahasa Arab; al laghwu) lebih ditujukan pada suatu teks yang dengan sengaja dan sadar dinotasikan dengan nada-nada tertentu dan dibentuk oleh melodi.
Tanpa lagu pun sebuah konstruksi musik pun tetap dapat terbangun. Simponi klasik misalnya, secara umum tidak memiliki teks. Demikian juga instrumentalia ala Kitaro, Kenny G., atau Francis Goya sebagian besar juga tidak memiliki teks. Selain itu ada juga nyanyian, seperti nasyid, choral, al chapella, rubaiyah, syair atau gending, yakni lagu yang mengandalkan kemampuan musik alami manusia dan tidak memerlukan alat musik pengiring.
Musik dalam Puisi: Irama, Rima dan Ragam Bunyi Sebagai Unsur Musik dalam Puisi
Satu konvensi dalam menulis puisi yang diikuti penyair adalah kemampuan untuk membangun unsur musik dalam karyanya itu, dalam hal ini irama. Ini sering terlupakan oleh kita dalam kegiatan musikalisasi puisi, bahwa puisi sendiri telah memiliki unsur musik. Penyair ketika menyusun kata-kata dalam puisinya akan memperhitungkan irama, agar suasana dan makna puisi tersebut dapat tercapai. Tanpa harus mengatakan suasana apa dalam puisi, tetapi dengan mengatur komposisi kata-kata, maka puisi akan dapat membangun suasana.
Menyusun rima salah satunya, adalah satu kegiatan untuk mengatur fisik puisi agar tercipta irama. Kita mengenal dalam puisi ada rima akhir, rima awal, ada asonansi (runtun bunyi-bunyi vokal) dan ada aliterasi (runtun bunyi-bunyi konsonan). Penggunaan kata-kata onomatope juga berfungsi untuk membangun suasana musikal pada puisi. Selain itu ada juga bunyi cachoponi dan euphony yang berfungsi membentuk suasana musikal pada puisi.
Dari penjelaskan di atas, maka selain sama-sama memiliki teks, kesamaan dasar antara puisi dan lagu, yakni sama-sama memiliki unsur musik.. Perbedaannya terletak pada materi dasar pembentukan musik itu. Jika musik pada puisi dibentuk oleh kata dan komposisi kata, maka musik pada lagu dibentuk oleh nada dan melodi.



Hakikat Puisi adalah Pembacaan; Keterbatasan Musikalisasi Puisi
Puisi tercipta untuk dibaca, karenanya membaca dan puisi bagai dua sisi keping mata uang. Pembacaan diperlukan karena puisi mengandung sistem kode yang rumit dan kompleks. Ada kode bahasa, kode budaya dan kode sastra. Untuk memahami sebuah puisi, maka pengetahuan akan ketiga kode ini sangat diperlukan. Musikalisasi puisi pun harus beranjak dari konsep pembacaan ini. Pembacaan yang diintegrasikan dengan nada dan melodi dapat memperkuat suasana puisi, memperjelas makna dan ikut membantu membentuk karakter puisi itu sendiri. Karena itu, dalam kegiatannya, jangan memaksakan totalitas puisi menjadi lagu, jika memang dapat merusak, bahkan menghancurkan puisi itu sendiri. Banyak bagian puisi hanya akan kuat kalau dibacakan, yang justru akan hancur kalau dilagukan. Misalnya tempo dan negasi.
Tempo dalam puisi berfungsi untuk mendapat efek, dan negasi (saat diam) berfungsi untuk menciptakan suasana kontemplatif, sugestif dan aperseptif dalam sebuah puisi. Dalam pembacaan puisi, negasi juga bisa membantu seorang pembaca untuk improvisasi, jika mengalami “habis napas”. Dalam satu bait puisi dapat dimungkinkan terdapat beberapa tempo yang berbeda, dan bisa terjadi beberapa kali perubahan negasi. Sementara pada lagu, negasi tidak ada. Persamaan istilah yang mungkin mendekati adalah kadens. Pada lagu kadens adalah jeda antara satu frase dengan frase berikutnya, bait satu ke bait berikutnya, atau saat menuju refrain dan fading. Sedangkan tempo pada lagu dikandung oleh satu konstruksi bait, yang ditentukan kecepatan gerak pulsa dalam tiap-tiap notasi. Namun, keseluruhan lagu tersebut dapat pula lebih dahulu ditentukan temponya, seperti adanya istilah-istilah forte, piano forte, allegro, adagio dan sebagainya. Tempo dan kadens pada lagu umumnya bersifat permanen dan telah ditentukan sebelumnya oleh pencipta lagu tersebut. Sedangkan, tempo dan negasi pada puisi dipengaruhi oleh dua hal, pertama suasana asli puisi dan kedua ditentukan oleh situasi apresiasi.
Tempo dan negasi adalah dua ciri khas membaca puisi yang sulit untuk dilagukan. Jika pun dipaksa untuk dilagkan, maka dapat terjadi disharmoni irama lagu itu sendiri. Karena itu, dalam kegiatan musikalisasi puisi, bait dan bagian-bagiannya atau beberapa larik dalam bait jika memiliki tempo dan negasi yang ketat, maka pada bagian ini disarankan untuk tetap dibacakan, tidak dilagukan, sebagai modifikasinya dan improvisasi, pada bagian ini diisi saja dengan bunyi alat musik.
Selain tempo dan negasi, enjambemen puisi merupakan hambatan tersendiri dalam musikalisasi puisi. Enjambemen adalah pemenggalan baris dan hubungan antara baris. Dengan adanya enjambemen ini, maka pemenggalan baris-baris puisi oleh penyairnya menentukan makna puisi. Banyak puisi yang secara tipografik tidak menggunakan tanda baca atau tidak mengenal huruf kapital, hingga menjadi kesulitan tersendiri dalam menentukan enjambemen suatu puisi. Suatu tindakan yang sangat tidak apresiatif, jika kita mengorbankan enjambemen sebuah puisi, atau tidak mengindahkannya dalam kegiatan musikalisasi puisi, demi harmonisasi irama lagu.

