.

.

KORAN KOMPAS: Apresiasi Karya Sastra Lewat Musik Sastra



            Komunitas Musik Sastra (KMS) merupakan wadah bagi mereka yang mengaku memiliki kecintaan dan keinginan di bidang yang sama, yakni mengapresiasi karya sastra dengan alunan musik. Di tahun 2007, Fileski membentuk komunitas musik puisi yang merupakan cikal bakal KMS. Seiring berjalannya waktu, jiwa seni dari pemuda lulusan Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya (STKW) belum merasa terpuaskan. Atas banyaknya saran dari kawan-kawan penulis novel dan cerpen maka komunitas ini berubah nama menjadi Komunitas Musik Sastra. Baginya, puisi bukan satu-satunya karya sastra, melainkan masih ada karya cerpen serta novel yang juga menarik untuk diapresiasi secara musikal layaknya puisi. Oleh karenya, di tahun 2013 komunitas musik puisi berkembang dan berubah menjadi KMS.
Musik merupakan bahasa universal yang dapat dimengerti oleh seluruh kalangan masyarakat di dunia. Sedangkan sastra adalah sebuah kreasi seni dari perwujudan pemikiran yang tertuang dalam bentuk tulisan. Musik sastra itu sendiri yakni perpaduan dua buah karya seni yang diciptakan sebagai upaya konkret mengapresiasi karya sastra menjadi lebih dekat dan alami. Karya sastra seperti puisi, cerpen, hingga novel lebih dihidupkan melalui alunan musik. Pesan yang tersirat maupun yang tersurat semakin terasa nyata dalam penyampaiannya.
Kegiatan berkumpul sesama anggota diisi dengan bahasan tentang karya sastra yang akan digali dan kemudian disuguhkan ke hadapan publik dengan tampilan musik sastra. Fileski mengaku bahwa tidak membutuhkan waktu lama untuk menulis komposisi musik berdasarkan karya sastra, untuk menggarap sebuah musik sastra sekali duduk harus jadi. Tidak ada kata mencicil, yang dikhawatirkan nanti sense dalam proses pembuatannya akan hilang dan tak lagi didapat setelahnya. Menyesuaikan komposisi musik dengan karya sastra merupakan tantangan tersendiri. Dituntut menemukan cara agar bagaimana dapat menyampaikan keinginan empu karya sastra tersebut. Terlebih dari karya sastra penulis terkenal. “Selalu ada jalan menapaki serta mendalami bidang ini”, tutur Tegar Sadewo. “Bagi saya musik sastra merupakan cara lain untuk menikmati puisi”, tambah Gigih Sadewo. Tegar dan Gigih adalah saudara kembar, pelaku seni di dunia teater sejak tahun 2011. Kini jiwa raga keduanya melebur menjadi satu bersama komunitas ini.
Harapan KMS ke depan dengan suguhan musik sastranya, masyarakat luas lebih mengenal serta tertarik dengan sastra. Melalui karya sastra, karakter sebuah masyarakat akan terbentuk menjadi peka. Mengerti mana yang benar dan salah, sehingga tidak mudah diprovokasi, khususnya oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, karena sastra merupakan  ajaran kebaikan yang mengandalkan kepekaan hati dalam berfikir. [FS]

TERBIT EDISI 24 OKTOBER 2014
Share on Google Plus

About Fileski Channel