.

Di Negeri Kertas, tidak ada koruptor, tidak ada maling, penjahat, tidak ada perang dan kelaparan. Setiap orang memiliki ketahanan ekonomi, semua elemen turut gotong-royong untuk mewujudkan dunia yang lebih baik melalui gerakan sastra. Demokrasi berjalan natural tanpa money politic. Fileski (Presiden Negeri Kertas)

Musisi Puisi yang Tengah Berkibar


 Siapa yang belum kenal sosok Fileski? Ia adalah pemuda Indonesia yang memiliki segudang talenta. Tak hanya piawai menulis puisi, Fileski juga mahir memainkan biola.  Bernama lengkap Walidha Tanjung Files, lahir di Madiun, Jawa Timur, 21 Februari 1988.
Namanya besar di Surabaya sebagai seniman muda. Selain dikenal sebagai Penyair, ia juga dikenal sebagai Poet Musician (Musisi Puisi). Kiprahnya di dunia sastra pun tak diragukan lagi. Fileski seringkali menyemarakkan pertunjukan sastra skala nasional, dengan membuat suatu inovasi dalam sastra pertunjukan, yakni menyajikan resital biola puisi.
Fileski melakukan eksplorasi puisi dengan permainan biolanya. Komposisi musik yang ia bawakan bernuansa eksperimental, sehingga membuat puisi-puisi yang ia bawakan saat tampil mempunyai daya mistis dan eksotis. Puisi-puisinya pernah mewarnai beberapa surat kabar, majalah, jurnal dan bulletin.
Pemuda yang telah menyelesaikan studi S1 jurusan Teater di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya ini, berkenalan dengan puisi saat ia masih kecil. Ia kerap membaca karya puisi milik ayahnya yang seorang guru bahasa dan sastra Indonesia. Saat beranjak remaja, ia mulai berani menampilkan diri di pertunjukan sastra dan berkolaborasi dengan para seniman lintas disiplin seni. Mulai dari sastrawan, aktor teater, perupa instalasi dan para koreografer tari. Hal ini membuatnya merasakan pesona puisi dan semakin hari semakin dekat dengan puisi.
Sebagai pembuktian cintanya pada kesenian, Fileski kemudian membuat puisinya sendiri dan digubah secara musikal, sehingga terlahir musik puisi khas Fileski. Tangan dinginnya juga mampu membentuk kelompok musik bernama Paperland, yang berhasil merilis album di tahun 2012 yang diproduseri Johan Budie Sava - CEO Togamas. Album yang bertajuk Rahasia Langit tersebut, diilhami dari puisi-puisi karyanya.
Di bulan September 2014 ini, Fileski disibukkan dengan jadwal kegiatannya di Singapura. Usut punya usut, kegiatannya di Singapura ini terkait karya puisinya yang terpilih untuk diterbitkan dalam buku antologi puisi penyair lintas negara. Seperti apa kesibukan Fileski di Singapura, apa saja yang dilakukan seniman muda Indonesia ini selama di negara yang dijuluki Kota Singa tersebut, yuk simak wawancarannya..