Apakah semua puisi bisa dimusikalisasikan?
Jika memang memaksa, bisa saja. Namun, akan terdengar ada sesuatu yang janggal sehingga dalam musikalisasi puisi tidak semua karya puisi bisa dijadikan musikalisasi. Pasalnya, penggunaan notasi atau yang disebut dengan melodisasi puisi akan sulit diterapkan jika puisinya sendiri berbentuk seperti dialog atau ocehan pidato.
Sebagaimana kita ketahui bahwa puisi mempunyai kebebasan tersendiri dalam penulisannya yang tidak bisa dinikmati menjadi musikalisasi puisi. Sekali lagi, musikalisasi puisi membutuhkan bait-bait yang akan bersinggungan dengan tangga nada, intonasi, dan aturan dalam dunia musik lainnya. Puisi-puisi yang mempunya bait berpola akan sangat membantu para komposer dalam menerjemahkannya ke dalam musik. Jika puisi hanya sebatas tulisan dalam teks, musikalisasi puisi harus bisa menghasilkan alunan melodi, akurasi irama, dan sensasi harmoni dalam bentuk sebuah partitur atau lembaran musik.
Tentu saja tidak semua puisi dapat secara totalitas dimusikalisasikan. Puisi-puisi yang bertipografi tertentu kadang kala tidak bisa diberi melodi atau sebagian bisa dimelodikan dan sebagian lagi tetap harus dibacakan.
Rene Wellek dalam Teori Kesusastraan menyebutkan, melodisasi puisi (penggunaan notasi) sulit diterapkan pada puisi yang mirip percakapan, pidato.  Pola pembaitan kadang kala memudahkan atau bisa juga menyulitkan komposer (penyusun musik) untuk membagi-bagi ke dalam pola irama tertentu. Dalam musikalisasi puisi bukan hanya melodisasi yang harus ditekankan tetapi tingkatan apresiasi terhadap puisi juga harus diperhatikan. Apresiasi yang tepat menghasilkan tingkat musikalitas yang mengandung ruh (penjiwaan yang tinggi) sesuai dengan tema puisi ketika dinyanyikan.
Puisi harus tetap puisi. Musikalisasi puisi harus tetap menghormati puisi sebagai teks sastra, tidak bertujuan mengubahnya sebagai teks lagu. Puisi dasarnya tidak ditujukan sebagai teks lagu, maka banyak puisi memiliki peluang yang kecil untuk dapat dilagukan. Teks puisi diciptakan oleh penyairnya pada hakikatnya adalah untuk dibaca, sedangkan teks lagu dibuat memang dengan tujuan untuk dilagukan. Jangan memaksakan totalitas puisi menjadi lagu, jika memang dapat merusak, bahkan menghancurkan puisi itu sendiri.
Tan Lio Le menyatakan, jangan menjadikan puisi subordinat dalam musikalisasi puisi. Pernyataan ini benar, karena banyak keterbatasan dalam memusikalisasikan puisi. Jangan mengorbankan puisi demi menjadi lagu, walaupun menjadi lagu yang baik sekalipun, namun merusak puisi itu.
Empat Langkah Dalam Membuat Musikalisasi Puisi
1. Bacalah puisi yang akan dimusikalisasi dengan teliti.
2. Kenalilah tema, suasana, dan keseluruhan isi teksnya.
3. Menentukan alat musik yang digunakan untuk musikalisasi puisi.
4. Menentukan notasi nada yang akan digunakan.
Konflik Yang Sering Terjadi Dalam Lomba Musikalisasi Puisi:
Sering kali para guru mengalami ketidakpuasan atas lomba-lomba musikalisasi puisi yang diselenggarakan. Ketidakpuasaan yang kemudian menciptakan konflik karena adanya perbedaan tentang pengertian musikalisasi puisi antara peserta/ para guru dengan dewan juri/panitia. Karena banyaknya definisi musikalisasi puisi yang berkembang seperti yang telah dipaparkan di atas. Istilah musikalisasi puisi sendiri pun belum disepakati secara baku. Ada beberapa seniman atau sastrawan yang menolak istilah itu karena musikalisasi puisi dipandang sebagai istilah yang kurang tepat dan rancu. Dari kondisi ini, maka dapat saja setiap individu memberikan pengertian yang berbeda-beda tentang konsep musikalisasi puisi.
Lalu bagaimana solusinya?
Musikalisasi puisi sendiri hingga hari ini belumlah merupakan sebuah alat atau metode apresiasi karya sastra. Dia sebagaimana juga dramatisasi puisi merupakan kegiatan yang bersifat kreatif dan inovatof, sebagai ungkapan kita dalam mengeksresikan sebuah karya sastra secara bebas. Sebagai perbandingan, parafrase puisi pada awal-awalnya pun adalah sebuah teknik kreatif untuk memahami puisi, namun saat ini telah diterima sebagai metode atau teknik apresiasi yang fixed. Namun, dalam sebuah kegiatan khusus, dalam lomba misalnya, perbedaan ini akan jadi konflik jika tidak terjembatani.
Dalam lomba musikalisasi puisi, perbedaan persepsi tentang musikalisasi wajib dipahami oleh panitia atau penyelenggara lomba, sehingga tidak total menyerahkannya saja kepada otoritas dewan juri, yang tentu memiliki persepsi sendiri apa itu musikalisasi puisi.
Penentuan kriteria yang jelas tentang konsep musikalisasi puisi yang dipakai dapat meminimalisasikan konflik yang akan timbul. Penjelasan ini dapat dilakukan dalam pertemuan-teknis yang dilakukan beberapa hari menjelang lomba. Jangan memberikan kesempatan kepada peserta lomba untuk menafsir kriteria lomba! Fakta, selain kriteria tertulis sendiri yang sering kabur dan multi-tafsir, bahwa dalam pertemuan-teknis (technical meeting) sebelum lomba, lazim yang dilakukan oleh panitia hanyalah penentuan nomor urut tampil, langka ditemui dalam pertemuan teknis, panitia beserta dewan juri memberikan penjelasan tentang kriteria yang akan dipergunakan.

BIODATA PEMATERI


Fileski (kelahiran 21 Februari 1988) adalah penulis, penyair, dan musisi kelahiran Madiun - Indonesia. Awalnya dikenal melalui karya-karya puisi yang dipublikasikan di berbagai media massa dan pertunjukan Nyanyian Puisi. Kerap tampil di berbagai perhelatan sastra negara-negara Asia Tenggara. Selain menulis puisi dan lagu, kini ia merambah penulisan prosa. Menghasilkan karya terbaru berupa kumpulan cerpen dalam buku berjudul "Taman Tak Bernama".

Berbagai Pencapaian: 
Anugerah HESCOM Musikalisasi Puisi Terbaik dari e-Sastera Malaysia (dua tahun berturut-turut). Composer Lagu Puisi “Kerinduan” Anugerah PESTAB di Brunai. Pernah Tour Konser Musik Puisi satu bulan penuh pada Bulan Bahasa di Singapura. Meraih Rekor Musikalisasi Puisi 11 jam Non Stop di Festival Lanfang - Indonesia. Redaktur di NegeriKertas.com sejak tahun 2007 hingga sekarang. Pendiri Komunitas Negeri Kertas dan Komunitas Musik Sastra. Motivator para penulis muda dalam penerbitan antologi Negeri Kertas. 


Sebagian Karya-Karyanya:
Taman tak Bernama (Buku Kumpulan Cerpen, 2016)
Album tak Bernama (Album Musik, 2016)
Kitab Puisi Negeri Kertas (Buku Kumpulan Puisi, 2015)
Jejak Inspirasi Fileski (Buku Inspirasi, 2015)
Save Our Culture (Album Musik, 2014)
Rahasia Langit (Album Musik, 2013)
Attribute to Chairil Anwar (Album Musik Puisi, 2012).

Share on Google Plus

About Fileski Channel