(Wawancara Eksklusif Dengan Fileski Di Singapura)
Dalam rangka apa kamu ke singapura?
Dalam rangka Pertemuan Penyair Nusantara ke-7 (PPN7), dalam rangka event Bulan Bahasa Singapura 2014. dan dalam rangka launching buku Antologi Puisi Bebas Melata – Menjala Kasih. Dalam PPN7 aku diminta oleh seorang penyair Singapura yang bernama Rohanie Din untuk mewakili kehadirannya karena kondisinya kurang sehat.
Bisa cerita sedikit mengenai Bulan Bahasa Singapura?
Tentang Bulan Bahasa, sejak 1988 Bulan Bahasa telah dianjurkan untuk menggalakkan masyarakat Melayu menggunakan bahasa Melayu dalam kehidupan sehari-hari. Generasi penerus diharapkan melestarikan bahasa dan budaya Melayu. Berbagai kegiatan Bulan Bahasa telah dirancangkan untuk menyediakan suasana bahasa yang menarik minat masyarakat, agar mengambil bagian dalam kegiatan ini. Tema Bulan Bahasa 2014 ini, mengajak kita menggunakan Bahasa Melayu untuk tujuan meraih dan menyampaikan ilmu, memasyarakatkan kemurnian adab dan budaya, serta mengukuhkan jalinan kemesraan sesama.
Mengenai buku Antologi Puisi Bebas Melata – Menjala Kasih, kamu turut menyumbang karya?
Buku itu berisi kumpulan puisi dari 20 penyair 3 negara (Indonesia, Singapura, Malaysia). Puisiku terpilih masuk ke dalam buku tersebut melalui seleksi.
Ada berapa karya Fileski yang terpilih? Apa saja judulnya
Ada 5 karya. Masing-masing penyair memang hanya dipilih 5 puisi. Judul puisi: Rongga Jiwamu, Isyarat Hujan, Syair Gunung Kepada Samudera, Bunyi Keabadian, Hanya Pada Kematian.
Berapa hari Files di sana dan apa saja kegiatannya?
Aku tiba di Singapura kan 28 Agustus. 29 aku mulai kegiatan PPN7 sampai tanggal 31 Agustus. Kemudian mulai 1 September aku mengisi workshop menuis puisi dan musikalisasi puisi di sekolah-sekolah yang ada di Singapura. 6 Agustus pembukaan Bulan Bahasa. Peluncuran buku antologi puisi tanggal 13 September. Sebenernya agendaku di Singapura hingga tanggal 23 September, namun karena aku dibutuhkan untuk terlibat dalam pementasan peringatan 19 September di Surabaya, maka aku harus pulang lebih awal pada tanggal 15 September setelah peluncuran buku.
Pengalaman-pengalaman seru apa saja yang Fileski dapatkan selama disana?
Pengalaman bisa bertemu dengan para penyair hebat di Nusantara, yang selama ini hanya mengenal karyanya dalam buku-buku. Di singapura aku bisa bertemu mereka dengan kedekatan yang akrab, bahkan pertemuanku di Singapura akan menambah rentetan agenda sastra berikutnya. Setelah pulang dari Singapura aku akan sibuk berkegiatan sastra antar pulau di Indonesia bahkan antar negara.
Bagaimana awalnya kamu bisa punya link di negara tetangga?
Bisa punya link karena aku rajin silaturahmi budaya. Aku berfikir tentang sesuatu yang bisa menembus batas-batas bendera dan mempererat persahabatan orang-orang antar negara, jawabannya adalah kesenian. Mulai dari itu aku sangat senang jika ada tawaran kolaborasi bersama seniman dari disiplin seni manapun, tidak hanya sastrawan, namun juga seniman teater, musik, seni rupa, dari dalam dan luar negeri. Bertemu di event dalam negeri dan pelan tapi pasti akan semakin menjangkau manca negara dengan cara silaturahmi seni. Kalau di bidang sastra biasanya aku kolaborasi dengan cara membuat komposisi musik dari buku yang akan diterbitkan oleh seorang penulis, atau membuat puisi yang terinspirasi dari cerpen atau novel kemudian aku bikin musikalisasi puisi.
Dengan hadirnya kamu di Singapura, apakah itu menandakan kecintaanmu pada dunia sastra? Apakah mungkin ada tujuan lain dari sekadar menghadiri rangkaian acara disana?
Aku diundang ke Singapura ini merupakan kesempatan sekaligus kebanggaan, yang bisa diartikan untuk memperluas jaringan kesenian dan wawasan khususnya bidang seni. Memang aku diagendakan memberikan workshop di sekolah-sekolah di Singapura dan terlibat perform dalam pentas Bulan Bahasa Singapura, namun itu bukan berarti aku sudah merasa pintar lalu memberikan apa yang aku punya, malahan sebenernya aku yang banyak belajar apa yang aku amati selama di Singapura, mulai dari para senimannya hingga para siswanya. Singapura adalah negara yang maju dengan sistem yang sangat ketat, masyarakat disini sangat tertata dari segala aspek kehidupan sehingga bisa dikatakan negara paling aman di dunia, sepulang dari Singapura, aku akan tularkan pengalaman ini pada para siswa di Indonesia.
Dengan pengalamanmu ini, apa sih oleh-oleh yang bisa kamu bawa ke negerimu, adakah pesan-pesan yang ingin kamu sampaikan kepada orang-orang di Indonesia, khususnya untuk pemuda dan pemudi di sini yang mungkin terinspirasi dari kisahmu?
Sangat banyak pesan yang ingin aku sampaikan, namun secara singkat aku ingin menyebarluaskan bidang yang aku geluti ini (musik sastra). Sastra hakikatnya adalah ajaran kebaikan yang dibalut dalam bingkai keindahan dan musik adalah bahasa universal yang maknanya bisa melintas sekat-sekat bahasa. Aku ingin sastra semakin diminati karena sastra bisa menghaluskan budi pekerti suatu bangsa, ditengah gerusan dunia hiburan yang penuh uforia sesaat, yang membuat cara berfikir kebanyakan generasi muda sangat emosional dalam merespon segala peristiwa. Aku juga ingin musik asli negeri sendiri dipertahankan dan dipelajari para genersai muda, karena aku melihat musik asli Indonesia sangat giat dipelajari para pemuda bangsa asing. Kalau bukan kita yang melestarikan warisan budaya Indonesia, lalu siapa lagi.
Dengan konsep dan metode yang aku himpun dalam menyajikan sebuah pertunjukan musik sastra, aku yakin para generasi muda akan semakin berminat dalam mengapresiasi karya sastra dan bersemangat membaca buku-buku sastra yang saat ini banyak tidak dikenal para generasi muda, padahal Indonesia punya karya-karya sastra yang mendunia dari para sastrawan tersohor dari negeri kita.
Oke, yang terakhir, apa harapan Files ke depan?
Harapanku bisa membangun sebuah rumah seni Fileski. untuk meluapkan segala gairah kesenianku di bidang musik seperti ruang studio latian dan rekaman, punya panggung teater sederhana di area halaman rumah, punya perpustakaan yang mendokumentasikan karya-karya sastra, sehingga memudahkan semua orang yang ingin mendalami kesenian secara nyaman dan serius. Memang untuk mencapai sana perlu biaya yang tidak sedikit, untuk itu harapan singkatku ingin diberi kesempatan oleh Tuhan untuk terus berkarya dan menyebarkan nilai-nilai positif melalui media kesenian.
Email: fileskifileski@gmail.com
HP: +6285731803357
facebook: Fileski Fileski
twitter: @fileski_
Reporter: Ayu K. Sandy
Share on Google Plus

About Negeri Kertas Channel